Sejarahqu’s Blog

  • 11:32:03 pm on Oktober 23, 2008 | 1

    KEBANGKITAN NASIONAL DAN JATI-DIRI BANGSA INDONESIA

    By: Adi Patrianto S

     

    Tanpa terasa tanggal 20 Mei 2008, kita  telah memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang ke-100 tahun atau satu abad. Seabad yang silam, tepatnya tanggal 20 Mei 1908 di STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen = Sekolah Kedokteran Hindia Belanda), Batavia (sekarang Jakarta, red), berdiri organisasi pelajar dan pemuda pribumi bernama Boedi Oetomo yang diketuai oleh R. Soetomo. BO berdiri dengan tujuan membantu “kemajuan Hindia” dan jangkauan gerak serta keanggotaannya mencakup seluruh Koloni Hindia-Belanda tanpa memandang keturunan, jenis kelamin ataupun agama (Marwati D. P & Nugroho N., Sejarah Nasional Indonesia V, 1984). Sebuah langkah maju bagi bangsa “terjajah”, yang sebelumnya dikondisikan sebagai bangsa yang “bodoh, pemalas dan terkotak-kotak secara etnis”. Langkah maju tersebut berupa tumbuhnya sebuah kesadaran yang menjadi dasar bagi terbentuknya negara, yaitu jati-diri bangsa. Itulah yang menjadi pemersatu bangsa. BO turut membidani kemunculan berbagai organisasi politik yang kemudian tumbuh sebagai kekuatan nasionalis yang menekan supremasi Kolonialis Belanda hingga kejatuhannya ke tangan bala-tentara Jepang tahun 1942.

    Itulah mengapa kita setiap tanggal 20 Mei memperingatinya sebagai Hari Kebangkitan Nasional dengan berbagai macam cara, seperti upacara, renungan, hingga penggelaran diskusi. Namun yang terutama adalah hikmah atau makna dari Kebangkitan Nasional bagi generasi penerus negeri ini.

     

    Jati-Diri Bangsa Indonesia

    Jati-diri bangsa Indonesia, adalah bangsa dengan keragaman budaya, etnis, bahasa, agama. Sungguh sebuah cerminan bangsa yang majemuk, multi-etnis, multi-kultur dan semacamnya. Kemajemukan tersebut merupakan konsekuensi logis dari negara Indonesia yang secara geografis berbentuk negara kepulauan (archipelagic state). Dengan demikian, negara kita memiliki beragam corak budaya lokal yang khas dan unik. Meskipun demikian, masyarakat yang majemuk dan tersebar pada pulau-pulau, tidaklah menjadi penghalang bagi bangkitnya sebuah perasaan sebagai sebuah nasion atau negara. Dan itu telah dibuktikan oleh para pemuda yang tergabung dalam BO, 100 tahun silam.

    Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan hamparan lebih dari 17.500 pulau berbagai ukuran yang membentang sepanjang 3.120 mil atau sekitar 5.790 km, bukanlah perkara mudah untuk menanamkan dan mempertahankan jiwa “keindonesiaan” warganya. Persoalan ketimpangan pembangunan yang diperparah oleh sentimen separatisme seolah telah menjadikan NKRI bagaikan serpihan kepingan yang masing-masing memiliki egosentris sendiri. Amanat BO 20 Mei 1908 dimana untuk pertamakalinya bangkit semangat persatuan nasional dengan menghilangkan semua ego, baik budaya, etnis maupun agama, seakan sirna. Padahal Indonesia harus menjadi milik semua warga dan keturunannya dimanapun ia berada, bahkan di pulau perbatasan yang terpencil sekalipun. Itulah mengapa kita perlu membangkitkan kembali jiwa ke-Indonesia-an kita, dengan memperluas wawasan dan perspektif kita sebagai sebuah bangsa maritim.

     

    Kebangkitan Nasional Bangsa Maritim

    Laut, sungai, selat, danau bahkan rawa-rawa sekalipun jangan dijadikan sebagai media separator (pemisah) melainkan harus menjadi media pemersatu bagi semua warga masyarakat di dalam wadah NKRI. Konsekuensi terbesar sebagai negara kepulauan adalah dua pertiga wilayahnya terdiri atas perairan. Selama berabad-abad suku-suku bangsa di nusantara ini, telah memanfaatkan laut sebagai media lalu-lintas perniagaan antar kerajaan, sumber penghidupan dan lambang supremasi suatu kerajaan. Laut Indonesia masih menyimpan begitu banyak potensi yang belum tergali, mulai dari potensi wisata maritim hingga sumberdaya alam. Disini sebuah pertanyaan besar mulai bergulir, apakah bangsa Indonesia telah mampu tumbuh sebagai bangsa maritim?

    Suku-suku bangsa di Indonesia memang sejak dahulu kala telah “akrab” dengan dunia maritim, namun tidak mampu mempertahankannya. Kerajaan-kerajaan di nusantara terpaksa tunduk pada hegemoni Kolonialis Belanda yang mampu menjajah wilayah nan subur ini selama ratusan tahun dan memerangkap suku-suku di nusantara dalam keterbelakangan, kebodohan serta primordialisme masing-masing. Akibatnya, kaum pribumi (oleh Kolonialis Belanda disebut “Kaum Inlander”) menjadi “terasing” di tanah-airnya sendiri. Gambaran kondisi tersebut bisa disimak pada pernyataan bernada sindiran dari salah seorang tokoh perintis kemerdekaan, yaitu Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hadjar Dewantara, yang berbunyi “Als ik een Nederlander was (Andai saya seorang Belanda)” (Depsos RI, Wajah Dan Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional Seri I, 1993). Selama beberapa abad Indonesia dibuat melalaikan jati-diri sejatinya, yaitu sebagai bangsa maritim. Potensi maritim sepenuhnya dikuasai dan dikelola oleh Kolonialis Belanda.

    Kini, Indonesia telah merdeka. Namun, apakah Indonesia telah mampu kembali bangkit untuk mengelola semua potensi maritimnya sehingga berhasil menyatakan dirinya bangsa maritim? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, coba simak data dari FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian) tahun 2007. FAO melaporkan bahwa Indonesia menempati peringkat keempat sebagai eksportir perikanan di Asia setelah Cina, Thailand dan Vietnam (Kompas, 10 April 2008). Ironisnya, ketiga negara tersebut bukanlah negara maritim. Bahkan, Dirjen Kelautan Pesisir DKP menunjukkan potensi lestari sumber daya ikan laut Indonesia “baru” mencapai 7 % per tahun dari total potensi sumber daya ikan di dunia. Semua itu menandakan bahwa Indonesia yang telah merdeka hampir 63 tahun belum mampu tampil sebagai bangsa maritim, walaupun secara yuridis nasional dan internasional, jelas dinyatakan sebagai Negara Kepulauan. Ketentuan tersebut jelas termaktub dalam Hukum Laut Internasional PBB UNCLOS 82. Sungguh menyedihkan, jika membayangkan Indonesia harus “pasrah” melihat perairan yurisdiksi nasionalnya justru marak “disambangi” kapal-kapal penangkap ikan ilegal dan penyelundup dari negara lain. Masyarakat maritim Indonesia tidak mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain, karena minimnya kesejahteraan, pengetahuan kebaharian dan kurang berpihaknya kebijakan ekonomi nasional kepada mereka. Masyarakat Indonesia seolah “kembali” dibuat melalaikan jati-dirinya sebagai bangsa maritim.   

    Untuk mampu tampil sebagai bangsa maritim, Indonesia harus dapat memberdayakan semua potensi kemaritimannya. Dan untuk menjamin keberhasilan pembangunan potensi maritim nasional, dibutuhkan kekuatan penegak kedaulatan yang tangguh dan disegani. Oleh sebab itu, pembangunan kekuatan dan peningkatan kemampuan TNI Angkatan Laut sebagai komponen pertahanan negara di laut merupakan hal yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Namun disamping membutuhkan komitmen politik nasional yang kuat untuk mewujudkannya, juga perlu diperhatikan pembangunan potensi maritim nasional untuk mendukung operasional TNI AL. Galangan kapal nasional, industri pelayaran dan perikanan, pendidikan bagi masyarakat pesisir serta nelayan selayaknya mendapatkan perhatian serius di tingkat nasional, baik pemerintah, parlemen maupun oleh para penggerak perekonomian.

    Harapannya, melalui Peringatan Seabad Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2008 ini, bangsa Indonesia dapat kian menyadari jati-dirinya sebagai Negara Kepulauan dan Negara Maritim. Untuk itu bangsa Indonesia selayaknya memberikan perhatian yang serius bagi bangkitnya pemberdayaan potensi kemaritiman yang ada. Semoga tidak lagi kita jumpai masyarakat pesisir, nelayan dan industri maritim justru menjadi “kaum yang terasing” di Indonesia, Negara Kepulauan Terbesar Di Dunia.   

     

    Iklan
     

Comments

  • sejarahqu 7:27 am on Oktober 24, 2008 | # | Balas

    Ok Bangeett


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: