Sejarahqu’s Blog

  • 11:15:35 pm on November 16, 2008 | 0
    Tag:

    PERTEMPURAN TELUK SUNDA KELAPA 1527,

    MEMBIDANI KELAHIRAN KOTA JAKARTA

    By: Adi P.S. 

     

                Pertempuran Teluk Sunda Kelapa 22 Juni 1527 merupakan bagian dari Perang Portugis-Demak yang ditabuh sejak tahun 1512. Pertempuran laut ini merupakan pembalasan dari kekalahan armada Pati Unus di Malaka 1513 sekaligus melengkapi kemenangan armada Fatahillah yang sebelumnya berhasil menguasai Banten tahun 1526 dan mengalahkan pasukan Pajajaran yang mempertahankan Sunda Kelapa  setahun kemudian. Dua kemenangan di pelabuhan utama Pajajaran ini melahirkan nama Jayakarta yang sekarang dikenal sebagai Jakarta.

                Sampai dekade kedua abad ke-16, Sunda Kelapa merupakan pelabuhan yang memiliki nilai strategis secara ekonomi dan politik dari Kerajaan Hindu Pajajaran. Bandar ini menjadi pelabuhan perantara paling ramai dikunjungi para pedagang Arab, India, Cina, dan para pedagang nusantara setelah Malaka. Disamping itu pelabuhan ini merupakan pusat pengapalan lada yang dihasilkan dari Jawa Barat dan Lampung. Pajajaran memanfaatkan potensi tempat ini untuk mengontrol jalur perdagangan di Selat Sunda yang merupakan jalur alternatif  apabila situasi keamanan Selat Malaka tidak kondusif seperti yang terjadi antara tahun 1511 hingga 1522.

                Kawasan Jawa Barat yang sampai tahun 1526 dikuasai Pajajaran menjadi fokus politik ekspansi Demak dengan tujuan melakukan islamisasi di wilayah itu, menancapkan pengaruh secara politis dan mengontrol kegiatan perdagangan di pantai utara Jawa bagian barat dan Selat Sunda. Politik ekspansi ini berarti berhadapan dengan Kerajaan Pajajaran yang sejak tahun 1522 telah menjalin persekutuan dengan Portugis yang merupakan musuh besar Demak. Para penguasa Demak berturut -turut  Sultan Patah, Pati Unus dan Sultan Trenggono telah merintis langkah sistematis untuk menaklukkan Pajajaran yaitu meningkatkan status dan kekuatan vassal Demak di Cirebon menjadi sebuah kadipaten dan meningkatkan islamisasi di kota pelabuhan Banten Girang sebelah barat Sunda Kelapa yang menghasilkan komunitas muslim pro Demak dalam jumlah besar.

                Portugis memiliki kepentingan yang sama atas pelabuhan Sunda Kelapa dan Selat Sunda setelah keberhasilannya menduduki Malaka tidak menghasilkan keuntungan ekonomi bagi pembawa semangat Perang Salib itu karena para pedagang dan penguasa Melayu berupaya mengucilkan Malaka dengan meramaikan bandar – bandar baru seperti Aceh, Pasai, Johor, dan Bintan. Jalur pantai barat Sumatera dan Selat Sunda pun menjadi rute pilihan untuk menghindari Portugis di Selat Malaka. Selama kurun waktu 1513-1522 Portugis harus melakukan penetrasi ke bandar – bandar baru itu dan menahan upaya bekas penguasa Malaka Sultan Mahmud merebut kembali kota ini. Bagi Portugis penguasaan Malaka tidak cukup untuk mengontrol jalur perdagangan laut nusantara, oleh karena itu Alfonso d’Albuquerque berambisi menguasai Selat Sunda dan Sunda Kelapa. Kebetulan penguasa kawasan itu adalah kerajaan Hindu yang memiliki kepentingan yang sama dengan Portugis dalam memerangi kerajaan – kerajaan Islam terutama Demak yang selalu mendukung kerajaan – kerajaan di Selat Malaka untuk berperang melawan Portugis.

                Sesuai bunyi tulisan pada sebuah  Padrao  (batu peringatani)  yang ditemukan di kawasan Jakarta Utara tahun 1918, pada bulan Maret 1522 Portugis menjalin persekutuan dengan Pajajaran  dengan perincian Portugis diberi ijin membangun benteng pertahanan di Sunda Kelapa dan memasok persenjataan terutama meriam dan senapan kepada Pajajaran, serta Pajajaran akan menyediakan komoditi yang diperlukan Portugis. Sampai tahun 1525 Portugis belum sempat mendirikan benteng namun telah memberikan beberapa pucuk meriam kepada Pajajaran.

     

    Portugis dan Demak berpacu dengan waktu untuk segera menduduki Sunda Kelapa. Pada tahun 1526 Alfonso d’Albuquerque mengirim enam kapal perang dibawah pimpinan Francisco de Sa menuju Sunda Kelapa. Kapal yang dikirim adalah jenis galleon yang berbobot hingga 800 ton dan memiliki 21-24 pucuk meriam. Armada itu  diperkirakan membawa prajurit bersenjata lengkap sebanyak 600 orang. Pada tahun yang sama Sultan Trenggana mengirimkan 20 kapal perang bersama 1500 prajurit dibawah pimpinan Fatahillah menuju Sunda Kelapa. Kapal – kapal Demak terdiri dari kapal tradisional jenis lancaran dan pangajawa yang ukurannya jauh lebih kecil dari galleon. Kapal – kapal ini digerakkan oleh layar dan dayung dan dilengkapi paling banyak delapan pucuk meriam buatan lokal yang jangkauannya tidak sejauh meriam Portugis. Berbeda dengan pasukan yang dikirim ke Malaka, prajurit Demak yang dipimpin oleh fatahillah ini merupakan prajurit yang terlatih, sejumlah perwiranya merupakan veteran pasukan Pati Unus yang memiliki pengalaman perang laut bagaimana menghadapi kapal – kapal Portugis. 

     

    Armada Demak diberangkatkan dari pelabuhan Jepara diperkiarakan pada bulan Oktober 1526 dengan memanfaatkan angin Barat. Iring – iringan kapal ini menyusur pantai utara Jawa dan singgah di Cirebon untuk mengisi perbekalan dan mengangkut tambahan prajurit yang disediakan oleh Susuhunan Jati penguasa wilayah itu. Kekuatan Demak-Cirebon itu menjadi 1967 prajurit. Fatahillah tidak langsung menggempur Sunda Kelapa namun mengarahkan armadanya ke Banten yang tidak dipertahankan secara kuat oleh tentara Pajajaran. Banten dapat diduduki oleh Pasukan Demak dan Cirebon pada akhir tahun 1526. Penguasa Banten kemudian dipegang oleh Hasanudin, tokoh penyebar Islam dari Cirebon. Awal tahun 1527 Fatahillah menggerakkan armadanya ke Sunda Kelapa sementara Pasukan Banten secara bertahap mendududuki wilayah demi wilayah Pajajaran dari arah Barat sedangkan pasukan Cirebon bergerak menguasai wilayah Pajajaran bagian timur Jawa Barat.

     

    Sunda Kelapa dipertahankan Pajajaran secara kuat baik di laut dan di darat. Pada akhir Februari 1527 Armada Fatahillah masuk di perairan Sunda Kelapa dan dihadang oleh kapal – kapal Pajajaran yang dari segi teknologi persenjataan dan pengalaman masih dibawah armada Demak. Kapal – kapal Demak melakukan taktik bombardemen jarak jauh dengan meriam, kemudian diikuti lontaran bola api dan anak panah ke arah kapal – kapal Pajajaran serta dituntaskan oleh penguasaan prajurit yang berayun dari kapal sendiri ke kapal musuh. Armada Demak dengan mudah melumpukan armada Pajajaran kemudian segera merapat ke pelabuhan dibawah hujan peluru meriam dari pantai yang selalu meleset karena kurangnya ketrampilan prajurit pengawaknya. Seluruh pasukan Demak-Cirebon dibawah pimpinan Adipati Keling dan Adipati Cangkuang dari Cirebon berhasil didaratkan dan langsung berhadapan dengan pasukan darat Pajajaran yang dipimpin Sri Baduga Maharaja sendiri. Dalam waktu sehari Sunda Kelapa dapat dikuasai oleh pasukan Fatahillah. Sultan Trenggono mempercayakan Fatahillah sebagai penguasa Sunda Kelapa yang baru. Kapal – kapal dan prajurit Demak yang disertakan dalam ekspedisi itu tetap dipertahankan di Sunda Kelapa untuk mendukung gerakan pasukan Islam yang sedang bergerak ke kawasan Pakuan (daerah Bogor) yang menjadi ibu kota Pajajaran serta disiapkan untuk menghadapi kedatangan armada Portugis yang diketahui sedang bergerak ke arah Jawa bagian barat. 

     

    Perkembangan politik di Sunda Kelapa ternyata tidak diketahui armada Portugis. Pada bulan Juni 1527 kapal – kapal Portugis telah berada di Teluk Sunda Kelapa. Sebuah kapal ditugaskan merapat di pelabuhan dan menurunkan pasukan bersenjata lengkap untuk merealisasikan perjanjian dengan Pajajaran 1522. Penguasa baru Sunda Kelapa tentu saja menolak maksud Portugis itu yang berakhir dengan pertempuran di Kota Sunda Kelapa. Kekuatan yang tidak seimbang membuat pasukan Portugis mundur kembali ke kapalnya. Kapal Portugis  yang naas itu gagal meninggalkan perairan Sunda Kelapa dan tenggelam  karena dihujani tembakan meriam dari pantai dan dikepung kapal – kapal armada Demak yang ternyata lebih lincah untuk pertempuran pantai.

     

    Kapal – kapal Portugis lainnya membentuk formasi di perairan terbuka untuk menghadang kedatangan armada Demak yang  diperkirakan akan muncul dari Teluk Sunda Kelapa. Fatahillah sengaja menahan armadanya untuk tetap bertahan di teluk. Hal ini ini disebabkan oleh dua perkiraan yaitu  pertama,kapal – kapal Demak  akan sulit menghadapi armada Portugis di laut terbuka karena ketertinggalan teknologi senjata dalam hal jangkauan meriam dan memaksakan pertempuran pantai yang memang menjadi spesialisasi kapal dan prajurit Demak, kedua pada saat itu sedang terjadi badai di perairan terbuka yang membahayakan pelayaran kapal – kapal Demak karena tonase dan ukurannya relatif kecil. 

     

                Sebuah kapal Portugis mencoba memasuki teluk untuk menghindari badai. Kehadiran kapal itu segera dikepung  dan ditenggelamkan oleh kapal – kapal Demak yang mampu mengarahkan meriam dan bola api tepat di lambung dan geladak kapal yang naas itu. Empat kapal Portugis lainnya tidak berani memasuki Teluk Sunda Kelapa dan memilih menghadapi badai. Tenggelamnya dua kapal ini membuat Fransisco de Sa memerintahkan armadanya  kembali ke Malaka. 

     

                Untuk memperingati kemenangan armada Demak dalam merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran dan mempertahankannya dari Portugis pada tanggal 22 Juni 1527 itu  Fatahillah mengubah nama pelabuhan ini menjadi Jayakarta yang berarti kemenangan mutalak. Tanggal tersebut diperingati sebagai hari jadi kota Jakarta yang sekarang menjadi ibu kota RI. Pertempuran di Teluk Sunda Kelapa ini memiliki pengaruh penting dalam sejarah bahari Indonesia. Pertama, Demak melalui Banten, Cirebon dan Jayakarta memegang hagemoni secara politik dan ekonomi di bagian barat Jawa, Selat Sunda dan Sumatera bagian Selatan. Kedua, Portugis melupakan Laut Jawa sebagai rute rempah – rempahnya dan  mengalihkan rute armada tempur dan dagangnya ke arah utara melalui pantai barat kalimantan, utara Sulawesi dan kepulauan Maluku  yang merupakan wilayah asal rempah – rempah. Kondisi ini menyulitkan Portugis untuk memberikan bantuan kepada kerajaan – kerajaan Hindu di Panarukan dan Blambangan yang mencoba melepaskan diri dari pengaruh Demak. Kedua kerajaan itu ditaklukkan Demak pada tahun 1545 dan 1546, sejak saat itu Portugis tidak lagi ikiut campur dalam dinamika politik di pulau Jawa. 

    Iklan
     

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: