Sejarahqu’s Blog

  • 11:48:03 pm on Januari 12, 2009 | 0

    kri-layang-tembak-c-802

    Berangkat dari tekad untuk lepas dari ketergantungan akan pasokan rudal jelajah anti kapal dari Uni Soviet, salah satu lembaga riset militer RRC berupaya membuat rudal sejenis. Disain produk awal masih mengacu pada disain P-15 Termit. Kemudian muncul beberapa tipe rudal yang telah mengadopsi disain Barat. Dengan mengacu pada disain Exocet dan Harpoon, RRC melansir YJ-8. Hasil pengembangan YJ-8 kini dipakai AL dan AU RRC serta beberapa negara di Asia.

    Sebagai salah satu kekuatan bahari yang diperhitungkan di Asia, Angkatan Laut Republik Rakyat China (AL RRC) baru mengenal sistem senjata peluru kendali jelajah anti kapal perang permukaan saat mereka mengadopsi rudal P-15 Termit buatan Uni Soviet pada awal dekade 1960-an. Karena tak ingin selalu bergantung pada pasokan senjata dari induk semangnya, RRC lantas berusaha membuat sendiri berbagai senjata dari Uni Soviet termasuk rudal P-15. Lewat riset selama empat tahun, tim perancang dari Pabrik Pesawat Nanchang berhasil membuat rudal SY-1 pada medio dekade yang sama. Inisial SY adalah kependekan dari kata Shang You (Hulu). Pekerjaan pembuatan SY-1 masih dibawah arahan Biro Perancang MKB Raduga selaku empunya disain P-15. Sebagian suku cadang SY-1 pun masih dipasok oleh pabrikan P-15.
    Niat RRC untuk sepenuhnya lepas dari ketergantungan akan pasokan senjata dari Uni Soviet seolah menemui pembenaran saat Negeri Tirai Bambu itu terlibat konflik ideologi dengan Negeri Beruang Merah pada tataran yang serius (1969). Akibatnya, hubungan Beijing – Moskwa merenggang. Buntutnya, pasokan senjata berikut suku cadangnya dari Moskwa ke Beijing macet. Sadar jika mantan induk semangnya sementara waktu tak lagi sudi memasok senjata, RRC lantas mengerahkan seluruh lembaga riset militernya untuk mengembangkan berbagai sistem senjata warisan Uni Soviet. Khusus untuk rudal anti kapal, acuan disainnya memang masih berkutat pada disain P-15 dan SY-1. Baru setelah mesin penggeraknya diganti dari tipe yang berbahan bakar cair menjadi yang berbahan bakar padat disertai rekayasa sistem kendali elektroniknya, SY-1 dapat menjelma menjadi SY-2 yang lebih enteng, lebih ramping dan berjangkauan jelajah lebih jauh.
    Ternyata AL RRC masih merasa tak puas dengan kinerja SY-2. Mereka lalu menunjuk CHETA (China Hai Ying Electro-Mechanical Technology Academy) untuk melanjutkan riset penelitian dan pengembangan (litbang) rudal anti kapal asli buatan RRC. Institusi ini dikenal sebagai Akademi Riset Militer Ketiga yang berlokasi di kawasan tenggara Beijing. Tidak butuh waktu lama, CHETA berhasil menelorkan rudal HY. Inisial HY adalah kependekan dari Hai Ying (Elang Laut). Generasi pertamanya punya dua varian. Yakni varian yang berbasis di kapal perang (pihak Barat menamainya CSS-N-2 Safflower) dan yang mangkal di darat (CSSC-2 Silkworm). Generasi kedua, ketiga dan keempat rudal HY sengaja diciptakan dan dikembangkan untuk diekspor. Masing-masing adalah C-201 alias CSSC-3 Seersucker (versi ekspor HY-2), C-301 alias CSSC-6 Sawhouse (versi ekspor HY-3) dan C-401 alias CSSC-7 Sadsack (versi ekspor HY-4).

    Berpaling Ke Barat
    Selain CHETA, ada lembaga riset lain yang juga berupaya melansir rudal anti kapal untuk AL RRC. Di bawah bendera Hongdu Aviation Industry Corporation (HAICO) satu tim teknisi aeronautik berupaya mengadopsi teknologi rudal anti kapal buatan Eropa ke dalam rudal rancangannya. Sejatinya, HAICO merupakan jelmaan dari Pabrik Pesawat Nanchang. Lewat sejumlah kajian, HAICO akhirnya memilih rudal MM-15TT buatan Aerospatiale, Perancis sebagai bahan acuan. Setelah mengutak-atik MM-15TT, tim perancang HAICO akhirnya jadi membesut rudal TL. Inisial TL adalah kependekan dari kata Tian Liong (Naga Langit). Keluarga rudal ini memiliki dua varian, yakni TL-6 dan TL-10. Jika rudal TL-6 untuk melumpuhkan sasaran berbobot 500 – 1.000 ton sementara TL-10 untuk sasaran seberat kurang dari 500 ton.
    Dengan dipasangnya rudal TL-6 dan TL-10 pada sejumlah tipe kapal perang dan helikopter patroli baharinya, RRC berhasil membuktikan kepada dunia jika mereka telah sepenuhnya lepas dari bayang-bayang pengaruh keterikatan emosional dan teknis pada disain senjata buatan Uni Soviet. Kini tiba saatnya mereka mengadopsi disain senjata Barat sebagai bahan acuan dalam kegiatan riset litbang senjata buatan sendiri. Keberhasilan HAICO melansir rudal TL-6 dan TL-10 mendorong CHETA berbuat hal serupa. Mereka lantas menggenjot program litbang rudal anti kapalnya sendiri. Hasilnya, tercipta rudal YJ. Inisial YJ adalah kependekan dari kata Ying Ji (Sambaran Elang). Sejauh ini CHETA telah melansir empat kelompok rudal YJ. Masing-masing YJ-6, YJ-7, YJ-8 dan YJ-12. Predikat si sulung dipegang oleh YJ-8 sedangkan si bungsu oleh YJ-12.
    Jika dibandingkan dengan ketiga ‘adik’-nya, YJ-8 paling sering dipermak. Baik oleh lembaga riset militer RRC maupun negara lain. Dewasa ini ada belasan tipe rudal anti kapal made in China yang diklaim sebagai keturunan YJ-8. Rudal YJ-8 hadir dalam tiga generasi. Generasi pertama merupakan versi baku dan dikenal sebagai YJ-81. Generasi berikutnya adalah YJ-82 dan YJ-83. Ketiganya memiliki belasan varian lokal dan varian ekspor. Namun tak satupun disainnya yang masih mengacu kepada disain P-15. Karena kini hampir semua rudal anti kapal RRC telah mengadopsi disain rudal buatan Barat. Terbukti disain YJ-6 mengacu kepada RGM-84 Harpoon dan YJ-7 pada AGM-65 Maveric. Sementara disain YJ-8 merupakan perpaduan RGM-84 Harpoon dengan MM39 Exocet.

    Sambaran Elang
    Sejarah kelahiran YJ-8 sebenarnya telah mulai sejak masih berupa konsep yang dirancang oleh CHETA pada awal dekade 1970-an. Tujuan kerja proyek ini adalah untuk memenuhi kebutuhan AL RRC akan rudal anti kapal perang berukuran ’kecil’ tetapi berkecepatan subsonik, sanggup melakukan terbang serang (attack flight) pada ketinggian sedikit di atas permukaan laut (sea skimming) dan berteknologi penjejak sasaran nan mutakhir. Pasalnya, spesifikasi teknis dan kinerja rudal HY sudah dianggap kuno.
    Proses perwujudan secara fisik YJ-8 baru dimulai pada medio Oktober 1973. Saat itu CHETA baru berhasil membuat disain motor roket berbahan bakar padat (solid propellant motor rocket). Semula motor roket direncanakan ini untuk dipakai sebagai penghasil tenaga gerak rudal HY-4. Motor roket ini berhasil dibuat pada pengujung 1977. Namun karena petinggi AL RRC memutuskan riwayat hidup rudal HY harus disudahi maka mesin motor roket model baru ini lantas dipakai untuk purwarupa rudal baru, YJ-8. Pembangunan purwarupa YJ-8 rampung pada 1980. Sayang, saat diuji coba sistem kendali luncur dua dari tiga YJ-8 rusak sehingga gagal mencapai sasaran. Akibatnya program litbang YJ-8 kontan dihentikan. Beruntung, atas pertimbangan ‘tertentu’ maka pada awal 1882 program litbang YJ-8 dihidupkan lagi. Pada akhir September 1985 CHETA berhasil melansir YJ-81 setelah berhasil melewati enam kali uji coba penembakan dengan memakai aneka landasan luncur (launch platform). Tiga tahun kemudian AL RRC mulai mengadopsi YJ-81 sebagai salah satu senjata andalan kapal patroli cepat kelas Houdong dan kapal frigat tipe 053H2 (kelas Jianghu 5). Pihak Barat menamainya CSS-N-4 Sardine.
    Semula YJ-8 dirancang hanya untuk mempersenjatai kapal perang. Belakangan CHETA bisa memodifikasi generasi kesatunya, YJ-81, agar juga dapat diusung baik oleh kapal selam (YJ-81Q) maupun pesawat jet tempur (YJ-81K). Tak puas dengan hanya melansir YJ-81, CHETA melanjutkan riset litbang YJ-8 hingga tercipta generasi kedua, YJ-82, dengan jangkauan jelajah yang melampaui jangkauan jelajah YJ-81. Pihak Barat menamai YJ-82 sebagai CSS-N-8 Saccade. Sebagaimana nasib para pendahulunya, YJ-82 juga dimodifikasi agar bisa dipantek di berbagai wahana perang. Kapal perusak tipe 113 (kelas Luhu) dan tipe 051B (kelas Luhai) merupakan kapal perang AL RRC pertama yang dipersenjatai YJ-82.
    Sejauh ini diketahui ada empat varian turunan YJ-82. Masing-masing YJ-82K untuk pesawat tempur (1985), YJ-82Q untuk kapal selam (1987) dan YJ-22 yang berbasis di darat (1988). Kemudian CHETA melangkah lebih jauh dengan menciptakan rudal udara ke darat KD (Kong Di)-88. Rudal ini diusung pesawat jet tempur dan dipakai menggasak sasaran ’besar’ di darat. Kemampuan operasi KD-88 diklaim ‘setara’ rudal jelajah serang darat SLAM (Stand-Off Land Attack Missile) buatan AS dari generasi terbaru. Selain itu, CHETA juga tak lupa mendisain versi ekspor YJ-8. Tentu saja spesifikasi teknis dan kinerjanya sedikit di bawah versi lokal yang dipakai AL RRC. Nama resmi yang disandang versi ekspor ini adalah C-801 (untuk YJ-81) dan C-802 (YJ-82). Kedua versi ekspor ini juga memiliki sejumlah varian. Salah satu varian C-802 yang terbilang cukup ‘spektakuler’ adalah C-802A. Rudal ini pertama kali muncul di depan umum pada acara DSEIE (Defence Systems & Equipments International Exhibition) di Inggris pada September 2005 silam. Kabarnya, jangkauan jelajah C-802A mencapai 180 kilometer !
    Di pasaran rudal anti kapal sedunia, C-801 dan C-802 terbilang cukup laris. Mulai dari Korea Utara, Iran, Pakistan, Bangladesh, hingga Myanmar dan Muangthai telah memiliki berbagai varian C-801 dan C-802. Sejak 1991 hingga 1996 Iran kabarnya berhasil memperoleh sedikitnya 60 unit C-802. Jumlah itu hanya 40 persen dari total pesanan C-802 Iran kepada RRC. Pengiriman C-802 ke Teheran terhenti setelah AS menekan RRC agar membatasi jumlah C-802 yang dijual ke Iran. Karena merasa upayanya mendapatkan rudal anti kapal dalam jumlah besar gagal akibat dijegal AS, maka Iran lantas menggandeng Korea Utara guna meningkatkan derajat akurasi perkenaan sasaran C-802 lewat upaya rekayasa kemampuan alat pemandu jelajahnya (1999). Sedemikian kondang reputasi C-802 sehingga AL Muangthai sampai rela mempensiunkan jajaran C-801-nya untuk digantikan dengan C-802 yang bertengger di geladak keempat kapal frigat tipe 053HT yang juga buatan RRC.
    Pada pengujung dekade 1990-an, CHETA melansir generasi ketiga YJ-8, yakni YJ-83, dengan jangkauan jelajah hampir dua kali lipat jangkauan jelajah YJ-82 (180 – 250 kilometer). Kelebihan YJ-83 lainnya adalah ia dilengkapi antena penerima data perihal kondisi sasaran yang tidak ada di hadapan mata wahana pengusungnya. Data ini dipasok oleh pesawat terbang atau helikopter pengamat bahari (maritime surveilance aircraft). Berkat pasokan data dari luar ini, YJ-83 dapat menjangkau sasaran yang berada di balik garis cakrawala (over-the-horizon attack capability). Rudal YJ-83 memiliki dua turunan, yakni YJ-83K (rudal anti kapal yang diusung pesawat tempur) dan YJ-85 (rudal serang darat yang diusung pesawat tempur) berikut satu versi ekspor (C-803). Rudal jelajah supersonik ini pertama kali muncul di depan umum pada parade hari nasional RRC 1 Oktober 1999. Perangkat pemandu dan sistem terima-olah data YJ-83 lebih baik dibandingkan YJ-82. Alat penentu ketinggian jelajahnya juga telah diremajakan. Kapal perang pertama yang dijadikan tempat uji coba kinerja YJ-83 adalah kapal frigat tipe 053H3 (kelas Jiangwei). Setelah beberapa suku cadang perangkat lunaknya dimoderenisasi, YJ-83K kini dipakai pada hampir semua pesawat terbang dan helikopter patroli bahari AL RRC.
    Saat ini berbagai anggota keluarga rudal YJ-8 dari varian ekspor tengah gencar dipasarkan oleh CPMIEC (China National Precision Machinery Import & Export Corporation) di seluruh penjuru dunia.

    Disain Sang Elang
    Bentuk badan (fuselage) seluruh anggota keluarga rudal YJ-8 panjang dan ramping. Panjang badannya 6,39 meter sementara diameternya 0,36 meter. Bentuk hidungnya juga agak bulat. Di sekujur badannya betebaran selusin sirip yang dibagi ke dalam tiga kelompok. Tiap kelompok punya bentuk dan fungsinya sendiri. Tepat di bagian tengah badan rudal terletak empat sirip berbentuk trapesium (persegi empat tanpa sudut siku-siku) berukuran besar. Panjang masing-masing bilah sirip muka 1,53 meter sedangkan lebar rentang antar sisi luar kedua sirip yang berhadapan (wingspan) 1,18 meter. Di belakangnya menyusul empat sirip kendali jelajah permukaan yang lebih kecil. Dan terakhir empat sirip stabilisator arah jelajah di bagian ekor. Pada YJ-81 selusin sirip ini dipasang secara tetap (fixed wing) sedangkan pada YJ-82 dan YJ-83 seluruh sirip dilipat ke dalam badan rudal tatkala rudal masih berada di dalam wadah pengusungnya. Sirip ini baru terentang keluar dari badan ketika rudal telah melesat keluar dari wadahnya. Saat masih berada di dalam wadah, lebar rentang sirip muka sekitar 0,72 meter. Bentuk geometri sirip semacam ini menjadi salah satu indikasi betapa pabrikan rudal RRC telah meninggalkan disain lama lansiran Uni Soviet yang kaku dan berpaling kepada disain rudal Barat.
    Garis besar tata anatomi keluarga rudal YJ-8 adalah sebagai berikut. Radar penjejak sasaran (homing radar) terletak di dalam hidung dan dilengkapi sistem pemandu terminal (terminal guidance radar). Di belakangnya terdapat hulu ledak (war head), perangkat otopilot dan tangki bahan bakar (fuel tank). Pada bagian tengah badan rudal terdapat mesin roket berbahan bakar padat konvensional (untuk YJ-81) atau mesin jet turbo berbahan bakar senyawa kimia turunan parafin (untuk YJ-82). Dengan diaplikasikannya mesin jet turbo maka ukuran badan YJ-82 menjadi lebih besar karena butuh ruang mesin yang juga lebih besar. Alhasil, panjang badan YJ-82 pun bertambah 10 persen. Namun ‘kelemahan’ ini dikompensasi dengan jangkauan jelajah rudal yang mencapai 120 kilometer.
    Tepat di atas ruang mesin ’bersemayam’ keempat sirip muka. Khusus untuk YJ-82, di dekat keempat sirip muka itu terdapat lubang tempat masukan udara (air intake) untuk mendinginkan mesin jet turbo. Sementara bagian belakang rudal tersusun dari wadah solid propellat booster, perangkat catu tenaga listrik (baterai), perangkat vertical gyro dan alat penentu ketinggian jelajah yang bekerja pada gelombang radio (radio altimeter) berikut antenanya. Sesaat rudal telah ditembakkan dan melesat keluar dari wadahnya, maka solid propellant booster akan lepas bersama keempat sirip ekor. Kondisi operasi semacam ini tidak ada pada anggota keluarga rudal YJ-8 yang diusung pesawat jet tempur. Di lain pihak, baik pada YJ-83 maupun pada varian YJ-81 dan 82 lansiran terkini telah dipasangi alat penentu ketinggian yang memakai berkas sinar laser sebagai pengarah (laser altimeter). Tujuannya untuk menghindari sergapan perangkat anti perang elektronik (ECM – Electronic Counter Measures) musuh yang diperkirakan mampu mengacaukan sistem kerja peralatan pemandu jelajah yang beroperasi pada daerah gelombang radio.
    Perangkat penjejak sasaran YJ-8 terbilang cukup modern karena telah mengadopsi sistem pemandu ganda (dual guidance system). Sistem ini telah lebih dahulu diterapkan pada rudal anti kapal Tshiung Feng II buatan Taiwan. Sistem ganda ini memadukan perangkat penjejak sasaran yang mengandalkan citra berkas sinar infra merah selaku pengarah (imaging infra red seeker) dengan perangkat penjejak sasaran yang mengandalkan pola pencitraan obyek yang bekerja pada daerah gelombang televisi. Sistem penjejak sasaran yang berbasis teknologi imaging infra red seeker telah dipakai pada kebanyakan rudal udara ke udara milik AU RRC. Bila perlu, kedua perangkat penjejak ini dapat dipadukan dengan sembarang perangkat penjejak sasaran konvensional yang bekerja pada daerah gelombang radio buatan Barat.
    Hulu ledak yang dipakai oleh YJ-8 adalah dari jenis SAPHE (Semi-Armour Piercing Heat Explosive) yang dilengkapi alat penunda waktu bekerja dari sumbu peledak (time delayed fuze). Beratnya ditaksir 165 kilogram (mencapai 23 persen dari bobot keseluruhan rudal). Bermodalkan hulu ledak yang berkemampuan rusak cukup dahsyat dan dipadu tenaga kinetik cukup besar yang dihasilkan mesin penggerak maka seluruh anggota keluarga YJ-8 diyakini bakal sanggup menjebol dinding kapal sasaran setebal apapun (powerfull warhead). Dalam satu sesi uji coba penembakan, kabarnya salah satu anggota keluarga rudal yang berbobot total sekitar 700 kilogram ini berhasil menenggelamkan sasaran yang berbobot mati 10.000 ton. Dibandingkan para pendahulunya maka peluang perkenaan sasaran (single hit probability) seluruh anggota keluarga YJ-82 memang lebih tinggi. Yakni sekitar 98 persen. Di samping itu, untuk memudahkan pengangkutannya CHETA telah mengembangkan wadah rudal jenis khusus yang merangkap sebagai perangkat luncur. Wadah ini dapat dipakai baik oleh seluruh anggota keluarga YJ-8 berikut masing-masing variannya.

    Kinerja Sambaran Elang
    Kinerja jelajah YJ-8 dapat dipaparkan sebagai berikut. Pada saat rudal telah ditembakkan dan meluncur keluar dari wadahnya dengan sudut elevasi penembakan tertentu (biasanya 30 – 45 derajat), maka secara bertahap solid propellat booster akan terbakar (bekerja). Dalam hitungan beberapa detik kecepatan jelajah YJ-8 secara bertahap akan meningkat. Dari semula Mach 0,0 menjadi hingga Mach 0,9 (setara 956 kilometer per jam). Setelah terbakar habis, solid propellant booster akan segera terlepas dari badan rudal. Kini tiba giliran mesin penggerak untuk bekerja. Dengan dikendalikan oleh sistem otopilot dan radio altimeter berpresisi tinggi, YJ-8 mampu menjangkau sasaran yang berada pada jarak 120 kilometer dengan terbang pada ketinggian jelajah 20 – 30 meter dari permukaan laut (lintasan datar) dan pada kecepatan jelajah Mach 0,8 – 0,9.
    Saat menjelang tahapan akhir dari masa jelajahnya, YJ-8 akan segera mengaktifkan radar penjejak sasarannya agar dapat secara akurat mencari lokasi sasaran. Berkat sistem pemandu berpola pulsa tunggal yang bekerja pada daerah gelombang radio berfrekuensi tinggi ini maka radar penjejak sasaran YJ-8 menjadi lebih kebal dari upaya pengacakan. Dengan kata lain kemampuan anti jamming-nya cukup tinggi. Begitu sasaran yang dituju telah dapat ‘dikunci’ dalam jarak beberapa kilometer, maka secara bertahap ketinggian terbang YJ-8 akan melorot hingga tinggal lima meter dari permukaan laut. Pada saat sasaran yang dituju telah berada dihadapannya, YJ-8 akan segera menukik ke bawah untuk kemudian mencebur ke laut. Tujuannya agar ia dapat menghajar sasaran pada bagian garis air (water line). Sikap jelajah seperti ini diyakini dapat memaksimalkan derajat kerusakan sasaran. Setelah moncongnya berhail menjebol dinding sasaran dan berada di dalamnya maka hulu ledak akan segera meledak disertai kekuatan penghancur yang dahsyat.
    Khusus YJ-83, kabarnya ia telah dilengkapi dengan perangkat lacak sasaran tahap akhir yang merupakan perpaduan antara radar pencitraan berderajat resolusi cukup tinggi (high resolution imaging radar) dengan alat pemandu jelajah yang bekerja dengan bantuan berkas sinar infra merah (infra red guidance system) selaku pengarah. Alat pelacak hasil paduan seperti ini diklaim sanggup menaklukkan semua jenis perangkat pengecoh radar yang dimiliki rudal (flare dan chaff). Apalagi secara fisik kehadiran YJ-8 memang rada sulit dilacak oleh radar kapal perang permukaan yang paling canggih sekalipun. Pasalnya, jejak radar YJ-8 sedemikian kecil hingga sulit dibedakan dengan jejak radar ikan lumba-lumba. Selain itu, perancangnya mengklaim YJ-8 sanggup beraksi pada segala kondisi cuaca.

    oleh : Santoso Purwoadi

    Iklan
     

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: