Sejarahqu’s Blog

  • 12:15:40 am on Oktober 7, 2009 | 0

    Kapal Kombatan Multi Peran Kelas Gepard Versi 3.9

    oleh : Bambang Koespramono

     

    Kapal kombatan Gepard awalnya dirancang untuk menggantikan beberapa tipe kapal kombatan jenis korvet milik AL Uni Soviet yang telah tua. Setelah disainnya dikembangkan, kini ia hadir di tengah bursa kapal kombatan dunia dalam sejumlah versi. Salah satunya lantas dijadikan acuan disain bagi proyek pengembangan kapal Gepard varian yang diekspor ke manca negara. Kinerja operasinya hampir setara dengan kapal sejenis milik AL Federasi Rusia.

     

                Kebutuhan AL Uni Soviet akan kapal kombatan jenis baru sebagai pengganti kapal korvet kelas Koni, Parchim dan Grisha pada akhir dekade 1970-an telah ditanggapi oleh sejumlah biro perancang kapal dengan mengajukan disain kapal perang dengan kandungan tehnologi operasi lebih canggih nan mumpuni. Dari sekian banyak usulan, terpilih disain ajuan Biro Perancang Kapal Zelenodolsk (ZPKB) di Tatarstan, Rusia. Keputusan ini tak mengherankan karena ZPKB telah berpengalaman mendisain dan membuat berbagai tipe kapal kombatan kelas menengah semisal kapal Proyek 1226, 201M, 159A/AE dan 1159 T/TR. Khusus untuk disain kapal kombatan model mutakhir ini, ZPKB memberi nama kapal Gepard dengan sandi Proyek 1166.1.

                Pekerjaan mendisain Gepard berlangsung pada 1983 – 1988. Pembangunan dua kapal pertama dimulai pada 1988. Kapal kesatu diluncurkan pada 1993 dan kapal kapal kedua 1994. Seluruh pekerjaan membuat kapal kesatu usai pada 1995 sementara kapal kedua pada 1996. Terbatasnya anggaran belanja AL Federasi Rusia pada paruh kesatu dekade 1990-an (pasca bubarnya Uni Soviet) menunda rencana kedua kapal itu (SKR-200 Yastreb dan SKR-201 Albatros) untuk bergabung. Baru setelah kondisi perekonomian Federasi Rusia pulih pada medio 2002 Yastreb bisa bergabung ke dalam AL Federasi Rusia dengan menyandang nama baru, Tatarstan (SKR-691). Semula ia akan ditempatkan di jajaran Armada Laut Baltik tetapi batal. Lalu dijadikan kapal bendera (flagship) Armada Laut Kaspia (2004).   

                Tiga tahun selepas Tatarstan bergabung ke dalam AL Federasi Rusia, ZPKB mulai menggarap Albatros. Kapal ini dipermak dan diberi nama baru Daghestan (SKR-692). Saat diterima AL Federasi Rusia kapal ini memiliki sistem persenjataan (sista) yang lebih canggih dan lengkap ketimbang saudara tuanya (2007). Kemampuan bermanuver dan sifat laik lautnya pun lebih unggul. Di awal 2008 ZPKB segera mempersiapkan kemunculan kapal ketiga, Burevestnik, yang bakal diterima AL Federasi Rusia paling lambat pada 2012.

                Berbekal seabrek pengalaman saat membidani kelahiran Tatarstan dan Daghestan, ZPKB lalu  melansir disain kapal Gepard dalam sejumlah versi yang dibedakan melalui perlengkapan operasinya. Masing-masing adalah versi 3.9 (kapal disain baku untuk pengembangan versi yang diekspor), 5.1 (kapal patroli lepas pantai (OPV)), 5.2 (korvet berpeluru kendali (berudal)) dan 5.3 (frigat kawal berudal). Ciri khas kapal Gepard turunan versi 3.9 adalah berbobot mati 2.000 – 2.500 ton (tergantung jenis perlengkapan operasinya), panjang 100 – 102 m, lebar 13,1 – 13,6 m, garis batas daerah badan kapal yang direndam air laut (draught) 3,5 – 5,3 m (tergantung dilengkapi sonar atau tidak), kecepatan jelajahnya hingga 27 knot dan jangkauan jelajah bisa mencapai 5.000 mil laut (tergantung kecepatan jelajahnya).

    Tak ketinggalan ZPKB juga menyiapkan disain kapal yang berukuran lebih kecil dengan bobot mati 1.000 – 1.100 ton, kecepatan jelajah maksimum 24 knot dan mampu beraksi di laut selama 10 hari. Kapal bersandi Proyek 1124 ini dapat dimodifikasi sehingga bisa hadir di dalam berbagai versi. Yakni kapal pemburu kapal selam (Proyek 1124M), pemberi dukungan tembakan (1124M1) dan pertahanan pantai (1124M2). Langkah ZPKB untuk menyediakan aneka disain kapal Gepard ini semata didasarkan pada pertimbangan akan bervariasinya permintaan model disain kapal dari konsumen yang kemampuan finansialnya juga beragam.

    Keputusan AL Federasi Rusia yang berkenan mengadopsi sepasang kapal Gepard ini lantas ditiru AL Republik Demokrasi Rakyat Vietnam. Kekuatan bahari terkemuka di semenanjung Indochina ini telah teken kontrak dengan ZPKB untuk membuat empat kapal Gepard hasil modifikasi versi 3.9 (2004). Dua kapal dibuat di Rusia sedangkan sisanya di Vietnam. Rencananya, Hanoi bakal menerima kapal kesatu akhir tahun ini dan kapal kedua pada pertengahan 2010. Rancang bangun keempat kapal pesanan AL Vietnam ini mirip Daghestan. Khususnya dalam perkara jenis sista dan sistem manajemen informasi tempurnya. Mereka juga dilengkapi tiga sista arhanud kombinasi Palma, komplek sista anti kapal selam, dek pendaratan helikopter bertudung pelindung baling-baling (dipasang tidak permanen) dan penerapan sistem manajemen informasi tempur Sigma E.

     

    Disain badan dan kinerja jelajah

                Biro perancang ZPKB mendisain dan mengembangkan kapal kelas Gepard versi 3.9 (selanjutnya disebut Gepard 3.9 saja) sebagai sebuah kapal kombatan moderen yang sanggup mencari, mendeteksi keberadaan dan menghancurkan segala jenis sasaran yang berada di pemukaan laut, bawah permukaan laut, udara dan darat. Ia juga bisa mengemban tugas pengawalan serta patroli pengamanan di wilayah perbatasan dan kawasan ekonomi eksklusif. Baik dilakukan secara mandiri ataupun tergabung di dalam gugus tugas. Gepard 3.9 merupakan kapal kombatan serba bisa yang cocok untuk memperkuat jajaran AL negara berkembang di kawasan Asia Tenggara dan Selatan. Karena meski sarat kandungan tehnologi operasi canggih, namun harganya relatif terjangkau.

                Mayoritas badan Gepard 3.9 terbuat dari baja. Namun menara serta beberapa bangunan yang ada di belakang tiang utama dan di bawah lunas menggunakan material polimer yang diperkuat serat gelas. Sementara tiang antena radar dan peralatan komunikasinya berbahan zat paduan logam alumunium dan magnesium yang tahan karat. Struktur hidrodinamik dari bagian dasar badan, kawasan dek sebelah atas (tempat mayoritas struktur melintang di badan kapal), bagian tengah badan hingga buritan Gepard 3.9 dibuat membundar mirip huruf U. Total ada 11 ruangan kedap air di seluruh badan Gepard 3.9. Kapal ini diklaim perancang bakal tetap dapat mengapung dan berlayar biarpun ada dua ruangan yang berdekatan (baik di haluan maupun di buritan) maupun tiga ruangan yang berjauhan (di tengah badan) terisi penuh dengan air laut (akibat kebocoran).

                Agar Gepard 3.9 bisa leluasa berlabuh di suatu dermaga, maka harus tersedia ’kapling parkir’ berukuran 120 m (panjang) X 20 m (lebar) dengan kedalaman perairan minimal 8 m. Tak peduli apakah ia akan bersandar dengan cara posisi haluan menghadap ke laut (mooring tail inshore) ataupun lambung yang menghadap ke laut (mooring beam on). 

                Biar lebih sakti, Gepard 3.9 mengadopsi tehnologi siluman (stealth) yang berintikan kemampuan badan kapal untuk sebanyak mungkin menyerap sinyal radar dan sonar musuh yang dijabarkan sebagai berikut. Seluruh struktur bidang permukaan badan kapal didisain sedemikian rupa agar mampu menekan tingkat medan fisik kapal (vessel physical fields). Profil fisik setiap bangunan dan jejak putaran baling-baling pendorong badan kapal diupayakan tidak ’memikat perhatian’ radar dan sonar. Siluet badan kapal dibuat serba pendek dan ringkas. Jumlah struktur berujud segitiga menyudut (trihedral angels) berikut kekuatan medan dispersi magnetik efektif di permukaan seluruh bangunan diminimalisasi. Temperatur bagian lambung kapal yang bersinggungan dengan ruang mesin dan temperatur gas buang produk mesin disel, mesin turbin gas dan generator dibuat serendah mungkin. Derajat kebisingan di bawah permukaan laut yang ditimbulkan baik oleh gerakan komponen mesin penggerak maupun kibasan poros dan bilah baling-baling ditekan serendah mungkin agar tidak gampang terendus sonar musuh.    

                Kecepatan jelajah Gepard 3.9 bisa digenjot hingga 27 knot apabila seluruh mesin penggeraknya bekerja secara optimal. Namun jika Gepard 3.9 cuma mengandalkan tenaga gerak keluaran mesin disel, maka nilai tadi bakal menyusut hingga 16 – 20 knot. Dengan berbekal kecepatan jelajah yang bervariasi, alhasil jangkauan jelajah Gepard 3.9 pun beragam. Mulai dari 3.500 mil laut pada 18 knot hingga 5.000 mil laut pada 10 knot.

    Jumlah awak Gepard 3.9 101 – 103 orang, di mana 10 di antaranya adalah operator helikopter. Perancangnya mengklaim kapal ini mampu beroperasi di laut tanpa henti selama 20 – 22 hari tergantung jumlah bahan makanan untuk dikonsumsi oleh seluruh awak kapal.

     

    Sistem penggerak dan kelistrikan

                Gerak jelajah Gepard 3.9 ditentukan oleh kondisi putaran dua baling-baling berbilah tetap yang dipakai untuk mendorong supaya badan kapal bisa maju atau mundur. Tenaga pemutar sepasang baling-baling ini berasal dari komplek sistem penggerak hasil perpaduan satu unit mesin disel berkopling udara 86B dengan sistem turbin gas M44E yang tersusun dari dua unit mesin turbin gas DO-90, sepasang alat peredam kecepatan tunggal (single-speed reducing gears) RA-20 berikut sejumlah peralatan dukungan operasional. Kombinasi mesin penggerak model begini disebut kombinasi CODOG (COmbined Diesel Or Gas Turbine). Pada sistem paduan ini untuk menggerakkan sepasang baling-baling kapal bisa dengan  memakai hanya mesin disel ataupun salah satu dari beberapa mesin turbin gas.

                Rincian jumlah tenaga yang dihasilkan sistem CODOG yang ada pada Gepard 3.9 adalah 39920 kWatt (setara 40.690 PK) berasal dari kedua mesin turbin gas dan 5.900 kWatt (setara 8024 PK) dari mesin disel. Untuk itu maka setiap jam dibutuhkan 225 kg solar untuk mesin DO-90 dan 168,8 gr solar untuk mesin 86B semata agar mereka bisa memproduksi tenaga sebesar 1 PK. Bila masa pakainya telah mencapai 20.000 jam, maka mesin DO-90 harus melakoni general overhaul. Demikian halnya mesin 86B saat masa pakainya mencapai 55.000 jam. Dalam soal masa pakai total ekonomis kedua jenis mesin penggerak ini bisa kompak, yakni sama-sama 25 tahun. Untuk Gepard 3.9 versi ekspor, mesin 86B dapat diganti dengan mesin disel 61D yang kinerjanya hampir setara.

                Untuk menghidupi seluruh peralatan elektroniknya, Gepard 3.9 mengandalkan pasokan tenaga listrik (arus listrik bolak-balik tiga fasa, tegangan 380 Volt dan frekuensi operasi 50Hz) yang dihasilkan oleh tiga unit mesin generator (masing-masing berdaya 600 kWatt (815 PK)). Ketiga generator tersebut ditempatkan dalam dua ruangan kedap air terpisah sehingga membentuk dua stasiun pembangkit tenaga listrik (di haluan dan buritan). Kedua stasiun itu dihubungkan rangkaian cable jumper berkemampuan hantar tenaga listrik 600 kWatt.

     

    Sistem kendali dan komando

                Di atas geladak Gepard 3.9 dipantek sistem kendali dan komando yang meliputi sistem radar kendali penembakan multi peran 5P-10-03E Puma, sistem radar kendali penembakan MR-123-02, sistem sensor pendeteksi kapal selam MGK-335 EM-01/03, sistem radar tiga dimensi pendeteksi sasaran di permukaan laut dan udara Pozitiv-ME1dan sistem radar identifikasi kawan-lawan 67R serta sistem manajemen data taktis informasi tempur Sigma E.

                Sistem radar 5P-10-03E Puma (berada di atap anjungan) akan memindai segala macam sasaran dengan cara berputar ke segala penjuru atau terpusat pada sektor dan arah tertentu. Alat ini juga dapat melacak dan ’mengunci’ sasaran (lock on target) di permukaan laut, udara dan tepi pantai dengan profil radar amat kontras (radar-contrast shore based target). Kabarnya sistem radar ini mampu mendeteksi sasaran yang tengah ’berlari’ dengan kecepatan 2.520 – 3.600 km / jam hingga sejauh 30 km. Dalam sekali endus, ia mampu melacak tiga sasaran lalu mengunci dua di antaranya agar bisa segera dibantai oleh sista yang sesuai. Radar Puma dapat digantikan radar SP-521 Rakurs yang berbasis tehnologi optis-elektronik.

                Sistem radar Pozitiv-ME1 (dilengkapi antena berbasis tehnologi phased array) mampu melacak keberadaan semua jenis sasaran di permukaan laut dan udara (sekali lacak 50 sasaran), menentukan titik koordinat plus parameter terbangnya, untuk kemudian menggolongkannya (berdasarkan kecepatan dan ketinggian jelajahnya) lalu mendistribusikan data seluruh sasaran itu kepada semua anggota gugus tugas. Radar ini mampu memindai ke segala arah hingga sejauh 150 km dan setinggi 30 km dengan sudut elevasi pindai 85º. Jangkauan deteksi maksimumnya adalah 110 km untuk sasaran berpenampang 1 m² dan 15 km untuk yang berpenampang 0,1 m². 

    Selain berfungsi untuk melakukan identifikasi kawan-lawan terhadap suatu obyek yang berada di dekat kapal, sistem radar 67R juga sanggup melakukan langkah tanggap otomatis (automatic response) bila ada radar identifikasi kawan-lawan milik kapal lain atau pesawat tempur di dalam satu gugus tugas yang sama tengah melakukan proses identifikasi. 

                Sistem sonar pendeteksi kapal selam MGK-335EM-01/03 (berjangkauan deteksi 10 – 12 km) dilengkapi peralatan hidroakustik frekuensi tinggi dan rendah (plus perangkat komunikasi yang telah diisandikan), perangkat identifikasi kawan-lawan untuk media bawah air dan alat penentu jarak lokasi sasaran. Sonar detektor MGK-335EM-01/03 dapat melakukan pendeteksian secara aktif maupun pasif dengan memanfaatkan kebisingan (pada tingkat tertentu) yang dipancarkan oleh sasaran yang sedang dibidik.

                Sistem manajemen data informasi tempur Sigma E bertanggungjawab mengintegrasikan seluruh sista yang diusung Gepard 3.9 menjadi sebuah sistem kerja terpadu yang mampu beraksi dalam tempo sesingkat mungkin, menentukan situasi – kondisi pertempuran yang bakal dihadapi dan pola manuver kapal saat menghadapi ancaman, sekaligus memilih jenis sista yang dinilai paling cocok untuk dipakai di dalam sebuah pertempuran serta memasok berbagai data tentang suatu sasaran kepada unit pengendali sista yang dipilih tersebut.

     

    Peralatan komunikasi dan navigasi

                Perangkat navigasi Gepard 3.9 merupakan hasil perpaduan dari sistem radar navigasi Gorizont-25E yang dilengkapi sepasang layar penayang data, sistem pemetaan elektronik EKNIS MK-54IS, alat penerima data navigasi satelit (berbasis GPS) NT-2000D, sonar penentu kedalaman lautan NEL-20K dan kompas magnetik KM-115-07 serta alat pengukur kondisi angin IPV-92.     

                Sedangkan perangkat komunikasi Gepard 3.9 terdiri dari sistem radio komunikasi eksternal (Rubin-EGZ) dan sistem radio komunikasi internal (P-447). Sistem radio Rubin-EGZ merupakan hasil racikan alat pemancar gelombang radio rentang frekuensi 1,5 – 30 MHz dan 100 – 400 MHz, alat penerima gelombang radio rentang frekuensi 1,5 – 60 MHz (masing-masing dua unit) dan alat pengirim – penerima telegram serta perangkat komunikasi dijital dua arah (masing-masing satu unit). Sementara sistem radio P-447 berintikan perangkat interkom yang memiliki 5 – 20 kanal komunikasi.            

               

    Sistem persenjataan

    Agar mampu menyerang sekaligus membela diri, maka Gepard 3.9 dibekali sejumlah sista dan perlengkapan dukungan tempur di mana komposisinya sangat ditentukan oleh ragam peran yang bakal diemban. Peran itu melibatkan pekerjaan mendeteksi dan mengolah data sasaran, mengklasifikasikannya dan menentukan sista mana yang dinilai paling cocok (berikut sistem kendali penembakannya) untuk mengeliminasi sasaran tersebut.       

                Saat menyerang jenis sista dan perlengkapan dukungan tempur yang diandalkan Gepard 3.9 berupa meriam otomatis AK-176M (dapat diganti dengan meriam otomatis A-190-01E), kanon otomatis AK-630M, sista anti kapal selam DTA-53, sonar MGK-335EM-03, sista rudal anti kapal permukaan Kh-35 Uran-E serta helikopter Ka-28/31. Sedangkan untuk bela diri, taji Gepard 3.9 berupa sista arhanud kombinasi Palma, perangkat gelar perang elektronik MP405, alat pengecoh rudal anti kapal PK-10, alat hidroakustik pengecoh torpedo Zmey, ranjau laut UDME, sonar pendeteksi aksi sabotase bawah air Anapa-ME dan sista anti sabotase bawah air DP-64 serta sista rudal arhanud jarak dekat Igla.

                Sista rudal Kh-35 Uran E dipakai melabrak sesama kapal kombatan. Eksistensi Uran E dapat diendus lewat kehadiran rak 3S-24E pengusung empat tabung peluncur 3TSe-24E. Setiap tabung berisi satu rudal 3M-24E. Penembakan sista berjangkauan jelajah 5 – 130 km ini dikontrol sistem kendali 3R-60UE sementara arah jelajahnya dipandu radar tiga dimensi pengidentifikasi sasaran Pozitiv – ME1. Sistem kendali 3R-60UE menyiapkan tahap awal peluncuran rudal, data sasaran yang dibidik (sekaligus enam sasaran) dan tipe penembakan (tunggal atau beruntun) sekaligus menangani jika terjadi kondisi darurat akibat rudal 3M-24E mengalami malfungsi.        Setelah keluar dari tabung peluncur, rudal 3M-24E (bobot total 628 kg, bobot hulu ledak 145 kg) akan menuju ke sasaran dengan kecepatan 1.008 – 1.080 km / jam. Secara bertahap ketinggian jelajahnya turun hingga mencapai 10 – 15 m dari permukaan laut. Saat berada sejauh 20 – 25 km dari sasaran (yang telah terdeteksi dan ’dikunci’), ketinggian jelajah rudal 3M-24E akan merosot hingga tinggal 3 – 5 m yang terus bertahan sampai ia berhasil mengenai sasaran.

                Sista meriam AK-176M berintikan sepucuk laras berkaliber 76,2 mm dengan jangkauan bunuh 15,7 km dan kecepatan tembak 130 peluru / menit. Stok amunisinya 608 butir (156 butir di dalam kubah meriam) dengan hulu ledak tipe HE (High Explosive) dan sumbu peledak yang baru beraksi tatkala proyektil telah mendekati sasaran. Sista seberat 9,5 ton ini dapat dikendalikan baik secara otomatis maupun manual. Jangkauan tembak bidang horisontalnya mencapai 15,7 km sedangkan bidang vertikal 11 km. Sementara A-190E1 yang berkaliber 100 mm jangkauan bunuhnya 20 km dan kecepatan tembak 80 peluru / menit dengan rentang sudut dongak – tunduk laras -15º – + 85º. Dalam sekali jalan, sista seberat 15 ton ini dimodali 80 butir amunisi. 

                Peran kanon otomatis AK-630M mirip dengan peran AK-176M tapi kinerjanya terbatas. Dengan kecepatan tembak 4.000 – 5.000 peluru / menit dan sediaan amunisi 3.000 butir (duapertiganya di dalam kubah senjata) serta laras enam serangkai model Gatling berkaliber 30 mm (mampu menunduk hingga 25º dan mendongak hingga 90º), maka jangkauan bunuh AK-630M hanya 4 – 5 km. Jenis hulu ledak proyektilnya adalah FT (Fragmentation Tracer) dan HEI (High Explosive Incendiary).

                Perangkat gelar perang anti kapal selam DTA-53 pada Gepard 3.9 beranggotakan dua sistem peluncur torpedo bertabung ganda (arah hadapnya dapat diatur) untuk menembakkan torpedo berkaliber 533 mm tipe SET-63E atau TEST-71 ME-NK. Kendali penembakan kedua jenis torpedo ini dilakukan kompleks kendali Purga yang didukung sonar aktif – pasif frekuensi rendah (dioperasikan dengan cara dihela dan panjang antenanya dapat diatur) Vignette EM dan sonar statis MGK-335EM-03 (antenanya dipasang pada lunas kapal). Torpedo SET-63E dan TEST-71 ME-NK dapat menghancurkan kapal selam pada kedalaman 400 m. Perbedaan keduanya cuma pada jarak jangkauan bunuhnya, di mana SET-63E 2 – 15 km sementara TEST-71 ME-NK 2 – 19 km.

    Selain torpedo, andalan Gepard 3.9 dalam menghadapi kapal selam adalah sista roket RBU-6000 dengan 12 tabung pelontar amunisi sepanjang 1,6 m yang disusun melingkar (formasi pelana kuda). Amunisi RBU-6000 berupa roket RPK-8 dengan panjang badan 1,83 m, kaliber 212 mm dan bobot total 112,5 kg (bobot hulu ledak 21 kg). Sista roket bertempo aktifasi 15 detik ini sanggup menghabisi kapal selam yang berada di lokasi sejauh 0,6 – 4,3 km dan kedalaman 1 km atau torpedo pada jarak sama tapi pada kedalaman 4 – 10 m.    

                Untuk meningkatkan efektifitas tempur sista Uran E dan torpedo, maka Gepard 3.9 membawa helikopter anti kapal selam Ka-28 dan Ka-31 untuk membimbing rudal dalam menemukan sasaran di balik garis cakrawala. Kedua heli ini dibekali aneka peralatan dukungan operasi sesuai misinya. Terdiri dari sepasang rudal anti kapal selam APR-37, sepasang torpedo anti kapal selam UMGT-1ME, 16 unit bom anti kapal selam S-3V, 64 unit detektor radioakustik RGB 16-1, lampu sorot VS-1, pengolah data navigasi Topaz NK, alat penentu jarak penerbangan Lingo 1M (saat kondisi angit buruk), alat pemasok data penerbangan (untuk Kh-31) dan alat bantu penentu arah lintasan jelajah berbasis tehnologi giroskop serta bermacam peralatan dukungan operasi lainnya.  

                Sista arhanud kombinasi Palma berintikan dua unit kanon otomatis model Gatling kaliber 30 mm plus 2.000 butir amunisi tipe APSM (Armour Piercing Subcaliber Missile) yang terangkum di dalam modul senjata 3R-99E, 16 pucuk rudal arhanud Sosna-R dan sistem kendali penembakan yang berbasis tehnologi optis elektronik. Setiap proyektil yang dimuntahkan laras kanon berkecepatan tembak 10.000 peluru / menit ini dapat menjamah sasaran sejauh 4 – 5 km dan setinggi 0,002 – 3 km berkat kecepatan lesat awal proyektil saat meninggalkan laras kanon sebesar 3.960 km / jam. Sementara Sosna-R mampu menghantam sasaran sejauh 8 km dan setinggi 0,002 – 4 km.

                Sebagai penangkal serangan dari wahana terbang yang melintas pada ketinggian 10 – 3.500 m, maka di atas geladak Gepard 3.9 dipasang delapan unit peluncur sista rudal arhanud jarak dekat Igla yang dibagi ke dalam dua stasiun operasi. Setelah diaktifasi selama lima detik, sista ini mampu melibas sasaran yang melaju dengan kecepatan 1.440 km / jam dari arah depan atau 1.152 km / jam dari arah belakang. Tentu saja asalkan sasaran itu masih berada di dalam kisaran jarak 0,5 – 5,2 km. Dan untuk membinasakan sasaran ’kecil’ di permukaan laut atau udara, cukup dengan memakai dua pucuk senapan mesin berat kaliber 14,5 mm.

                Perangkat gelar perang elektronik Gepard 3.9 mencakup sistem pengacak sinyal radar MP-405-E1 (bekerja secara aktif) dan PK-10 (bekerja secara pasif) ditambah empat unit penghasil tabir asap MDSh-2. Fungsi MP-405-E1 yang bekerja pada rentang pita frekuensi deteksi 2 – 18 GHz dan cakupan azimut deteksi 360º ini adalah mendeteksi, menganalisa dan mengelompokkan segala bentuk sasaran (berikut asal-usulnya) sekaligus mengacak sinyal radar pengendali arah jelajah sasaran itu tanpa peduli apapun jenis pemancarnya. Alat yang berada di atas anjungan tepat di belakang sistem radar 5P-10-03E ini kabarnya mampu mendeteksi sekaligus 100 sasaran (?). Sedangkan PK-10 tersusun dari 10 tabung pelontar proyektil KT-216 yang berisi proyektil konvensional pengacak sinyal radar SR-50 ataupun SO-50 yang berbasis tehnologi optis elektronik. Setiap Gepard 3.9 dibekali empat unit PK-10, 60 butir SR-50 dan 60 butir SO-50.  

                Ancaman torpedo musuh bisa dinetralisir dengan cara membelokkan arah jelajahnya (supaya tak menuju ke lambung Gepard 3.9) dengan bantuan alat hidroakustik Zmey. Alat kecoh ini dioperasikan pada kedalaman laut 10 – 30 m dengan cara dihela memakai kawat khusus oleh wahana penghela yang dikendalikan dari ruang kendali operasi. Selain menciptakan medan kebisingan sinyal kapal imitasi, Zmey juga piawai dalam mengacak frekuensi sinyal radar yang diemisikan torpedo ataupun kapal selam musuh.

                Untuk mengantisipasi terjadinya aksi sabotase bawah air, awak Gepard 3.9 dilengkapi peralatan sonar detektor Anapa-ME dan sepasang senjata pelontar granat DP-64. Sonar Anapa-ME dioperasikan saat kapal tengah bersandar di dermaga ataupun lego jangkar di laut. Ia mampu mendeteksi keberadaan (sekaligus) empat obyek calon pelaku aksi sabotase bawah air pada jarak 15 – 400 m. Baik berupa kapal selam mini, skuter bawah air ataupun peselam bermodal rangkaian peledak. Jika keberadaan obyek calon pelaku aksi sabotase telah terendus Anapa-ME, operator DP-64 akan menembakkan senjatanya yang berjangkauan 400 m. Sista DP-64 punya dua macam amunisi, yakni FG-45 dan SG-45, dengan jumlah sediaan total 420 butir.  

                Untuk membuat medan ranjau guna mengamankan wilayah perairan di sekitar Gepard 3.9, maka ditebarkan ranjau laut UDME. Rel penebar ranjau ini dipasang di atas geladak kapal ataupun dapat diusung oleh helikopter Ka-28. Dalam sekali jalan, Gepard 3.9 membawa selusin ranjau UDME yang bisa dipakai melibas semua jenis obyek bahari sebesar apapun.

    Iklan
     

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: