Sejarahqu’s Blog

  • 11:47:43 pm on September 14, 2010 | 0

    Sista Bastar Serba Guna ZUR

    Sista Bastar

    ZU-23-2KG

    -23-2KG

    oleh : Santoso Purwoadi

     Dengan berbasis pada sista arhanud ringan jarak dekat ZU-23-2, industri alat pertahanan Polandia melansir sista bastar ZUR-23-2KG. Sista ini gampang dioperasikan dan dirawat sehingga layak dipertimbangkan sebagai senjata andalan satuan arhanud Korps Marinir TNI AL.

     

       Sedemikian pesatnya perkembangan tehnologi kedirgantaraan militer pihak Barat pada akhir dekade 1950-an menyadarkan seterunya, Uni Soviet, bahwa tehnologi inti pada sebagian sistem senjata artileri pertahanan udara (sista arhanud) andalannya kala itu telah ketinggalan jaman. Kondisi ini terlihat pada sejumlah sista arhanud jarak dekat semisal meriam berlaras tunggal M 1939 kaliber 37 mm dan keluarga kanon ZPU kaliber 14,5 mm.

      Untuk mengatasi hal itu, Angkatan Bersenjata (AB) Uni Soviet menerbitkan maklumat berisi kebutuhan akan satu jenis sista arhanud jenis baru (1954). Syaratnya, sista ini harus berbobot sedang serta punya kepadatan plus jangkauan tembak yang lebih baik ketimbang sista arhanud sekelas yang sudah ada. Dari sejumlah kandidat, terpilih purwarupa ZU-14 berlaras ganda buah karya Biro Perancang KBP Tula (1955). Sista ini lalu berganti nama jadi ZU-2.

       Setelah program pengembangannya usai, ZU-2 resmi bergabung ke dalam satuan arhanud AB Uni Soviet (1960). Inisial ZU merupakan kependekan dari Zenitnaya Ustanovska (Sista Anti Pesawat Terbang). Karena setiap larasnya berkaliber 23 mm, maka AB Uni Soviet lalu memberi sista ini nama resmi ZU-23-2. Sedangkan di kalangan industri berat sista ini diberi sandi indeks industri 2A13.

       Sista ZU-23-2 dipakai oleh 50-an negara. Beberapa di antaranya lantas memproduksi sendiri berdasarkan lisensi. Ada juga yang sampai mengembangkannya lewat modifikasi atas sejumlah komponen inti atau pun memadukannya dengan sista arhanud jenis lain sehingga tercipta satu sista bastar (hybrid weapon). Dari sejumlah negara produsen ZU-23-2, hanya RRC dan Polandia yang aktif mengembangkan sista ini. Jika RRC sampai memperbesar kaliber laras sista menjadi 25 mm, maka Polandia menjodohkan ZU-23-2 dengan sista peluru kendali (rudal) arhanud sambil memadu-padankan alat bidiknya. Alhasil, terciptalah sista bastar ZU-23-2 KG.

    Sang Cikal Bakal

       Secara garis besar tampilan fisik ZU-23-2 adalah sebagai berikut. Panjang badannya 4,57 m. Bila dihitung dari sisi terluar kedua roda wahana pengusungnya (dalam posisi normal), maka lebarnya 1,83 m. Setelah kedua rodanya direbahkan (posisi siap tembak), lebar totalnya jadi 2,88 m sedangkan panjangnya tetap. Tingginya pun berubah. Dari semula 1,87 m jadi 1,22 m dengan kondisi sudut elevasi kedua larasnya nol derajat terhadap permukaan bidang gelar.

       Bobot kosong total ZU-23-2 dalam kondisi formasi baku (tanpa alat bantu bidik eksternal dan amunisi) adalah 0,95 ton. Begitu seluruh amunisi diisikan ke dalam kedua magasen logam di sisi luar kedua laras kanon, maka bobot total sista jadi 0,98 ton. Kecepatan wahana penghela sista ini direkomendasikan paling banter 70 km per jam di jalan raya dan 20 km per jam saat melintasi medan berat.

       Komponen inti ZU-23-2 adalah sepasang kanon AY (Afanasyev Yakushev). Panjangnya 2,01 m. Jika dilengkapi alat peredam cahaya api tembakan panjangnya mencapai 2,5 m. Bersama komponen rumah mekanik penembakan, sepasang magasen, alat bidik manual dan tempat duduk  kedua awaknya, sepasang kanon berkode indeks industri 2A14 ini dipantek di atas sebuah landas pancang berstruktur segitiga yang menyatu dengan wahana gerak beroda dua yang tinggi kolong dan lebar track-nya masing-masing 0,31 dan 1,67 m.

       Posisi duduk ZU-23-2 saat posisi siap tembak disangga oleh tiga kaki pancang penahan getaran tembakan yang ketinggiannya dapat diatur memakai alat ulir. Pada ujung setiap kaki pancang terdapat piringan bergerigi (arah gerigi ke bawah) untuk membantu kaki pancang mencengkeram permukaan bidang gelar.

       Dibutuhkan waktu sekitar 15 – 20 detik untuk mengubah tampilan ZU-23-2 dari posisi normal ke posisi siap tembak dengan kedua roda penggeraknya rebah merapat ke permukaan bidang gelar. Namun untuk memulihkan kepada kondisi normal butuh waktu sedikit lebih lama, yakni berkisar 20 – 25 detik.

       Kepadatan tembak teoritis kedua laras ZU-23-2 1.600 – 2.000 tembakan per menit. Namun pada prakteknya tak lebih dari seperlimanya. Posisi hadap kanon 2A14 pada arah vertikal dapat dibuat mendongak ataupun menunduk tergantung lokasi sasaran. Saat akan melumat sasaran di udara, laras kanon dapat didongakkan hingga tegak lurus terhadap permukaan bidang gelar. Sementara untuk sasaran di darat, bisa ‘dipaksa’ menunduk hingga membentuk sudut 10 derajat terhadap posisi laras tatkala sejajar dengan permukaan bidang gelar. Untuk posisi horizontal, laras kanon dapat diputar ke segala arah (360 derajat). Karena sista ini masih dioperasikan secara manual, kecepatan perubahan arah hadap larasnya masih terbilang rendah. Yakni 30 derajat per detik untuk posisi horisontal dan 50 derajat per detik untuk posisi vertikal.

       Setiap unit ZU-23-2 dibekali sepasang laras cadangan yang dipakai saat laras utama kepanasan usai dipakai menembak 50 kali tanpa henti. Laras utama dicopot dan direndam dalam bak air pendingin hingga tiba saatnya beraksi kembali. Untuk memudahkan pemasangan, maka pada tiap batang tiap laras dipasang tungkai pemegang berlapis kayu. Proses penggantian laras makan  waktu 20 detik.

       Perancang ZU-23-2 mengklaim senjata rancangannya ini bisa melabrak sasaran di udara yang terbang dengan kecepatan 900 km per jam pada ketinggian 1.500 m. Sedangkan di darat, sista ini mampu menjangkau sasaran sejauh 2.000 m. Agar bidikannya lebih akurat, maka awak sista ini dimodali sepasang alat bidik baku. Untuk sasaran di udara, dipakai alat bidik optik mekanik ZAP-23. Sedangkan saat menyasar calon korban di darat, ia akan mengandalkan teropong T3. Skala perbesaran tampilan obyek bidik pada ZAP-23 satu kali sedangkan T3 tiga kali lipat.

       Ada tiga macam tipe amunisi baku ZU-23-2. Masing-masing tipe OFZ, OFZT dan BZT. Kedua jenis yang pertama dipakai terhadap sasaran di udara sedangkan sisanya untuk sasaran di darat. Amunisi OFZ termasuk tipe amunisi berdaya ledak tinggi. Proyektilnya pecah dan menyebar ke segala arah. Sumbu peledaknya dilengkapi mekanisme penghancuran diri yang akan bekerja jika dalam waktu 11 detik usai meninggalkan laras proyektil tak berhasil mendapatkan sasaran yang dituju.

       Amunisi OFZT merupakan hasil pengembangan OFZ dengan penambahan zat kimia pembakar sasaran. Saat menuju sasaran, proyektil OFZT dapat menyala berkat adanya zat kimia tertentu yang dapat berpendar selama lima detik sehingga arah lintasan proyektil dapat dilacak (tracer). Sedangkan amunisi BZT tak lain adalah amunisi tipe API-T yang sanggup menjebol lapisan pelindung badan kendaraan tempur pada kondisi tertentu. Usai melintas sejauh 100 m, proyektil BZT mampu menembus lapisan baja tipe RHA setebal 15 mm dengan sudut tembus 30 derajat terhadap permukaan bidang tembus. Sedangkan lapisan baja RHA setebal 25 mm masih dapat dijebolnya dengan sudut hantam 90 derajat meski ia telah melaju sejauh 250 m.

       Dari 50 butir kapasitas tampung setiap untai sabuk logam perangkai amunisi ZU-23-2, 38 butir di antaranya diisi dengan amunisi OFZ. Sedangkan sisanya OFZT atau BZT. Formasi isian setiap tiga amunisi OFZ diseling satu amunisi OFZT atau BZT. Pengisian amunisi masih dilakukan secara manual.

       Selain ketiga macam amunisi baku, ada juga amunisi jenis lain hasil kreasi pabrikan di luar Uni Soviet. Yakni amunisi APDS-T (Armour Piercing Discarding Sabot with Tracer), PMP dan PMA 276. Amunisi kesatu lansiran Polandia dan merupakan hasil pengembangan amunisi BZT. Bobotnya 103 gr dan kecepatan lesat awalnya 1.220 m per detik. Kemampuan menjebol lapisan baja amunisi ini kabarnya tiga kali lipat BZT pada kondisi penetrasi proyektil yang sama.

       Jika memakai amunisi PMP (buatan Afrika Selatan) maka pada ujung laras ZU-23-2 tidak ada cahaya api tembakan. Sehingga posisi sista agak sulit dilacak musuh. Dan amunisi PMA 276 tergolong amunisi tipe FAPDS-T (Frangible Armour Piercing Discarding Sabot with Tracer) yang ujung proyektilnya terbuat dari logam tungsten yang ringan tapi kuat (sehingga daya tembusnya besar). Tambah lagi material discarding sabot-nya dibungkus plastik khusus tahan suhu tinggi. Meski pun bobotnya cuma 150 gr, tapi kecepatan lesat awalnya jauh lebih tinggi ketimbang amunisi lainnya (1.180 m per detik). Karena itu, waktu jelajahnya pendek dan tingkat akurasi perkenaan sasarannya amat tinggi.   

    Versi Lanjutan

       Ketika dijajal di lapangan, ketahuan jika ZU-23-2 mengidap banyak kelemahan. Selain hanya bisa dioperasikan di siang hari kala cuaca cerah, pengaturan arah hadap kedua laras kanon juga masih dilakukan secara manual. Jangkauan tembaknya terhadap sasaran di udara hanya 1.500 m. Kepadatan tembak faktual tiap laras paling banter 200 tembakan per menit. Dengan kinerja seperti ini, keruan saja ZU-23-2 tak dapat diandalkan untuk meladeni serangan pesawat tempur modern berkecepatan jelajah tinggi yang sanggup terbang tinggi di malam hari dalam kondisi cuaca buruk.

       Pada awal dekade 1990-an, seabrek kelemahan ini coba diatasi oleh beberapa industri alat pertahanan Rusia. Caranya adalah dengan mempermak sejumlah komponen inti semisal kanon, alat bidik dan sistem penggeraknya. Salah satu biro perancang melansir kanon 2A14 yang telah ditingkatkan kemampuannya sehingga tahan dipakai menembak sampai 10.000 kali (2A14M) (1995). Mereka juga menjodohkan sista rudal arhanud jarak dekat untuk merontokkan sasaran yang berada di luar jangkauan kanon 2A14M. Sista bastar ini dinamai ZU-23-2M.

       Sementara biro perancang lainnya mengadopsi sistem penggerak elektro-hidraulik (sehingga perubahan arah hadap laras pada posisi horizontal dapat lebih cepat, yakni 90 derajat per detik), alat bidik elektrik dengan tingkat akurasi bidik tinggi (derajat akurasi bidik bertambah sehingga tingkat perkenaan atas sasaran yang melaju dengan kecepatan subsonik bisa lebih baik). Bahkan ZU-23-2M juga dilengkapi alat pencari dan penjejak sasaran yang bekerja secara optis-elektrik. Piranti endus nan canggih yang berada di atas magasen kanan ini tersusun dari kamera pemantau berlayar tayang (untuk membidik sasaran di siang hari), kamera pencitraan termal yang bekerja dengan panduan berkas sinar infra merah (sasaran di malam hari), alat penentu jarak lokasi kedudukan sasaran yang bekerja dengan panduan berkas sinar laser (berjangkauan 6.000 m) plus alat bidik kolimator (collimator sight).

       Bermodalkan itu semua, operator ZU-23-2M butuh waktu paling lama 180 detik untuk bisa menjejak sasaran. Alat ini bisa mendeteksi dan mengenali jenis sasaran yang berada pada jarak 6.000 m. Kecepatan jelajah obyek terbang yang bisa dijamahnya bertambah jadi empat kali lipat kemampuan versi baku (720 km per jam). Dengan diperkuat sista rudal arhanud jarak dekat macam Strella-2M ataupun Igla-1, maka ZU-23-2M diyakini akan mampu merontokkan sasaran yang melesat di udara dengan kecepatan jelajah 1.300 km per jam. Biar tambah sakti, ZU-23-2M1 (ZU-23-2 M yang telah digenjot kemampuannya) dibekali dengan alat identifikasi kawan – lawan agar operatornya tak sampai salah tembak.

    Tipe 80 dan Giant Bow

       Sebagai salah satu negara yang mengadopsi ZU-23-2 dalam jumlah cukup banyak, RRC tidak puas dengan kinerja sista yang diperolehnya dari Kremlin pada akhir dekade 1960-an. Mereka lalu coba membuat sendiri sembari melakukan modifikasi pada beberapa fitur penting. Setelah sempat jatuh bangun, pabrikan senjata utama RRC, Norinco, akhirnya pada medio dekade 1980-an berhasil mencipta Meriam Ringan Tipe 80 yang kinerjanya diklaim nyaris setara ZU-23-2 M. Untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri, pabrikan ini juga menyiapkan Giant Bow.

       Satu baterai Tipe 80 membawahi enam unit sista sementara Giant Bow delapan unit. Keduanya dapat dioperasikan secara manual ataupun otomatis dari jarak jauh oleh sebuah pos komando pengendalian (poskodal) yang diusung truk beroda empat (disebut kendaraan BCCV – Battery Command & Control Vehicle). Setiap poskodal diperkuat beberapa unit teropong bidik komando taktis (Tactical Command Sight – TACOS) berskala perbesaran tampilan obyek bidik hingga 11 kali serta alat optik pengarah tembakan (Optical Director Unit – ODU). Operator baterai dibekali seabrek peralatan endus yang ragamnya sama seperti yang diusung ZU-23-2M. Tenaga listrik untuk mengoperasikan seluruh peralatan yang ada di dalam BCCV berasal dari generator beroda dua yang dihela BCCV. Pihak Norinco mengklaim BCCV made in China ini tetap dapat beroperasi meski suhu lingkungan tempat penggelarannya amat ekstrem (antara -10 °C hingga  +50 °C).

    ZUR-23-2KG

       Pabrikan senjata Polandia, Zaklady Mechaniczne Tarnow (ZMT) mulai memproduksi ZU-23-2 sejak awal dekade 1980-an. Tampilannya serupa dengan ZU-23-2 buatan Negeri Beruang Merah. Sebelum muncul ZU-23-2M1 di Rusia, pihak ZMT telah lebih dulu coba membuat barang serupa dengan memadukan ZU-23-2 produksinya dengan sista rudal arhanud jarak dekat Strzala-2M yang tak lain adalah Strella-2M buatan Zaklady Metalowe Mesko (ZMM). Hasilnya, terciptalah sista bastar made in Poland, ZU-23-2S Jod (1985).

       Sekilas, tampilan dan kinerja ZU-23-2S mirip ZU-23-2M1. Rudal 9K38 yang jadi inti Strzala-2M diklaim pihak ZMM sanggup melumat sasaran dari depan pada ketinggian 2.300 m atau dari belakang pada ketinggian 50 – 4.800 m. Akurasi tembakan ZU-23-2S dijamin oleh alat bidik takometrik GP-1R buatan pabrikan alat optik lokal, Prexer Lodz, yang tenaga listriknya berasal dari baterai bertegangan 40 Volt, berdaya 120 Watt dan berdurasi 10 jam. Bila setrum baterai ini habis, dapat diisi ulang tanpa harus menghentikan kegiatan operasi sista. Pihak ZMT mengklaim, butuh waktu 15 – 20 detik untuk menyiagakan ZU-23-2S kepada kondisi siap tembak. Sementara untuk membongkarnya, butuh waktu hampir dua kali lipat.

       Karena tak puas dengan kinerja Strzala-2M yang masih bisa dikecoh oleh flare (kembang api) dan chaff (serpihan logam) sedangkan niat untuk menggenjot kinerja ZU-23-2S tetap menggebu, maka pihak ZMT lalu mengakalinya dengan cara melakukan bongkar pasang alat bidik. Alhasil, muncul sejumlah turunan ZU-23-2S yang kinerja tempurnya belum jua memuaskan pihak ZMT. Mulai dari ZUR-23-2T (memakai alat bidik GP-03WR), ZU-23-2MR Wrobel (versi laut, alat bidik GP-02MR) hingga ZU-23-2K (alat bidik kolimator CKE-1).  

       Setelah ZMM mendapatkan lisensi untuk memproduksi sista rudal arhanud Igla-1 (dinamai sista rudal Grom), maka pihak ZMT lalau menata ulang ZU-23-2S. Sista rudal arhanud dan tipe alat bidiknya diganti. Hingga pada pertengahan 2002, muncullah sista bastar serbaguna ZUR-23-2KG. Inisial KG merupakan kependekan dari Kolimatorowy Grom.

       Keunggulan sista baru berbobot 1,24 ton ini terletak pada perpaduan antara alat bidik CKE-2 dengan sista rudal Grom. Berkat alat bidik seberrat 14,5 kg ini, operator sista dapat membidik sasaran di udara setinggi 2.500 m yang melesat dengan kecepatan 1.800 km per jam. Tak peduli apakah sasaran itu sedang terbang pada jalur lintasan lurus atau tengah bermanuver menghindari tangkapan radar. Tenaga listrik alat bidik dipasok oleh baterai bertegangan 12 Volt, berdaya 30 Watt dan berdurasi 12 jam. Jangkauan bidik CKE-2 berkisar 600 – 1.500 m.

       Sepintas, tampilan fisik sista rudal Grom serupa Strzala-2M. Namun rudal seberat 10,5 kg ini memiliki kecepatan lesat awal dan kecepatan jelajah yang lebih tinggi. Yakni 363 dan 2.340 km per jam. Apabila dalam tempo 15 detik usai diluncurkan rudal ini tak juga mampu menemukan sasaran yang dituju, maka mekanisme penghancuran dirinya akan bekerja. Tujuannya agar rudal tak jatuh ke darat dalam kondisi utuh (berpotensi membahayakan pasukan sendiri). Pihak ZMM mengklaim sista rudal buatannya dapat beroperasi secara optimal meski suhu lingkungan tempat penggelarannya amat ekstrem (-30 °C – +50 °C). Kemampuan sista rudal berjangkauan jelajah 400 – 5.000 m ini juga ditentukan oleh sudut dongak tabung peluncurnya (20 – 70 °).

       Seperti halnya Tipe 80 dan Giant Bow, maka setiap baterai ZUR-23-2 KG yang beranggotakan enam unit sista juga dapat dioperasikan sekaligus secara otomatis oleh satu poskodal yang berada dalam BCCV. Untuk ZUR-23-2KG, perancangnya memilih poskodal tipe WD-95 yang mampu mendeteksi dan menjejak keberadaan sasaran sejauh 10.000 m. Rentang suhu operasional WD-95 – 30 °C – +58 °C. Seabagai wahana pengusungnya dipilih truk beroda enam Star 266 yang telah dimodifikasi. Tenaga listrik untuk WD-95 berasal dari generator PAD-90 yang ditempatkan di atas kereta beroda dua dan dihela BCCV.

    Spesifikasi Tehnis Amunisi Baku ZU-23-2

     

    Jenis Spesifikasi Tehnis OFZ OFZT BZT
    ∙ Tipe amunisi∙ Panjang badan total (mm)

    ∙ Panjang proyektil (mm)

    ∙ Panjang selongsong (mm)

    ∙ Bobot total (gram)

    ∙ Bobot proyektil (gram)

    ∙ Bobot selongsong (gram)

    ∙ Kecepatan lesat awal proyektil  m per detik)

    HE236

    108,2

    151,5

    356

    184

    172

    970

    HEI-T236

    108,2

    151,5

    360,5

    188,5

    172

    980

    API-T236

    99,3

    151,5

    362

    189

    172

    970

    Keterangan : HEI-T = High Explosive Incendiary with Tracer ; API-T = Armour Piercing Incendiary with Tracer

    Iklan
     

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: