Sejarahqu’s Blog

  • 02:13:49 am on Agustus 14, 2009 | 2

    oleh : Bambang Koespramono

    Berawal dari kebutuhan TNI AL akan perahu berkecepatan jelajah tinggi dalam jumlah yang cukup banyak untuk melakukan tugas patroli jarak dekat, maka Dislitbangal mengadakan kegiatan riset supaya dapat mendisain sebuah perahu patroli yang meski kinerja jelajahnya pilih tanding namun harga per unitnya cukup terjangkau. Agar terwujud ke dalam bentuk nyata, salah satu rekanan dalam negeri pun digandeng. Hasilnya tercipta dua jenis RIB yang berkinerja mumpuni. Sudah menjadi rahasia umum jika Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) kerap terkendala sejumlah faktor teknis di dalam mengemban tugas pokoknya sebagai pengawal kedaulatan wilayah perairan Republik Indonesia (RI) yang sangat luas. Salah satu faktor tehnis pengendala tersebut adalah keterbatasan jumlah kapal kombatan berkinerja jelajah memadai untuk melangsungkan kegiatan patroli rutin. Baik di perairan laut dangkal dekat pantai maupun perairan laut sedang dan dalam. Untuk sementara waktu masalah keterbatasan jumlah dan kinerja jelajah dari kapal kombatan berukuran sedang dan besar telah dapat diatasi dengan bergabungnya empat buah kapal korvet siluman kelas SIGMA buatan Belanda ditambah belasan unit kapal patroli tipe PC-36/40 hasil kreasi bersama Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AL (Dislitbangal) dengan sejumlah Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan (Fasharkan) TNI AL. Namun untuk menggelar kegiatan patroli rutin dalam jarak dekat di kawasan perairan sekitar pantai, jajaran armada TNI AL hingga detik ini masih sangat mengandalkan beberapa unit perahu patroli jenis khusus buatan luar negeri yang memiliki kecepatan jelajah cukup tinggi. Yang disebut sebagai perahu patroli berkecepatan jelajah tinggi itupun kebanyakan berupa perahu karet bermotor tempel atau paling banter perahu bermotor tempel dengan badan pejal yang dililit tabung udada pelampung dan lebih kondang dengan sebutan RIB. Dengan semakin meningkatnya frekuensi kegiatan patroli jarak dekat, maka pihak TNI AL pasti butuh lebih banyak perahu patroli berkecepatan jelajah tinggi semacam RIB. Perahu model ini sangat andal bila diajak mengejar kapal nelayan asing pencuri ikan atau kapal niaga yang menyelundupkan aneka jenis barang baik dari dalam maupun ke dalam wilayah RI. Semakin meningkatnya peluang untuk terjadinya aksi terorisme bahari di perairan RI (baik terhadap kapal niaga maupun instalasi pengeboran minyak lepas pantai) turut meningkatkan derajat urgensi akan ketersediaan perahu patroli berkecepatan jelajah tinggi yang dapat dipakai satuan teror TNI AL menuju tempat kejadian aksi teror. Masalahnya sekarang, harga perahu patroli seperti RIB yang buatan luar negeri terbilang mahal dan dalam kondisi krisis keuangan global seperti saat ini maka harganya pasti kian melangit. Padahal kebutuhan TNI AL akan alat transportasi air model ini sudah amat mendesak. Sebagai solusinya pihak Dislitbangal lantas melakukan serangkaian kegiatan riset agar dapat membuat sebuah disain perahu jenis khusus yang memiliki kecepatan jelajah tinggi seperti RIB. Pihak TNI AL sendiri memang sudah punya beberapa unit RIB tetapi semuanya buatan Afrika Selatan. Karena anggaran operasionalnya pun terbatas, pihak Dislitbangal lalu bermitra dengan salah satu rekanan di dalam negeri agar disain RIB lansirannya bisa menjadi kenyataan.

    Apa itu RIB ?

    Istilah RIB sebenarnya bukan sesuatu hal yang asing bagi para pelaku dunia bahari di Tanah Air. Namun asal tahu saja, saat pertama kali diperkenalkan perancangnya pada paruh kedua dekade 1960-an nama yang disandang bukan RIB tetapi RHIB (Rigid Hulled Inflatable Boat – Kapal Berbadan Pejal dan Berpelampung). Belakangan hari demi alasan kepraktisan di dalam pengucapan, maka istilah RIHB jadi kerap diujarkan sebagai RIB saja. Secara umum sebuah RIB dapat dicirikan lewat bobotnya yang relatif ringan (meski badannya terbuat dari bahan yang padat), disain konstruksi lambungnya yang meruncing sedemikian rupa hingga membentuk huruf V dan sekeliling bagian luar badannya dililit tabung pelampung berstruktur fleksibel dan bertekanan udara. Berkat tabung pelampung ini sebuah RIB dijamin tidak bakal gampang tenggelam biarpun ia baru saja terbalik akibat kena terjang ombak laut yang paling besar sekalipun. Atau sejumlah air laut sempat menggenangi geladaknya. Panjang badan sebuah RIB berkisar 4 – 9 meter. Namun untuk keperluan tertentu, panjang badan RIB dapat dibuat berkisar 2,5 – 18 meter. Demi menghasilkan tenaga dorong yang cukup besar sehingga bisa membuat sebuah RIB melaju pesat, maka dibutuhkan (sedikitnya) satu unit motor disel berdaya besar. Motor penggerak ini dapat dipasang pada bagian dalam badan RIB (berupa mesin jet air alias inboard water jet engine) atau pada bagian buritan sebagai stern drive engine. Tetapi pada kebanyakan RIB yang biasa kita jumpai saat ini, jumlah motor penggeraknya minimal dua unit yang dipasang pada bagian luar badan (outboard motor). Tenaga yang dihasilkan mesin penggerak RIB biasanya berkisar 5 – 300 daya kuda (setara 4 – 220 kiloWatt). Saat pertama kali diperkenalkan kepada publik RIB dipakai selaku perahu penyelamat (rescue craft) yang kapasitas angkutnya lebih besar ketimbang perahu karet biasa. Kemudian bidang pemakaian RIB berkembang ke ranah olahraga. Yakni sebagai perahu balap atau wahana transportasi para peselam saat menuju lokasi penyelaman. Tak ketinggalan RIB juga dipakai sebagai sarana pemandu kapal besar yang hendak masuk ke suatu pelabuhan (sebagai perahu tunda atawa tug boat). Berkat kinerjanya yang lumayan hebat, RIB lantas dilirik pihak militer untuk dijadikan sebagai alat melakukan kegiatan patroli atau mengangkut pasukan (baik dalam misi terbuka maupun misi tertutup). Beragamnya bidang aplikasi RIB semata disebabkan perahu jenis khusus ini memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan kebanyakan perahu lainnya. Di antaranya adalah posisi garis batas rendam air pada badan perahu yang relatif rendah (shallow draught)(sehingga RIB aman dioperasikan di perairan yang paling dangkal), kemampuannya bermanuver di tengah kondisi laut yang paling buruk tetap prima (high maneuverability), bila dilengkapi motor penggerak berdaya besar akan memiliki kecepatan jelajah cukup tinggi (high speed) dan badannya tak gampang rusak meski telah berbenturan dengan obyek keras asalkan pada saat kejadian kecepatan jelajahnya rendah (immunity to damage in low speed collisions). Kecepatan jelajah maksimum RIB ditentukan oleh sejumlah faktor. Yaitu bobot keseluruhan saat beraksi, tenaga dorong dari motor penggerak dan kondisi perairan yang akan dilintasi. Sebagai contoh, sebuah RIB dengan panjang badan enam meter, mengangkut enam orang berbobot badan ideal, tenaga dorong yang dihasilkan motor tempel sekitar 110 daya kuda (setara 82 kiloWatt) dan melintasi perairan dengan kondisi Beaufort Force Level Two, maka kecepatan jelajahnya bisa digenjot hingga mencapai 30 knot (setara 56 kilometer per jam di darat). Khusus RIB militer, dengan mengandalkan kecepatan jelajah yang bisa mencapai 50 knot, maka perahu itu bisa diajak untuk ‘melompati’ gelombang laut yang paling tinggi sekalipun. Hanya saja ukuran panjang badan RIB tipe wave jumper ini dibatasi minimal 10 meter. Bentuk badan RIB seperti yang kita saksikan saat ini sejatinya adalah merupakan hasil proses evolusi disain konstruksi badan RIB selama tiga dekade. Saat pertama kali muncul, badan RIB terbuat dari lempengan baja ataupun alumunium dengan ketebalan tertentu. Untuk meringankan beban tabung pelampung dalam menjamin agar RIB tetap dapat terapung pada kondisi laut seburuk apapun, maka baja dan alumunium diganti dengan kayu padat yang biasa dipakai untuk membuat badan sampan. Namun ternyata badan RIB yang terbuat dari kayu tak sekuat badan RIB yang berbahan logam. Oleh sebab itu, sempat ada satu masa di mana badan RIB merupakan hasil perpaduan dari logam dan kayu padat. Tetapi kondisi ini tak bertahan lama. Lagi-lagi demi alasan meningkatkan daya apung RIB, maka jenis material bahan baku badan RIB kembali mengalami perubahan. Lewat serangkaian proses litbang di beberapa pabrikan RIB, akhirnya diperoleh komposisi paduan material yang ideal. Terdiri atas kayu ringan jenis balsa dan material polimer jenis khusus yang struktur molekulnya telah diperkuat dengan jalinan serat gelas (glass-reinforced plastics, disingkat GRP). Kayu balsa dipakai sebagai bahan rangka sementara material polimer selaku bahan baku lambung. Berkat pemakaian bahan komposit ini, maka beban kerja tabung udara pelampung menjadi lebih ringan. Disain konstruksi geometris badan RIB juga tidak kalah menarik untuk ditelisik. Layaknya sebuah perahu konvensional – apalagi yang akan dipakai untuk melaju dengan kecepatan tinggi- maka jajaran rusuk pembentuk lambung RIB bakal membentuk formasi geometris seperti huruf V (V-shaped hulls) terhadap lunasnya. Pola penataan konstruksi seperti ini bertujuan mengoptimalkan karakteristik hydroplane sebuah RIB. Bergantung kepada jenis pemakaian sebuah RIB (yang pada gilirannya bakal menentukan bentuk konstruksi badan), maka ada dua jenis formasi jajaran rusuk badan RIB model V. Masing-masing adalah struktur ‘runcing’ bersudut buka kecil (deep-V hulls) dan struktur ‘tumpul’ bersudut buka besar (shallow-V hulls). Keunggulan struktur deep-V hulls terletak pada kemampuannya memecah ombak yang paling besar. Tapi RIB penganut struktur ini butuh tenaga dorong sangat besar. Dengan kata lain, ia harus dibekali motor penghasil tenaga berdaya besar. Otomatis motor seperti ini makan banyak bahan bakar. Sementara itu RIB yang mengadopsi struktur shallow-V hulls tidak butuh tenaga dorong yang besar. Sehingga lebih irit bahan bakar. Namun resikonya RIB model begini ‘tidak nyaman’ jika dipakai untuk melintasi perairan yang sedang berombak. Oleh sebab itu, konstruksi mayoritas RIB yang ada saat ini memadukan keunggulan yang dimiliki kedua struktur itu. Bahkan pada beberapa jenis RIB, separuh badan bagian depan berstruktur deep-V hulls dan selebihnya dibuat mendatar dengan memakai material planning pad. Terakhir, komponen RIB yang juga berperan penting adalah tabung pelampung. Suku cadang yang satu ini amat menentukan terapung dan tenggelamnya sebuah RIB. Oleh sebab itu, kebanyakan pabrikan sengaja mendisain tabung pelampung RIB tersusun dalam beberapa bilik udara. Tujuannya untuk mencegah daya apung RIB anjlok secara drastis tatkala tabung pelampungnya rusak. Bila tabung pelampung hanya terdiri dari satu bilik bertekanan udara, maka akan sangat berbahaya jika sampai tabung pelampung robek tersayat benda tajam atau meletus gara-gara tekanan udara di dalamnya kelewat besar. Agar tekanan udara di dalam setiap bilik tersebut bisa diatur sesuai kebutuhan, maka di setiap bilik udara dipasang katup regulator tekanan udara. Khusus bagi RIB militer dengan tabung pelampung yang dicat hitam (untuk penyamaran), untuk mengantisipasi pecahnya tabung udara akibat tekanan udara di dalmnya melonjak secara tajam sebagai dampak pemanasan udara oleh karena paparan sinar matahari, maka perancangnya memasang beberapa piranti pemulih tekanan udara. Sehingga jika pada bilik udara tertentu mengalami masalah, maka hanya bagian itu saja yang tekanan udaranya dipulihkan tanpa perlu mengutak-atik bilik udara yang lain. Dengan demikian, insiden tabung udara meletus akibat lapisan kulitnya tak mampu menahan tekanan udara yang kelewat besar dapat dihindari. Selain dilengkapi dengan piranti pengaman, tabung pelampung sebuah RIB juga harus terbuat dari bahan yang memiliki struktur fisik relatif cukup kuat. Sepanjang sejarah pengembangan RIB, ada tiga material yang biasa dipakai untuk membuat tabung pelampung. Masing-masing adalah polivinyl klorida (PVC), poliuretana (PU) dan Hypalon. Meskipun harganya cukup murah, fleksibilitas PVC di bawah nilai baku yang diharapkan (lacking of flexibility) dan masa pakainya paling banter lima tahun. Untuk mengatasinya, pabrikan kerap kali menambahkan zat aditif. Namun zat aditif juga menimbulkan efek samping yang tidak kalah buruk. Dalam jangka waktu lama, zat aditif akan menguap dan meninggalkan ’jejak’ berupa permukaan PVC jadi rapuh (brittle) dan pada gilirannya berpeluang menyebabkan tabung pelampung mudah pecah. . Sedangkan PU, meskipun struktur fisiknya cukup tangguh namun ia cukup sukar dibentuk menjadi sebuah tabung pelampung RIB yang berkonstruksi ideal. Selain itu, bila rusak juga rada sulit diperbaiki karena harus dibongkar secara total dari badan perahu. Agar dapat dibuat kedap udara (air tight), maka saat dicetak PU harus dipadu dengan bahan neoprena. Kelemahan utama material PU adalah bahwa ia cepat sekali mengalami ’penuaan’. Baik oleh sebab faktor mekanik (sering bergesekan dengan obyek keras), kerap terkena panas ataupun terpapar sinar ultra ungu yang dipancarkan matahari. Memang ada material PU jenis khusus yang membuat masa pakai sebuah tabung pelampung RIB berkisar 10 – 15 tahun. Tetapi selain harganya kelewat mahal, tabung pelampung yang terbuat dari PU jenis ini lumayan merepotkan bila hendak diperbaiki karena (lagi-lagi) harus dibongkar total dari badan perahu. Dewasa ini pabrikan tabung pelampung RIB lebih menyukai material Hypalon. Pasalnya, selain harganya murah, mudah dibentuk, struktur fisiknya jauh lebih kuat ketimbang PU, juga jika sampai rusak maka tabung pelampung berbahan Hypalon tidak sangat merepotkan bila hendak diperbaiki. Seperti halnya PU, untuk membuat Hypalon bisa kedap udara maka material ini kudu dicampur dengan neoprena. Sedemikian kuatnya struktur fisik material Hypalon sehingga masa pakai tabung pelampung yang terbuat darinya kabarnya bisa mencapai 30 tahun. Tapi uniknya, saat berusia ’muda’, daya tahan tabung pelampung berbahan Hypalon berada di bawah tabung pelampung berbahan PU. Setelah lima tahun, daya tahannya menjadi lebih unggul. Untuk RIB berbadan besar biasanya dilengkapi ruang kemudi (wheelhouse) yang dilengkapi atap berbahan polimer berstruktur keras tapi ringan seperti halnya material yang dipakai untuk bahan baku badan RIB. Atap ini untuk melindungi panel kemudi dan berbagai peralatan navigasi yang ada di sekitar konsol kemudi dari panas akibat terpaan sianr matahari. Tidak ketinggalan pada bagian buritan RIB biasanya dipasang semacam ’gawang’ yang terbuat dari logam khusus dan dipakai sebagai tempat bertengger radar, lampu sorot, antena radio komunikasi dan pelampung sekunder (baru difungsikan jika RIB terguling dan perlu segera memulihkan posisinya kepada kedudukan semula sebelum ia terguling).

    RIB X2K Interceptor / Special Forces

    Perahu RIB memang terbilang ’barang baru’ bagi jajaran TNI AL. Wahana transportasi atas air berkecepatan jelajah tinggi ini baru resmi berdinas pada 2002. Namun dengan semakin meningkat dan mendesaknya kebutuhan TNI AL akan barang ini, maka pada 2004 Dislitbangal segera melakukan riset untuk mencipta disain RIB yang kelak dapat diujudkan oleh salah satu rekanan lokal ke dalam bentuk fisik nyata. Setelah melewati masa jatuh bangun selama tiga tahun, dengan bantuan salah satu rekanan lokal yakni PT North Sea Boats, maka pada medio Mei 2007 Dislitbangal menjajal perahu cepat hasil rancangannya. Meski saat uji coba masih ditemui sejumlah kekurangan, namun secara keseluruhan RIB hasil kerja bareng Dislitbangal dengan North Sea Boats Indonesia (NSBI) dinilai cukup memenuhi segala persyaratan yang ditetapkan oleh Dinas Material TNI AL. Secara garis besar, RIB hasil disain Dislitbangal memiliki spesifikasi tehnis sebagai berikut. Ukuran dimensionalnya adalah sebagai berikut. Panjang badannya 11,4 meter, lebar badan 2,93 meter dan diameter tabung pelampungnya 56 meter. Tabung udara itu berbahan Hypalon dan memiliki tujuh bilik udara. Dengan mengandalkan sepasang mesin disel tempel yang masing-masing menghasilkan tenaga sebesar 250 daya kuda dan menenggak 600 liter solar dalam sekali jalan, maka RIB ini sanggup berlari dengan kecepatan hingga 50 knot dengan mengusung muatan lima atau 12 orang tergantung jenisnya. Untuk peralatan navigasi dan komunikasi, dipilih beberapa jenis produk lansiran Raymarine. Sebagai kelengkapan tambahan, RIB karya Dislitbangal ini dimodali sepasang tangki bahan bakar berbahan baja tahan karat (stainless stell) dengan kapasitas masing-masing 300 liter, sejumlah tempat duduk model jok sepeda motor (motorcycle style transport seating)(jumlahnya tergantung jenis RIB), berbagai panel dan tombol kendali kemudi yang bekerja secara elektrik dan bersifat kedap air (waterproof marine electrical panels and switches), kompas berlampu, berbagai alat indikator kelaikan kinerja komponen RIB, baterai catu daya listrik (12 Volt 105 Ampere jam), piranti kemudi hidraulik, lapisan anti fouling untuk memperkuat badan RIB, lampu navigasi dan jangkar serta tempat dudukan senjata yang dapat mengakomodasi senapan mesin ataupun pelontar granat otomatis. Saat diujudkan oleh PT NSB ke dalam bentuk fisik nyata, maka terjadi sedikit perubahan di dalam disain baku lansiran TNI AL. Panjang dan lebar badannya sedikitnya menyusut jadi 11,2 dan 2,33 meter. Tinggi garis batas rendam air pada badan perahu diturunkan jadi 0,40 meter dari semula 0,48 meter. Jenis mesin penggeraknya sengaja dipilih yang setiap unitnya mampu menghasilkan tenaga sebesar 150 -300 daya kuda dengan putaran poros baling-balingnya sengaja dibuat saling berlawanan (counter rotation propellers). Sedangkan kapasitas bahan bakarnya sedikit didongkrak menjadi 660 liter dan jangkauan jelajahnya bisa mencapai 250 mil laut dari semula ’hanya’ 200 mil laut. Meski begitu, secara umum kinerja RIB militer buatan NSBI dipandang oleh pihak TNI AL sebagai cukup memadai. Tak hanya itu. Pihak NSBI juga berhasil membuat RIB rancangan Dislitbangal itu ke dalam dua varian. Masing-masing dinamai X2K Interceptor dan X2K Special Forces. Saat mengembangkan RIB kreasi Dislitbangal agar bisa diujudkan ke bentuk nyata, NSBI tak lupa mengadopsi disain perahu balap yang di dalam struktur udaranya terdapat saluran udara di mana badan perahu tersebut dibangun dalam dua tahap (double step ventilated racing hull). Badan RIB X2K terbuat dari beberapa lapisan material polimer vinyl ester yang telah diperkuat dengan jajaran serat gelas dan memakai puluhan modul kayu balsa (berbentuk potongan persegi panjang) plus divinicell kedap udara varian sel tertutup selaku inti strukturnya. Ketiga komponen pembentuk badan RIB X2K disusun dalam pola saling bertumpuk satu sama lain (balsa and divinicell core sandwich glass-reinforced plastic structure). Proses pencetakan badan RIB X2K mengadopsi proses infusi resin polimer yang dilakukan di bawah kondisi hampa udara (vacuum resin infusion). Mengapa kayu balsa dipasang di dalam struktur badan RIB X2K dalam bentuk modul potongan persegi empat dan bukan dalam bentuk lembaran panjang layaknya papan kayu biasa dalam pmbuatan perahu nelayan tradisional ? Tujuannya tak lain adalah untuk meningkatkan derajat kepadatan cairan resin polimer (selaku komponen utama) di mana cairan resin dapat ’menyusup’ di antara celah modul kayu balsa. Dengan begitu struktur badan perahu jadi lebih kuat dan bila terjadi kerusakan pada satu lokasi, maka kerusakan tidak menyebar ke lokasi lain dan proses perbaikannya lebih mudah karena cukup mengganti panel badan hanya pada bagian yang rusak saja. Sementara itu, divinicell vakum sistem sel tertutup adalah demi meningkatkan derajat kelenturan panel badan RIB X2K dan tentu saja agar bobot total RIB X2K jadi jauh lebih ringan ketimbang jika seluruhnya memakai marial GRP padat (solid GRP). Badan RIB X2K bagian bawah yang selalu terendam air laut ditata sedemikian rupa sehingga strukturnya membujur pararel dengan garis sumbu badan RIB X2K (longitudinal underwater steps). Maksud pemakaian struktur badan model begini tak lain adalah untuk meminimalisasi efek geresekan badan RIB X2K dengan air laut. Dengan begitu gerak jelajah RIB X2K bisa lebih ’bebas’ dan pada gilirannya perahu tipe khusus ini bisa melaju di permukaan air dengan kecepatan jelajah yang lumayan tinggi. Agar kekuatannya lebih terjamin, maka badan RIB X2K bagian bawah tersebut sengaja dibuat dari beberapa material serat gelas yang disusun dalam beberapa pola arah hadap dan untuk merekatkan mereka saling dikeling satu sama lain (multi directional fibre-glass layers dan rovings). Strukturnya pun diperkuat dengan jajaran serat karbon (carbon fibre strengthening). Selain mengandalkan bahan baku badan yang teramat ringan tapi berstruktur sangat kuat plus tabung udara pelampung, pada bagian bawah badan RIB X2K juga dipasang peralatan bantu apung yang terbuat dari busa zat kimia tertentu yang disegel rapat dalam kondisi kedap udara (sealed foam buoyancy). Namun itu semua masih belum cukup. Biar lebih tangguh, maka bagian luar badan RIB X2K diberi lapisan pelindung yang juga terbuat dari material serat gelas yang sengaja tak dianyam dan digelar dalam berbagai arah hadap serta diberi perkuatan jalinan serat karbon pada seluruh bagian stringer-nya (multi direction and non woven fibre-glass layers). Dengan begitu diharapkan badan RIB X2K jadi jauh lebih tahan jika sampai terjadi benturan dengan obyek keras di laut. Biar lebih mantap, NSBI sengaja memilih tabung udara pelampung lansiran Henshaw Inflatable Ltd (Inggris) yang telah banyak dipakai oleh sejumlah pabrikan RIB. Bahannya terbuat dari materail Hypalon yang dipadu dengan neoprena (untuk membuat kondisi kedap udara) dan tersusun dari sembilan bilik udara. Mengingat warna tabung udara pelampung RIB X2K dibuat kusam (agar tidak memantulkan cahaya di malam hari), maka setiap bilik udara juga dilengkapi dengan piranti pengatur tekanan udara. Ditinjau dari segi ukuran dimensional dan kinerja, nyaris tak ada beda yang signifikan di antara X2K Interceptor dengan X2K Special Forces. Hanya saja bila ditinjau tampilan fisiknya, baru ketahuan jika X2K Interceptor total hanya bisa mengangkut lima penumpang karena fungsinya hanya sebagai perangkat penunjang kegiatan patroli rutin. Sementara X2K Special Forces (untuk sementara ini baru dibuat) mampu mengangkut delapan penumpang. Di atas itu semua, bekal kedua RIB itu saat hendak bertarung tetap sama, yakni sepucuk senapan mesin ringan kaliber 7,62 milimeter. Tapi tak tertutup kemungkinan jika di kemudian hari sepucuk senapan mesin berat kaliber 12,7 milimeter atau pelontar granat otomatis kaliber 40 milimeter bisa bertengger di haluannya.

    Hypalon, Material Ringan Tapi Kuat

    Hypalon adalah nama dagang dari material karet buatan tipe polietilena yang telah diklorosulfonasi (chlorosulfonated polyethylene) lansiran Du Pont, AS. Material ini dikenal tahan banting terhadap segala bentuk pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh berbagai macam senyawa kimia, temperatur yang ekstrem maupun terpaan sinar ultra ungu (yang dipancarkan matahari) dalam jangka waktu lama. Kini hampir semua jenis material karet buatan tipe polietilena yang telah diklorosulfonasi digeneralisasi sebagai Hypalon meski bukan keluaran Du Pont.

    Iklan
     

Comments

  • Ridwan 9:37 am on September 6, 2010 | # | Balas

    Informasinya sangat berguna sekali pak, kebetulan saya mau belajar mendesain RIB juga…..
    Thx.

    • sejarahqu 11:17 pm on September 14, 2010 | # | Balas

      terimakasih, semoga sukses. Kreatifitas, inovasi dan penghargaan atas karya cipta bangsa sendiri adalah hal yg sangat dibutuhkan oleh negeri ini.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: