Sejarahqu’s Blog

  • 01:12:17 am on September 15, 2010 | 0

    Pesawat Serang Yak-130

    Yak-130, Penyerang Darat Serbaguna

    Sekilas Tentang Pesawat Latih Lanjut – Serang Darat Yak-130

    oleh : Santoso Purwoadi

    Pesawat Yak-130 semula didisain untuk mengantisipasi kebutuhan AU Uni Soviet akan pesawat latih lanjut model baru. Kemudian dikembangkan dua pabrikan wahana kedirgantaraan Eropa Barat dan Timur menjadi sebuah pesawat tempur multi peran. Kini Yak-130 telah diterima sebagai pesawat latih lanjut di jajaran AU Federasi Rusia.

                Pada awal dekade 1980-an, Angkatan Udara (AU) Uni Soviet membutuhkan sebuah pesawat latih lanjut model baru sebagai pengganti L-29 dan L-39 Albatros buatan Vodochody, Cekoslovakia yang telah uzur. Sebagai salah satu biro perancang pesawat terkemuka, Yakovlev melakukan antisipasi dengan mulai mencipta sebuah disain pesawat latih lanjut. Agar hasil kerja perancangan bisa berjalan lebih baik, maka Yakovlev menggandeng pabrikan pesawat terkemuka Aermacchi (Italia) dan pabrikan pesawat NAZ Sokol (Uni Soviet) selaku mitra kerja (1993). Aermacchi menyetor separuh dari total biaya penelitian-pengembangan, sementara Yakovlev dan NAZ Sokol masing-masing 25 persen.

                Sebagai pencetus ide disain baku, maka Yakovlev berhak mendisain badan, sayap dan bagian permukaan serta sistem kendali penerbangan plus sistem kendali penembakan senjata. Sementara itu Aermacchi berwenang melakukan uji ketahanan fisik terhadap purwarupa di dalam terowongan angin selama 5.000 jam (dalam berbagai konfigurasi terbang), uji rig terhadap sistem kendali penerbangan fly-by-wire selama 3.000 jam serta turut mengembangkan sayap, ekor, sistem kendali penerbangan,  piranti avionik. Setelah purwarupa Yak-130 rampung (30/4/94), pilot penguji utama Yakovlev, Andrei Sinitsin melakukan uji terbang perdana (25-26/4/96).

    Pada medio 1997, purwarupa Yak-130 yang didisain untuk keperluan demo, RA-43130, telah menjalani 100 sorti terbang. Berkat hasil sejumlah uji terbang yang cukup bagus, Yakovlev dipercaya AU Rusia membuat 10 Yak-130 untuk dijajal kebolehannya. Akibat tidak sepaham dalam beberapa hal tehnis, kemitraan Yakovlev – Aermacchi disudahi (1999). Meski begitu, keduanya tetap melanjutkan pengembangan pesawat latih lanjut yang sesuai kehendak masing-masing. Yakovlev dengan Yak-130 dan Aermacchi dengan M-346. Maka tak heran jika sepintas tampilan fisik keduanya bak pinang dibelah dua.

    Awal 2002, AU Rusia menggelar lomba yang diikuti empat calon untuk mencari pengganti L-29 dan L-39. Yakovlev muncul sebagai pemenang mengalahkan pesaing beratnya, Mikoyan-Gurevich,  dengan MiG-AT (April 2002). Selusin Yak-130 diterima Akademi Pilot Tempur AU Rusia guna dijajal kebolehannya. Pertengahan 2003 Yak-130 versi produksi mulai dihadirkan ke depan publik dan tepat dua tahun kemudian AU Rusia menyatakan pesawat ini boleh bergabung ke dalam jajaran armadanya. Direncanakan pada 2009 ini selusin Yak-130 bakal diterima AU Rusia dari NAZ Sokol.

    Rancang bangun badan

                Bila ditilik selintas Yak-130 versi produksi lebih pendek, ringan, ramping dan landai ketimbang  RA-43130. Panjang badan RA-43130 11,49 m sementara  sedangkan Yak-130 11,24 m. Bobot kosong RA-43130 6,4 ton sedangkan Yak-130 versi produksi 5,4 ton. Meskipun begitu ukuran dimensional keduanya identik. Jarak ujung terluar dari kedua belah sayap 9,73 m dengan rasio aspek sayap 4,05 m dan luas daerah rentang sayap 23,52 m². Dalam soal tinggi (dari permukaan tanah hingga ujung sirip ekor tegak), jarak antara poros roda pendarat depan – roda pendarat belakang dan jarak antara kedua ujung terluar poros kedua roda pendarat belakang keduanya juga setara. Yakni 4,76, 3,95 dan 2,55 m.

                Berat maksimum Yak-130 saat tinggal landas tergantung pada jenis misi yang tengah diemban. Secara teoritis, berat normal Yak-130 saat tinggal landas tanpa membawa muatan apapun adalah 5,75 ton. Jika berperan sebagai pesawat latih, maka bobot tinggal landas maksimumnya 6,50 ton. Tapi saat mengemban misi tempur sembari membopong senjata seberat tiga ton, maka bobot maksimum di kala tinggal landas bisa mencapai 9,25 ton. Karena jenis misi yang diemban berkaitan dengan ragam senjata yang dibawa, maka boleh dikata bobot total senjata bawaan menentukan bobot maksimum saat tinggal landas dan menentukan nilai faktor bobot maksimum muatan yang dapat diusung oleh setiap meter persegi sayap (maximum wing loading). Saat sebagai pesawat latih, nilai maximum wing loading Yak-130 276,4 kg/m² sedangkan sebagai pesawat tempur 403,9 kg/m². Pada gilirannya, variasi nilai maximum wing loading ini berdampak kepada daya angkut muatan maksimum (maximum power loading) di mana untuk misi latih 151 kg/kN sedangkan untuk misi tempur 220 kg/kN.

                Bobot kosong Yak-130 terbilang enteng karena konstruksi kerangka badannya memakai logam paduan jenis tertentu yang ringan (light alloy metall). Rangka badan model ini didisain tahan untuk dipakai selama 30 tahun dengan jumlah jam terbang dan kali pendaratan 10.000 dan 20.000. Struktur hidung juga dibuat membulat supaya bisa menampung bermacam tipe radar. Kawasan bentang sayap Yak-130 versi produksi lebih rendah ketimbang RA-43130. Disain badan Yak-130 versi produksi menganut perpaduan konsep all swept high lift wing model klasik moderat, all moving low mounted tail plane dan empennage mid wing monoplane. Berkat perpaduan ketiganya, maka Yak-130 sanggup melakukan manuver serang pada sudut serang hingga 40 º. Biar strukturnya kuat, maka permukaan badan Yak-130 dilapisi material serat karbon dan guna mencegah kerusakan akibat diterjang proyektil amunisi senjata musuh, maka ruang mesin dan perangkat avionik dilapisi zat Kevlar.  

                Salah satu kelebihan Yak-130 adalah kemampuannya untuk tinggal landas dan mendarat pada landasan yang berjalur pendek. Hal ini dimungkinkan berkat adanya perangkat dukung gerak dog tooth leading edge dan sirip kepak (split flap) Fowler yang dipasang pada tiga tempat berbeda. Berkat sirip Fowler, Yak-130 sanggup bergerak mundur saat tengah bersiap tinggal landas, memiliki daya angkat beban yang besar dan mampu mengerem langkahnya saat mendarat (drag for landing manoeuvre). Tak hanya itu. Pesawat Yak-130 juga dimodali perangkat forward hinged dan rem udara dengan tempat masukan udara berpintu (door type air intake) pada bagian punggung. Sementara dua mesin penggerak utama Yak-130 ditempatkan pada ruangan khusus di bawah wing root.

    Sistem penggerak

                Saat masih berstatus purwarupa, Yak-130 memakai dua unit mesin turbofan ZMK DV-2SM lansiran Povaszki Strojarne (Cekoslovakia) di mana tiap unit menghasilkan tenaga dorong 21,58 kN (setara tenaga untuk mendorong obyek seberat 2,158 ton). Sebagai alternatif dicadangkan mesin RD-35M bertenaga dorong 21,6 kN. Kedua mesin ini dapat dihidupkan secara otonom (autonomous engine starting). Juga dilengkapi pemasok bahan bakar darurat yang dapat menjamin pasokan avtur pada saat pesawat kena efek gravitasi negatif (negative G-force) selama 20 detik. Namun Yak-130 versi produksi justru memakai mesin turbofan AI-222-25 karya Salyut (Rusia) – Zaporozche (Ukraina) bertenaga dorong 25 kN. Ia baru butuh perawatan biasa setelah dioperasikan selama 3.000 jam dan perawatan skala besar usai beraksi selama 1.500 jam. Sebagai alternatif dicadangkan mesin RD-2500 (Soyuz – Tushino) yang sejatinya hasil pengembangan mesin RD-1700. Khusus untuk Yak-130 versi ekspor dipilih mesin RD-35 M atau RD-2500.

                Untuk menjamin pasokan bahan bakar, maka pada badan Yak-130 terdapat tiga tangki internal dengan sebaran dua tangki di dalam sayap dan satu tangki pada bagian tengah dalam badan. Kapasitas total ketiga tangki ini 1,75 ton. Bila dirasa kurang, Yak-130 juga dibekali tiga tangki eksternal dengan sebaran dua tangki (masing-masing berkapasitas 0,45 – 0,59 ton) digantung di bawah sayap dan satu tangki (0,3 ton) di bawah perut. Jadi dalam sekali jalan Yak-130 membawa modal avtur sebanyak 2,95 – 3,23 ton. Guna memudahkan pengisian avtur, Yak-130 dilengkapi alat pengisian bertekanan udara yang laju isiannya dapat dikendalikan atau piranti pengisian avtur yang bekerja dengan pengaruh gaya gravitasi. Sebagai tambahan, atas permintaan konsumen Yak-130 dapat dipasangi alat pengisian bahan bakar di udara yang bisa dibongkar pasang kapan saja.

                Saat semua tangki avtur terisi penuh namun tak membawa senjata, maka rasio jumlah konsumsi avtur terhadap bobot muatan mesin AI-222-25 adalah 0,87. Andai ketiga tangki eksternalnya dicopot, maka besaran faktor ini turun menjadi 0,72. Kondisinya akan berbeda jika ketiga tangki internal terisi penuh, tanpa tangki eksternal tapi pesawat membawa muatan senjata seberat tiga ton (0,60). Tingkat efisiensi bahan bakar mesin AI-222-25 cukup tinggi karena faktor konsumsi bahan bakar spesifik 0,68 kg/kgf/jam dengan catatan Yak-130 tak membawa senjata apapun. Nilai ini akan ‘melonjak’ jadi 0,70 bila Yak-130 membawa satu tangki eksternal di bawah perutnya.

                Tenaga listrik kedua mesin utama berikut seluruh perangkat dukungan operasional Yak-130 berasal dari dua unit generator listrik (@ 16 kW), dua unit transformer – rectifier (pengubah arus AC ke DC maupun sebaliknya) (@ 6 kW), satu unit pemicu gerak perangkat catu daya cadangan (APU drive) (5kW) dan satu unit perangkat catu daya cadangan (APU) GTCP36-150 berdaya 20 kW (menghasilkan tenaga listrik bagi perangkat kerja hidraulik dan pneumatik pada Yak-130). Sebagai tambahan, satu unit perangkat system rating arus AC tiga fasa (tegangan 115/200 Volt dan frekuensi kerja 400 Hz) dan sepasang baterai kering tipe Ni-Cd (dapat diisi ulang dan berkekuatan 25 Ampere jam) tidak lupa dipasang untuk mengantisipasi kebutuhan tenaga listrik saat pesawat akan melakukan pendaratan darurat.

                Berkat adanya APU, maka sistem kelistrikan utama dan perangkat avionik dapat dioperasikan tanpa perlu menghidupkan mesin penggerak utama. Selain itu para awak darat juga dapat melakukan pengujian kelaikan perangkat avionik di darat tanpa melibatkan pemasok tenaga listrik tambahan dari luar badan pesawat. Juga sistem pengatur temperatur udara di dalam kokpit dan perangkat avionik bisa dioperasikan di darat tanpa harus terlebih dahulu menghidupkan mesin penggerak utama.

                Sistem hidraulik Yak-130 bertekanan udara operasional 210 kg/cm². Komponennya terdiri atas dua unit pompa hidraulik (kapasitas pasokan fluida 84 liter/menit), 13 unit perangkat penggerak piranti kendali utama dan cadangan, dua unit penggerak sirip kepak (untuk pengereman), tiga unit penggerak roda pendarat (dapat ditekuk saat tinggal landas atau diregangkan saat tinggal landas), perangkat bantu pengereman roda pendarat serta sepasang penggerak tabir pelindung tempat masukan udara. Ketika dilipat kedua roda pendarat belakang dimasukkan ke dalam sayap sementara roda pendarat depan ke rongga hidung. Berkat tabir pelindung tempat masukan udara yang dipadu dengan disain roda pendarat yang khusus plus ban bertekanan udara rendah, maka Yak-130 dapat dioperasikan di landas pacu yang kondisi permukaannya amat kasar dan tidak dibeton.

    Guna mendukung kinerja semua komponen hidraulik ini, maka ada dua piranti penggerak yang bekerja secara ‘bebas’ dengan tekanan udara masing-masing 207 bar. Sementara itu sistem pneumatik Yak-130 tidak melibatkan gas nitrogen. Sehingga pada saat persiapan operasi, Yak-130 tidak butuh gas nitrogen bertekanan udara tertentu untuk proses isi ulang.

    Sistem kendali penerbangan

                Kaca jendela ruang kemudi (kokpit) Yak-130 terbuat dari material gelas. Kokpitnya sendiri dari tipe berkursi ganda yang tertata secara tandem (depan – belakang). Kursi lontar kedua awak Yak-130 memakai tipe K-36LT3-5 yang berbobot ringan dan termasuk jenis zero-zero ejection seat. Pada kedua kursi lontar itu terdapat sistem penghasil gas oksigen secara elektrik (On Board Oxygen Generation System – OBOGS) dan sistem penghasil gas oksigen secara kimiawi (Chemical Oxygen Generation System – COGS). Keduanya adalah bagian dari sejumlah perangkat penunjang kehidupan pada Yak-130 yang terdiri atas ruang kokpit bertekanan udara dengan boost air charging, sistem pengatur suhu udara dengan piranti turbocooler, sistem penghasil gas oksigen dan kursi pelontar.    

    Berkat kanopi kokpit yang berstruktur blister, maka dari dalam kokpit kedua awak Yak-130 dapat bebas memandang ke segala arah. Apabila diukur terhadap garis sumbu badan pesawat, maka instruktur (duduk di belakang) punya sudut arah pandang ke bawah (downward view along aircraft axis) sebesar 6 º. Sedangkan siswa (duduk di depan) 16º. Sementara itu, untuk memudahkan kedua awak dalam memantau kerja seluruh perangkat dukung operasional, maka terdapat beberapa fasilitas pendukung yang kompatibel terhadap alat bantu lihat malam NVG plus tiga unit layar tayang data penerbangan multi fungsi berbahan kristal cair dan bekerja secara dijital (LCD) yang menayangkan gambar berwarna. Kedua awak Yak-130 juga dibekali alat pembidik sasaran (dipasang pada helm), peralatan komunikasi internal dan eksternal serta sistem peringatan dini yang berbasis suara (voice warning system).   

    Sistem kendali penerbangan Yak-130 menganut konsep fly by wire empat saluran dilengkapi perangkat saluran keempat yang bekerja secara dijital (digital 4th channel). Sistem ini merupakan hasil pengembangan sistem kendali penerbangan Yak-141 yang bisa tinggal landas dan mendarat di landas pacu darurat yang berjalur lintasan pendek. Pola penanganan sistem kendali penerbangan Yak-130 dilakukan secara ‘bebas’ (carefree handling) dengan berbasis kepada tehnologi giro-laser. Komponen sistem kendali penerbangan Yak-130 tersusun dari empat unit komputer pengolah data penerbangan.  Keempat komputer ini menyediakan kestabilan terbang artifisial, menyelenggarakan pola penanganan sistem kendali penerbangan yang dilakukan secara ‘bebas’ (mengantisipasi keterbatasan kemampuan pesawat dalam menahan faktor G), mencegah timbulnya efek stall / spin dan kemampuan beradaptasi terhadap bermacam moda ‘pembalik’ gerak jelajah secara otomatis (bila terjadi kegagalan operasional  pada salah satu sistem kerja). 

    Perangkat avionik Yak-130 berbasis tehnologi dijital. Konfigurasinya dapat ditata sesuai selera calon pemakai. Tata letaknya menganut faham ‘terbuka’ yang terdiri dari sepasang komputer pengolah data dan satu perangkat pengganda informasi tukaran tiga saluran (three channel information exchange multiplexer). Sementara komponennya terdiri dari alat komunikasi, radar, perangkat dukungan misi, komputer pengolah data dan sistem instrumentasi. Sedangkan perangkat navigasi Yak-130 meliputi perangkat giroskop berpanduan berkas sinar laser dan alat penentu posisi di jagad (Global Positioning System – GPS) yang dipandu satelit komunikasi GLONASS / NAVSTAR.

    Alat komunikasinya mencakup radio pengirim – penerima yang bekerja pada frekuensi kerja VHF dan UHF (sebagai alat komunikasi eksternal) dan alat interkom (alat komunikasi internal). Untuk Yak-130 yang dipakai AU Rusia, jenis radarnya adalah tipe Osa buatan NIIP Zhukovsky (frekuensi kerja 8 – 12,5 GHz) yang diklaim sanggup mendeteksi sekaligus empat sasaran di udara dan menjejak sekaligus dua sasaran di darat asalkan luas minimal sasaran itu 5 m² dan berada 85 km di depan atau 40 km di belakang Yak-130. Kabarnya radar Osa dapat mengunci sasaran (lock-on target) pada jarak 65 km. Selain Osa, Yak-130 juga bisa menggunakan radar Kopyo yang kinerjanya hampir setara. Kedua jenis radar ini dilengkapi sistem pencari dan penjejak sasaran tipe Platan yang bekerja dengan panduan berkas sinar infra merah. Namun untuk Yak-130 versi ekspor, jenis radarnya disesuaikan kemauan si calon pemakai. 

    Perangkat dukungan misi Yak-130 tersusun atas sistem pemasok data misi, komputer pengarah senjata (berbasis tehnologi optis), perangkat komando pemandu, alat penyiap senjata dan alat perekam data penerbangan berikut aktivitas awak pesawat. Komputer pengolah data avionik meliputi komputer navigasi, perangkat INS (berbasis tehnologi giro-laser dan dilengkapi perangkat GPS), sistem pemasok data udara, perangkat radio navigasi jarak dekat model TACAN, alat penentu ketinggian terbang yang berbasis tehnologi gelombang radio dan perangkat untuk mengidentifikasi kawan – lawan. Sementara itu, perangkat instrumentasi Yak-130 mencakup HUD (Head Up Display) dan perangkat tayang hasil pembidikan sasaran pada kedua helm awak pesawat berikut empat layar tipe LCD untuk menayangkan berbagai data penerbangan.

    Kinerja jelajah

                Ada banyak faktor yang harus diperhatikan di dalam menilai kinerja jelajah Yak-130. Kesatu, panjang landas pacu minimum yang dibutuhkan agar dapat tinggal landas maupun mendarat dengan sempurna pada berbagai formasi muatan. Kedua, jangkauan jelajah di dalam berbagai formasi muatan dan ketinggian jelajah. Ketiga, kecepatan jelajah di dalam berbagai kondisi operasi, ketinggian jelajah dan formasi muatan. Keempat, waktu yang diperlukan untuk bisa mencapai kondisi jelajah tertentu. Dan terakhir, faktor muatan pada kondisi jelajah dan formasi muatan tertentu.

                Agar bisa tinggal landas dan mendarat dengan sempurna, maka Yak-130 membutuhkan jalur landas pacu minimum sepanjang 360 dan 610 m. Untuk amannya, disarankan tersedia jalur landas pacu sepanjang 1.000 m. Namun nilai panjang landas pacu minimum yang dibutuhkan untuk terbang dan mendarat tersebut di atas tidak bersifat mutlak. Bobot total muatan baik saat Yak-130 tinggal landas maupun saat mendarat juga patut dipertimbangkan selaku variabel. Misalnya saat Yak-130 hendak tinggal landas dengan keenam tangki bahan bakarnya terisi penuh tapi tanpa membawa senjata apapun dengan kecepatan tinggal landas 110 knot (setara 205 km/jam) ia membutuhkan jalur landas pacu 340 m. Jika membawa seluruh senjata dengan hanya mengandalkan tangki bahan bakar internalnya yang terisi penuh, maka Yak-130 butuh jalur landas pacu yang lebih panjang (580 m).

                Sementara itu bila tidak membawa senjata apapun dan ketiga tangki bahan bakar eksternalnya kosong serta kecepatan pendaratan 93 knot (172 km/jam), maka Yak-130 butuh jalur pendaratan 400 m. Tetapi jika membawa seluruh persenjataannya dan isi tangki bahan bakar internal tinggal seperlima, maka harus tersedia jalur pendaratan sepanjang 640 m agar pesawat latih multi peran ini bisa mendarat dengan sempurna di bawah kondisi kecepatan awal saat ketiga roda pendaratnya menjejak tanah 97 knot (180 km/jam).

                Kecepatan jelajah Yak-130 sangat ditentukan oleh seberapa tinggi ia terbang, seberapa berat bobot muatan senjata yang diusung dan kondisi operasional yang dihadapi dalam satu kesempatan misi terbang. Saat ketinggian jelajahnya mencapai batas maksimum (12,25 km), maka kecepatan jelajahnya dapat digeber hingga 572 knot (1.060 km/jam). Begitu ketinggian jelajahnya berkurang hingga tinggal sepertiganya, maka kecepatan jelajah maksimum Yak-130 melorot tinggal 560 knot (1.037 km/jam). Kecepatan jelajah maksimum ini bisa semakin susut jadi tinggal 108 knot (200 km/jam) saat Yak-130 terpaksa melakukan manuver berguling (rolling manoeuvre). Meskipun begitu, saat mendaki agar bisa mencapai ketinggian jelajah tertentu, kecepatan tanjak Yak-130 dapat digenjot hingga 122 knot (226 km/jam).

    Oleh perancangnya Yak-130 diklaim memiliki kecepatan jelajah normal (normal ceiling speed) 478 knot (886 km/jam). Tatkala ia secara mendadak terkena kondisi stall dengan jumlah bahan bakar tinggal seperlima, maka Yak-130 masih bisa mempertahankan kecepatan jelajahnya pada nilai 89 knot (165 km/jam). Namun anehnya, oleh perancangnya Yak-130 justru dianjurkan agar diterbangkan pada kecepatan jelajah ekonomis 72 knot (133 km/jam).

    Selain oleh kecepatan jelajah, jangkauan jelajah Yak-130 juga dipengaruhi oleh jumlah bahan bakar yang dapat dibawa dalam sekali jalan dan bobot total muatan senjata usungannya. Jika ketiga tangki bahan bakar internalnya diisi berlebih 10 % dari kapasitas muat normal, maka meski tanpa ada tangki bahan bakar eksternal barang sebuahpun Yak-130 tetap dapat melesat hingga sejauh 2.546 km. Akan semakin jauh bilamana Yak-130 dibekali dua tangki bahan bakar cadangan (3.333 km). Namun bila seluruh tangki bahan bakar internalnya diisi sesuai kapasitas normal dan tanpa membawa satupun tangki bahan bakar eksternal, maka Yak-130 masih dapat mengepakkan sayapnya hingga sejauh 1.700 km.

    Harap diingat, semua kinerja jelajah di atas diukur pada kondisi Yak-130 tak membawa senjata. Dengan dibekali muatan senjata seberat 1,2 ton dan tanpa tangki bahan bakar eksternal barang satupun Yak-130 hanya mampu melaju hingga sejauh 525 km sepanjang ia tak melakukan pertempuran. Tetapi jika ia harus berduel di udara selama lima menit ataupun melakukan penyergapan sembari membawa dua bom (masing=masing seberat 425 kg), dua peluru kendali (rudal) dan satu polong senjata, maka Yak-130 dapat dipaksa melaju hingga sejauh 815 km asalkan juga dibekali dua tangki bahan bakar eksternal dan terbang pada ketinggian 10 km.

    Namun jangkauan jelajah ini akan merosot hingga tinggal separuh bila pada ketinggian 11 km ia harus mengemban misi patroli tempur udara selama dua jam dengan berbekal dua rudal dan satu polong senjata menggelayut di badan tanpa dibekali tangki bahan bakar eksternal. Dan semakin anjlok bila Yak-130 harus melakukan bantuan tembakan dari udara dalam misi serang darat sambil membawa sepasang bom (@ 227 kg), sepasang rudal dan satu polong senjata. Kondisi operasional yang paling ideal bagi Yak-130 adalah tatkala ia menjalankan sebuah misi tempur dengan membawa sebagian senjata (bobot 1,4 ton) dan sepasang tangki bahan bakar eksternal. Pada kondisi seperti ini, Yak-130 bisa melesat hingga sejauh 900 km.

    Secara teoritis, besar nilai gaya gravitasi (G force) yang dapat ‘ditahan’ oleh Yak-130 pada saat bermanuver berkisar -3G hingga +8G. Tatkala ketinggian jelajahnya 4,57 km, kecepatan jelajah Mach 0,8 dan isi tangki bahan bakar internalnya tinggal separuh, maka besarnya gaya G yang dapat ditahan paling banter berkisar antara +5,13 hingga + 5,2 G. Besarnya pengaruh gaya G juga ditentukan oleh seberapa banyak senjata yang dibawa. Misalnya pada ketinggian jelajah 5 km, dengan tanpa membawa senjata Yak-130 sanggup menahan pengaruh gaya G hingga +5,4 G. Tetapi begitu membawa senjata dalam jumlah maksimum, maka besarnya gaya G yang mampu ditahan merosot jadi tinggal +4,3 G.

    Persenjataan

                Seluruh muatan senjata dan perlengkapan tempur tambahan (termasuk tiga tangki bahan bakar eksternal) melekat pada badan dan sayap Yak-130 lewat tujuh hingga sembilan titik gantungan senjata yang tersebar pada bagian bawah kedua belah sayap (tiga hingga empat titik gantungan) dan bagian bawah perut (satu titik gantungan). Jumlah total titik gantungan senjata disesuaikan dengan permintaan calon pemakai Yak-130. Tangki bahan bakar eksternal ada yang ditempatkan di bawah sayap dan ada juga yang di bawah perut. Demikian halnya dengan berbagai jenis polong wadah perlengkapan tempur tambahan. Polong peluncur roket tanpa pemandu ditempatkan di bawah sayap sedangkan polong untuk barang bawaan jenis lain di bawah perut.

    Selain tangki bahan bakar eksternal, perlengkapan tempur tambahan yang juga dapat diusung oleh Yak-130 adalah berbagai jenis polong senjata (yang berfungsi sebagai wadah kanon atau peluncur roket tanpa pemandu), polong wadah perangkat gelar perang elektronik (pengacak sinyal radar dan perangkat tangkal aktif piranti penjejak sasaran berpanduan berkas sinar infra merah yang dimiliki rudal musuh) dan polong wadah piranti pemandu gerak jelajah rudal berbasis tehnologi elektro optis. Dalam sekali jalan jumlah rudal, bom dan roket yang bisa dibawa Yak-130 (tanpa peduli jenisnya) masing-masing adalah empat unit, sementara kanon hanya satu unit.     

    Jenis persenjataan yang dapat dibawa oleh Yak-130 mencakup rudal udara ke udara atau udara ke darat, bom, roket dan kanon. Tipe rudal udara ke udara yang cocok untuk Yak-130 adalah R-73E / AA-11 Archer (berpanduan berkas sinar infra merah), Vikhr (berpanduan berkas sinar laser) atau AIM-9L Sidewinder. Untuk rudal udara ke daratnya dapat berupa Kh-25ML / AS-10 Karen (berpanduan berkas sinar laser) atau AGM-65 Maverick. Sedangkan untuk bom, ragamnya dapat berupa KAB-500Kr (berpanduan gelombang televisi, bobot 520 kg, hulu ledak tipe HE), OFAB-100-300 (bobot 133 kg, hulu ledak HEF), OFAB-200-270 (bobot 268 kg, hulu ledak HEF) dan OFAB-500 / M-62 (bobot 500 kg, hulu ledak HEF) serta P-50T (bobot 52 kg, sebagai bom latih).

    Itu baru senjata untuk menggasak sasaran ‘kelas berat’ semisal pesawat tempur, helikopter bersenjata, kapal patroli berudal ataupun bunker perlindungan berstruktur beton yang sangat tebal. Sedangkan jika sasarannya tergolong kelas ‘menengah ke bawah’ macam tempat sarang senjata artileri pertahanan udara, gudang logistik, konvoi kendaraan tempur atau basis pasukan infanteri, maka senjata yang bakal dipakai Yak-130 adalah roket dan kanon. Kedua jenis senjata ini diusung di dalam polong wadah yang jenisnya pun beraneka ragam disesuaikan jenis senjatanya.

    Contoh roket dan kanon andalan Yak-130 adalah roket tanpa pemandu S-8 KOM kaliber 80 mm (bobot 11,3 kg, diusung polong peluncur B 8M-1 berdaya tampung 80 pucuk roket), roket tanpa pemandu S-13T (bobot 69 kg) atau S-130F (bobot 75 kg) (kedua jenis roket ini diusung polong peluncur B-13L kaliber 130 mm yang berkapasitas 20 pucuk roket), serta roket berpemandu S-25 OFM-PU (bobot 377 kg) yang diluncurkan tanpa bantuan polong peluncur. Dan sebagai senjata pamungkas, maka perancang Yak-130 memilih kanon berlaras tunggal GSh-30T kaliber 30 mm atau kanon berlaras ganda GSh-23L kaliber 23 mm. Keduanya dapat dibopong polong wadah kanon SNPU-130 yang digantungkan di bawah perut.

    Yak-130, Pesawat Latih Rusia

    Pesawat latih Yak-130

    Iklan
     

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: