Sejarahqu’s Blog

  • 02:50:57 am on April 29, 2009 | 1

    Yakhont RudalYAKHONT DAN PERSAINGAN PASAR RUDAL INTERNASIONAL

    Oleh

    HERI SUTRISNO

    Setelah Perang Dingin mereda dan industri persenjataan masuk dalam mekanisme hukum pasar, terjadi rivalitas baru dengan melibatkan pemain lama. Produsen senjata dari Eropa Barat, Amerika Serikat, dan Rusia berlomba menawarkan produknya ke negara – negara yang membutuhkannya, tak terkecuali permintaan peluru kendali anti kapal yang telah menjadi senjata strategiis angkatan laut. Rusia berambisi meraih kembali kejayaan produk rudalnya di pasar internasional seperti pada era 1960 dan 1970-an dengan mengembangkan rudal supersonic Yakhont yang menggabungkan keunggulan rudal buatan Barat dan Rusia.

    Saat peluru kendali mulai digunakan sebagai senjata kapal perang pada pertengahan dasawarsa 1960-an, rudal buatan Uni Sovyet waktu itu langsung meroket namanya karena keberhasilannya di medan perang laut di Timur Tengah dan Asia Selatan. Pada tanggal 21 Oktober 1967 rudal anti kapal SS-N-2A Styx yang diluncurkan oleh kapal tempur ringan Kelas Komar milik AL Mesir berhasil menenggelamkan kapal perusak Eiliath milik AL Israel di perairan pelabuhan Alexandria. Empat tahun kemudian tepatnya tanggal 5 Desember 1971, rudal ini sukses menjalankan misinya saat kapal tempur ringan kelas Osa AL India menenggelamkan sebuah kapal perusak Khaibar dan kapal penyapu ranjau Muhafiz nilik AL Pakistan di perairan Karachi. Sejak saat itu rudal yang berkecepatan 660 knot (0,9 mach) membawa bahan peledak seberat 500 kg, dan menggunakan radar dan pencari panas (infra merah) sebagai sisten homing-nya ini laris dipesan oleh tidak kurang dari 40 negara termasuk Indonesia yang di era 1970-an mengoperasikan satu skwadron kapal tempur cepat klas Komar.

    Meskipun hingga tahun 1990 Uni Sovyet/Rusia mengembangkan 15 jenis rudal anti kapal, namun pamornya meredup dibawah bayang – bayang popularitas Exocet yang dikembangkan Prancis dan Harpoon buatan Amerika Serikat. Exocet tampil sebagai primadona dalam Perang Malvinas 1981. Rudal ini mampu merusakkan sejumlah kapal AL Inggris dan menenggelamkan dua kapal diantaranya. US Navy juga pernah merasakan kehebatan rudal anti kapal ini ketika USS Stark yang sedang berpatroli di perairan Teluk Persia dalam Perang Irak – Iran menjadi korban salah tembak rudal Exocet. Kehebatan Harpoon ditunjukkan Amerika Serikat dalam konflik dengan Libya dan menyerang sasaran – sasaran darat ke objek – objek yang dianggap penting di Irak.

    Sampai saat ini Harpoon dan Exocet mendominasi 65% pasar rudal anti kapal dunia, rudal Rusia hanya mencakup 20 %, dan sisanya milik produsen Eropa Barat(Italia dan Swedia), Cina dan Israel. Dominasi rudal Amerika Serikat dan Prancis tersebut terutama disebabkan oleh kemampuan rudal itu sendiri dan fleksibilitas penempatan di semua platform (ability of shipboard). Baik Harpoon maupun Exocet memiliki olah gerak yang menyulitkan pertahanan anti kapal karena kedua rudal ini pada jarak tertentu mampu terbang rendah (2-3 meter) di atas permukaan air (sea skiming). Manuver ini menyulitkan daya deteksi kapal – kapal atas air yang radarnya dipasang pada tiang utama kapal. Pengembangan teknologi lain dari kedua rudal ini adalah penerapan Electronic counter counter measure (ECCM) yang memungkinkan rudal menghindari upaya mengecoh atau mengalihkan perhatian yang dipancarkan dari kapal perang seperti penggunaan Chaff dan Decoy. Faktor kedua dari sukses kedua rudal ini adalah bentuknya yang relatif ringan, dengan panjang kurang dari 4 meter memungkinkan senjata ini bisa dipasang di berbagai jenis kapal perang, dari kapal tempur ringan seperti kapal perang kelas Sea Dragon AL Singapura hingga kapal penjelajah besar seperti kelas Arleigh Burke AL Amerika Serikat. Lebih dari itu, varian dari kedua rudal ini bisa dibawa oleh pesawat udara sayap putar dan sayap tetap seperti helikopter Super Puma yang mampu membawa dua Exocet dan pesawat tempur F-18 Hornet yang mampu membawa sepasang Harpoon.

    Rudal – rudal anti kapal yang dikembangkan Rusia memiliki keunggulan dari sisi kecepatan dan daya ledak. Rudal – rudal Barat rata – rata berkecepatan 0,85 mach/ kecepatan suara(Harpoon AGM-84) hingga 2,3 mach(Sidearm AGM-122A). Sedangkan rudal Rusia berkisar 0,9 mach(rudal Styx)-3,5 mach(rudal Kingfisher). Rudal Rusia rata – rata berukuran besar dan lebar panjangnya antara 6-9 meter yang berisi perangkat roket pendorong besar sehingga mampu menerbangkan rudal sedemikian cepat. Faktor kecepatan ini menyulitkan reaksi pertahanan anti rudal kapal perang yang menjadi target rudal tersebut. Keunggulan lainnya adalah daya ledak yang sedemikian besar sehingga mampu menenggelamkan kapal sebesar destroyer dalam sekali tembak. Rudal Styx yang banyak diekspor ke pasar internasional bermuatan bahan peledak seberat 500 kg, bandingkan dengan amunisi Exocet seberat 165 Kg dan Harpoon sekitar 300 Kg. Kapal yang tenggelam oleh Exocet lebih disebabkan oleh perkenaan hantaman rudal yang mengenai bagian vital kapal seperti kamar mesin sehingga mudah terbakar dan meledakkan kapal. Hal ini terlihat pada terjangan Exocet yang menghantam USS Stark, kapal tersebut hanya rusak sedang dan mampu melanjutkan pelayaran ke pangkalan untuk perbaikan.

    Kelemahan rudal Rusia adalah ukurannya yang besar dan kaku sehingga hanya platform tertentu yang mampu memuatnya. Kapal tempur kecil semaacam kelas Osa dan Komar mampu membawa rudal sebesar Styk karena kedua kapal tersebut memang didesain untuk meluncurkan rudal tersebut. Biasanya pemasaran rudal Rusia menjadi satu paket dengan kapal perangnya. Hal ini berbeda dengan Harpoon dan Exocet yang bisa dipasang di kapal yang bukan produk Amerika maupun Prancis. Sebagai contoh korvet kelas Fatahillah yang buatan Belanda dapat dipasang Exocet dan kapal tempur ringan kelas Keris buatan Korea Selatan juga bisa dipasang rudal yang sama. Karena bertumpu pada keunggulan kecepatan dan kapasitas hulu ledak, rudal Rusia yang berukuran besar mengesampingkan gerakan manuver seperti sea skiming sehingga apabila pertahanan anti rudal kapal perang yang menjadi targetnya dalam keadaan sangat siap, rudal tersebut bisa dirontokkan di udara seperti yang dilakukan AL Israel pada Pertempuran Yom Kippur tahun 1973 yang sukses menghadang 45 serangan rudal Styx.

    Prospek Yakhont

    Selama ini produk rudal anti kapal Rusia untuk memenuhi kebutuhan angkatan laut domestiknya dan angkatan laut negara – negara yang menjadi sekutunya serta negara – negara yang telah menjadi pasar tradisionalnya seperti India, Cina, Korea Utara dan sebagian kecil negara Arab. Ketika Perang Dingin berakhir, suplai senjata untuk militer Rusia semakin terbatas, sedangkan industri pertahanan yang selama ini bergantung pada pemerintah harus diprivatisasi dan masuk pada pasar terbuka. Kondisi ini justru memacu kemandirian industri militer Rusia dan berpeluang bersaing dengan negara – negara Eropa Barat. Rusia berhasil melebarkan pasar pesawat tempur dan kendaraan tempur yang secara tradisional menjadi lahan negara – negara Barat seperti pengiriman BMP-3 ke Korea Selatan dan pesawat tempur seri Sukhoi dan Mig ke beberapa negara Asia.

    Sampai saat ini industri rudal angkatan laut Rusia harus mengakui keunggulan Eropa Barat, Amerika Serikat dan Cina. Rudal Cina meskipun meniru produk Rusia namun laku dipasarkan di sejumlah negara Asia seperti Thailand, Bangladesh, Pakistan, dan Korea Utara. Sedangkan satu – satunya negara yang selama ini masih setia mengakusisi berbagai rudal anti kapal Rusia adalah India. Sejak pertengahan dekade 1980-an, Industri persenjataan Rusia merancang rudal anti kapal yang bisa dipasang di setiap jenis kapal perang secara modular tanpa menjadi satu paket dengan kapal yang membawanya. Rudal tersebut adalah SS-N-22 Moskit, SS-N-25 Uran dan SS-N-26 Yakhont. Kemampuan manuver ketiga jenis senjata penghancur kapal ini menyerupai Exocet,yakni mampu terbang rendah secara seaskiming 3-6 meter di atas permukaan laut.

    Rudal Moskit yang mampu menjangkau sasaran sejauh 120 km dan berkecepatan 2 kali kecepatan suara dikhususkan untuk dipasang di kapal tempur menengah ke atas seperti fregat, perusak dan penjelajah. Pihak Barat menyebut rancangan industri Raduga Design Bureau ini dengan nama Sunburn dan dijuluki sebagai pembunuh kapal induk ( carier killer). Rusia berhasil memasarkan rudal ini kepada India dan Cina. AL India memasangnya di fregat kelasDelhi dan Perusak klas Souvremany. Sedangkan Cina menempatkannya pada kapal perusak klas Souvremeny.

    Industri senjata Rusia lainnya yakni Zvesda-Strela berhasil menciptakan rudal jelajah SS-N-25 Uran yang bisa dipasang di kapal – kapal tempur ringan hingga jenis korvet. Kecepatan rudal ini jauh lebih rendah dari Moskit sekitar 0,7 mach, namun memiliki jarak jelajah yang lebih jauh yaitu sekitar 130 Km. Rusia berhasil memasarkannya ke Cina dan Vietnam. AL Cina memasangnya di kapal fregat klas ,sedangkan AL Vietnam memasangnya pada fast attack craft klas terbarunya.

    Rudal terbaru Rusia adalah SS-N-26 Yakhont buatan industri Mashinostroyenia yang memiliki keunggulan teknologi dan posturnya. Rudal ini mampu terbang dengan kecepatan 2,5 mach, berdaya jelajah 120 Km, dan melesat pada ketinggian 15 Km serta bermanuver pada ketinggian seaskiming. Lebih dari itu rudal ini memiliki peralatan Electronic Counter-Counter Measure (ECCM) sehingga tidak mudah ditaklukkan oleh peralatan pengecoh rudal seperti Jamming, chaff, maupun Decoy. India bersiap membeli rudal ini, dan saat ini Rusia mendekati Indonesia untuk dapat memasarkan rudal yang juga dipasang di pesawat tempur atau instalasi pertahanan pantai ini. Tampaknya Indonesia memberikan lampu hijau terhadap tawaran ini, dan apabila pembelian itu teralisasi berarti Rusia berhasil mendapatkan pasar rudalnya yang telah lama lepas. TNI AL mempensiunkan kapal cepat berpeluru kendali klas Komar berikut rudal lagendaris SS-N-2 Styx pada akhir dasa warsa 1970-an.

    Sumber: Naval Force &Jane’s Fighting Ship 2003-04

    Iklan
     

Comments

  • sejarahqu 9:16 am on Mei 14, 2009 | # | Balas

    Dahssyaaattt !!!


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: