Sejarahqu’s Blog

Updates from RSS

  • 01:12:17 am on September 15, 2010 | 0 | # |

    Pesawat Serang Yak-130

    Yak-130, Penyerang Darat Serbaguna

    Sekilas Tentang Pesawat Latih Lanjut – Serang Darat Yak-130

    oleh : Santoso Purwoadi

    Pesawat Yak-130 semula didisain untuk mengantisipasi kebutuhan AU Uni Soviet akan pesawat latih lanjut model baru. Kemudian dikembangkan dua pabrikan wahana kedirgantaraan Eropa Barat dan Timur menjadi sebuah pesawat tempur multi peran. Kini Yak-130 telah diterima sebagai pesawat latih lanjut di jajaran AU Federasi Rusia.

                Pada awal dekade 1980-an, Angkatan Udara (AU) Uni Soviet membutuhkan sebuah pesawat latih lanjut model baru sebagai pengganti L-29 dan L-39 Albatros buatan Vodochody, Cekoslovakia yang telah uzur. Sebagai salah satu biro perancang pesawat terkemuka, Yakovlev melakukan antisipasi dengan mulai mencipta sebuah disain pesawat latih lanjut. Agar hasil kerja perancangan bisa berjalan lebih baik, maka Yakovlev menggandeng pabrikan pesawat terkemuka Aermacchi (Italia) dan pabrikan pesawat NAZ Sokol (Uni Soviet) selaku mitra kerja (1993). Aermacchi menyetor separuh dari total biaya penelitian-pengembangan, sementara Yakovlev dan NAZ Sokol masing-masing 25 persen.

                Sebagai pencetus ide disain baku, maka Yakovlev berhak mendisain badan, sayap dan bagian permukaan serta sistem kendali penerbangan plus sistem kendali penembakan senjata. Sementara itu Aermacchi berwenang melakukan uji ketahanan fisik terhadap purwarupa di dalam terowongan angin selama 5.000 jam (dalam berbagai konfigurasi terbang), uji rig terhadap sistem kendali penerbangan fly-by-wire selama 3.000 jam serta turut mengembangkan sayap, ekor, sistem kendali penerbangan,  piranti avionik. Setelah purwarupa Yak-130 rampung (30/4/94), pilot penguji utama Yakovlev, Andrei Sinitsin melakukan uji terbang perdana (25-26/4/96).

    Pada medio 1997, purwarupa Yak-130 yang didisain untuk keperluan demo, RA-43130, telah menjalani 100 sorti terbang. Berkat hasil sejumlah uji terbang yang cukup bagus, Yakovlev dipercaya AU Rusia membuat 10 Yak-130 untuk dijajal kebolehannya. Akibat tidak sepaham dalam beberapa hal tehnis, kemitraan Yakovlev – Aermacchi disudahi (1999). Meski begitu, keduanya tetap melanjutkan pengembangan pesawat latih lanjut yang sesuai kehendak masing-masing. Yakovlev dengan Yak-130 dan Aermacchi dengan M-346. Maka tak heran jika sepintas tampilan fisik keduanya bak pinang dibelah dua.

    Awal 2002, AU Rusia menggelar lomba yang diikuti empat calon untuk mencari pengganti L-29 dan L-39. Yakovlev muncul sebagai pemenang mengalahkan pesaing beratnya, Mikoyan-Gurevich,  dengan MiG-AT (April 2002). Selusin Yak-130 diterima Akademi Pilot Tempur AU Rusia guna dijajal kebolehannya. Pertengahan 2003 Yak-130 versi produksi mulai dihadirkan ke depan publik dan tepat dua tahun kemudian AU Rusia menyatakan pesawat ini boleh bergabung ke dalam jajaran armadanya. Direncanakan pada 2009 ini selusin Yak-130 bakal diterima AU Rusia dari NAZ Sokol.

    Rancang bangun badan

                Bila ditilik selintas Yak-130 versi produksi lebih pendek, ringan, ramping dan landai ketimbang  RA-43130. Panjang badan RA-43130 11,49 m sementara  sedangkan Yak-130 11,24 m. Bobot kosong RA-43130 6,4 ton sedangkan Yak-130 versi produksi 5,4 ton. Meskipun begitu ukuran dimensional keduanya identik. Jarak ujung terluar dari kedua belah sayap 9,73 m dengan rasio aspek sayap 4,05 m dan luas daerah rentang sayap 23,52 m². Dalam soal tinggi (dari permukaan tanah hingga ujung sirip ekor tegak), jarak antara poros roda pendarat depan – roda pendarat belakang dan jarak antara kedua ujung terluar poros kedua roda pendarat belakang keduanya juga setara. Yakni 4,76, 3,95 dan 2,55 m.

                Berat maksimum Yak-130 saat tinggal landas tergantung pada jenis misi yang tengah diemban. Secara teoritis, berat normal Yak-130 saat tinggal landas tanpa membawa muatan apapun adalah 5,75 ton. Jika berperan sebagai pesawat latih, maka bobot tinggal landas maksimumnya 6,50 ton. Tapi saat mengemban misi tempur sembari membopong senjata seberat tiga ton, maka bobot maksimum di kala tinggal landas bisa mencapai 9,25 ton. Karena jenis misi yang diemban berkaitan dengan ragam senjata yang dibawa, maka boleh dikata bobot total senjata bawaan menentukan bobot maksimum saat tinggal landas dan menentukan nilai faktor bobot maksimum muatan yang dapat diusung oleh setiap meter persegi sayap (maximum wing loading). Saat sebagai pesawat latih, nilai maximum wing loading Yak-130 276,4 kg/m² sedangkan sebagai pesawat tempur 403,9 kg/m². Pada gilirannya, variasi nilai maximum wing loading ini berdampak kepada daya angkut muatan maksimum (maximum power loading) di mana untuk misi latih 151 kg/kN sedangkan untuk misi tempur 220 kg/kN.

                Bobot kosong Yak-130 terbilang enteng karena konstruksi kerangka badannya memakai logam paduan jenis tertentu yang ringan (light alloy metall). Rangka badan model ini didisain tahan untuk dipakai selama 30 tahun dengan jumlah jam terbang dan kali pendaratan 10.000 dan 20.000. Struktur hidung juga dibuat membulat supaya bisa menampung bermacam tipe radar. Kawasan bentang sayap Yak-130 versi produksi lebih rendah ketimbang RA-43130. Disain badan Yak-130 versi produksi menganut perpaduan konsep all swept high lift wing model klasik moderat, all moving low mounted tail plane dan empennage mid wing monoplane. Berkat perpaduan ketiganya, maka Yak-130 sanggup melakukan manuver serang pada sudut serang hingga 40 º. Biar strukturnya kuat, maka permukaan badan Yak-130 dilapisi material serat karbon dan guna mencegah kerusakan akibat diterjang proyektil amunisi senjata musuh, maka ruang mesin dan perangkat avionik dilapisi zat Kevlar.  

                Salah satu kelebihan Yak-130 adalah kemampuannya untuk tinggal landas dan mendarat pada landasan yang berjalur pendek. Hal ini dimungkinkan berkat adanya perangkat dukung gerak dog tooth leading edge dan sirip kepak (split flap) Fowler yang dipasang pada tiga tempat berbeda. Berkat sirip Fowler, Yak-130 sanggup bergerak mundur saat tengah bersiap tinggal landas, memiliki daya angkat beban yang besar dan mampu mengerem langkahnya saat mendarat (drag for landing manoeuvre). Tak hanya itu. Pesawat Yak-130 juga dimodali perangkat forward hinged dan rem udara dengan tempat masukan udara berpintu (door type air intake) pada bagian punggung. Sementara dua mesin penggerak utama Yak-130 ditempatkan pada ruangan khusus di bawah wing root.

    Sistem penggerak

                Saat masih berstatus purwarupa, Yak-130 memakai dua unit mesin turbofan ZMK DV-2SM lansiran Povaszki Strojarne (Cekoslovakia) di mana tiap unit menghasilkan tenaga dorong 21,58 kN (setara tenaga untuk mendorong obyek seberat 2,158 ton). Sebagai alternatif dicadangkan mesin RD-35M bertenaga dorong 21,6 kN. Kedua mesin ini dapat dihidupkan secara otonom (autonomous engine starting). Juga dilengkapi pemasok bahan bakar darurat yang dapat menjamin pasokan avtur pada saat pesawat kena efek gravitasi negatif (negative G-force) selama 20 detik. Namun Yak-130 versi produksi justru memakai mesin turbofan AI-222-25 karya Salyut (Rusia) – Zaporozche (Ukraina) bertenaga dorong 25 kN. Ia baru butuh perawatan biasa setelah dioperasikan selama 3.000 jam dan perawatan skala besar usai beraksi selama 1.500 jam. Sebagai alternatif dicadangkan mesin RD-2500 (Soyuz – Tushino) yang sejatinya hasil pengembangan mesin RD-1700. Khusus untuk Yak-130 versi ekspor dipilih mesin RD-35 M atau RD-2500.

                Untuk menjamin pasokan bahan bakar, maka pada badan Yak-130 terdapat tiga tangki internal dengan sebaran dua tangki di dalam sayap dan satu tangki pada bagian tengah dalam badan. Kapasitas total ketiga tangki ini 1,75 ton. Bila dirasa kurang, Yak-130 juga dibekali tiga tangki eksternal dengan sebaran dua tangki (masing-masing berkapasitas 0,45 – 0,59 ton) digantung di bawah sayap dan satu tangki (0,3 ton) di bawah perut. Jadi dalam sekali jalan Yak-130 membawa modal avtur sebanyak 2,95 – 3,23 ton. Guna memudahkan pengisian avtur, Yak-130 dilengkapi alat pengisian bertekanan udara yang laju isiannya dapat dikendalikan atau piranti pengisian avtur yang bekerja dengan pengaruh gaya gravitasi. Sebagai tambahan, atas permintaan konsumen Yak-130 dapat dipasangi alat pengisian bahan bakar di udara yang bisa dibongkar pasang kapan saja.

                Saat semua tangki avtur terisi penuh namun tak membawa senjata, maka rasio jumlah konsumsi avtur terhadap bobot muatan mesin AI-222-25 adalah 0,87. Andai ketiga tangki eksternalnya dicopot, maka besaran faktor ini turun menjadi 0,72. Kondisinya akan berbeda jika ketiga tangki internal terisi penuh, tanpa tangki eksternal tapi pesawat membawa muatan senjata seberat tiga ton (0,60). Tingkat efisiensi bahan bakar mesin AI-222-25 cukup tinggi karena faktor konsumsi bahan bakar spesifik 0,68 kg/kgf/jam dengan catatan Yak-130 tak membawa senjata apapun. Nilai ini akan ‘melonjak’ jadi 0,70 bila Yak-130 membawa satu tangki eksternal di bawah perutnya.

                Tenaga listrik kedua mesin utama berikut seluruh perangkat dukungan operasional Yak-130 berasal dari dua unit generator listrik (@ 16 kW), dua unit transformer – rectifier (pengubah arus AC ke DC maupun sebaliknya) (@ 6 kW), satu unit pemicu gerak perangkat catu daya cadangan (APU drive) (5kW) dan satu unit perangkat catu daya cadangan (APU) GTCP36-150 berdaya 20 kW (menghasilkan tenaga listrik bagi perangkat kerja hidraulik dan pneumatik pada Yak-130). Sebagai tambahan, satu unit perangkat system rating arus AC tiga fasa (tegangan 115/200 Volt dan frekuensi kerja 400 Hz) dan sepasang baterai kering tipe Ni-Cd (dapat diisi ulang dan berkekuatan 25 Ampere jam) tidak lupa dipasang untuk mengantisipasi kebutuhan tenaga listrik saat pesawat akan melakukan pendaratan darurat.

                Berkat adanya APU, maka sistem kelistrikan utama dan perangkat avionik dapat dioperasikan tanpa perlu menghidupkan mesin penggerak utama. Selain itu para awak darat juga dapat melakukan pengujian kelaikan perangkat avionik di darat tanpa melibatkan pemasok tenaga listrik tambahan dari luar badan pesawat. Juga sistem pengatur temperatur udara di dalam kokpit dan perangkat avionik bisa dioperasikan di darat tanpa harus terlebih dahulu menghidupkan mesin penggerak utama.

                Sistem hidraulik Yak-130 bertekanan udara operasional 210 kg/cm². Komponennya terdiri atas dua unit pompa hidraulik (kapasitas pasokan fluida 84 liter/menit), 13 unit perangkat penggerak piranti kendali utama dan cadangan, dua unit penggerak sirip kepak (untuk pengereman), tiga unit penggerak roda pendarat (dapat ditekuk saat tinggal landas atau diregangkan saat tinggal landas), perangkat bantu pengereman roda pendarat serta sepasang penggerak tabir pelindung tempat masukan udara. Ketika dilipat kedua roda pendarat belakang dimasukkan ke dalam sayap sementara roda pendarat depan ke rongga hidung. Berkat tabir pelindung tempat masukan udara yang dipadu dengan disain roda pendarat yang khusus plus ban bertekanan udara rendah, maka Yak-130 dapat dioperasikan di landas pacu yang kondisi permukaannya amat kasar dan tidak dibeton.

    Guna mendukung kinerja semua komponen hidraulik ini, maka ada dua piranti penggerak yang bekerja secara ‘bebas’ dengan tekanan udara masing-masing 207 bar. Sementara itu sistem pneumatik Yak-130 tidak melibatkan gas nitrogen. Sehingga pada saat persiapan operasi, Yak-130 tidak butuh gas nitrogen bertekanan udara tertentu untuk proses isi ulang.

    Sistem kendali penerbangan

                Kaca jendela ruang kemudi (kokpit) Yak-130 terbuat dari material gelas. Kokpitnya sendiri dari tipe berkursi ganda yang tertata secara tandem (depan – belakang). Kursi lontar kedua awak Yak-130 memakai tipe K-36LT3-5 yang berbobot ringan dan termasuk jenis zero-zero ejection seat. Pada kedua kursi lontar itu terdapat sistem penghasil gas oksigen secara elektrik (On Board Oxygen Generation System – OBOGS) dan sistem penghasil gas oksigen secara kimiawi (Chemical Oxygen Generation System – COGS). Keduanya adalah bagian dari sejumlah perangkat penunjang kehidupan pada Yak-130 yang terdiri atas ruang kokpit bertekanan udara dengan boost air charging, sistem pengatur suhu udara dengan piranti turbocooler, sistem penghasil gas oksigen dan kursi pelontar.    

    Berkat kanopi kokpit yang berstruktur blister, maka dari dalam kokpit kedua awak Yak-130 dapat bebas memandang ke segala arah. Apabila diukur terhadap garis sumbu badan pesawat, maka instruktur (duduk di belakang) punya sudut arah pandang ke bawah (downward view along aircraft axis) sebesar 6 º. Sedangkan siswa (duduk di depan) 16º. Sementara itu, untuk memudahkan kedua awak dalam memantau kerja seluruh perangkat dukung operasional, maka terdapat beberapa fasilitas pendukung yang kompatibel terhadap alat bantu lihat malam NVG plus tiga unit layar tayang data penerbangan multi fungsi berbahan kristal cair dan bekerja secara dijital (LCD) yang menayangkan gambar berwarna. Kedua awak Yak-130 juga dibekali alat pembidik sasaran (dipasang pada helm), peralatan komunikasi internal dan eksternal serta sistem peringatan dini yang berbasis suara (voice warning system).   

    Sistem kendali penerbangan Yak-130 menganut konsep fly by wire empat saluran dilengkapi perangkat saluran keempat yang bekerja secara dijital (digital 4th channel). Sistem ini merupakan hasil pengembangan sistem kendali penerbangan Yak-141 yang bisa tinggal landas dan mendarat di landas pacu darurat yang berjalur lintasan pendek. Pola penanganan sistem kendali penerbangan Yak-130 dilakukan secara ‘bebas’ (carefree handling) dengan berbasis kepada tehnologi giro-laser. Komponen sistem kendali penerbangan Yak-130 tersusun dari empat unit komputer pengolah data penerbangan.  Keempat komputer ini menyediakan kestabilan terbang artifisial, menyelenggarakan pola penanganan sistem kendali penerbangan yang dilakukan secara ‘bebas’ (mengantisipasi keterbatasan kemampuan pesawat dalam menahan faktor G), mencegah timbulnya efek stall / spin dan kemampuan beradaptasi terhadap bermacam moda ‘pembalik’ gerak jelajah secara otomatis (bila terjadi kegagalan operasional  pada salah satu sistem kerja). 

    Perangkat avionik Yak-130 berbasis tehnologi dijital. Konfigurasinya dapat ditata sesuai selera calon pemakai. Tata letaknya menganut faham ‘terbuka’ yang terdiri dari sepasang komputer pengolah data dan satu perangkat pengganda informasi tukaran tiga saluran (three channel information exchange multiplexer). Sementara komponennya terdiri dari alat komunikasi, radar, perangkat dukungan misi, komputer pengolah data dan sistem instrumentasi. Sedangkan perangkat navigasi Yak-130 meliputi perangkat giroskop berpanduan berkas sinar laser dan alat penentu posisi di jagad (Global Positioning System – GPS) yang dipandu satelit komunikasi GLONASS / NAVSTAR.

    Alat komunikasinya mencakup radio pengirim – penerima yang bekerja pada frekuensi kerja VHF dan UHF (sebagai alat komunikasi eksternal) dan alat interkom (alat komunikasi internal). Untuk Yak-130 yang dipakai AU Rusia, jenis radarnya adalah tipe Osa buatan NIIP Zhukovsky (frekuensi kerja 8 – 12,5 GHz) yang diklaim sanggup mendeteksi sekaligus empat sasaran di udara dan menjejak sekaligus dua sasaran di darat asalkan luas minimal sasaran itu 5 m² dan berada 85 km di depan atau 40 km di belakang Yak-130. Kabarnya radar Osa dapat mengunci sasaran (lock-on target) pada jarak 65 km. Selain Osa, Yak-130 juga bisa menggunakan radar Kopyo yang kinerjanya hampir setara. Kedua jenis radar ini dilengkapi sistem pencari dan penjejak sasaran tipe Platan yang bekerja dengan panduan berkas sinar infra merah. Namun untuk Yak-130 versi ekspor, jenis radarnya disesuaikan kemauan si calon pemakai. 

    Perangkat dukungan misi Yak-130 tersusun atas sistem pemasok data misi, komputer pengarah senjata (berbasis tehnologi optis), perangkat komando pemandu, alat penyiap senjata dan alat perekam data penerbangan berikut aktivitas awak pesawat. Komputer pengolah data avionik meliputi komputer navigasi, perangkat INS (berbasis tehnologi giro-laser dan dilengkapi perangkat GPS), sistem pemasok data udara, perangkat radio navigasi jarak dekat model TACAN, alat penentu ketinggian terbang yang berbasis tehnologi gelombang radio dan perangkat untuk mengidentifikasi kawan – lawan. Sementara itu, perangkat instrumentasi Yak-130 mencakup HUD (Head Up Display) dan perangkat tayang hasil pembidikan sasaran pada kedua helm awak pesawat berikut empat layar tipe LCD untuk menayangkan berbagai data penerbangan.

    Kinerja jelajah

                Ada banyak faktor yang harus diperhatikan di dalam menilai kinerja jelajah Yak-130. Kesatu, panjang landas pacu minimum yang dibutuhkan agar dapat tinggal landas maupun mendarat dengan sempurna pada berbagai formasi muatan. Kedua, jangkauan jelajah di dalam berbagai formasi muatan dan ketinggian jelajah. Ketiga, kecepatan jelajah di dalam berbagai kondisi operasi, ketinggian jelajah dan formasi muatan. Keempat, waktu yang diperlukan untuk bisa mencapai kondisi jelajah tertentu. Dan terakhir, faktor muatan pada kondisi jelajah dan formasi muatan tertentu.

                Agar bisa tinggal landas dan mendarat dengan sempurna, maka Yak-130 membutuhkan jalur landas pacu minimum sepanjang 360 dan 610 m. Untuk amannya, disarankan tersedia jalur landas pacu sepanjang 1.000 m. Namun nilai panjang landas pacu minimum yang dibutuhkan untuk terbang dan mendarat tersebut di atas tidak bersifat mutlak. Bobot total muatan baik saat Yak-130 tinggal landas maupun saat mendarat juga patut dipertimbangkan selaku variabel. Misalnya saat Yak-130 hendak tinggal landas dengan keenam tangki bahan bakarnya terisi penuh tapi tanpa membawa senjata apapun dengan kecepatan tinggal landas 110 knot (setara 205 km/jam) ia membutuhkan jalur landas pacu 340 m. Jika membawa seluruh senjata dengan hanya mengandalkan tangki bahan bakar internalnya yang terisi penuh, maka Yak-130 butuh jalur landas pacu yang lebih panjang (580 m).

                Sementara itu bila tidak membawa senjata apapun dan ketiga tangki bahan bakar eksternalnya kosong serta kecepatan pendaratan 93 knot (172 km/jam), maka Yak-130 butuh jalur pendaratan 400 m. Tetapi jika membawa seluruh persenjataannya dan isi tangki bahan bakar internal tinggal seperlima, maka harus tersedia jalur pendaratan sepanjang 640 m agar pesawat latih multi peran ini bisa mendarat dengan sempurna di bawah kondisi kecepatan awal saat ketiga roda pendaratnya menjejak tanah 97 knot (180 km/jam).

                Kecepatan jelajah Yak-130 sangat ditentukan oleh seberapa tinggi ia terbang, seberapa berat bobot muatan senjata yang diusung dan kondisi operasional yang dihadapi dalam satu kesempatan misi terbang. Saat ketinggian jelajahnya mencapai batas maksimum (12,25 km), maka kecepatan jelajahnya dapat digeber hingga 572 knot (1.060 km/jam). Begitu ketinggian jelajahnya berkurang hingga tinggal sepertiganya, maka kecepatan jelajah maksimum Yak-130 melorot tinggal 560 knot (1.037 km/jam). Kecepatan jelajah maksimum ini bisa semakin susut jadi tinggal 108 knot (200 km/jam) saat Yak-130 terpaksa melakukan manuver berguling (rolling manoeuvre). Meskipun begitu, saat mendaki agar bisa mencapai ketinggian jelajah tertentu, kecepatan tanjak Yak-130 dapat digenjot hingga 122 knot (226 km/jam).

    Oleh perancangnya Yak-130 diklaim memiliki kecepatan jelajah normal (normal ceiling speed) 478 knot (886 km/jam). Tatkala ia secara mendadak terkena kondisi stall dengan jumlah bahan bakar tinggal seperlima, maka Yak-130 masih bisa mempertahankan kecepatan jelajahnya pada nilai 89 knot (165 km/jam). Namun anehnya, oleh perancangnya Yak-130 justru dianjurkan agar diterbangkan pada kecepatan jelajah ekonomis 72 knot (133 km/jam).

    Selain oleh kecepatan jelajah, jangkauan jelajah Yak-130 juga dipengaruhi oleh jumlah bahan bakar yang dapat dibawa dalam sekali jalan dan bobot total muatan senjata usungannya. Jika ketiga tangki bahan bakar internalnya diisi berlebih 10 % dari kapasitas muat normal, maka meski tanpa ada tangki bahan bakar eksternal barang sebuahpun Yak-130 tetap dapat melesat hingga sejauh 2.546 km. Akan semakin jauh bilamana Yak-130 dibekali dua tangki bahan bakar cadangan (3.333 km). Namun bila seluruh tangki bahan bakar internalnya diisi sesuai kapasitas normal dan tanpa membawa satupun tangki bahan bakar eksternal, maka Yak-130 masih dapat mengepakkan sayapnya hingga sejauh 1.700 km.

    Harap diingat, semua kinerja jelajah di atas diukur pada kondisi Yak-130 tak membawa senjata. Dengan dibekali muatan senjata seberat 1,2 ton dan tanpa tangki bahan bakar eksternal barang satupun Yak-130 hanya mampu melaju hingga sejauh 525 km sepanjang ia tak melakukan pertempuran. Tetapi jika ia harus berduel di udara selama lima menit ataupun melakukan penyergapan sembari membawa dua bom (masing=masing seberat 425 kg), dua peluru kendali (rudal) dan satu polong senjata, maka Yak-130 dapat dipaksa melaju hingga sejauh 815 km asalkan juga dibekali dua tangki bahan bakar eksternal dan terbang pada ketinggian 10 km.

    Namun jangkauan jelajah ini akan merosot hingga tinggal separuh bila pada ketinggian 11 km ia harus mengemban misi patroli tempur udara selama dua jam dengan berbekal dua rudal dan satu polong senjata menggelayut di badan tanpa dibekali tangki bahan bakar eksternal. Dan semakin anjlok bila Yak-130 harus melakukan bantuan tembakan dari udara dalam misi serang darat sambil membawa sepasang bom (@ 227 kg), sepasang rudal dan satu polong senjata. Kondisi operasional yang paling ideal bagi Yak-130 adalah tatkala ia menjalankan sebuah misi tempur dengan membawa sebagian senjata (bobot 1,4 ton) dan sepasang tangki bahan bakar eksternal. Pada kondisi seperti ini, Yak-130 bisa melesat hingga sejauh 900 km.

    Secara teoritis, besar nilai gaya gravitasi (G force) yang dapat ‘ditahan’ oleh Yak-130 pada saat bermanuver berkisar -3G hingga +8G. Tatkala ketinggian jelajahnya 4,57 km, kecepatan jelajah Mach 0,8 dan isi tangki bahan bakar internalnya tinggal separuh, maka besarnya gaya G yang dapat ditahan paling banter berkisar antara +5,13 hingga + 5,2 G. Besarnya pengaruh gaya G juga ditentukan oleh seberapa banyak senjata yang dibawa. Misalnya pada ketinggian jelajah 5 km, dengan tanpa membawa senjata Yak-130 sanggup menahan pengaruh gaya G hingga +5,4 G. Tetapi begitu membawa senjata dalam jumlah maksimum, maka besarnya gaya G yang mampu ditahan merosot jadi tinggal +4,3 G.

    Persenjataan

                Seluruh muatan senjata dan perlengkapan tempur tambahan (termasuk tiga tangki bahan bakar eksternal) melekat pada badan dan sayap Yak-130 lewat tujuh hingga sembilan titik gantungan senjata yang tersebar pada bagian bawah kedua belah sayap (tiga hingga empat titik gantungan) dan bagian bawah perut (satu titik gantungan). Jumlah total titik gantungan senjata disesuaikan dengan permintaan calon pemakai Yak-130. Tangki bahan bakar eksternal ada yang ditempatkan di bawah sayap dan ada juga yang di bawah perut. Demikian halnya dengan berbagai jenis polong wadah perlengkapan tempur tambahan. Polong peluncur roket tanpa pemandu ditempatkan di bawah sayap sedangkan polong untuk barang bawaan jenis lain di bawah perut.

    Selain tangki bahan bakar eksternal, perlengkapan tempur tambahan yang juga dapat diusung oleh Yak-130 adalah berbagai jenis polong senjata (yang berfungsi sebagai wadah kanon atau peluncur roket tanpa pemandu), polong wadah perangkat gelar perang elektronik (pengacak sinyal radar dan perangkat tangkal aktif piranti penjejak sasaran berpanduan berkas sinar infra merah yang dimiliki rudal musuh) dan polong wadah piranti pemandu gerak jelajah rudal berbasis tehnologi elektro optis. Dalam sekali jalan jumlah rudal, bom dan roket yang bisa dibawa Yak-130 (tanpa peduli jenisnya) masing-masing adalah empat unit, sementara kanon hanya satu unit.     

    Jenis persenjataan yang dapat dibawa oleh Yak-130 mencakup rudal udara ke udara atau udara ke darat, bom, roket dan kanon. Tipe rudal udara ke udara yang cocok untuk Yak-130 adalah R-73E / AA-11 Archer (berpanduan berkas sinar infra merah), Vikhr (berpanduan berkas sinar laser) atau AIM-9L Sidewinder. Untuk rudal udara ke daratnya dapat berupa Kh-25ML / AS-10 Karen (berpanduan berkas sinar laser) atau AGM-65 Maverick. Sedangkan untuk bom, ragamnya dapat berupa KAB-500Kr (berpanduan gelombang televisi, bobot 520 kg, hulu ledak tipe HE), OFAB-100-300 (bobot 133 kg, hulu ledak HEF), OFAB-200-270 (bobot 268 kg, hulu ledak HEF) dan OFAB-500 / M-62 (bobot 500 kg, hulu ledak HEF) serta P-50T (bobot 52 kg, sebagai bom latih).

    Itu baru senjata untuk menggasak sasaran ‘kelas berat’ semisal pesawat tempur, helikopter bersenjata, kapal patroli berudal ataupun bunker perlindungan berstruktur beton yang sangat tebal. Sedangkan jika sasarannya tergolong kelas ‘menengah ke bawah’ macam tempat sarang senjata artileri pertahanan udara, gudang logistik, konvoi kendaraan tempur atau basis pasukan infanteri, maka senjata yang bakal dipakai Yak-130 adalah roket dan kanon. Kedua jenis senjata ini diusung di dalam polong wadah yang jenisnya pun beraneka ragam disesuaikan jenis senjatanya.

    Contoh roket dan kanon andalan Yak-130 adalah roket tanpa pemandu S-8 KOM kaliber 80 mm (bobot 11,3 kg, diusung polong peluncur B 8M-1 berdaya tampung 80 pucuk roket), roket tanpa pemandu S-13T (bobot 69 kg) atau S-130F (bobot 75 kg) (kedua jenis roket ini diusung polong peluncur B-13L kaliber 130 mm yang berkapasitas 20 pucuk roket), serta roket berpemandu S-25 OFM-PU (bobot 377 kg) yang diluncurkan tanpa bantuan polong peluncur. Dan sebagai senjata pamungkas, maka perancang Yak-130 memilih kanon berlaras tunggal GSh-30T kaliber 30 mm atau kanon berlaras ganda GSh-23L kaliber 23 mm. Keduanya dapat dibopong polong wadah kanon SNPU-130 yang digantungkan di bawah perut.

    Yak-130, Pesawat Latih Rusia

    Pesawat latih Yak-130

     
  • 11:47:43 pm on September 14, 2010 | 0 | # |

    Sista Bastar Serba Guna ZUR

    Sista Bastar

    ZU-23-2KG

    -23-2KG

    oleh : Santoso Purwoadi

     Dengan berbasis pada sista arhanud ringan jarak dekat ZU-23-2, industri alat pertahanan Polandia melansir sista bastar ZUR-23-2KG. Sista ini gampang dioperasikan dan dirawat sehingga layak dipertimbangkan sebagai senjata andalan satuan arhanud Korps Marinir TNI AL.

     

       Sedemikian pesatnya perkembangan tehnologi kedirgantaraan militer pihak Barat pada akhir dekade 1950-an menyadarkan seterunya, Uni Soviet, bahwa tehnologi inti pada sebagian sistem senjata artileri pertahanan udara (sista arhanud) andalannya kala itu telah ketinggalan jaman. Kondisi ini terlihat pada sejumlah sista arhanud jarak dekat semisal meriam berlaras tunggal M 1939 kaliber 37 mm dan keluarga kanon ZPU kaliber 14,5 mm.

      Untuk mengatasi hal itu, Angkatan Bersenjata (AB) Uni Soviet menerbitkan maklumat berisi kebutuhan akan satu jenis sista arhanud jenis baru (1954). Syaratnya, sista ini harus berbobot sedang serta punya kepadatan plus jangkauan tembak yang lebih baik ketimbang sista arhanud sekelas yang sudah ada. Dari sejumlah kandidat, terpilih purwarupa ZU-14 berlaras ganda buah karya Biro Perancang KBP Tula (1955). Sista ini lalu berganti nama jadi ZU-2.

       Setelah program pengembangannya usai, ZU-2 resmi bergabung ke dalam satuan arhanud AB Uni Soviet (1960). Inisial ZU merupakan kependekan dari Zenitnaya Ustanovska (Sista Anti Pesawat Terbang). Karena setiap larasnya berkaliber 23 mm, maka AB Uni Soviet lalu memberi sista ini nama resmi ZU-23-2. Sedangkan di kalangan industri berat sista ini diberi sandi indeks industri 2A13.

       Sista ZU-23-2 dipakai oleh 50-an negara. Beberapa di antaranya lantas memproduksi sendiri berdasarkan lisensi. Ada juga yang sampai mengembangkannya lewat modifikasi atas sejumlah komponen inti atau pun memadukannya dengan sista arhanud jenis lain sehingga tercipta satu sista bastar (hybrid weapon). Dari sejumlah negara produsen ZU-23-2, hanya RRC dan Polandia yang aktif mengembangkan sista ini. Jika RRC sampai memperbesar kaliber laras sista menjadi 25 mm, maka Polandia menjodohkan ZU-23-2 dengan sista peluru kendali (rudal) arhanud sambil memadu-padankan alat bidiknya. Alhasil, terciptalah sista bastar ZU-23-2 KG.

    Sang Cikal Bakal

       Secara garis besar tampilan fisik ZU-23-2 adalah sebagai berikut. Panjang badannya 4,57 m. Bila dihitung dari sisi terluar kedua roda wahana pengusungnya (dalam posisi normal), maka lebarnya 1,83 m. Setelah kedua rodanya direbahkan (posisi siap tembak), lebar totalnya jadi 2,88 m sedangkan panjangnya tetap. Tingginya pun berubah. Dari semula 1,87 m jadi 1,22 m dengan kondisi sudut elevasi kedua larasnya nol derajat terhadap permukaan bidang gelar.

       Bobot kosong total ZU-23-2 dalam kondisi formasi baku (tanpa alat bantu bidik eksternal dan amunisi) adalah 0,95 ton. Begitu seluruh amunisi diisikan ke dalam kedua magasen logam di sisi luar kedua laras kanon, maka bobot total sista jadi 0,98 ton. Kecepatan wahana penghela sista ini direkomendasikan paling banter 70 km per jam di jalan raya dan 20 km per jam saat melintasi medan berat.

       Komponen inti ZU-23-2 adalah sepasang kanon AY (Afanasyev Yakushev). Panjangnya 2,01 m. Jika dilengkapi alat peredam cahaya api tembakan panjangnya mencapai 2,5 m. Bersama komponen rumah mekanik penembakan, sepasang magasen, alat bidik manual dan tempat duduk  kedua awaknya, sepasang kanon berkode indeks industri 2A14 ini dipantek di atas sebuah landas pancang berstruktur segitiga yang menyatu dengan wahana gerak beroda dua yang tinggi kolong dan lebar track-nya masing-masing 0,31 dan 1,67 m.

       Posisi duduk ZU-23-2 saat posisi siap tembak disangga oleh tiga kaki pancang penahan getaran tembakan yang ketinggiannya dapat diatur memakai alat ulir. Pada ujung setiap kaki pancang terdapat piringan bergerigi (arah gerigi ke bawah) untuk membantu kaki pancang mencengkeram permukaan bidang gelar.

       Dibutuhkan waktu sekitar 15 – 20 detik untuk mengubah tampilan ZU-23-2 dari posisi normal ke posisi siap tembak dengan kedua roda penggeraknya rebah merapat ke permukaan bidang gelar. Namun untuk memulihkan kepada kondisi normal butuh waktu sedikit lebih lama, yakni berkisar 20 – 25 detik.

       Kepadatan tembak teoritis kedua laras ZU-23-2 1.600 – 2.000 tembakan per menit. Namun pada prakteknya tak lebih dari seperlimanya. Posisi hadap kanon 2A14 pada arah vertikal dapat dibuat mendongak ataupun menunduk tergantung lokasi sasaran. Saat akan melumat sasaran di udara, laras kanon dapat didongakkan hingga tegak lurus terhadap permukaan bidang gelar. Sementara untuk sasaran di darat, bisa ‘dipaksa’ menunduk hingga membentuk sudut 10 derajat terhadap posisi laras tatkala sejajar dengan permukaan bidang gelar. Untuk posisi horizontal, laras kanon dapat diputar ke segala arah (360 derajat). Karena sista ini masih dioperasikan secara manual, kecepatan perubahan arah hadap larasnya masih terbilang rendah. Yakni 30 derajat per detik untuk posisi horisontal dan 50 derajat per detik untuk posisi vertikal.

       Setiap unit ZU-23-2 dibekali sepasang laras cadangan yang dipakai saat laras utama kepanasan usai dipakai menembak 50 kali tanpa henti. Laras utama dicopot dan direndam dalam bak air pendingin hingga tiba saatnya beraksi kembali. Untuk memudahkan pemasangan, maka pada tiap batang tiap laras dipasang tungkai pemegang berlapis kayu. Proses penggantian laras makan  waktu 20 detik.

       Perancang ZU-23-2 mengklaim senjata rancangannya ini bisa melabrak sasaran di udara yang terbang dengan kecepatan 900 km per jam pada ketinggian 1.500 m. Sedangkan di darat, sista ini mampu menjangkau sasaran sejauh 2.000 m. Agar bidikannya lebih akurat, maka awak sista ini dimodali sepasang alat bidik baku. Untuk sasaran di udara, dipakai alat bidik optik mekanik ZAP-23. Sedangkan saat menyasar calon korban di darat, ia akan mengandalkan teropong T3. Skala perbesaran tampilan obyek bidik pada ZAP-23 satu kali sedangkan T3 tiga kali lipat.

       Ada tiga macam tipe amunisi baku ZU-23-2. Masing-masing tipe OFZ, OFZT dan BZT. Kedua jenis yang pertama dipakai terhadap sasaran di udara sedangkan sisanya untuk sasaran di darat. Amunisi OFZ termasuk tipe amunisi berdaya ledak tinggi. Proyektilnya pecah dan menyebar ke segala arah. Sumbu peledaknya dilengkapi mekanisme penghancuran diri yang akan bekerja jika dalam waktu 11 detik usai meninggalkan laras proyektil tak berhasil mendapatkan sasaran yang dituju.

       Amunisi OFZT merupakan hasil pengembangan OFZ dengan penambahan zat kimia pembakar sasaran. Saat menuju sasaran, proyektil OFZT dapat menyala berkat adanya zat kimia tertentu yang dapat berpendar selama lima detik sehingga arah lintasan proyektil dapat dilacak (tracer). Sedangkan amunisi BZT tak lain adalah amunisi tipe API-T yang sanggup menjebol lapisan pelindung badan kendaraan tempur pada kondisi tertentu. Usai melintas sejauh 100 m, proyektil BZT mampu menembus lapisan baja tipe RHA setebal 15 mm dengan sudut tembus 30 derajat terhadap permukaan bidang tembus. Sedangkan lapisan baja RHA setebal 25 mm masih dapat dijebolnya dengan sudut hantam 90 derajat meski ia telah melaju sejauh 250 m.

       Dari 50 butir kapasitas tampung setiap untai sabuk logam perangkai amunisi ZU-23-2, 38 butir di antaranya diisi dengan amunisi OFZ. Sedangkan sisanya OFZT atau BZT. Formasi isian setiap tiga amunisi OFZ diseling satu amunisi OFZT atau BZT. Pengisian amunisi masih dilakukan secara manual.

       Selain ketiga macam amunisi baku, ada juga amunisi jenis lain hasil kreasi pabrikan di luar Uni Soviet. Yakni amunisi APDS-T (Armour Piercing Discarding Sabot with Tracer), PMP dan PMA 276. Amunisi kesatu lansiran Polandia dan merupakan hasil pengembangan amunisi BZT. Bobotnya 103 gr dan kecepatan lesat awalnya 1.220 m per detik. Kemampuan menjebol lapisan baja amunisi ini kabarnya tiga kali lipat BZT pada kondisi penetrasi proyektil yang sama.

       Jika memakai amunisi PMP (buatan Afrika Selatan) maka pada ujung laras ZU-23-2 tidak ada cahaya api tembakan. Sehingga posisi sista agak sulit dilacak musuh. Dan amunisi PMA 276 tergolong amunisi tipe FAPDS-T (Frangible Armour Piercing Discarding Sabot with Tracer) yang ujung proyektilnya terbuat dari logam tungsten yang ringan tapi kuat (sehingga daya tembusnya besar). Tambah lagi material discarding sabot-nya dibungkus plastik khusus tahan suhu tinggi. Meski pun bobotnya cuma 150 gr, tapi kecepatan lesat awalnya jauh lebih tinggi ketimbang amunisi lainnya (1.180 m per detik). Karena itu, waktu jelajahnya pendek dan tingkat akurasi perkenaan sasarannya amat tinggi.   

    Versi Lanjutan

       Ketika dijajal di lapangan, ketahuan jika ZU-23-2 mengidap banyak kelemahan. Selain hanya bisa dioperasikan di siang hari kala cuaca cerah, pengaturan arah hadap kedua laras kanon juga masih dilakukan secara manual. Jangkauan tembaknya terhadap sasaran di udara hanya 1.500 m. Kepadatan tembak faktual tiap laras paling banter 200 tembakan per menit. Dengan kinerja seperti ini, keruan saja ZU-23-2 tak dapat diandalkan untuk meladeni serangan pesawat tempur modern berkecepatan jelajah tinggi yang sanggup terbang tinggi di malam hari dalam kondisi cuaca buruk.

       Pada awal dekade 1990-an, seabrek kelemahan ini coba diatasi oleh beberapa industri alat pertahanan Rusia. Caranya adalah dengan mempermak sejumlah komponen inti semisal kanon, alat bidik dan sistem penggeraknya. Salah satu biro perancang melansir kanon 2A14 yang telah ditingkatkan kemampuannya sehingga tahan dipakai menembak sampai 10.000 kali (2A14M) (1995). Mereka juga menjodohkan sista rudal arhanud jarak dekat untuk merontokkan sasaran yang berada di luar jangkauan kanon 2A14M. Sista bastar ini dinamai ZU-23-2M.

       Sementara biro perancang lainnya mengadopsi sistem penggerak elektro-hidraulik (sehingga perubahan arah hadap laras pada posisi horizontal dapat lebih cepat, yakni 90 derajat per detik), alat bidik elektrik dengan tingkat akurasi bidik tinggi (derajat akurasi bidik bertambah sehingga tingkat perkenaan atas sasaran yang melaju dengan kecepatan subsonik bisa lebih baik). Bahkan ZU-23-2M juga dilengkapi alat pencari dan penjejak sasaran yang bekerja secara optis-elektrik. Piranti endus nan canggih yang berada di atas magasen kanan ini tersusun dari kamera pemantau berlayar tayang (untuk membidik sasaran di siang hari), kamera pencitraan termal yang bekerja dengan panduan berkas sinar infra merah (sasaran di malam hari), alat penentu jarak lokasi kedudukan sasaran yang bekerja dengan panduan berkas sinar laser (berjangkauan 6.000 m) plus alat bidik kolimator (collimator sight).

       Bermodalkan itu semua, operator ZU-23-2M butuh waktu paling lama 180 detik untuk bisa menjejak sasaran. Alat ini bisa mendeteksi dan mengenali jenis sasaran yang berada pada jarak 6.000 m. Kecepatan jelajah obyek terbang yang bisa dijamahnya bertambah jadi empat kali lipat kemampuan versi baku (720 km per jam). Dengan diperkuat sista rudal arhanud jarak dekat macam Strella-2M ataupun Igla-1, maka ZU-23-2M diyakini akan mampu merontokkan sasaran yang melesat di udara dengan kecepatan jelajah 1.300 km per jam. Biar tambah sakti, ZU-23-2M1 (ZU-23-2 M yang telah digenjot kemampuannya) dibekali dengan alat identifikasi kawan – lawan agar operatornya tak sampai salah tembak.

    Tipe 80 dan Giant Bow

       Sebagai salah satu negara yang mengadopsi ZU-23-2 dalam jumlah cukup banyak, RRC tidak puas dengan kinerja sista yang diperolehnya dari Kremlin pada akhir dekade 1960-an. Mereka lalu coba membuat sendiri sembari melakukan modifikasi pada beberapa fitur penting. Setelah sempat jatuh bangun, pabrikan senjata utama RRC, Norinco, akhirnya pada medio dekade 1980-an berhasil mencipta Meriam Ringan Tipe 80 yang kinerjanya diklaim nyaris setara ZU-23-2 M. Untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri, pabrikan ini juga menyiapkan Giant Bow.

       Satu baterai Tipe 80 membawahi enam unit sista sementara Giant Bow delapan unit. Keduanya dapat dioperasikan secara manual ataupun otomatis dari jarak jauh oleh sebuah pos komando pengendalian (poskodal) yang diusung truk beroda empat (disebut kendaraan BCCV – Battery Command & Control Vehicle). Setiap poskodal diperkuat beberapa unit teropong bidik komando taktis (Tactical Command Sight – TACOS) berskala perbesaran tampilan obyek bidik hingga 11 kali serta alat optik pengarah tembakan (Optical Director Unit – ODU). Operator baterai dibekali seabrek peralatan endus yang ragamnya sama seperti yang diusung ZU-23-2M. Tenaga listrik untuk mengoperasikan seluruh peralatan yang ada di dalam BCCV berasal dari generator beroda dua yang dihela BCCV. Pihak Norinco mengklaim BCCV made in China ini tetap dapat beroperasi meski suhu lingkungan tempat penggelarannya amat ekstrem (antara -10 °C hingga  +50 °C).

    ZUR-23-2KG

       Pabrikan senjata Polandia, Zaklady Mechaniczne Tarnow (ZMT) mulai memproduksi ZU-23-2 sejak awal dekade 1980-an. Tampilannya serupa dengan ZU-23-2 buatan Negeri Beruang Merah. Sebelum muncul ZU-23-2M1 di Rusia, pihak ZMT telah lebih dulu coba membuat barang serupa dengan memadukan ZU-23-2 produksinya dengan sista rudal arhanud jarak dekat Strzala-2M yang tak lain adalah Strella-2M buatan Zaklady Metalowe Mesko (ZMM). Hasilnya, terciptalah sista bastar made in Poland, ZU-23-2S Jod (1985).

       Sekilas, tampilan dan kinerja ZU-23-2S mirip ZU-23-2M1. Rudal 9K38 yang jadi inti Strzala-2M diklaim pihak ZMM sanggup melumat sasaran dari depan pada ketinggian 2.300 m atau dari belakang pada ketinggian 50 – 4.800 m. Akurasi tembakan ZU-23-2S dijamin oleh alat bidik takometrik GP-1R buatan pabrikan alat optik lokal, Prexer Lodz, yang tenaga listriknya berasal dari baterai bertegangan 40 Volt, berdaya 120 Watt dan berdurasi 10 jam. Bila setrum baterai ini habis, dapat diisi ulang tanpa harus menghentikan kegiatan operasi sista. Pihak ZMT mengklaim, butuh waktu 15 – 20 detik untuk menyiagakan ZU-23-2S kepada kondisi siap tembak. Sementara untuk membongkarnya, butuh waktu hampir dua kali lipat.

       Karena tak puas dengan kinerja Strzala-2M yang masih bisa dikecoh oleh flare (kembang api) dan chaff (serpihan logam) sedangkan niat untuk menggenjot kinerja ZU-23-2S tetap menggebu, maka pihak ZMT lalu mengakalinya dengan cara melakukan bongkar pasang alat bidik. Alhasil, muncul sejumlah turunan ZU-23-2S yang kinerja tempurnya belum jua memuaskan pihak ZMT. Mulai dari ZUR-23-2T (memakai alat bidik GP-03WR), ZU-23-2MR Wrobel (versi laut, alat bidik GP-02MR) hingga ZU-23-2K (alat bidik kolimator CKE-1).  

       Setelah ZMM mendapatkan lisensi untuk memproduksi sista rudal arhanud Igla-1 (dinamai sista rudal Grom), maka pihak ZMT lalau menata ulang ZU-23-2S. Sista rudal arhanud dan tipe alat bidiknya diganti. Hingga pada pertengahan 2002, muncullah sista bastar serbaguna ZUR-23-2KG. Inisial KG merupakan kependekan dari Kolimatorowy Grom.

       Keunggulan sista baru berbobot 1,24 ton ini terletak pada perpaduan antara alat bidik CKE-2 dengan sista rudal Grom. Berkat alat bidik seberrat 14,5 kg ini, operator sista dapat membidik sasaran di udara setinggi 2.500 m yang melesat dengan kecepatan 1.800 km per jam. Tak peduli apakah sasaran itu sedang terbang pada jalur lintasan lurus atau tengah bermanuver menghindari tangkapan radar. Tenaga listrik alat bidik dipasok oleh baterai bertegangan 12 Volt, berdaya 30 Watt dan berdurasi 12 jam. Jangkauan bidik CKE-2 berkisar 600 – 1.500 m.

       Sepintas, tampilan fisik sista rudal Grom serupa Strzala-2M. Namun rudal seberat 10,5 kg ini memiliki kecepatan lesat awal dan kecepatan jelajah yang lebih tinggi. Yakni 363 dan 2.340 km per jam. Apabila dalam tempo 15 detik usai diluncurkan rudal ini tak juga mampu menemukan sasaran yang dituju, maka mekanisme penghancuran dirinya akan bekerja. Tujuannya agar rudal tak jatuh ke darat dalam kondisi utuh (berpotensi membahayakan pasukan sendiri). Pihak ZMM mengklaim sista rudal buatannya dapat beroperasi secara optimal meski suhu lingkungan tempat penggelarannya amat ekstrem (-30 °C – +50 °C). Kemampuan sista rudal berjangkauan jelajah 400 – 5.000 m ini juga ditentukan oleh sudut dongak tabung peluncurnya (20 – 70 °).

       Seperti halnya Tipe 80 dan Giant Bow, maka setiap baterai ZUR-23-2 KG yang beranggotakan enam unit sista juga dapat dioperasikan sekaligus secara otomatis oleh satu poskodal yang berada dalam BCCV. Untuk ZUR-23-2KG, perancangnya memilih poskodal tipe WD-95 yang mampu mendeteksi dan menjejak keberadaan sasaran sejauh 10.000 m. Rentang suhu operasional WD-95 – 30 °C – +58 °C. Seabagai wahana pengusungnya dipilih truk beroda enam Star 266 yang telah dimodifikasi. Tenaga listrik untuk WD-95 berasal dari generator PAD-90 yang ditempatkan di atas kereta beroda dua dan dihela BCCV.

    Spesifikasi Tehnis Amunisi Baku ZU-23-2

     

    Jenis Spesifikasi Tehnis OFZ OFZT BZT
    ∙ Tipe amunisi∙ Panjang badan total (mm)

    ∙ Panjang proyektil (mm)

    ∙ Panjang selongsong (mm)

    ∙ Bobot total (gram)

    ∙ Bobot proyektil (gram)

    ∙ Bobot selongsong (gram)

    ∙ Kecepatan lesat awal proyektil  m per detik)

    HE236

    108,2

    151,5

    356

    184

    172

    970

    HEI-T236

    108,2

    151,5

    360,5

    188,5

    172

    980

    API-T236

    99,3

    151,5

    362

    189

    172

    970

    Keterangan : HEI-T = High Explosive Incendiary with Tracer ; API-T = Armour Piercing Incendiary with Tracer

     
  • 11:23:48 pm on September 14, 2010 | 0 | # |

    HMAS Stuart beraksi di Laut Matapan

    Pertempuran malam

    PUPUSNYA IMPIAN IMPERIUM ITALIA

     

     

    (PERTEMPURAN LAUT MATAPAN)

    Oleh Adi Patrianto, S.S.

     Mare Nostrum (Laut Kita) itulah sebutan Diktator Italia Benito Amilcare Andrea Mussolini beserta Partai Fasisnya saat menyebut Laut Mediteranean (Laut Tengah) yang membentang di hadapan Semenanjung Italia. Sebutan tersebut merupakan simbol akan ambisi dan impian Il’ Duce (bahasa Latin, artinya Sang Pemimpin, red), bahwa Italia harus tampil menjadi bangsa superior yang akan membangun Imperium Romawi baru. Sementara itu, bagi AL Kerajaan Italia (Regia Marina/ Royal Italian Navy) sebutan “Laut Kita” tidak sekedar jargon atau slogan politik semata, karena itu berimplikasi sebuah tantangan bagi mereka: mampukah meraih supremasi laut di Laut Tengah?

    Regia Marina sangat mengkhawatirkan superioritas AL Kerajaan Inggris, Si Raja Lautan, di Laut Tengah. Walaupun kekuatan tempur Regia Marina di atas kertas seimbang dengan Inggris, namun kenyataannya AL Inggris menguasai Laut Tengah dan membuat “ngeri” AL Italia untuk tidak coba-coba mencari masalah dengan armada Inggris. Namun masalah tersebut harus dihadapi, jika Italia hendak melebarkan sayap kolonialnya ke wilayah Afrika, sebagaimana ambisi Mussolini. Tantangan kian mengental ketika Adolf Hitler, Der Fuhrer Third Reich (Nazi Jerman), yang juga sekutu dekat Mussolini, mulai mengembangkan sayap kekuasaannya hingga ke kawasan Jazirah Balkan dan Afrika Utara, serta menghendaki Italia membantunya dengan mengeliminir kekuatan armada Inggris di Laut Tengah. Dengan demikian, Jerman dapat dengan mulus menaklukkan Yunani, Yugoslavia hingga Mesir. Kekuatan gabungan Inggris beserta negara-negara Persemakmurannya di Laut Tengah dapat menjadi “batu ganjalan” bagi Hitler dalam upayanya menguasai kawasan tersebut. Hitler sangat membutuhkan bantuan Italia untuk mengamankan Laut Tengah, sehingga penaklukkan Pulau Kreta, Yunani, basis utama Inggris di Mediterania, melalui operasi pendaratan amfibi dapat dilaksanakan tanpa gangguan kapal-kapal perang Inggris. Bagi Jerman, Kreta bagaikan “kapal induk” Inggris yang sangat efektif untuk melancarkan serangan balas dari udara, darat dan laut ke daratan Yunani, Yugoslavia dan Italia, serta dapat menjadi pusat suplay senjata, pusat komando serta konsentrasi gerilyawan anti Pendudukan Jerman-Italia.

    Laut Mediterania: Saksi Supremasi Lautan Inggris.

    Ambisi Hitler untuk menaklukkan Yunani, Yugoslavia dan Afrika bagian utara, tidak terlepas dari kekecewaannya terhadap kegagalan sekutu Italianya di Front Balkan dan Afrika. Pasukan Italia dihancurkan di hampir semua front pertempuran, bahkan pasukan Inggris nyaris mencapai “benteng terakhir” Italia di Jazirah Balkan dan Libya (Koloni Italia di Afrika). Situasi itulah yang akhirnya memaksa Hitler menunda pelaksanaan Operasi Barbarossa untuk menundukkan Rusia dan terpaksa mengerahkan sebagian kekuatan militernya untuk “menyelamatkan” Italia. Meskipun demikian, Jerman memandang Regia Marina masih memiliki kekuatan yang “mumpuni” untuk menghantam AL Inggris di Mediterania. Jerman sangat mengandalkan Italia untuk menghancurkan kekuatan Inggris di Mediterania karena sebagian besar unsur-unsur Kriegsmarine (AL Nazi Jerman) tersedot untuk mengamankan kawasan Atlantik dan Baltik.

    Inggris yang telah mengantisipasi kemungkinan campur-tangan Jerman di Yunani, tidak mau hanya bersikap menunggu saja. Bala bantuan bagi Yunani telah dikerahkan oleh Inggris, sehingga membahayakan pelaksanaan ofensif Jerman-Italia. Keadaan ini memiliki implikasi strategis bagi Inggris, jika Jerman dapat disibukkan di Yunani dan Yugoslavia, maka Inggris dapat membangun kekuatan militernya di Mesir dengan aman untuk waktu yang cukup lama. Menang atau kalah di Yunani bukanlah tujuan strategis Inggris, melainkan pengamanan Mesir, yang merupakan “pintu gerbang” masuknya bala bantuan dari negara-negara Persemakmuran, yaitu Afrika Selatan, India, Arab Saudi, Nepal dan Australia. Selain itu, kawasan Timur Tengah merupakan sumber minyak dan perbekalan tempur yang sangat dibutuhkan Inggris Raya. Untuk itulah, semakin lama Jerman-Italia terhambat di Balkan, maka semakin kokoh pertahanan Inggris di Mediterania. Sementara itu, Jerman memandang kehadiran konvoi-konvoi bantuan Inggris yang mengalir deras ke Yunani dan Yugoslavia, sebagai ancaman nyata, dan bukan Pangkalan AL Inggris di Alexandria, Mesir. Sebuah persepsi keliru. Justru melalui Mesirlah, Inggris dan Amerika kelak di tahun 1943 akan secara sistematis merontokkan kekuatan Nazi Jerman-Fasis Italia.

    Demi menjaga tetap keutuhan kekuatannya di Mediterania, AL Inggris memilih “menyembunyikan” armada utamanya. Pelabuhan Alexandria dijaga secara ketat dengan pertahanan berlapis demi menghindari pengintaian kapal selam, pesawat intai atau mata-mata musuh. Selain itu, kapal-kapal perang Inggris sebagian besar diperlengkapi radar dan pesawat multi-fungsi (intai, penyerang dan pembom ringan). Kemudian untuk meningkatkan kemampuan unsur-unsur intelijen AL Inggris, mereka diperlengkapi pula dengan alat pemecah sandi buatan Inggris: Ultra. Sementara itu untuk memperbesar sumber daya perangnya, Inggris juga menggalang seluruh potensi yang ada di Asia Tengah, Timur Tengah dan Afrika, melalui pembinaan teritorial ke segenap komponen masyarakat. Pendekatan diplomatis dan persuasif juga dilakukan Inggris kepada otoritas Perancis (yang saat itu di bawah Pendudukan Nazi Jerman) di Afrika, suku-suku Bedouin Arab-Afrika termasuk dengan bangsa Yahudi yang tersebar di Timur-Tengah. Inggris secara bertahap tengah menyusun sebuah grand strategy, yaitu menghancurkan seluruh kekuatan Nazi beserta sekutu-sekutunya di Eropa, Mediterania dan Afrika. Untuk itulah, sangat penting bagi Inggris untuk mengamankan posisinya di Timur Tengah dan Mediterania. Memasuki akhir Maret 1941, AL Inggris di Mesir berhasil menata kekuatannya hingga mampu menjamin terciptanya supremasi laut yang sesungguhnya. Sesuatu yang luput dari perhatian Sang Duce dan Fuhrer, karena lebih terpukau dengan kemilau Pulau Kreta dan “Laut Kita”.

    Pertempuran Laut Matapan.

    Kelemahan Jerman dan Italia dalam memprediksi kekuatan Armada Inggris di Laut Tengah akan membawa kehancuran bagi mereka sendiri di kemudian hari. Di antara sejumlah kelemahan tersebut, adalah ketidakmampuan unit intelijen mereka dalam mendata kekuatan Inggris yang tengah berkonsolidasi di Mesir, ketiadaan peralatan radar anti kapal di kapal-kapal perang Regia Marina dan kurang mendukungnya unsur-unsur udara serta laut Jerman selama berlangsung kampanye penguasaan Laut Mediterania.

    Keberhasilan pesawat-pesawat pembom Luftwaffe (AU Jerman) merusak kapal induk Inggris HMS Illustrious pada bulan Januari 1941, digembar-gemborkan kaum propagandis Fasis sebagai keberhasilan melemahkan kekuatan utama Armada Inggris di Mediterania. Propaganda keliru ini ternyata berhasil menyesatkan pandangan para pimpinan Regia Marina akan kekuatan AL Inggris. Laporan intelijen yang menyesatkan kembali diterima dari Luftwaffe pada tanggal 15 Maret, bahwa mereka berhasil merusak hingga lumpuh 2 dari 3 battleship Inggris di Alexandria. Itulah yang meyakinkan Supermarina (Mabes AL Italia) untuk menggelar Operasi Gaudo yang bertugas memotong konvoi bantuan Inggris ke Yunani dan Kreta. Untuk menggelar Operasi Gaudo, Regia Marina mengerahkan 1 battleship terbaru mereka, yaitu Vittorio Veneto, 6 penjelajah berat, 2 penjelajah ringan dan 17 perusak. Sebagai Komandan Operasi ditunjuk Admiral Angelo Iachino yang berkedudukan di Vittorio Veneto. Kesalahan fatal Italia telah tampak di awal penugasannya, yaitu keliru mendeteksi kapal perang Inggris, tidak satupun kapalnya diperlengkapi radar dan yang terparah adanya ketidakpaduan komando di Supermarina. Operasi Gaudo digerakkan tanpa perlindungan sama sekali dari Regia Aeronautica (AU Italia), karena untuk meminta bantuan udara mereka harus meminta izin dahulu ke Mabes AL Italia. Demikian pula untuk meminta bantuan udara dari Luftwaffe, setali tiga uang, alias harus meminta izin dahulu ke Mabes AL. Selain itu juga terdapat friksi dan ketidak-kompakan diantara kesatuan-kesatuan di tubuh Angkatan Bersenjata Italia sendiri. Sesuatu yang sangat fatal dalam pelaksanaan sebuah misi tempur.

    Satuan intel AL Inggris dengan bantuan Ultra berhasil mengetahui bahwa Armada Italia tengah bergerak menuju Mediterania untuk memotong jalur konvoi bantuan ke Yunani. Informasi intelijen ini kemudian diteruskan ke Panglima Armada Inggris di Mediteranian Admiral Andrew Cunningham. Panglima Inggris tersebut segera mengambil langkah-langkah pengamanan, pertama-tama dengan memerintahkan berhenti layar kepada konvoi bantuan yang akan berlayar ke Yunani dari Piraeus dan Alexandria. Kemudian ia juga memerintahkan Komandan Force B Vice Admiral Pridham-Wippell untuk bergerak menuju posisi di barat daya Pulau Gaudo, sebelah selatan Kreta, sebelum tanggal 28 dini hari. Di sini, Armada pimpinan Cunningham (berkedudukan di Kapal Benderanya HMS Warspite) akan bergabung dengan Force B.

    Berbeda dengan Italia, kapal-kapal perang Inggris justru diperlengkapi dengan radar modern dan didukung penuh pesawat-pesawat tempur serta pembom torpedo. Armada Regia Marina bergerak meninggalkan basisnya di Naples tanggal 26 Maret dan membagi kekuatannya menjadi tiga kelompok pada tanggal 29-nya. Pada saat itu, Iachino mendapat laporan dari pesawat intainya bahwa 8 kapal perang musuh tengah mendekatinya pada jarak 50 mil dengan kecepatan 18 knot, yang menyadarkannya bahwa armadanya tengah dikepung oleh kapal perang Inggris. Sayangnya, Iachino tidak mengetahui Inggris telah diperkuat kapal induk baru, yaitu HMS Formidable, 3 battleship, 7 penjelajah ringan dan 17 perusak. Kontak senjata antara Regia Marina dengan Royal Navy Mediteranean Fleet meletus tanggal 28 Maret pukul 08.12 pada jarak 22.000 meter. Melihat kehadiran battleship Italia, Pridham-Whippell memerintahkan satuan Force B-nya untuk berputar arah, memancing musuh mendekati armada utamanya. Muslihatnya berhasil, Iachino yang mengira musuhnya melarikan diri segera mengejarnya. Tanpa disadarinya 6 pembom torpedo jenis Fairey-Albacores dari Skuadron 826 yang beroperasi dari HMS Formidable segera menyerangnya dengan tembakan torpedo.

    Menyadari perangkap Inggris, Iachino tidak ingin kehilangan battleship-nya yang sangat berharga dan memilih melarikan diri. Dalam pelariannya, armada Iachino harus rela “babak belur” dihajar serangan udara bertubi-tubi dari pesawat-pesawat Inggris. Malam pukul 22.00, Force B telah mendekat ke posisi Iachino yang tengah berkonsolidasi. Karena tidak diperlengkapi radar, Italia tidak menyadari kehadiran musuhnya dan seluruh meriamnya dalam keadaan tidak siap tembak. Peluang besar bagi kemenangan pihak Inggris. Akhirnya, pertempuran kembali meletus pada jarak antar kapal hanya 150 yard. Pada malam naas bagi Regia Marina tersebut, Italia harus kehilangan 3 penjelajah berat dan 2 perusak yang tenggelam, battleship-nya rusak parah serta 2.400 pelautnya gugur. Sementara pihak Inggris, hanya kehilangan satu pesawat pembom torpedonya, 4 penjelajah ringannya rusak ringan dan 3 penerbangnya gugur. Sementara itu sisa-sisa kekuatan Regia Marina segera melarikan diri masuk ke Pelabuhan Taranto. Pertempuran laut ini kelak dikenal sebagai Pertempuran Laut Tanjung Matapan atau Italia menyebutnya Pertempuran Gaudo.

    Regia Marina Tidak Ada Lagi!

    Setelah kekalahan telak di Pertemputan Laut Tanjung Matapan (28-29 Maret 1941), Regia Marina benar-benar kehilangan nyalinya untuk melaut sehingga kawasan Laut Mediterania sepenuhnya dikuasai Inggris. Meskipun demikian, kegalauan Hitler atas kegagalan sahabatnya di Front Laut Mediterania sedikit terobati dengan keberhasilan pasukan Nazi Jerman menaklukkan Yunani, Yugoslavia dan Pulau Kreta. Bagi Inggris, dengan telah tersingkirkannya Regia Marina dari Laut Mediterania, dapat sepenuhnya berkonsentrasi pada pembangunan kekuatannya di Afrika dan berhasil mengisolasi sang “Rubah Gurun” Jenderal Erwin Rommel, Komandan Deutsches Afrika Korps, yang menjadi ‘momok” bagi Sekutu (Inggris, Perancis dan Amerika) di Afrika Utara. Pertempuran Laut Matapan menjadi kemenangan terbesar AL Inggris sejak Trafalgar.

     
  • 12:15:40 am on Oktober 7, 2009 | 0 | # |

    Kapal Kombatan Multi Peran Kelas Gepard Versi 3.9

    oleh : Bambang Koespramono

     

    Kapal kombatan Gepard awalnya dirancang untuk menggantikan beberapa tipe kapal kombatan jenis korvet milik AL Uni Soviet yang telah tua. Setelah disainnya dikembangkan, kini ia hadir di tengah bursa kapal kombatan dunia dalam sejumlah versi. Salah satunya lantas dijadikan acuan disain bagi proyek pengembangan kapal Gepard varian yang diekspor ke manca negara. Kinerja operasinya hampir setara dengan kapal sejenis milik AL Federasi Rusia.

     

                Kebutuhan AL Uni Soviet akan kapal kombatan jenis baru sebagai pengganti kapal korvet kelas Koni, Parchim dan Grisha pada akhir dekade 1970-an telah ditanggapi oleh sejumlah biro perancang kapal dengan mengajukan disain kapal perang dengan kandungan tehnologi operasi lebih canggih nan mumpuni. Dari sekian banyak usulan, terpilih disain ajuan Biro Perancang Kapal Zelenodolsk (ZPKB) di Tatarstan, Rusia. Keputusan ini tak mengherankan karena ZPKB telah berpengalaman mendisain dan membuat berbagai tipe kapal kombatan kelas menengah semisal kapal Proyek 1226, 201M, 159A/AE dan 1159 T/TR. Khusus untuk disain kapal kombatan model mutakhir ini, ZPKB memberi nama kapal Gepard dengan sandi Proyek 1166.1.

                Pekerjaan mendisain Gepard berlangsung pada 1983 – 1988. Pembangunan dua kapal pertama dimulai pada 1988. Kapal kesatu diluncurkan pada 1993 dan kapal kapal kedua 1994. Seluruh pekerjaan membuat kapal kesatu usai pada 1995 sementara kapal kedua pada 1996. Terbatasnya anggaran belanja AL Federasi Rusia pada paruh kesatu dekade 1990-an (pasca bubarnya Uni Soviet) menunda rencana kedua kapal itu (SKR-200 Yastreb dan SKR-201 Albatros) untuk bergabung. Baru setelah kondisi perekonomian Federasi Rusia pulih pada medio 2002 Yastreb bisa bergabung ke dalam AL Federasi Rusia dengan menyandang nama baru, Tatarstan (SKR-691). Semula ia akan ditempatkan di jajaran Armada Laut Baltik tetapi batal. Lalu dijadikan kapal bendera (flagship) Armada Laut Kaspia (2004).   

                Tiga tahun selepas Tatarstan bergabung ke dalam AL Federasi Rusia, ZPKB mulai menggarap Albatros. Kapal ini dipermak dan diberi nama baru Daghestan (SKR-692). Saat diterima AL Federasi Rusia kapal ini memiliki sistem persenjataan (sista) yang lebih canggih dan lengkap ketimbang saudara tuanya (2007). Kemampuan bermanuver dan sifat laik lautnya pun lebih unggul. Di awal 2008 ZPKB segera mempersiapkan kemunculan kapal ketiga, Burevestnik, yang bakal diterima AL Federasi Rusia paling lambat pada 2012.

                Berbekal seabrek pengalaman saat membidani kelahiran Tatarstan dan Daghestan, ZPKB lalu  melansir disain kapal Gepard dalam sejumlah versi yang dibedakan melalui perlengkapan operasinya. Masing-masing adalah versi 3.9 (kapal disain baku untuk pengembangan versi yang diekspor), 5.1 (kapal patroli lepas pantai (OPV)), 5.2 (korvet berpeluru kendali (berudal)) dan 5.3 (frigat kawal berudal). Ciri khas kapal Gepard turunan versi 3.9 adalah berbobot mati 2.000 – 2.500 ton (tergantung jenis perlengkapan operasinya), panjang 100 – 102 m, lebar 13,1 – 13,6 m, garis batas daerah badan kapal yang direndam air laut (draught) 3,5 – 5,3 m (tergantung dilengkapi sonar atau tidak), kecepatan jelajahnya hingga 27 knot dan jangkauan jelajah bisa mencapai 5.000 mil laut (tergantung kecepatan jelajahnya).

    Tak ketinggalan ZPKB juga menyiapkan disain kapal yang berukuran lebih kecil dengan bobot mati 1.000 – 1.100 ton, kecepatan jelajah maksimum 24 knot dan mampu beraksi di laut selama 10 hari. Kapal bersandi Proyek 1124 ini dapat dimodifikasi sehingga bisa hadir di dalam berbagai versi. Yakni kapal pemburu kapal selam (Proyek 1124M), pemberi dukungan tembakan (1124M1) dan pertahanan pantai (1124M2). Langkah ZPKB untuk menyediakan aneka disain kapal Gepard ini semata didasarkan pada pertimbangan akan bervariasinya permintaan model disain kapal dari konsumen yang kemampuan finansialnya juga beragam.

    Keputusan AL Federasi Rusia yang berkenan mengadopsi sepasang kapal Gepard ini lantas ditiru AL Republik Demokrasi Rakyat Vietnam. Kekuatan bahari terkemuka di semenanjung Indochina ini telah teken kontrak dengan ZPKB untuk membuat empat kapal Gepard hasil modifikasi versi 3.9 (2004). Dua kapal dibuat di Rusia sedangkan sisanya di Vietnam. Rencananya, Hanoi bakal menerima kapal kesatu akhir tahun ini dan kapal kedua pada pertengahan 2010. Rancang bangun keempat kapal pesanan AL Vietnam ini mirip Daghestan. Khususnya dalam perkara jenis sista dan sistem manajemen informasi tempurnya. Mereka juga dilengkapi tiga sista arhanud kombinasi Palma, komplek sista anti kapal selam, dek pendaratan helikopter bertudung pelindung baling-baling (dipasang tidak permanen) dan penerapan sistem manajemen informasi tempur Sigma E.

     

    Disain badan dan kinerja jelajah

                Biro perancang ZPKB mendisain dan mengembangkan kapal kelas Gepard versi 3.9 (selanjutnya disebut Gepard 3.9 saja) sebagai sebuah kapal kombatan moderen yang sanggup mencari, mendeteksi keberadaan dan menghancurkan segala jenis sasaran yang berada di pemukaan laut, bawah permukaan laut, udara dan darat. Ia juga bisa mengemban tugas pengawalan serta patroli pengamanan di wilayah perbatasan dan kawasan ekonomi eksklusif. Baik dilakukan secara mandiri ataupun tergabung di dalam gugus tugas. Gepard 3.9 merupakan kapal kombatan serba bisa yang cocok untuk memperkuat jajaran AL negara berkembang di kawasan Asia Tenggara dan Selatan. Karena meski sarat kandungan tehnologi operasi canggih, namun harganya relatif terjangkau.

                Mayoritas badan Gepard 3.9 terbuat dari baja. Namun menara serta beberapa bangunan yang ada di belakang tiang utama dan di bawah lunas menggunakan material polimer yang diperkuat serat gelas. Sementara tiang antena radar dan peralatan komunikasinya berbahan zat paduan logam alumunium dan magnesium yang tahan karat. Struktur hidrodinamik dari bagian dasar badan, kawasan dek sebelah atas (tempat mayoritas struktur melintang di badan kapal), bagian tengah badan hingga buritan Gepard 3.9 dibuat membundar mirip huruf U. Total ada 11 ruangan kedap air di seluruh badan Gepard 3.9. Kapal ini diklaim perancang bakal tetap dapat mengapung dan berlayar biarpun ada dua ruangan yang berdekatan (baik di haluan maupun di buritan) maupun tiga ruangan yang berjauhan (di tengah badan) terisi penuh dengan air laut (akibat kebocoran).

                Agar Gepard 3.9 bisa leluasa berlabuh di suatu dermaga, maka harus tersedia ’kapling parkir’ berukuran 120 m (panjang) X 20 m (lebar) dengan kedalaman perairan minimal 8 m. Tak peduli apakah ia akan bersandar dengan cara posisi haluan menghadap ke laut (mooring tail inshore) ataupun lambung yang menghadap ke laut (mooring beam on). 

                Biar lebih sakti, Gepard 3.9 mengadopsi tehnologi siluman (stealth) yang berintikan kemampuan badan kapal untuk sebanyak mungkin menyerap sinyal radar dan sonar musuh yang dijabarkan sebagai berikut. Seluruh struktur bidang permukaan badan kapal didisain sedemikian rupa agar mampu menekan tingkat medan fisik kapal (vessel physical fields). Profil fisik setiap bangunan dan jejak putaran baling-baling pendorong badan kapal diupayakan tidak ’memikat perhatian’ radar dan sonar. Siluet badan kapal dibuat serba pendek dan ringkas. Jumlah struktur berujud segitiga menyudut (trihedral angels) berikut kekuatan medan dispersi magnetik efektif di permukaan seluruh bangunan diminimalisasi. Temperatur bagian lambung kapal yang bersinggungan dengan ruang mesin dan temperatur gas buang produk mesin disel, mesin turbin gas dan generator dibuat serendah mungkin. Derajat kebisingan di bawah permukaan laut yang ditimbulkan baik oleh gerakan komponen mesin penggerak maupun kibasan poros dan bilah baling-baling ditekan serendah mungkin agar tidak gampang terendus sonar musuh.    

                Kecepatan jelajah Gepard 3.9 bisa digenjot hingga 27 knot apabila seluruh mesin penggeraknya bekerja secara optimal. Namun jika Gepard 3.9 cuma mengandalkan tenaga gerak keluaran mesin disel, maka nilai tadi bakal menyusut hingga 16 – 20 knot. Dengan berbekal kecepatan jelajah yang bervariasi, alhasil jangkauan jelajah Gepard 3.9 pun beragam. Mulai dari 3.500 mil laut pada 18 knot hingga 5.000 mil laut pada 10 knot.

    Jumlah awak Gepard 3.9 101 – 103 orang, di mana 10 di antaranya adalah operator helikopter. Perancangnya mengklaim kapal ini mampu beroperasi di laut tanpa henti selama 20 – 22 hari tergantung jumlah bahan makanan untuk dikonsumsi oleh seluruh awak kapal.

     

    Sistem penggerak dan kelistrikan

                Gerak jelajah Gepard 3.9 ditentukan oleh kondisi putaran dua baling-baling berbilah tetap yang dipakai untuk mendorong supaya badan kapal bisa maju atau mundur. Tenaga pemutar sepasang baling-baling ini berasal dari komplek sistem penggerak hasil perpaduan satu unit mesin disel berkopling udara 86B dengan sistem turbin gas M44E yang tersusun dari dua unit mesin turbin gas DO-90, sepasang alat peredam kecepatan tunggal (single-speed reducing gears) RA-20 berikut sejumlah peralatan dukungan operasional. Kombinasi mesin penggerak model begini disebut kombinasi CODOG (COmbined Diesel Or Gas Turbine). Pada sistem paduan ini untuk menggerakkan sepasang baling-baling kapal bisa dengan  memakai hanya mesin disel ataupun salah satu dari beberapa mesin turbin gas.

                Rincian jumlah tenaga yang dihasilkan sistem CODOG yang ada pada Gepard 3.9 adalah 39920 kWatt (setara 40.690 PK) berasal dari kedua mesin turbin gas dan 5.900 kWatt (setara 8024 PK) dari mesin disel. Untuk itu maka setiap jam dibutuhkan 225 kg solar untuk mesin DO-90 dan 168,8 gr solar untuk mesin 86B semata agar mereka bisa memproduksi tenaga sebesar 1 PK. Bila masa pakainya telah mencapai 20.000 jam, maka mesin DO-90 harus melakoni general overhaul. Demikian halnya mesin 86B saat masa pakainya mencapai 55.000 jam. Dalam soal masa pakai total ekonomis kedua jenis mesin penggerak ini bisa kompak, yakni sama-sama 25 tahun. Untuk Gepard 3.9 versi ekspor, mesin 86B dapat diganti dengan mesin disel 61D yang kinerjanya hampir setara.

                Untuk menghidupi seluruh peralatan elektroniknya, Gepard 3.9 mengandalkan pasokan tenaga listrik (arus listrik bolak-balik tiga fasa, tegangan 380 Volt dan frekuensi operasi 50Hz) yang dihasilkan oleh tiga unit mesin generator (masing-masing berdaya 600 kWatt (815 PK)). Ketiga generator tersebut ditempatkan dalam dua ruangan kedap air terpisah sehingga membentuk dua stasiun pembangkit tenaga listrik (di haluan dan buritan). Kedua stasiun itu dihubungkan rangkaian cable jumper berkemampuan hantar tenaga listrik 600 kWatt.

     

    Sistem kendali dan komando

                Di atas geladak Gepard 3.9 dipantek sistem kendali dan komando yang meliputi sistem radar kendali penembakan multi peran 5P-10-03E Puma, sistem radar kendali penembakan MR-123-02, sistem sensor pendeteksi kapal selam MGK-335 EM-01/03, sistem radar tiga dimensi pendeteksi sasaran di permukaan laut dan udara Pozitiv-ME1dan sistem radar identifikasi kawan-lawan 67R serta sistem manajemen data taktis informasi tempur Sigma E.

                Sistem radar 5P-10-03E Puma (berada di atap anjungan) akan memindai segala macam sasaran dengan cara berputar ke segala penjuru atau terpusat pada sektor dan arah tertentu. Alat ini juga dapat melacak dan ’mengunci’ sasaran (lock on target) di permukaan laut, udara dan tepi pantai dengan profil radar amat kontras (radar-contrast shore based target). Kabarnya sistem radar ini mampu mendeteksi sasaran yang tengah ’berlari’ dengan kecepatan 2.520 – 3.600 km / jam hingga sejauh 30 km. Dalam sekali endus, ia mampu melacak tiga sasaran lalu mengunci dua di antaranya agar bisa segera dibantai oleh sista yang sesuai. Radar Puma dapat digantikan radar SP-521 Rakurs yang berbasis tehnologi optis-elektronik.

                Sistem radar Pozitiv-ME1 (dilengkapi antena berbasis tehnologi phased array) mampu melacak keberadaan semua jenis sasaran di permukaan laut dan udara (sekali lacak 50 sasaran), menentukan titik koordinat plus parameter terbangnya, untuk kemudian menggolongkannya (berdasarkan kecepatan dan ketinggian jelajahnya) lalu mendistribusikan data seluruh sasaran itu kepada semua anggota gugus tugas. Radar ini mampu memindai ke segala arah hingga sejauh 150 km dan setinggi 30 km dengan sudut elevasi pindai 85º. Jangkauan deteksi maksimumnya adalah 110 km untuk sasaran berpenampang 1 m² dan 15 km untuk yang berpenampang 0,1 m². 

    Selain berfungsi untuk melakukan identifikasi kawan-lawan terhadap suatu obyek yang berada di dekat kapal, sistem radar 67R juga sanggup melakukan langkah tanggap otomatis (automatic response) bila ada radar identifikasi kawan-lawan milik kapal lain atau pesawat tempur di dalam satu gugus tugas yang sama tengah melakukan proses identifikasi. 

                Sistem sonar pendeteksi kapal selam MGK-335EM-01/03 (berjangkauan deteksi 10 – 12 km) dilengkapi peralatan hidroakustik frekuensi tinggi dan rendah (plus perangkat komunikasi yang telah diisandikan), perangkat identifikasi kawan-lawan untuk media bawah air dan alat penentu jarak lokasi sasaran. Sonar detektor MGK-335EM-01/03 dapat melakukan pendeteksian secara aktif maupun pasif dengan memanfaatkan kebisingan (pada tingkat tertentu) yang dipancarkan oleh sasaran yang sedang dibidik.

                Sistem manajemen data informasi tempur Sigma E bertanggungjawab mengintegrasikan seluruh sista yang diusung Gepard 3.9 menjadi sebuah sistem kerja terpadu yang mampu beraksi dalam tempo sesingkat mungkin, menentukan situasi – kondisi pertempuran yang bakal dihadapi dan pola manuver kapal saat menghadapi ancaman, sekaligus memilih jenis sista yang dinilai paling cocok untuk dipakai di dalam sebuah pertempuran serta memasok berbagai data tentang suatu sasaran kepada unit pengendali sista yang dipilih tersebut.

     

    Peralatan komunikasi dan navigasi

                Perangkat navigasi Gepard 3.9 merupakan hasil perpaduan dari sistem radar navigasi Gorizont-25E yang dilengkapi sepasang layar penayang data, sistem pemetaan elektronik EKNIS MK-54IS, alat penerima data navigasi satelit (berbasis GPS) NT-2000D, sonar penentu kedalaman lautan NEL-20K dan kompas magnetik KM-115-07 serta alat pengukur kondisi angin IPV-92.     

                Sedangkan perangkat komunikasi Gepard 3.9 terdiri dari sistem radio komunikasi eksternal (Rubin-EGZ) dan sistem radio komunikasi internal (P-447). Sistem radio Rubin-EGZ merupakan hasil racikan alat pemancar gelombang radio rentang frekuensi 1,5 – 30 MHz dan 100 – 400 MHz, alat penerima gelombang radio rentang frekuensi 1,5 – 60 MHz (masing-masing dua unit) dan alat pengirim – penerima telegram serta perangkat komunikasi dijital dua arah (masing-masing satu unit). Sementara sistem radio P-447 berintikan perangkat interkom yang memiliki 5 – 20 kanal komunikasi.            

               

    Sistem persenjataan

    Agar mampu menyerang sekaligus membela diri, maka Gepard 3.9 dibekali sejumlah sista dan perlengkapan dukungan tempur di mana komposisinya sangat ditentukan oleh ragam peran yang bakal diemban. Peran itu melibatkan pekerjaan mendeteksi dan mengolah data sasaran, mengklasifikasikannya dan menentukan sista mana yang dinilai paling cocok (berikut sistem kendali penembakannya) untuk mengeliminasi sasaran tersebut.       

                Saat menyerang jenis sista dan perlengkapan dukungan tempur yang diandalkan Gepard 3.9 berupa meriam otomatis AK-176M (dapat diganti dengan meriam otomatis A-190-01E), kanon otomatis AK-630M, sista anti kapal selam DTA-53, sonar MGK-335EM-03, sista rudal anti kapal permukaan Kh-35 Uran-E serta helikopter Ka-28/31. Sedangkan untuk bela diri, taji Gepard 3.9 berupa sista arhanud kombinasi Palma, perangkat gelar perang elektronik MP405, alat pengecoh rudal anti kapal PK-10, alat hidroakustik pengecoh torpedo Zmey, ranjau laut UDME, sonar pendeteksi aksi sabotase bawah air Anapa-ME dan sista anti sabotase bawah air DP-64 serta sista rudal arhanud jarak dekat Igla.

                Sista rudal Kh-35 Uran E dipakai melabrak sesama kapal kombatan. Eksistensi Uran E dapat diendus lewat kehadiran rak 3S-24E pengusung empat tabung peluncur 3TSe-24E. Setiap tabung berisi satu rudal 3M-24E. Penembakan sista berjangkauan jelajah 5 – 130 km ini dikontrol sistem kendali 3R-60UE sementara arah jelajahnya dipandu radar tiga dimensi pengidentifikasi sasaran Pozitiv – ME1. Sistem kendali 3R-60UE menyiapkan tahap awal peluncuran rudal, data sasaran yang dibidik (sekaligus enam sasaran) dan tipe penembakan (tunggal atau beruntun) sekaligus menangani jika terjadi kondisi darurat akibat rudal 3M-24E mengalami malfungsi.        Setelah keluar dari tabung peluncur, rudal 3M-24E (bobot total 628 kg, bobot hulu ledak 145 kg) akan menuju ke sasaran dengan kecepatan 1.008 – 1.080 km / jam. Secara bertahap ketinggian jelajahnya turun hingga mencapai 10 – 15 m dari permukaan laut. Saat berada sejauh 20 – 25 km dari sasaran (yang telah terdeteksi dan ’dikunci’), ketinggian jelajah rudal 3M-24E akan merosot hingga tinggal 3 – 5 m yang terus bertahan sampai ia berhasil mengenai sasaran.

                Sista meriam AK-176M berintikan sepucuk laras berkaliber 76,2 mm dengan jangkauan bunuh 15,7 km dan kecepatan tembak 130 peluru / menit. Stok amunisinya 608 butir (156 butir di dalam kubah meriam) dengan hulu ledak tipe HE (High Explosive) dan sumbu peledak yang baru beraksi tatkala proyektil telah mendekati sasaran. Sista seberat 9,5 ton ini dapat dikendalikan baik secara otomatis maupun manual. Jangkauan tembak bidang horisontalnya mencapai 15,7 km sedangkan bidang vertikal 11 km. Sementara A-190E1 yang berkaliber 100 mm jangkauan bunuhnya 20 km dan kecepatan tembak 80 peluru / menit dengan rentang sudut dongak – tunduk laras -15º – + 85º. Dalam sekali jalan, sista seberat 15 ton ini dimodali 80 butir amunisi. 

                Peran kanon otomatis AK-630M mirip dengan peran AK-176M tapi kinerjanya terbatas. Dengan kecepatan tembak 4.000 – 5.000 peluru / menit dan sediaan amunisi 3.000 butir (duapertiganya di dalam kubah senjata) serta laras enam serangkai model Gatling berkaliber 30 mm (mampu menunduk hingga 25º dan mendongak hingga 90º), maka jangkauan bunuh AK-630M hanya 4 – 5 km. Jenis hulu ledak proyektilnya adalah FT (Fragmentation Tracer) dan HEI (High Explosive Incendiary).

                Perangkat gelar perang anti kapal selam DTA-53 pada Gepard 3.9 beranggotakan dua sistem peluncur torpedo bertabung ganda (arah hadapnya dapat diatur) untuk menembakkan torpedo berkaliber 533 mm tipe SET-63E atau TEST-71 ME-NK. Kendali penembakan kedua jenis torpedo ini dilakukan kompleks kendali Purga yang didukung sonar aktif – pasif frekuensi rendah (dioperasikan dengan cara dihela dan panjang antenanya dapat diatur) Vignette EM dan sonar statis MGK-335EM-03 (antenanya dipasang pada lunas kapal). Torpedo SET-63E dan TEST-71 ME-NK dapat menghancurkan kapal selam pada kedalaman 400 m. Perbedaan keduanya cuma pada jarak jangkauan bunuhnya, di mana SET-63E 2 – 15 km sementara TEST-71 ME-NK 2 – 19 km.

    Selain torpedo, andalan Gepard 3.9 dalam menghadapi kapal selam adalah sista roket RBU-6000 dengan 12 tabung pelontar amunisi sepanjang 1,6 m yang disusun melingkar (formasi pelana kuda). Amunisi RBU-6000 berupa roket RPK-8 dengan panjang badan 1,83 m, kaliber 212 mm dan bobot total 112,5 kg (bobot hulu ledak 21 kg). Sista roket bertempo aktifasi 15 detik ini sanggup menghabisi kapal selam yang berada di lokasi sejauh 0,6 – 4,3 km dan kedalaman 1 km atau torpedo pada jarak sama tapi pada kedalaman 4 – 10 m.    

                Untuk meningkatkan efektifitas tempur sista Uran E dan torpedo, maka Gepard 3.9 membawa helikopter anti kapal selam Ka-28 dan Ka-31 untuk membimbing rudal dalam menemukan sasaran di balik garis cakrawala. Kedua heli ini dibekali aneka peralatan dukungan operasi sesuai misinya. Terdiri dari sepasang rudal anti kapal selam APR-37, sepasang torpedo anti kapal selam UMGT-1ME, 16 unit bom anti kapal selam S-3V, 64 unit detektor radioakustik RGB 16-1, lampu sorot VS-1, pengolah data navigasi Topaz NK, alat penentu jarak penerbangan Lingo 1M (saat kondisi angit buruk), alat pemasok data penerbangan (untuk Kh-31) dan alat bantu penentu arah lintasan jelajah berbasis tehnologi giroskop serta bermacam peralatan dukungan operasi lainnya.  

                Sista arhanud kombinasi Palma berintikan dua unit kanon otomatis model Gatling kaliber 30 mm plus 2.000 butir amunisi tipe APSM (Armour Piercing Subcaliber Missile) yang terangkum di dalam modul senjata 3R-99E, 16 pucuk rudal arhanud Sosna-R dan sistem kendali penembakan yang berbasis tehnologi optis elektronik. Setiap proyektil yang dimuntahkan laras kanon berkecepatan tembak 10.000 peluru / menit ini dapat menjamah sasaran sejauh 4 – 5 km dan setinggi 0,002 – 3 km berkat kecepatan lesat awal proyektil saat meninggalkan laras kanon sebesar 3.960 km / jam. Sementara Sosna-R mampu menghantam sasaran sejauh 8 km dan setinggi 0,002 – 4 km.

                Sebagai penangkal serangan dari wahana terbang yang melintas pada ketinggian 10 – 3.500 m, maka di atas geladak Gepard 3.9 dipasang delapan unit peluncur sista rudal arhanud jarak dekat Igla yang dibagi ke dalam dua stasiun operasi. Setelah diaktifasi selama lima detik, sista ini mampu melibas sasaran yang melaju dengan kecepatan 1.440 km / jam dari arah depan atau 1.152 km / jam dari arah belakang. Tentu saja asalkan sasaran itu masih berada di dalam kisaran jarak 0,5 – 5,2 km. Dan untuk membinasakan sasaran ’kecil’ di permukaan laut atau udara, cukup dengan memakai dua pucuk senapan mesin berat kaliber 14,5 mm.

                Perangkat gelar perang elektronik Gepard 3.9 mencakup sistem pengacak sinyal radar MP-405-E1 (bekerja secara aktif) dan PK-10 (bekerja secara pasif) ditambah empat unit penghasil tabir asap MDSh-2. Fungsi MP-405-E1 yang bekerja pada rentang pita frekuensi deteksi 2 – 18 GHz dan cakupan azimut deteksi 360º ini adalah mendeteksi, menganalisa dan mengelompokkan segala bentuk sasaran (berikut asal-usulnya) sekaligus mengacak sinyal radar pengendali arah jelajah sasaran itu tanpa peduli apapun jenis pemancarnya. Alat yang berada di atas anjungan tepat di belakang sistem radar 5P-10-03E ini kabarnya mampu mendeteksi sekaligus 100 sasaran (?). Sedangkan PK-10 tersusun dari 10 tabung pelontar proyektil KT-216 yang berisi proyektil konvensional pengacak sinyal radar SR-50 ataupun SO-50 yang berbasis tehnologi optis elektronik. Setiap Gepard 3.9 dibekali empat unit PK-10, 60 butir SR-50 dan 60 butir SO-50.  

                Ancaman torpedo musuh bisa dinetralisir dengan cara membelokkan arah jelajahnya (supaya tak menuju ke lambung Gepard 3.9) dengan bantuan alat hidroakustik Zmey. Alat kecoh ini dioperasikan pada kedalaman laut 10 – 30 m dengan cara dihela memakai kawat khusus oleh wahana penghela yang dikendalikan dari ruang kendali operasi. Selain menciptakan medan kebisingan sinyal kapal imitasi, Zmey juga piawai dalam mengacak frekuensi sinyal radar yang diemisikan torpedo ataupun kapal selam musuh.

                Untuk mengantisipasi terjadinya aksi sabotase bawah air, awak Gepard 3.9 dilengkapi peralatan sonar detektor Anapa-ME dan sepasang senjata pelontar granat DP-64. Sonar Anapa-ME dioperasikan saat kapal tengah bersandar di dermaga ataupun lego jangkar di laut. Ia mampu mendeteksi keberadaan (sekaligus) empat obyek calon pelaku aksi sabotase bawah air pada jarak 15 – 400 m. Baik berupa kapal selam mini, skuter bawah air ataupun peselam bermodal rangkaian peledak. Jika keberadaan obyek calon pelaku aksi sabotase telah terendus Anapa-ME, operator DP-64 akan menembakkan senjatanya yang berjangkauan 400 m. Sista DP-64 punya dua macam amunisi, yakni FG-45 dan SG-45, dengan jumlah sediaan total 420 butir.  

                Untuk membuat medan ranjau guna mengamankan wilayah perairan di sekitar Gepard 3.9, maka ditebarkan ranjau laut UDME. Rel penebar ranjau ini dipasang di atas geladak kapal ataupun dapat diusung oleh helikopter Ka-28. Dalam sekali jalan, Gepard 3.9 membawa selusin ranjau UDME yang bisa dipakai melibas semua jenis obyek bahari sebesar apapun.

     
  • 07:52:57 am on September 17, 2009 | 0 | # |

    Santoso Purwoadianoa_pindad_(gambar_1)

    Berawal dari tekad TNI untuk bisa mandiri di dalam pemakaian setiap alutsistanya, sejumlah badan litbang bidang pertahanan dan pelaku industri strategis di dalam negeri berlomba untuk dapat menciptakan berbagai sistem senjata yang tinggi kandungan suku cadang lokalnya. Khusus untuk ranpur berlapis baja, PT Pindad sukses melansir panser beroda enam APS2 Anoa. Puluhan unit dalam berbagai varian telah dipesan Dephan untuk memodernisasi satuan kavaleri TNI.

     

                Pada 19 – 22 November 2008 lalu, Departemen Pertahanan (Dephan) RI menggelar pameran plus seminar alat pertahanan dan kedirgantaraan bertajuk Indo Defence & Aerospace 2008. Hajatan berskala nasional ini berlangsung di kawasan Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Layaknya dua pameran serupa yang digelar pada 2004 dan 2006, maka kesempatan kali ini ditampilkan cukup banyak peralatan pertahanan hasil karya berbagai badan penelitian – pengembangan (litbang) bidang pertahanan dan para pelaku industri strategis di dalam negeri. Selain tentu saja sejumlah barang buatan pabrikan luar negeri. Beragamnya produk industri pertahanan yang dipamerkan telah membuat hajatan ini disambangi banyak pengunjung dari berbagai kalangan. Mulai dari kalangan awam, para pemerhati perkembangan teknologi militer, praktisi dunia industri pertahanan hingga para personel institusi militer dan kepolisian dalam negeri serta manca negara.

                Dari seluruh produk yang tampil, salah satu barang yang lumayan menyita perhatian pengunjung adalah kendaraan tempur (ranpur) berlapis baja APS2 Anoa. Dengan menyandang nama hewan mamalia asli tanah Sulawesi, ranpur ini sempat unjuk kebolehan dalam berbagai gerak jelajah dan lintas medan berat. Baik pengunjung awam maupun praktisi dunia militer sama-sama tertarik dengan kinerja Anoa. Selain tampilan fisiknya sekilas bak pinang dibelah dua dengan ranpur VAB asal Perancis milik satuan kavaleri TNI, Anoa juga membuktikan dirinya mampu mendaki bidang miring dengan kecepatan tinggi dan meloncati parit yang derajat kemiringannya cukup terjal. Para pengunjung tambah jatuh hati tatkala beberapa darinya diajak naik Anoa dan dibawa berputar mengelilingi lapangan tempat Anoa dipajang. 

     

    Kebutuhan mendesak

                Kehadiran Anoa ini tentu bukan sekadar untuk pasang aksi tebar pesona. Ranpur ini didatangkan dari pabriknya yang berlokasi sekitar 100 kilometer dari Bandara Halim Perdanakusuma semata untuk menunjukkan kepada publik akan salah satu keberhasilan PT Pindad di dalam upaya menyediakan alat utama sistem senjata (alutsista) yang spesifikasi teknisnya sesuai nilai baku TNI namun harganya relatif terjangkau. Di saat laju keuzuran alutsista TNI kian tak terbendung dan niat untuk menggantinya dengan alutsista baru terkendala oleh minimnya anggaran belanja pertahanan RI, maka kehadiran Anoa bisa menjadi solusi yang efektif dan tepat waktu Apalagi pemerintah RI memang telah bertekad agar TNI dan Polri sedapat mungkin lebih banyak memakai produk indutri pertahanan buatan lokal. Maka hal itu membuat kehadiran Anoa memiliki landasan politis yang kuat.

                Kehadiran Anoa di tengah kancah alutsista RI menjadi obat rasa dahaga bagi satuan kavaleri TNI yang sejak lama memang telah mendambakan hadirnya sebuah ranpur buatan lokal yang spesifikasi dan konstruksinya cocok dengan postur tubuh dan ‘kebiasaan’ prajurit TNI. Selama ini para personel satuan kavaleri TNI kerap terpaksa harus menyesuaikan dirinya dengan kondisi ranpur buatan luar negeri yang spesifikasinya kerap tidak cocok dengan kebutuhan mereka. Biaya perawatan dan harga suku cadang yang kelewat tinggi (juga acap sulit diperoleh di pasaran bebas dan rawan terkena jerat sanksi embargo yang dijatuhkan oleh negara pembuatnya atas dasar berbagai alasan) kian menambah beban dari satuan kavaleri TNI di dalam mengoperasikan ranpur buatan asing.

                Satuan kavaleri TNI telah butuh banyak ranpur berlapis baja pengangkut personel sejak mereka masih menyandang nama Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). Kala itu kebutuhan APRIS akan ranpur pengangkut personel untuk sementara waktu masih tercukupi oleh puluhan panser beroda rantai Bren Carrier dan truk peninggalan tentara kolonial Kerajaan Belanda yang hengkang dari Bumi Pertiwi pada awal 1950. Kebutuhan akan ranpur pengangkut personel terasa meningkat tatkala APRIS menggelar banyak operasi militer di dalam negeri. Langkah pemerintah RI yang mendatangkan alutsista dari sejumlah negara Blok Barat dan Timur pada akhir decade 1950-an untuk sesaat memang bisa menyelesaikan masalah minim dan kunonya persenjataan Angkatan Bersenjata RI (ABRI) (nama lama TNI). Termasuk untuk soal ranpur berlapis baja pengangkut personel yang diwakili oleh kehadiran panser beroda ban Saracen (Inggris), panser beroda rantai AMX VCI (Perancis), panser beroda ban BTR-40 dan BRDM 1 serta panser beroda rantai BTR-50 (ketiganya buatan Uni Soviet).

                Perubahan kiblat politik RI di akhir dekade 1960-an membuat sebagian perlengkapan militer asal Blok Timur terlantar sehingga akhirnya rusak dan tidak bisa lagi dipakai. Kondisi keuangan negara yang buruk di awal dekade 1970-an mendorong ABRI berusaha sebisanya untuk memperpanjang masa pakai sisa semua jenis alutsista eks Blok Timur. Untuk ranpur berlapis baja pengangkut personel, selain mengganti mesin penggerak, sistem transmisi dan persenjataannya, maka juga diupayakan membuat panser dengan disain yang mengacu kepada sejumlah ranpur berlapis baja kenamaan saat itu. Namun segala upaya itu tidak membuahkan hasil yang signifikan.

    Setelah kondisi keuangan RI membaik di awal dasawarsa 1980-an, satuan kavaleri TNI baru bisa memperoleh banyak ranpur berlapis baja pengangkut personel jenis V-150 Commando dan Commando Ranger. Lalu disusul di awal dasawarsa 1990-an, satuan kavaleri TNI mendapatkan tambahan puluhan panser beroda ban VAB dan VBL (keduanya asal Perancis) serta panser beroda rantai Stormer (Inggris). Meski kinerjanya terbilang cukup handal, namun pengoperasian keduanya terkendala oleh banyak hal klasik. Misalnya biaya perawatan yang tinggi, boros bahan bakar dan sulitnya memperoleh suku cadang.  Kodisinya kian babak belur karena pada paruh kedua dekade 1990-an RI kena imbas krisis keuangan di kawasan Asia Timur dan Tenggara ditambah kena sanksi embargo senjata oleh Blok Barat. Akibatnya beberapa ranpur terpaksa diistirahatkan. Kinerja satuan kavaleri TNI pun merosot drastis. Penambahan puluhan unit panser beroda rantai BVP-2 (buatan Slovakia) dan beroda ban BTR-80A (Rusia) di akhir dekade 1990-an dan awal 2000-an seakan hanya menjadi setetes air di tengah gurun pasir nan maha luas.

     

    Dari APR1-V1 ke APS2 Anoa

                Karena TNI amat butuh ranpur berlapis baja pengangkut personel, maka sejumlah panser model lama yang sempat ‘diistirahatkan’ diusahakan untuk kembali dihidupkan sambil tetap berusaha membuat sendiri panser baru. Dari sekian banyak upaya kemandirian yang telah ditempuh oleh sejumlah pihak, maka hanya ada beberapa jenis yang hingga kini masih terdengar gaungnya. Salah satunya adalah panser beroda ban hasil kreasi para tehnisi PT Pindad. Pabrikan senjata dan amunisi ini sebenarnya telah lama bergelut dalam pekerjaan mencipta ranpur berlapis baja berharga cukup murah dan spesifikasi teknisnya sesuai kebutuhan satuan kavaleri TNI.

    Dengan diawali panser Ahmad Yani yang kini sudah tak lagi dikembangkan, PT Pindad memulai debutnya selaku pabrikan panser yang laik tempur lewat APR (Angkut Personel Ringan) 1–V (Varian) 1 (2003). Kasisnya dicomot dari truk beroda empat tipe NKR 55 buatan Isuzu dan tenaganya dihasilkan oleh mesin turbo diesel intercooter 3.200 PK. Selintas tampilan APR1– V1 memang jauh dari kesan ‘tampan’. Empat puluh unit 40 unit APR1-V1 telah dibuat PT Pindad untuk TNI AD dan sempat dibawa beraksi di NAD (2004). Pengalaman tatkala mendisain dan mencipta APR1–V1 diterapkan PT Pindad di dalam merancang ‘minibus’ berlapis baja APR2-V1. Ranpur berbadan bongsor ini sempat dijajal Polri sebagai sarana transportasi para personel Korps Brimob di medan tugas. Sayang, kinerja APR1-V1 dan APR2-V1 kurang memuaskan pemakainya.

    Demi menghasilkan satu disain ranpur berspesifikasi dan kinerja lebih baik, maka PT Pindad tak sungkan menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Diharapkan duet ini bisa melanjutkan program litbang ranpur pengangkut personel yang sepenuhnya buatan Indonesia. Lewat proses panjang nan berliku, pada medio 2005 PT Pindad dan BPPT berhasil melansir panser beroda enam APS (Angkut Personel Sedang) 1. Jika dibandingkan APR1-V1 dan APR2-V1, maka sosok APS1 lebih besar dan perkasa. Selain badannya berstruktur monokok, kasisnya mencomot kasis truk berbobot lima ton Perkasa buatan PT Texmaco.

                Tampilan fisik APS cukup unik. Ruang mesin penghasil tenaga gerak berujud kotak dan berada di sisi kiri ruang kemudi. Keempat roda penggerak belakang mengelompok, terpisah dari sepasang roda penggerak depan. Dengan kata lain, jarak antara titik pangkal sumbu putar roda penggerak depan dengan titik pangkal sumbu putar roda penggerak tengah lebih besar ketimbang jarak antara titik pangkal sumbu putar roda penggerak tengah dengan titik pangkal sumbu putar roda penggerak belakang. Ujud APS1 lebih mirip truk berlapis baja ketimbang panser. Dipilihnya disain ini bukan tanpa alasan. Ruang muatan APS1 makan jatah kapling dua pertiga bagian badan ranpur. Sebagai penyeimbang dari efek gaya berat, maka mesin penghasil tenaga gerak harus dipasang di sisi kiri pengemudi. Ruang mesin dan pengemudi menyita kapling sepertiga bagian badan kendaraan.  

                Pada APS1  ada sepasang pintu di sisi kanan dan kiri dengan daun pintu yang dapat digeser ke belakang (saat dibuka) atau ke depan (saat ditutup). Fitur ini belum pernah dijumpai pada panser lain. Pintu utama APS1 justru berada di belakang. Sepasang daun pintu geser itu dilengkapi kotak pandang dengan kaca berlapis polimer yang tahan terjangan proyektil amunisi berkaliber 7,62 milimeter. Fitur unik ini ‘dibuang’ saat para insinyur PT Pindad mendisain APS1-V1. Selintas tampilan APS1-V1 sudah tidak lagi berkesan sebagai ranpur purwarupa. Seluruh penumpangnya masuk ke dan keluar dari dalam kendaraan lewat pintu belakang. Daun pintu ruang kemudi dan komandan membuka ke samping. Blok mesin yang semula berada di sisi kiri pengemudi kini digeser ke belakangnya.

                Atas dasar pertimbangan estetika disain, PT Pindad lalu memilih disain APS1-V1 sebagai disain acuan untuk basis pengembangan tingkat lanjutan panser beroda enamnya. Karena selain tampak lebih ‘tampan’, juga disain hidung APS1-V1 telah dibuat agar mirip hidung panser VAB. Langkah PT Pindad ini tak mengherankan. Pasalnya, sejak awal VAB memang telah dijadikan PT Pindad sebagai salah satu barang rujukan di dalam mendisain APS1 dan APS1-V1 selain ranpur beroda ban TPz Fuchs (buatan Jerman) dan Puch Pandur (Jerman-Austria). Kabarnya, Renault Trucks Defense (produsen VAB) banyak membantu PT Pindad untuk perkara disain badan. Setelah melakukan sejumlah bongkar pasang terhadap disain badan APS1-V1, maka pada medio 2006 PT Pindad beserta puluhan perusahan rekanannya sukses melansir ranpur berlapis baja APS2 Sangkuriang. Panser beroda enam ini tampil pertama kali di depan umum pada acara pameran alutsista yang digelar dalam rangka upacara peringatan HUT TNI ke 61 di Jakarta.

    Kala itu Sangkuriang menyedot perhatian banyak kalangan lewat tampilannya yang bak pinang dibelah dua dengan VAB. Namun baru ditilik dari kenyamanan saja Sangkuriang sudah terbukti lebih unggul ketimbang VAB karena dilengkapi tiga unit alat pengatur suhu ruangan (total berdaya 9 PK). Sementara pada VAB, cuma ada satu dan berdaya kecil. Kelebihan lainnya dari Sangkuriang adalah bahwa tenaga geraknya dihasilkan oleh mesin disel enam silinder tipe WD 615 bertenaga 260 – 300 PK buatan PT Texmaco. Sekujur badan Sangkuriang berbahan dari lapisan baja cukup tebal yang mampu menahan terjangan proyektil amunisi berkaliber 12,7 milimeter. Hebatnya lagi, pengendalian kerja dari semua peralatan operasional di ruang kemudi telah sepenuhnya dilakukan oleh komputer. Seluruh alat komunikasinya buatan PT LEN Industri, salah satu badan usaha milik negara yang bergerak di dalam bisnis alat telekomunikasi.  

    Setelah lulus berbagai uji kelaikan yang berat, Sangkuriang baru dinyatakan memenuhi seluruh spesifikasi teknis yang diminta TNI. Usai sejumlah suku cadangnya dimodifikasi, Sangkuriang lantas memasuki tahapan produksi massal dengan nama baru Anoa. Kini Anoa menjadi satu-satunya ranpur pengangkut personel pilihan TNI yang bisa segera diproduksi secara massal di dalam tempo yang relatif singkat dengan harga banderol lumayan terjangkau oleh kocek Dephan RI. Sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian PT Pindad ini, maka Dephan RI memesan 150 unit Anoa dari versi pengangkut personel (dengan beragam senjata) dan versi ambulan plus empat ranpur intai beroda empat RPP dengan nilai total kontrak pembelian mencapai 1,12 triliun rupiah. Sepanjang semester kesatu 2009, PT Pindad telah menyetor 60 unit Anoa kepada Dephan RI.

     

    Spesifikasi tehnis umum       

                Jabaran umum ukuran dimensional dan konstruksi Anoa adalah sebagai berikut. Panjang badan total (dari hidung hingga ke lekukan terluar dari pintu belakang) mencapai 6,2 meter. Sedangkan lebar badannya (berdasarkan jarak antara kedua dinding luar ruang penumpang pada batas lekukan terjauh di atas cerukan wadah roda) mencapai 2,5 meter. Tinggi badannya juga 2,5 meter, diukur dari permukaan tanah hingga lapisan terluar daun jendela atap saat merapat ke lubang jendela. Berbeda dengan APS1, maka jarak antara ketiga sumbu penggerak roda (wheel base) Anoa dibuat sama jauh, yakni 1,5 meter. Tinggi kolong Anoa (ground clearance) pun dibuat lebih tinggi, yakni 0,4 meter.

                Konstruksi badan Anoa menganut konsep monokok. Tebal lapisan baja badannya sesuai dengan nilai jenjang keempat patokan baku yang ditetapkan oleh Pakta Pertahanan Atlantik Utara (STANAG 4). Untuk rangka badan, para insinyur PT Pindad memilih besi rangka jenis square berukuran lebar tiap sisi 40 milimeter dan ketebalan 3,5 milimeter. Supaya keamanan seisi Anoa terjamin, maka badan bagian atas terbuat dari lembaran baja jenis armoured steel berketebalan 10 milimeter. Sedangkan untuk lantai dipilih lembaran baja jenis mild steel dengan berketebalan sama. Seluruh daun pintu Anoa juga terbuat dari baja mild steel tetapi ketebalannya cuma delapan millimeter.

                Supaya awak dan penumpangnya mudah masuk ke dan keluar dari dalam Anoa, maka disediakan tiga pintu, satu lubang tempat kedudukan kubah senjata dan lima jendela atap yang semuanya dilengkapi daun pintu merangkap perisai. Dua daun pintu ruang kemudi dan komandan berukuran tak begitu besar, bekerja dengan sistem mekanik palang torsi dan arah buka ke luar samping. Sedangkan pintu ketiga ada di belakang. Sepasang daun pintunya bekerja secara hidraulik dan arah bukanya ke luar samping. Karena posisinya berada di atas kepala para awak dan penumpang, maka daun pintu dari kelima jendela atap Anoa diatur agar membuka ke atas depan. Alat bantu pembuka ke sembilan daun pintu ini berupa tuas pembuka yang bekerja secara mekanik.

                Lubang atap tempat kedudukan kubah senjata yang berada tepat di belakang jendela atap ruang komandan ini dibuat berstruktur lingkaran. Maksudnya agar dapat dipasangi rel lintasan berbentuk sama sehingga tempat kedudukan senjata di kubah dapat diputar ke segala arah. Khusus Anoa model awal, jendela atap ruang komandan dibuat berstruktur lingkaran agar juga dapat dipakai untuk menempatkan kubah senjata.

                Tatkala seluruh pintu dan jendela atap tertutup, maka seluruh awak dan penumpang Anoa tetap bisa melihat situasi dan kondisi di luar kendaraan melalui kedua jendela depan, sepasang periskop kecil dan 12 kotak pandang. Kedua jendela depan berstruktur trapezium. Tebal kacanya 40 milimeter, berlapis bahan polimer yang bisa menahan terjangan proyektil amunisi berkaliber 7,62 milimeter. Kedua jendela depan dilindungi sepasang lempeng baja mild steel setebal enam millimeter (juga berstruktur trapezium). Pada bagian tengah lempeng pelindung dibuat satu celah persegi empat kecil memanjang sebagai sarana bantu lihat bagi pengemudi dan komandan. Bila tak sedang dipakai, lempeng pelindung didongakkan.

                Seluruh kotak pandang Anoa tersebar di kedua pintu ruang kemudi – komandan, kedua dinding ruang penumpang dan kedua daun pintu belakang. Setiap daun pintu ruang kemudi – komandan dibekali satu kotak pandang berstruktur trapezium. Sedangkan tiap dinding ruang penumpangnya kebagian empat kotak pandang dan kedua daun pintu belakang dua kotak pandang yang seluruhnya berstruktur persegi empat. Tebal kacanya 30 milimeter. Permukaannya juga dilapisi bahan polimer yang bisa membuat kaca tetap ‘utuh ‘meski diterjang proyektil amunisi kaliber 5,56 milimeter. Sebagai tambahan alat bantu lihat, di depan jendela atap ruang kemudi – komandan dipasang dua unit periskop kecil (juga berbentuk kotak) dengan ketebalan kaca 10 milimeter.  Agar para penumpang bisa menembak dari dalam kendaraan, di bawah setiap kotak pandang ada lubang penembakan bertutup. Demi alasan keamanan, tutupnya hanya bisa dibuka dari dalam kendaraan.   

    Bobot total Anoa versi baku dalam kondisi kosong tanpa kubah senjata adalah 10,2 ton. Begitu ia dipasangi kubah senjata yang belum dipersenjatai (masih dalam kondisi kosong), maka beratnya naik jadi 11 ton. Dan bila seluruh awak dan penumpangnya (bersenjata lengkap) telah berjejalan di dalam kendaraan serta pada kubah senjatanya telah bertengger sepucuk senjata dari kaliber yang paling kecil sekalipun, maka bobot siap tempur Anoa dapat melonjak hingga 14 ton. Nilai ini akan lebih bervariasi tergantung kepada jenis dan bobot senjata yang dipakai berikut jumlah total sediaan amunisinya.

    Dengan bobot siap tempur yang cukup berat ini, Anoa membutuhkan mesin khusus yang mampu menghasilkan tenaga gerak yang cukup besar untuk menggerakkan keenam rodanya dalam menggotong badannya yang tambun itu. Dari sekian banyak jenis mesin penggerak ranpur yang ada, terpilih mesin disel empat tak enam silinder jenis inline turbocharged intercooler buatan Renault Trucks Defence yang mampu melansir tenaga gerak 20 PK. Rasio daya mesin penggerak terhadap bobot total Anoa 21,6 – 25 PK tergantung bobot total Anoa saat diukur. Untuk mengurangi ketergantungan akan pasokan mesin dari luar negeri, kini tengah dijajaki pemakaian mesin disel WD 615 buatan PT Texmaco yang menghasilkan tenaga 260 – 300 PK. Baik mesin buatan Renault maupun Texmaco ini butuh 200 liter solar sebagai bahan bakarnya. Dan untuk menghidupi seluruh peralatan elektronik yang dimilikinya, Anoa dibekali sepasang akumulator yang masing-masing bertegangan 24 Volt dan berarus 100 Ampere jam.

    Sistem penggerak Anoa terdiri dari enam buah roda, kemudi, rem dan sistem suspensi. Keenam buah roda Anoa memakai alas roda (velg) jenis Runflat 1400 – R20 dan ban tipe 18 Ply yang dijamin akan tetap bisa dipakai berlari dalam kondisi kecepatan jelajah normal hingga sejauh 80 kilometer meski ban itu telah rusak akibat kena tembakan. Kemudi Anoa bekerja secara hidraulik dengan poros kemudi berada di depan dan tengah. Sementara sistem remnya ada dua, yakni rem cakram dan rem pegas lepas otomatis yang diintegrasikan dengan mekanisme kemudi induk. Rem kesatu dipakai tatkala kendaraan sedang dioperasikan sedangkan rem kedua baru difungsikan saat Anoa diparkir.

    Di atas permukaan jalan raya yang mulus, kecepatan jelajah Anoa dapat digenjot hingga 92 kilometer per jam. Bila kecepatan jelajahnya dalam kondisi normal (sekitar 60 kilometer per jam), maka kemampuan jelajahnya bisa sejauh 600 kilometer. Andai terpaksa harus berputar arah haluan secara tiba-tiba kala tengah berjalan, maka besar radius putaran saat berbelok (turning radius) hanya 10 meter. Tak hanya itu. Anoa juga dirancang agar dapat bermanuver di berbagai medan berkontur ‘berat’. Mulai dari mampu melompati parit selebar 1,5 meter dan sedalam 0,75 meter, melangkahi barikade setinggi 0,63 meter, hingga mendaki bukit dengan kemiringan 60 persen (setara sudut 31 derajat) maupun melintasi bidang miring dengan kemiringan 30 persen (setara sudut 17 derajat). Bila diperlukan Anoa juga dapat melintasi kawasan yang sedang terendam banjir sedalam 1,1 meter tanpa bermodal alat jet air (alat yang memungkinkan ranpur berkemampuan lintas dua medan). Seluruh kemampuan olah gerak bisa dimiliki Anoa berkat sudut kontak datang dan sudut kontak pergi setiap rodanya yang masing-masing sebesar 45 derajat. 

    Selaku ranpur pengangkut personel, Anoa dimodali bermacam senjata, peralatan komunikasi dan navigasi serta aneka perlengkapan tambahan. Jenis senjata yang dapat dipakai Anoa versi baku meliputi senapan mesin sedang FN-MAG GPMG atau M60 kaliber 7,62 milimeter, senapan mesin berat FN M2 – HB kaliber 12,7 milimeter dan senjata pelontar granat kaliber anti personel kaliber 40 milimeter. Jumlah sediaan amunisi setiap senjata tersebut pun bervariasi. Setiap Anoa dapat membawa bekal amunisi sebanyak 700 butir kaliber 7,62 milimeter atau 500 butir kaliber 12,7 milimeter atau 200 butir kaliber 40 milimeter. Jika perlu, di dekat jendela atap ruang penumpang dapat dipasang dua tempat dudukan senjata tambahan yang bisa memuat senapan mesin ringan FN Minimi atau Daewoo K3 kaliber 5.56 milimeter dengan jumlah sediaan amunisi total 400 butir.   

    Tanpa peduli akan ukuran kaliber larasnya, setiap jenis senjata serang yang diusung Anoa pasti akan bertengger pada tempat dudukan senjata yang bekerja secara mekanik. Laras senjata dibuat mampu menunduk hingga sedalam lima derajat ataupun mendongak setinggi 45 derajat (nilai ini berpatokan pada kondisi laras senjata saat pararel penuh dengan permukaan atap Anoa). Tempat dudukan senjata ini diintegrasikan dengan kubah senjata terbuka yang dilengkapi rel lintasan berbentuk lingkaran. Supaya operator senjata lebih leluasa bergerak saat menembakkan senjatanya, maka pada badan Anoa di daerah itu dibuat membundar seperti drum dan tidak mendatar seperti dinding ruang penumpang.   

    Tak hanya senjata serang, Anoa juga dibekali aneka perlengkapan tambahan. Termasuk senjata bela diri berupa dua set tabung pelontar granat pembangkit tabir asap. Setiap set terdiri dari tiga tabung pelontar berkaliber 66 milimeter (berada di belakang pintu ruang kemudi – komandan). Perlengkapan tambahan primer Anoa berupa alat komunikasi dan navigasi yang terdiri dari perangkat interkom (untuk komunikasi internal), radio frekuensi tinggi model konvensional tipe 90M-718 (bekerja pada gelombang 2 – 30 MHz, berdaya pancar 100 watt dan antena pemancar – penerimanya setinggi tiga meter), radio frekuensi sangat tinggi tipe 90M atau PRC-1077 (bekerja pada gelombang 30 – 38 MHz, berdaya pancar 50 Watt dan antena pemancar – penerimanya serupa radio tipe 90M-718) dan peralatan penentu posisi di jagad (Global Positioning System – GPS).

    Sedangkan perlengkapan tambahan sekunder Anoa meliputi sistem pendingin ruangan berintikan tiga unit AC (berdaya total 12 PK) plus tiga unit kipas pengalih udara (air blower), bermacam peralatan zeni ringan yang ‘ditempelkan’ pada badan Anoa (kapak, beliung dan sekop, masing-masing satu unit), tiga alat pemadam kebakaran ringan, alat bantu lihat malam, seuntai kawat baja yang sanggup menarik beban hingga seberat enam ton, empat cincin penarik beban dan empat lampu tempur black out. Sebaran cincin maupun lampu black out adalah dua unit di depan dan sisanya di belakang. Tak ketinggalan pula alat untuk memantau kondisi temperatur air pendingin mesin penggerak, kelistrikan dan tekanan minyak pelumas.  

     

    Potensi pengembangan

                Setelah sukses dengan Anoa, PT Pindad kemudian berupaya mencipta sebuah ranpur beroda ban pengusung senjata artileri berkaliber besar. Langkah ini diujudkan melalui penciptaan sista artileri gerak sendiri Anoa Kanon 90. Ranpur bersenjata berat ini ikut mejeng di pameran Indo Defence & Aerospace 2008 dan dapat dipandang sebagai upaya PT Pindad untuk mengoptimalkan peran Anoa. Dari sekadar wahana pengangkut personel satuan infanteri menjadi sebuah ranpur multi guna yang dapat membopong aneka jenis senjata sehingga perannya bisa lebih beragam.

                Ranpur Anoa Kanon 90 yang muncul pada pertengahan 2008 silam ini bisa tercipta setelah para insinyur PT Pindad merombak disain tampilan badan bagian atas Anoa sambil mengadopsi sistem kubah senjata CSE-90 yang menjagokan meriam laras berulir Cockerill Mk.3 kaliber 90 milimeter sebagai komponen intinya. Kabar yang tersiar, disain Anoa Kanon 90 merujuk kepada Black Fox CSE 90 yang diproduksi oleh Doosan Infracore, Korea Selatan.

                Di samping itu, Anoa juga berpotensi untuk dikembangkan menjadi ranpur pengusung senjata mortir kaliber 81 atau 120 milimeter. Hal ini bisa dilakukan dengan meniadakan ruang penumpang dan merubah struktur atap kendaraan berikut konstruksi lantai. Dari semula hanya memiliki tiga jendela atap kecil bertutup menjadi satu jendela atap besar yang juga bertutup. Lantainya turut diperkuat agar tahan menerima efek tolak balik yang besar dan mengarah ke bawah. Bahkan Anoa juga bisa dimodifikasi menjadi wahana pengusung sista artileri pertahanan udara. Baik yang berintikan kanon berkecepatan tembak sangat tinggi, peluru kendali penangkal serangan udara jarak dekat maupun paduan keduanya.

     
  • 02:13:49 am on Agustus 14, 2009 | 2 | # |

    oleh : Bambang Koespramono

    Berawal dari kebutuhan TNI AL akan perahu berkecepatan jelajah tinggi dalam jumlah yang cukup banyak untuk melakukan tugas patroli jarak dekat, maka Dislitbangal mengadakan kegiatan riset supaya dapat mendisain sebuah perahu patroli yang meski kinerja jelajahnya pilih tanding namun harga per unitnya cukup terjangkau. Agar terwujud ke dalam bentuk nyata, salah satu rekanan dalam negeri pun digandeng. Hasilnya tercipta dua jenis RIB yang berkinerja mumpuni. Sudah menjadi rahasia umum jika Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) kerap terkendala sejumlah faktor teknis di dalam mengemban tugas pokoknya sebagai pengawal kedaulatan wilayah perairan Republik Indonesia (RI) yang sangat luas. Salah satu faktor tehnis pengendala tersebut adalah keterbatasan jumlah kapal kombatan berkinerja jelajah memadai untuk melangsungkan kegiatan patroli rutin. Baik di perairan laut dangkal dekat pantai maupun perairan laut sedang dan dalam. Untuk sementara waktu masalah keterbatasan jumlah dan kinerja jelajah dari kapal kombatan berukuran sedang dan besar telah dapat diatasi dengan bergabungnya empat buah kapal korvet siluman kelas SIGMA buatan Belanda ditambah belasan unit kapal patroli tipe PC-36/40 hasil kreasi bersama Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AL (Dislitbangal) dengan sejumlah Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan (Fasharkan) TNI AL. Namun untuk menggelar kegiatan patroli rutin dalam jarak dekat di kawasan perairan sekitar pantai, jajaran armada TNI AL hingga detik ini masih sangat mengandalkan beberapa unit perahu patroli jenis khusus buatan luar negeri yang memiliki kecepatan jelajah cukup tinggi. Yang disebut sebagai perahu patroli berkecepatan jelajah tinggi itupun kebanyakan berupa perahu karet bermotor tempel atau paling banter perahu bermotor tempel dengan badan pejal yang dililit tabung udada pelampung dan lebih kondang dengan sebutan RIB. Dengan semakin meningkatnya frekuensi kegiatan patroli jarak dekat, maka pihak TNI AL pasti butuh lebih banyak perahu patroli berkecepatan jelajah tinggi semacam RIB. Perahu model ini sangat andal bila diajak mengejar kapal nelayan asing pencuri ikan atau kapal niaga yang menyelundupkan aneka jenis barang baik dari dalam maupun ke dalam wilayah RI. Semakin meningkatnya peluang untuk terjadinya aksi terorisme bahari di perairan RI (baik terhadap kapal niaga maupun instalasi pengeboran minyak lepas pantai) turut meningkatkan derajat urgensi akan ketersediaan perahu patroli berkecepatan jelajah tinggi yang dapat dipakai satuan teror TNI AL menuju tempat kejadian aksi teror. Masalahnya sekarang, harga perahu patroli seperti RIB yang buatan luar negeri terbilang mahal dan dalam kondisi krisis keuangan global seperti saat ini maka harganya pasti kian melangit. Padahal kebutuhan TNI AL akan alat transportasi air model ini sudah amat mendesak. Sebagai solusinya pihak Dislitbangal lantas melakukan serangkaian kegiatan riset agar dapat membuat sebuah disain perahu jenis khusus yang memiliki kecepatan jelajah tinggi seperti RIB. Pihak TNI AL sendiri memang sudah punya beberapa unit RIB tetapi semuanya buatan Afrika Selatan. Karena anggaran operasionalnya pun terbatas, pihak Dislitbangal lalu bermitra dengan salah satu rekanan di dalam negeri agar disain RIB lansirannya bisa menjadi kenyataan.

    Apa itu RIB ?

    Istilah RIB sebenarnya bukan sesuatu hal yang asing bagi para pelaku dunia bahari di Tanah Air. Namun asal tahu saja, saat pertama kali diperkenalkan perancangnya pada paruh kedua dekade 1960-an nama yang disandang bukan RIB tetapi RHIB (Rigid Hulled Inflatable Boat – Kapal Berbadan Pejal dan Berpelampung). Belakangan hari demi alasan kepraktisan di dalam pengucapan, maka istilah RIHB jadi kerap diujarkan sebagai RIB saja. Secara umum sebuah RIB dapat dicirikan lewat bobotnya yang relatif ringan (meski badannya terbuat dari bahan yang padat), disain konstruksi lambungnya yang meruncing sedemikian rupa hingga membentuk huruf V dan sekeliling bagian luar badannya dililit tabung pelampung berstruktur fleksibel dan bertekanan udara. Berkat tabung pelampung ini sebuah RIB dijamin tidak bakal gampang tenggelam biarpun ia baru saja terbalik akibat kena terjang ombak laut yang paling besar sekalipun. Atau sejumlah air laut sempat menggenangi geladaknya. Panjang badan sebuah RIB berkisar 4 – 9 meter. Namun untuk keperluan tertentu, panjang badan RIB dapat dibuat berkisar 2,5 – 18 meter. Demi menghasilkan tenaga dorong yang cukup besar sehingga bisa membuat sebuah RIB melaju pesat, maka dibutuhkan (sedikitnya) satu unit motor disel berdaya besar. Motor penggerak ini dapat dipasang pada bagian dalam badan RIB (berupa mesin jet air alias inboard water jet engine) atau pada bagian buritan sebagai stern drive engine. Tetapi pada kebanyakan RIB yang biasa kita jumpai saat ini, jumlah motor penggeraknya minimal dua unit yang dipasang pada bagian luar badan (outboard motor). Tenaga yang dihasilkan mesin penggerak RIB biasanya berkisar 5 – 300 daya kuda (setara 4 – 220 kiloWatt). Saat pertama kali diperkenalkan kepada publik RIB dipakai selaku perahu penyelamat (rescue craft) yang kapasitas angkutnya lebih besar ketimbang perahu karet biasa. Kemudian bidang pemakaian RIB berkembang ke ranah olahraga. Yakni sebagai perahu balap atau wahana transportasi para peselam saat menuju lokasi penyelaman. Tak ketinggalan RIB juga dipakai sebagai sarana pemandu kapal besar yang hendak masuk ke suatu pelabuhan (sebagai perahu tunda atawa tug boat). Berkat kinerjanya yang lumayan hebat, RIB lantas dilirik pihak militer untuk dijadikan sebagai alat melakukan kegiatan patroli atau mengangkut pasukan (baik dalam misi terbuka maupun misi tertutup). Beragamnya bidang aplikasi RIB semata disebabkan perahu jenis khusus ini memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan kebanyakan perahu lainnya. Di antaranya adalah posisi garis batas rendam air pada badan perahu yang relatif rendah (shallow draught)(sehingga RIB aman dioperasikan di perairan yang paling dangkal), kemampuannya bermanuver di tengah kondisi laut yang paling buruk tetap prima (high maneuverability), bila dilengkapi motor penggerak berdaya besar akan memiliki kecepatan jelajah cukup tinggi (high speed) dan badannya tak gampang rusak meski telah berbenturan dengan obyek keras asalkan pada saat kejadian kecepatan jelajahnya rendah (immunity to damage in low speed collisions). Kecepatan jelajah maksimum RIB ditentukan oleh sejumlah faktor. Yaitu bobot keseluruhan saat beraksi, tenaga dorong dari motor penggerak dan kondisi perairan yang akan dilintasi. Sebagai contoh, sebuah RIB dengan panjang badan enam meter, mengangkut enam orang berbobot badan ideal, tenaga dorong yang dihasilkan motor tempel sekitar 110 daya kuda (setara 82 kiloWatt) dan melintasi perairan dengan kondisi Beaufort Force Level Two, maka kecepatan jelajahnya bisa digenjot hingga mencapai 30 knot (setara 56 kilometer per jam di darat). Khusus RIB militer, dengan mengandalkan kecepatan jelajah yang bisa mencapai 50 knot, maka perahu itu bisa diajak untuk ‘melompati’ gelombang laut yang paling tinggi sekalipun. Hanya saja ukuran panjang badan RIB tipe wave jumper ini dibatasi minimal 10 meter. Bentuk badan RIB seperti yang kita saksikan saat ini sejatinya adalah merupakan hasil proses evolusi disain konstruksi badan RIB selama tiga dekade. Saat pertama kali muncul, badan RIB terbuat dari lempengan baja ataupun alumunium dengan ketebalan tertentu. Untuk meringankan beban tabung pelampung dalam menjamin agar RIB tetap dapat terapung pada kondisi laut seburuk apapun, maka baja dan alumunium diganti dengan kayu padat yang biasa dipakai untuk membuat badan sampan. Namun ternyata badan RIB yang terbuat dari kayu tak sekuat badan RIB yang berbahan logam. Oleh sebab itu, sempat ada satu masa di mana badan RIB merupakan hasil perpaduan dari logam dan kayu padat. Tetapi kondisi ini tak bertahan lama. Lagi-lagi demi alasan meningkatkan daya apung RIB, maka jenis material bahan baku badan RIB kembali mengalami perubahan. Lewat serangkaian proses litbang di beberapa pabrikan RIB, akhirnya diperoleh komposisi paduan material yang ideal. Terdiri atas kayu ringan jenis balsa dan material polimer jenis khusus yang struktur molekulnya telah diperkuat dengan jalinan serat gelas (glass-reinforced plastics, disingkat GRP). Kayu balsa dipakai sebagai bahan rangka sementara material polimer selaku bahan baku lambung. Berkat pemakaian bahan komposit ini, maka beban kerja tabung udara pelampung menjadi lebih ringan. Disain konstruksi geometris badan RIB juga tidak kalah menarik untuk ditelisik. Layaknya sebuah perahu konvensional – apalagi yang akan dipakai untuk melaju dengan kecepatan tinggi- maka jajaran rusuk pembentuk lambung RIB bakal membentuk formasi geometris seperti huruf V (V-shaped hulls) terhadap lunasnya. Pola penataan konstruksi seperti ini bertujuan mengoptimalkan karakteristik hydroplane sebuah RIB. Bergantung kepada jenis pemakaian sebuah RIB (yang pada gilirannya bakal menentukan bentuk konstruksi badan), maka ada dua jenis formasi jajaran rusuk badan RIB model V. Masing-masing adalah struktur ‘runcing’ bersudut buka kecil (deep-V hulls) dan struktur ‘tumpul’ bersudut buka besar (shallow-V hulls). Keunggulan struktur deep-V hulls terletak pada kemampuannya memecah ombak yang paling besar. Tapi RIB penganut struktur ini butuh tenaga dorong sangat besar. Dengan kata lain, ia harus dibekali motor penghasil tenaga berdaya besar. Otomatis motor seperti ini makan banyak bahan bakar. Sementara itu RIB yang mengadopsi struktur shallow-V hulls tidak butuh tenaga dorong yang besar. Sehingga lebih irit bahan bakar. Namun resikonya RIB model begini ‘tidak nyaman’ jika dipakai untuk melintasi perairan yang sedang berombak. Oleh sebab itu, konstruksi mayoritas RIB yang ada saat ini memadukan keunggulan yang dimiliki kedua struktur itu. Bahkan pada beberapa jenis RIB, separuh badan bagian depan berstruktur deep-V hulls dan selebihnya dibuat mendatar dengan memakai material planning pad. Terakhir, komponen RIB yang juga berperan penting adalah tabung pelampung. Suku cadang yang satu ini amat menentukan terapung dan tenggelamnya sebuah RIB. Oleh sebab itu, kebanyakan pabrikan sengaja mendisain tabung pelampung RIB tersusun dalam beberapa bilik udara. Tujuannya untuk mencegah daya apung RIB anjlok secara drastis tatkala tabung pelampungnya rusak. Bila tabung pelampung hanya terdiri dari satu bilik bertekanan udara, maka akan sangat berbahaya jika sampai tabung pelampung robek tersayat benda tajam atau meletus gara-gara tekanan udara di dalamnya kelewat besar. Agar tekanan udara di dalam setiap bilik tersebut bisa diatur sesuai kebutuhan, maka di setiap bilik udara dipasang katup regulator tekanan udara. Khusus bagi RIB militer dengan tabung pelampung yang dicat hitam (untuk penyamaran), untuk mengantisipasi pecahnya tabung udara akibat tekanan udara di dalmnya melonjak secara tajam sebagai dampak pemanasan udara oleh karena paparan sinar matahari, maka perancangnya memasang beberapa piranti pemulih tekanan udara. Sehingga jika pada bilik udara tertentu mengalami masalah, maka hanya bagian itu saja yang tekanan udaranya dipulihkan tanpa perlu mengutak-atik bilik udara yang lain. Dengan demikian, insiden tabung udara meletus akibat lapisan kulitnya tak mampu menahan tekanan udara yang kelewat besar dapat dihindari. Selain dilengkapi dengan piranti pengaman, tabung pelampung sebuah RIB juga harus terbuat dari bahan yang memiliki struktur fisik relatif cukup kuat. Sepanjang sejarah pengembangan RIB, ada tiga material yang biasa dipakai untuk membuat tabung pelampung. Masing-masing adalah polivinyl klorida (PVC), poliuretana (PU) dan Hypalon. Meskipun harganya cukup murah, fleksibilitas PVC di bawah nilai baku yang diharapkan (lacking of flexibility) dan masa pakainya paling banter lima tahun. Untuk mengatasinya, pabrikan kerap kali menambahkan zat aditif. Namun zat aditif juga menimbulkan efek samping yang tidak kalah buruk. Dalam jangka waktu lama, zat aditif akan menguap dan meninggalkan ’jejak’ berupa permukaan PVC jadi rapuh (brittle) dan pada gilirannya berpeluang menyebabkan tabung pelampung mudah pecah. . Sedangkan PU, meskipun struktur fisiknya cukup tangguh namun ia cukup sukar dibentuk menjadi sebuah tabung pelampung RIB yang berkonstruksi ideal. Selain itu, bila rusak juga rada sulit diperbaiki karena harus dibongkar secara total dari badan perahu. Agar dapat dibuat kedap udara (air tight), maka saat dicetak PU harus dipadu dengan bahan neoprena. Kelemahan utama material PU adalah bahwa ia cepat sekali mengalami ’penuaan’. Baik oleh sebab faktor mekanik (sering bergesekan dengan obyek keras), kerap terkena panas ataupun terpapar sinar ultra ungu yang dipancarkan matahari. Memang ada material PU jenis khusus yang membuat masa pakai sebuah tabung pelampung RIB berkisar 10 – 15 tahun. Tetapi selain harganya kelewat mahal, tabung pelampung yang terbuat dari PU jenis ini lumayan merepotkan bila hendak diperbaiki karena (lagi-lagi) harus dibongkar total dari badan perahu. Dewasa ini pabrikan tabung pelampung RIB lebih menyukai material Hypalon. Pasalnya, selain harganya murah, mudah dibentuk, struktur fisiknya jauh lebih kuat ketimbang PU, juga jika sampai rusak maka tabung pelampung berbahan Hypalon tidak sangat merepotkan bila hendak diperbaiki. Seperti halnya PU, untuk membuat Hypalon bisa kedap udara maka material ini kudu dicampur dengan neoprena. Sedemikian kuatnya struktur fisik material Hypalon sehingga masa pakai tabung pelampung yang terbuat darinya kabarnya bisa mencapai 30 tahun. Tapi uniknya, saat berusia ’muda’, daya tahan tabung pelampung berbahan Hypalon berada di bawah tabung pelampung berbahan PU. Setelah lima tahun, daya tahannya menjadi lebih unggul. Untuk RIB berbadan besar biasanya dilengkapi ruang kemudi (wheelhouse) yang dilengkapi atap berbahan polimer berstruktur keras tapi ringan seperti halnya material yang dipakai untuk bahan baku badan RIB. Atap ini untuk melindungi panel kemudi dan berbagai peralatan navigasi yang ada di sekitar konsol kemudi dari panas akibat terpaan sianr matahari. Tidak ketinggalan pada bagian buritan RIB biasanya dipasang semacam ’gawang’ yang terbuat dari logam khusus dan dipakai sebagai tempat bertengger radar, lampu sorot, antena radio komunikasi dan pelampung sekunder (baru difungsikan jika RIB terguling dan perlu segera memulihkan posisinya kepada kedudukan semula sebelum ia terguling).

    RIB X2K Interceptor / Special Forces

    Perahu RIB memang terbilang ’barang baru’ bagi jajaran TNI AL. Wahana transportasi atas air berkecepatan jelajah tinggi ini baru resmi berdinas pada 2002. Namun dengan semakin meningkat dan mendesaknya kebutuhan TNI AL akan barang ini, maka pada 2004 Dislitbangal segera melakukan riset untuk mencipta disain RIB yang kelak dapat diujudkan oleh salah satu rekanan lokal ke dalam bentuk fisik nyata. Setelah melewati masa jatuh bangun selama tiga tahun, dengan bantuan salah satu rekanan lokal yakni PT North Sea Boats, maka pada medio Mei 2007 Dislitbangal menjajal perahu cepat hasil rancangannya. Meski saat uji coba masih ditemui sejumlah kekurangan, namun secara keseluruhan RIB hasil kerja bareng Dislitbangal dengan North Sea Boats Indonesia (NSBI) dinilai cukup memenuhi segala persyaratan yang ditetapkan oleh Dinas Material TNI AL. Secara garis besar, RIB hasil disain Dislitbangal memiliki spesifikasi tehnis sebagai berikut. Ukuran dimensionalnya adalah sebagai berikut. Panjang badannya 11,4 meter, lebar badan 2,93 meter dan diameter tabung pelampungnya 56 meter. Tabung udara itu berbahan Hypalon dan memiliki tujuh bilik udara. Dengan mengandalkan sepasang mesin disel tempel yang masing-masing menghasilkan tenaga sebesar 250 daya kuda dan menenggak 600 liter solar dalam sekali jalan, maka RIB ini sanggup berlari dengan kecepatan hingga 50 knot dengan mengusung muatan lima atau 12 orang tergantung jenisnya. Untuk peralatan navigasi dan komunikasi, dipilih beberapa jenis produk lansiran Raymarine. Sebagai kelengkapan tambahan, RIB karya Dislitbangal ini dimodali sepasang tangki bahan bakar berbahan baja tahan karat (stainless stell) dengan kapasitas masing-masing 300 liter, sejumlah tempat duduk model jok sepeda motor (motorcycle style transport seating)(jumlahnya tergantung jenis RIB), berbagai panel dan tombol kendali kemudi yang bekerja secara elektrik dan bersifat kedap air (waterproof marine electrical panels and switches), kompas berlampu, berbagai alat indikator kelaikan kinerja komponen RIB, baterai catu daya listrik (12 Volt 105 Ampere jam), piranti kemudi hidraulik, lapisan anti fouling untuk memperkuat badan RIB, lampu navigasi dan jangkar serta tempat dudukan senjata yang dapat mengakomodasi senapan mesin ataupun pelontar granat otomatis. Saat diujudkan oleh PT NSB ke dalam bentuk fisik nyata, maka terjadi sedikit perubahan di dalam disain baku lansiran TNI AL. Panjang dan lebar badannya sedikitnya menyusut jadi 11,2 dan 2,33 meter. Tinggi garis batas rendam air pada badan perahu diturunkan jadi 0,40 meter dari semula 0,48 meter. Jenis mesin penggeraknya sengaja dipilih yang setiap unitnya mampu menghasilkan tenaga sebesar 150 -300 daya kuda dengan putaran poros baling-balingnya sengaja dibuat saling berlawanan (counter rotation propellers). Sedangkan kapasitas bahan bakarnya sedikit didongkrak menjadi 660 liter dan jangkauan jelajahnya bisa mencapai 250 mil laut dari semula ’hanya’ 200 mil laut. Meski begitu, secara umum kinerja RIB militer buatan NSBI dipandang oleh pihak TNI AL sebagai cukup memadai. Tak hanya itu. Pihak NSBI juga berhasil membuat RIB rancangan Dislitbangal itu ke dalam dua varian. Masing-masing dinamai X2K Interceptor dan X2K Special Forces. Saat mengembangkan RIB kreasi Dislitbangal agar bisa diujudkan ke bentuk nyata, NSBI tak lupa mengadopsi disain perahu balap yang di dalam struktur udaranya terdapat saluran udara di mana badan perahu tersebut dibangun dalam dua tahap (double step ventilated racing hull). Badan RIB X2K terbuat dari beberapa lapisan material polimer vinyl ester yang telah diperkuat dengan jajaran serat gelas dan memakai puluhan modul kayu balsa (berbentuk potongan persegi panjang) plus divinicell kedap udara varian sel tertutup selaku inti strukturnya. Ketiga komponen pembentuk badan RIB X2K disusun dalam pola saling bertumpuk satu sama lain (balsa and divinicell core sandwich glass-reinforced plastic structure). Proses pencetakan badan RIB X2K mengadopsi proses infusi resin polimer yang dilakukan di bawah kondisi hampa udara (vacuum resin infusion). Mengapa kayu balsa dipasang di dalam struktur badan RIB X2K dalam bentuk modul potongan persegi empat dan bukan dalam bentuk lembaran panjang layaknya papan kayu biasa dalam pmbuatan perahu nelayan tradisional ? Tujuannya tak lain adalah untuk meningkatkan derajat kepadatan cairan resin polimer (selaku komponen utama) di mana cairan resin dapat ’menyusup’ di antara celah modul kayu balsa. Dengan begitu struktur badan perahu jadi lebih kuat dan bila terjadi kerusakan pada satu lokasi, maka kerusakan tidak menyebar ke lokasi lain dan proses perbaikannya lebih mudah karena cukup mengganti panel badan hanya pada bagian yang rusak saja. Sementara itu, divinicell vakum sistem sel tertutup adalah demi meningkatkan derajat kelenturan panel badan RIB X2K dan tentu saja agar bobot total RIB X2K jadi jauh lebih ringan ketimbang jika seluruhnya memakai marial GRP padat (solid GRP). Badan RIB X2K bagian bawah yang selalu terendam air laut ditata sedemikian rupa sehingga strukturnya membujur pararel dengan garis sumbu badan RIB X2K (longitudinal underwater steps). Maksud pemakaian struktur badan model begini tak lain adalah untuk meminimalisasi efek geresekan badan RIB X2K dengan air laut. Dengan begitu gerak jelajah RIB X2K bisa lebih ’bebas’ dan pada gilirannya perahu tipe khusus ini bisa melaju di permukaan air dengan kecepatan jelajah yang lumayan tinggi. Agar kekuatannya lebih terjamin, maka badan RIB X2K bagian bawah tersebut sengaja dibuat dari beberapa material serat gelas yang disusun dalam beberapa pola arah hadap dan untuk merekatkan mereka saling dikeling satu sama lain (multi directional fibre-glass layers dan rovings). Strukturnya pun diperkuat dengan jajaran serat karbon (carbon fibre strengthening). Selain mengandalkan bahan baku badan yang teramat ringan tapi berstruktur sangat kuat plus tabung udara pelampung, pada bagian bawah badan RIB X2K juga dipasang peralatan bantu apung yang terbuat dari busa zat kimia tertentu yang disegel rapat dalam kondisi kedap udara (sealed foam buoyancy). Namun itu semua masih belum cukup. Biar lebih tangguh, maka bagian luar badan RIB X2K diberi lapisan pelindung yang juga terbuat dari material serat gelas yang sengaja tak dianyam dan digelar dalam berbagai arah hadap serta diberi perkuatan jalinan serat karbon pada seluruh bagian stringer-nya (multi direction and non woven fibre-glass layers). Dengan begitu diharapkan badan RIB X2K jadi jauh lebih tahan jika sampai terjadi benturan dengan obyek keras di laut. Biar lebih mantap, NSBI sengaja memilih tabung udara pelampung lansiran Henshaw Inflatable Ltd (Inggris) yang telah banyak dipakai oleh sejumlah pabrikan RIB. Bahannya terbuat dari materail Hypalon yang dipadu dengan neoprena (untuk membuat kondisi kedap udara) dan tersusun dari sembilan bilik udara. Mengingat warna tabung udara pelampung RIB X2K dibuat kusam (agar tidak memantulkan cahaya di malam hari), maka setiap bilik udara juga dilengkapi dengan piranti pengatur tekanan udara. Ditinjau dari segi ukuran dimensional dan kinerja, nyaris tak ada beda yang signifikan di antara X2K Interceptor dengan X2K Special Forces. Hanya saja bila ditinjau tampilan fisiknya, baru ketahuan jika X2K Interceptor total hanya bisa mengangkut lima penumpang karena fungsinya hanya sebagai perangkat penunjang kegiatan patroli rutin. Sementara X2K Special Forces (untuk sementara ini baru dibuat) mampu mengangkut delapan penumpang. Di atas itu semua, bekal kedua RIB itu saat hendak bertarung tetap sama, yakni sepucuk senapan mesin ringan kaliber 7,62 milimeter. Tapi tak tertutup kemungkinan jika di kemudian hari sepucuk senapan mesin berat kaliber 12,7 milimeter atau pelontar granat otomatis kaliber 40 milimeter bisa bertengger di haluannya.

    Hypalon, Material Ringan Tapi Kuat

    Hypalon adalah nama dagang dari material karet buatan tipe polietilena yang telah diklorosulfonasi (chlorosulfonated polyethylene) lansiran Du Pont, AS. Material ini dikenal tahan banting terhadap segala bentuk pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh berbagai macam senyawa kimia, temperatur yang ekstrem maupun terpaan sinar ultra ungu (yang dipancarkan matahari) dalam jangka waktu lama. Kini hampir semua jenis material karet buatan tipe polietilena yang telah diklorosulfonasi digeneralisasi sebagai Hypalon meski bukan keluaran Du Pont.

     
  • 02:50:57 am on April 29, 2009 | 1 | # |

    Yakhont RudalYAKHONT DAN PERSAINGAN PASAR RUDAL INTERNASIONAL

    Oleh

    HERI SUTRISNO

    Setelah Perang Dingin mereda dan industri persenjataan masuk dalam mekanisme hukum pasar, terjadi rivalitas baru dengan melibatkan pemain lama. Produsen senjata dari Eropa Barat, Amerika Serikat, dan Rusia berlomba menawarkan produknya ke negara – negara yang membutuhkannya, tak terkecuali permintaan peluru kendali anti kapal yang telah menjadi senjata strategiis angkatan laut. Rusia berambisi meraih kembali kejayaan produk rudalnya di pasar internasional seperti pada era 1960 dan 1970-an dengan mengembangkan rudal supersonic Yakhont yang menggabungkan keunggulan rudal buatan Barat dan Rusia.

    Saat peluru kendali mulai digunakan sebagai senjata kapal perang pada pertengahan dasawarsa 1960-an, rudal buatan Uni Sovyet waktu itu langsung meroket namanya karena keberhasilannya di medan perang laut di Timur Tengah dan Asia Selatan. Pada tanggal 21 Oktober 1967 rudal anti kapal SS-N-2A Styx yang diluncurkan oleh kapal tempur ringan Kelas Komar milik AL Mesir berhasil menenggelamkan kapal perusak Eiliath milik AL Israel di perairan pelabuhan Alexandria. Empat tahun kemudian tepatnya tanggal 5 Desember 1971, rudal ini sukses menjalankan misinya saat kapal tempur ringan kelas Osa AL India menenggelamkan sebuah kapal perusak Khaibar dan kapal penyapu ranjau Muhafiz nilik AL Pakistan di perairan Karachi. Sejak saat itu rudal yang berkecepatan 660 knot (0,9 mach) membawa bahan peledak seberat 500 kg, dan menggunakan radar dan pencari panas (infra merah) sebagai sisten homing-nya ini laris dipesan oleh tidak kurang dari 40 negara termasuk Indonesia yang di era 1970-an mengoperasikan satu skwadron kapal tempur cepat klas Komar.

    Meskipun hingga tahun 1990 Uni Sovyet/Rusia mengembangkan 15 jenis rudal anti kapal, namun pamornya meredup dibawah bayang – bayang popularitas Exocet yang dikembangkan Prancis dan Harpoon buatan Amerika Serikat. Exocet tampil sebagai primadona dalam Perang Malvinas 1981. Rudal ini mampu merusakkan sejumlah kapal AL Inggris dan menenggelamkan dua kapal diantaranya. US Navy juga pernah merasakan kehebatan rudal anti kapal ini ketika USS Stark yang sedang berpatroli di perairan Teluk Persia dalam Perang Irak – Iran menjadi korban salah tembak rudal Exocet. Kehebatan Harpoon ditunjukkan Amerika Serikat dalam konflik dengan Libya dan menyerang sasaran – sasaran darat ke objek – objek yang dianggap penting di Irak.

    Sampai saat ini Harpoon dan Exocet mendominasi 65% pasar rudal anti kapal dunia, rudal Rusia hanya mencakup 20 %, dan sisanya milik produsen Eropa Barat(Italia dan Swedia), Cina dan Israel. Dominasi rudal Amerika Serikat dan Prancis tersebut terutama disebabkan oleh kemampuan rudal itu sendiri dan fleksibilitas penempatan di semua platform (ability of shipboard). Baik Harpoon maupun Exocet memiliki olah gerak yang menyulitkan pertahanan anti kapal karena kedua rudal ini pada jarak tertentu mampu terbang rendah (2-3 meter) di atas permukaan air (sea skiming). Manuver ini menyulitkan daya deteksi kapal – kapal atas air yang radarnya dipasang pada tiang utama kapal. Pengembangan teknologi lain dari kedua rudal ini adalah penerapan Electronic counter counter measure (ECCM) yang memungkinkan rudal menghindari upaya mengecoh atau mengalihkan perhatian yang dipancarkan dari kapal perang seperti penggunaan Chaff dan Decoy. Faktor kedua dari sukses kedua rudal ini adalah bentuknya yang relatif ringan, dengan panjang kurang dari 4 meter memungkinkan senjata ini bisa dipasang di berbagai jenis kapal perang, dari kapal tempur ringan seperti kapal perang kelas Sea Dragon AL Singapura hingga kapal penjelajah besar seperti kelas Arleigh Burke AL Amerika Serikat. Lebih dari itu, varian dari kedua rudal ini bisa dibawa oleh pesawat udara sayap putar dan sayap tetap seperti helikopter Super Puma yang mampu membawa dua Exocet dan pesawat tempur F-18 Hornet yang mampu membawa sepasang Harpoon.

    Rudal – rudal anti kapal yang dikembangkan Rusia memiliki keunggulan dari sisi kecepatan dan daya ledak. Rudal – rudal Barat rata – rata berkecepatan 0,85 mach/ kecepatan suara(Harpoon AGM-84) hingga 2,3 mach(Sidearm AGM-122A). Sedangkan rudal Rusia berkisar 0,9 mach(rudal Styx)-3,5 mach(rudal Kingfisher). Rudal Rusia rata – rata berukuran besar dan lebar panjangnya antara 6-9 meter yang berisi perangkat roket pendorong besar sehingga mampu menerbangkan rudal sedemikian cepat. Faktor kecepatan ini menyulitkan reaksi pertahanan anti rudal kapal perang yang menjadi target rudal tersebut. Keunggulan lainnya adalah daya ledak yang sedemikian besar sehingga mampu menenggelamkan kapal sebesar destroyer dalam sekali tembak. Rudal Styx yang banyak diekspor ke pasar internasional bermuatan bahan peledak seberat 500 kg, bandingkan dengan amunisi Exocet seberat 165 Kg dan Harpoon sekitar 300 Kg. Kapal yang tenggelam oleh Exocet lebih disebabkan oleh perkenaan hantaman rudal yang mengenai bagian vital kapal seperti kamar mesin sehingga mudah terbakar dan meledakkan kapal. Hal ini terlihat pada terjangan Exocet yang menghantam USS Stark, kapal tersebut hanya rusak sedang dan mampu melanjutkan pelayaran ke pangkalan untuk perbaikan.

    Kelemahan rudal Rusia adalah ukurannya yang besar dan kaku sehingga hanya platform tertentu yang mampu memuatnya. Kapal tempur kecil semaacam kelas Osa dan Komar mampu membawa rudal sebesar Styk karena kedua kapal tersebut memang didesain untuk meluncurkan rudal tersebut. Biasanya pemasaran rudal Rusia menjadi satu paket dengan kapal perangnya. Hal ini berbeda dengan Harpoon dan Exocet yang bisa dipasang di kapal yang bukan produk Amerika maupun Prancis. Sebagai contoh korvet kelas Fatahillah yang buatan Belanda dapat dipasang Exocet dan kapal tempur ringan kelas Keris buatan Korea Selatan juga bisa dipasang rudal yang sama. Karena bertumpu pada keunggulan kecepatan dan kapasitas hulu ledak, rudal Rusia yang berukuran besar mengesampingkan gerakan manuver seperti sea skiming sehingga apabila pertahanan anti rudal kapal perang yang menjadi targetnya dalam keadaan sangat siap, rudal tersebut bisa dirontokkan di udara seperti yang dilakukan AL Israel pada Pertempuran Yom Kippur tahun 1973 yang sukses menghadang 45 serangan rudal Styx.

    Prospek Yakhont

    Selama ini produk rudal anti kapal Rusia untuk memenuhi kebutuhan angkatan laut domestiknya dan angkatan laut negara – negara yang menjadi sekutunya serta negara – negara yang telah menjadi pasar tradisionalnya seperti India, Cina, Korea Utara dan sebagian kecil negara Arab. Ketika Perang Dingin berakhir, suplai senjata untuk militer Rusia semakin terbatas, sedangkan industri pertahanan yang selama ini bergantung pada pemerintah harus diprivatisasi dan masuk pada pasar terbuka. Kondisi ini justru memacu kemandirian industri militer Rusia dan berpeluang bersaing dengan negara – negara Eropa Barat. Rusia berhasil melebarkan pasar pesawat tempur dan kendaraan tempur yang secara tradisional menjadi lahan negara – negara Barat seperti pengiriman BMP-3 ke Korea Selatan dan pesawat tempur seri Sukhoi dan Mig ke beberapa negara Asia.

    Sampai saat ini industri rudal angkatan laut Rusia harus mengakui keunggulan Eropa Barat, Amerika Serikat dan Cina. Rudal Cina meskipun meniru produk Rusia namun laku dipasarkan di sejumlah negara Asia seperti Thailand, Bangladesh, Pakistan, dan Korea Utara. Sedangkan satu – satunya negara yang selama ini masih setia mengakusisi berbagai rudal anti kapal Rusia adalah India. Sejak pertengahan dekade 1980-an, Industri persenjataan Rusia merancang rudal anti kapal yang bisa dipasang di setiap jenis kapal perang secara modular tanpa menjadi satu paket dengan kapal yang membawanya. Rudal tersebut adalah SS-N-22 Moskit, SS-N-25 Uran dan SS-N-26 Yakhont. Kemampuan manuver ketiga jenis senjata penghancur kapal ini menyerupai Exocet,yakni mampu terbang rendah secara seaskiming 3-6 meter di atas permukaan laut.

    Rudal Moskit yang mampu menjangkau sasaran sejauh 120 km dan berkecepatan 2 kali kecepatan suara dikhususkan untuk dipasang di kapal tempur menengah ke atas seperti fregat, perusak dan penjelajah. Pihak Barat menyebut rancangan industri Raduga Design Bureau ini dengan nama Sunburn dan dijuluki sebagai pembunuh kapal induk ( carier killer). Rusia berhasil memasarkan rudal ini kepada India dan Cina. AL India memasangnya di fregat kelasDelhi dan Perusak klas Souvremany. Sedangkan Cina menempatkannya pada kapal perusak klas Souvremeny.

    Industri senjata Rusia lainnya yakni Zvesda-Strela berhasil menciptakan rudal jelajah SS-N-25 Uran yang bisa dipasang di kapal – kapal tempur ringan hingga jenis korvet. Kecepatan rudal ini jauh lebih rendah dari Moskit sekitar 0,7 mach, namun memiliki jarak jelajah yang lebih jauh yaitu sekitar 130 Km. Rusia berhasil memasarkannya ke Cina dan Vietnam. AL Cina memasangnya di kapal fregat klas ,sedangkan AL Vietnam memasangnya pada fast attack craft klas terbarunya.

    Rudal terbaru Rusia adalah SS-N-26 Yakhont buatan industri Mashinostroyenia yang memiliki keunggulan teknologi dan posturnya. Rudal ini mampu terbang dengan kecepatan 2,5 mach, berdaya jelajah 120 Km, dan melesat pada ketinggian 15 Km serta bermanuver pada ketinggian seaskiming. Lebih dari itu rudal ini memiliki peralatan Electronic Counter-Counter Measure (ECCM) sehingga tidak mudah ditaklukkan oleh peralatan pengecoh rudal seperti Jamming, chaff, maupun Decoy. India bersiap membeli rudal ini, dan saat ini Rusia mendekati Indonesia untuk dapat memasarkan rudal yang juga dipasang di pesawat tempur atau instalasi pertahanan pantai ini. Tampaknya Indonesia memberikan lampu hijau terhadap tawaran ini, dan apabila pembelian itu teralisasi berarti Rusia berhasil mendapatkan pasar rudalnya yang telah lama lepas. TNI AL mempensiunkan kapal cepat berpeluru kendali klas Komar berikut rudal lagendaris SS-N-2 Styx pada akhir dasa warsa 1970-an.

    Sumber: Naval Force &Jane’s Fighting Ship 2003-04

     
  • 11:46:54 pm on April 28, 2009 | 0 | # |

    (AKHIR KEKUASAAN HINDIA-BELANDA) Penulis: Adi Patrianto S. Dalam perang di dunia modern, negara manapun juga tidak akan bisa menang tanpa angkatan laut yang superior (P.K. Ojong, 1:1). Pendapat tersebut sangat relevan jika menyimak bagaimana Kekaisaran Jepang membangun Angkatan Laut Kekaisarannya (Nihon Kaigun) mhrms-java-dibom-pswt-japsenjadi sebuah kekuatan yang menakjubkan dan modern sejak menjalankan Politik Pintu Terbuka di Era Meiji tahun 1868. Kemudian untuk menambah kedigdayaan armada kapal perangnya, Jepang juga membangun skuadron pesawat tempur yang mampu memberikan dukungan penuh bagi operasional AL, baik untuk pengintaian, penyerangan maupun angkut. Untuk itulah, AL Jepang “berguru” ke Amerika Serikat, Inggris dan Jerman, sehingga berhasil melakukan proses alih-teknologi dengan membuat pesawat tempur dan pembom yang mampu take-off – landing dari/ke atas kapal perang. Tidak hanya itu, Jepang juga berhasil merancang sendiri di dalam negerinya kapal induk pengangkut pesawat (aircraft carrier), berbagai tipe kapal selam dan kapal perang permukaan berbagai ukuran. Namun seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi keangkatanlautan tersebut, kelompok ultra-nasionalis Jepang yang di pertengahan kurun waktu 1930-an berhasil mendominasi pemerintahan dan kehidupan sosial masyarakat di Jepang. Semua itu berujung pada bangkitnya semangat ekspansionis Jepang. Setelah berhasil menaklukkan Manchuria, Semenanjung Korea dan sebagian Cina, Jepang mulai melirik kawasan Asia Tenggara bagian selatan yang kaya hasil alam, terutama minyak, yang sangat dibutuhkan industri mesin perangnya. Guna memuluskan rencananya tersebut, Jepang terlebih dahulu harus mengeliminir kekuatan Amerika Serikat, Inggris Australia dan Belanda di Pasifik serta Asia Tenggara. Ketika perang dimulai, 4 negara seteru Jepang di Asia Tenggara kemudian bergabung dalam Sekutu atau ABDA (America, British, Dutch, Australia). ABDA dipimpin oleh Jenderal Sir Archibald Wavell (Inggris), sementara sebagai Komandan Armada Gabungan adalah Admiral Conrad Emil L. Helfrich (Belanda). Untuk menguasai kawasan selatan, Jepang mengandalkan kekuatan armada kapal perang, yang terdiri atas kapal induk, kapal tempur, destroyer bertorpedo dan kapal selam, serta didukung penuh oleh skuadron udara yang berpangkalan di kapal induk. “Gebukan” pertama AL Jepang terhadap Sekutu diawali dengan membombardir Pangkalan Armada Pasifik Amerika di Pearl Harbor, Hawaii, tanggal 8 Desember 1941. Setelah melumpuhkan Armada Pasifik, bala tentara gabungan Jepang serentak bergerak menguasai kawasan selatan dengan menggelar Operasi Octopus (Gurita) yang terbagi dalam 2 kolom, yaitu Gurita Timur dan Gurita Barat. Gerakan Gurita yang bertujuan merebut Hindia Belanda dipimpin langsung oleh Rear Admiral Takeo Takagi. Ekspansi Jepang tersebut kemudian dihadapi oleh Sekutu dengan mengerahkan armada kapal perangnya yang berpangkalan di Asia Tenggara, sehingga kemudian meletuslah Pertempuran Laut Jawa pada tanggal 27 Februari 1942 yang akan menjadi penentu nasib Sekutu di Asia Tenggara (kecuali Australia). Jawa -“Benteng Alamo” Asia Tenggara Gurita Timur dalam gerakannya untuk menguasai wilayah selatan, menjadikan Pulau Jawa, Markas Komando ABDA di Pasifik Barat dan sekaligus pusat pemerintahan Kolonial Hindia Belanda (sekarang Indonesia, red), sebagai sasaran utamanya. Menyusul sukses meluluh-lantakkan Armada Pasifik Amerika di Pearl Harbor, memasuki paruh awal tahun 1942, AL Kekaisaran Jepang terus merangsek ke wilayah selatan seolah tanpa hambatan berarti. Kejatuhan Singapura yang disusul oleh Kalimantan dan Sulawesi seolah menjadi penanda akan berakhirnya riwayat Sekutu di Asia Tenggara. Dalam menghadapi ancaman serangan dan pendaratan amfibi pasukan Jepang, Sekutu berencana menghadang musuh di perairan Laut Jawa, tepatnya di depan Pulau Bawean. Di atas kertas, seolah perimbangan kekuatan antara 2 pihak yang bermusuhan tersebut, nampak tidak banyak perbedaan. Namun ada beberapa nilai tambah yang dimiliki pihak Jepang, yaitu diperkuat sejumlah pesawat pengintai, kompak, daya jangkau tembakan meriam kapal penjelajahnya lebih jauh dibandingkan penjelajah Sekutu, personilnya bersemangat tinggi dan terlatih, adanya keseragaman bahasa dan kode, serta yang terpenting seluruh kapal perangnya dipersenjatai dengan torpedo. Sementara Sekutu tidak diperlengkapi pesawat intai, lalu kapal perang yang dipersenjatai torpedo hanya 2 yaitu HMS Exeter (Inggris) dan HMAS Perth (Australia), yang terparah tidak ada keseragaman kode serta penggunaan 2 bahasa: Inggris dan Belanda. Semua itupun masih harus diperumit dengan adanya friksi diantara komando Sekutu sendiri, seperti nasib Admiral Thomas C Hart Komandan AL Amerika di Pasifik Barat yang semua perintahnya diabaikan oleh para komandan Belanda, hanya karena tidak senang orang Amerika memimpin perang laut di wilayah Belanda. Sehingga akhirnya Helfrich dengan inisiatif pribadi langsung mengambil-alih komando Armada Gabungan Sekutu di Hindia-Belanda. Adanya ketidak-kompakan diantara pimpinan teras Sekutu kian kentara, ketika Jenderal Wavell menarik mundur seluruh kekuatan Inggris dari Hindia Belanda ke Australia. Pertimbangan jenderal tua veteran Perang Dunia I tersebut, adalah Jawa sudah tidak akan mungkin dipertahankan lagi, apalagi sebagian besar Asia Tenggara sudah ada dalam cengkeraman Jepang. Ditambah lagi, pertahanan Sekutu di Pasifik Tengah, Timor dan Papua sudah kian kocar-kacir yang mengakibatkan posisi Australia menjadi “sangat berbahaya”. Tindakan Wavell kemudian diikuti oleh Jenderal Brereton, Komandan AU Amerika di Pasifik Barat, yang juga memerintahkan penarikan seluruh kekuatan udara Sekutu. Seluruh kekuatan pertahanan Sekutu (ABDA) akan dipusatkan di Australia, sebagai benteng terakhir. Meskipun demikian Sekutu, masih meninggalkan beberapa kapal perang tua dan segelintir pesawat tempur untuk mempertahankan Jawa. Keputusan ABDA tersebut kontan memancing kemarahan pihak Belanda yang merasa dikhianati rekan-rekannya sendiri. Akhirnya semua komando ABDA di Jawa diambil-alih oleh perwira-perwira Belanda. Sekutu telah kalah sebelum bertempur, sementara dua Gurita Jepang terus bergerak mengepung Jawa dan menjadikannya mirip dengan nasib Benteng Alamo di Texas, Amerika, tahun 1836. Saat itu, para pejuang Texas yang mempertahankan Alamo dibiarkan berjuang sendirian, karena pasukan induknya lebih memilih bertahan di sekitar perbatasan Texas (Koloni Mexico)-Amerika, walaupun pasukan Mexico yang berjumlah lebih besar mengepung benteng tua tersebut. Semua itu didasari pandangan bahwa mempertahankan Jawa adalah sia-sia dan hanya akan mendatangkan kehancuran total bagi Sekutu di Pasifik. Bertahan di Australia dipandang jauh lebih rasional dan lebih aman untuk mendatangkan bantuan dari Amerika. Een Mooie Zeeslag Setelah sepenuhnya memegang komando, Belanda bermaksud melakukan peperangan laut terakhir dan menentukan di Laut Jawa dengan mengerahkan seluruh armada Sekutu yang tersisa di Pulau Jawa. Tampaknya Helfrich bermaksud menunjukkan kepada Komando ABDA, bahwa Belanda masih memiliki kehormatan untuk bertempur hingga titik akhir ketimbang melakukan gerakan mundur, sebagaimana yang dilakukan Sekutu di tiap front. Armada Sekutu yang dikerahkan untuk mencegat Gurita Timur Jepang dipimpin oleh Schout Bij Nacht Rear Admiral Karel Willem Frederik Marie Doorman. Kapal perang yang dikerahkan antara lain: Belanda (Penjelajah Ringan Hr. Ms. De Ruyter dan Hr. Ms. Java, Destroyer Hr. Ms. Kortenaer, Hr. Ms. Evertsen dan Hr. Ms. Witte de With), Amerika-US Destroyer Division 58 (Penjelajah Berat USS Houston, Destroyer USS John D. Ford, USS Pope, USS Paul Jones, USS John D. Edwards dan USS Alden), Inggris (Penjelajah Berat HMS Exeter, Destroyer HMS Electra, HMS Jupiter dan HMS Encounter) dan Australia (Penjelajah Ringan HMAS Perth). Selain itu, juga diperkuat oleh sejumlah pesawat tempur jenis Buffalo Brewster dan Glenn Martin. Sebagai kapal bendera adalah Hr. Ms. De Ruyter. Armada Sekutu tersebut harus menghadapi Gurita Timur pimpinan Rear Admiral Takeo Takagi, Penakluk Filiphina, yang ditugaskan untuk menundukkan Jawa. Armada Jepang terdiri atas Penjelajah Berat Nachi dan Haguro, Penjelajah Ringan Naka dan Jintsu, serta diperkuat 14 Destroyer. Sebagai kapal bendera adalah Nachi. Sementara itu untuk mendukung pengintaian juga diperkuat dengan sejumlah pesawat intai dan untuk pendaratan amfibi disertakan sejumlah kapal angkut pasukan. Armada Jepang tersebut mendekati Jawa melalui Selat Makassar dan terus bergerak mendekat ke Pulau Bawean. Sesungguhnya jauh sebelum kedua kekuatan tersebut bertemu, pihak pemenang seolah telah digariskan oleh takdir. Sebagaimana telah disampaikan di awal, kelemahan terbesar pihak Sekutu dalam menghadapi tekanan Gurita Jepang di Hindia Belanda, adalah adanya ketidak-kompakan komando diantara anggota ABDA serta ketidak-imbangan kekuatan di lapangan. Hal tersebut tampak kian nyata saat menjelang pertempuran terjadi. Armada ABDA pimpinan Karel Doorman berangkat dengan kondisi tergesa-gesa, tanpa persiapan matang dan tanpa perlindungan udara yang memadai. Dengan bermodal semangat membara mempertahankan wilayah terakhir Koloni Hindia Belanda, Karel Doorman memerintahkan armadanya berlayar sejak tanggal 25 Februari 1942. Namun, musuh yang dicari-carinya belum dijumpainya karena masih terlalu jauh. Setelah 2 hari penuh berlayar tanpa henti, akhirnya Armada Sekutu tersebut bermaksud kembali ke Surabaya untuk beristirahat pada pukul 09.30 pagi. Namun sebelum rencana tersebut terlaksana, Admiral Helfrich, yang telah mendeteksi kedatangan Armada Gurita Timur di Laut Jawa sejak fajar tanggal 27 Februari 1942, memerintahkan untuk kembali ke sebelah timur Bawean. Menyadari kondisi anak-buahnya yang telah kelelahan dan bahan bakar yang menipis, perintah tersebut sempat diabaikan oleh Doorman yang tetap memerintahkan armadanya terus bergerak ke Surabaya. Pukul 15.00, Helfrich kembali memerintahkan Doorman untuk mencegat musuh yang telah mendekati sebelah timur Pulau Bawean. Akhirnya, tanpa sempat beristirahat, Doorman terpaksa memerintahkan armadanya berputar arah menghadang musuh yang kondisinya lebih segar dan tengah “mabuk kemenangan”. Akhirnya, dua kekuatan tersebut bertemu di sekitar perairan Teluk Banten pada tanggal 27 Februari 1942 pukul 16.16. Guna melindungi diri dari gempuran kapal-kapal penjelajah Sekutu, Jepang kemudian memasang tabir asap dan sempat membingungkan Armada Sekutu yang tidak dapat mengoreksi akurasi tembakannya. Sebaliknya, Armada Jepang tidak sedikitpun terganggu, karena sebelum pecah pertempuran telah meluncurkan 3 pesawat intainya yang berbasis di kapal induk mereka sehingga dapat mengoreksi tembakannya. Pesawat-pesawat tempur Sekutu sempat memberikan bantuan dengan melakukan serangan udara atas kapal-kapal angkut Jepang, namun ironisnya tak ada yang berpikir untuk menghalau pesawat intai Jepang. Penjelajah HMS Exeter yang terlebih dahulu kena hajar torpedo hingga rusak, bermaksud kembali ke Surabaya. Ironisnya, tindakan Exeter tersebut disalah-artikan sebagai manuver pertempuran, akibatnya formasi menjadi kacau. Doorman yang melihat kondisi tersebut, mengeluarkan perintahnya yang terkenal: “Ik val aan, volg mij!” (Saya menyerang, ikuti saya). Namun, perintah tersebut sudah terlambat. Bagaikan masuk perangkap sitting duck, satu demi satu Armada Sekutu dihabisi Jepang. Agar menyelamatkan satuan kapal angkutnya dari incaran kapal-kapal Sekutu, Armada Jepang bermanuver ke arah barat dan langsung dikejar oleh Doorman. Di tengah kegelapan malam, pesawat Jepang melepaskan peluru suar yang menyinari posisi kapal-kapal Sekutu, sehingga Armada Jepang dengan leluasa menembakinya tanpa mendapat balasan berarti. Menyadari posisinya yang tidak menguntungkan, Doorman bergerak ke arah timur (perairan Tuban) yang celakanya justru masuk ke ladang ranjau Sekutu sendiri. HMS Jupiter menjadi korban ranjau Sekutu dan tenggelam. Setelah berhasil menjepit sisa-sisa Armada Doorman, Penjelajah Nachi dan Haguro melepaskan hujan torpedo ke arah De Ruyter, Java dan Perth. Kontan De Ruyter (berikut Doorman) dan Java tenggelam, sementara Perth dengan terseok-seok berhasil lari ke Tanjung Priok. Sementara itu, Exeter dan Encounter ditenggelamkan tanggal 28 Februari. Lalu, Witte de With diledakkan sendiri oleh Belanda di Pelabuhan Surabaya. Pertempuran terus berlanjut hingga tanggal 1 Maret malam. Sisa Armada Sekutu, yaitu Pope, Houston dan Perth dihabisi di Selat Sunda. Sementara itu, Alden, Ford, P. Jones dan J. Edwards berhasil melarikan diri ke Australia. Di pihak Jepang, tak satupun yang tenggelam. Pertempuran laut ini, oleh Helfrich dikenangnya sebagai Een Mooie Zeeslag is het niet geweest (Itu adalah pertempuran laut yang tidak bagus). Tertunda Satu Hari Penghadangan Armada Karel Doorman terhadap konvoi Gurita Timur Jepang di perairan Laut Jawa memang tidak menimbulkan kerugian besar bagi Jepang. Namun pengorbanan Doorman berhasil menunda kejatuhan Pulau Jawa 1 hari dari jadwal yang telah ditarget oleh pihak Jepang. Hindia Belanda sendiri menyerah kepada Jepang pada tanggal 9 Maret 1942 di Kalijati, Jawa Barat. Pada Pertempuran Laut Jawa 27 Februari 1942, diantara 2.300 prajurit Sekutu yang gugur terdapat sejumlah pelaut keturunan Indonesia (pribumi). Di Hr. Ms. De Ruyter saja diperkirakan ada 74 pelaut yang gugur di tempat dari 108 pelaut pribumi. Para pelaut pribumi tersebut rata-rata bertugas sebagai inheemse matroos, stoker dan inheemse jongen.

     
  • 11:48:03 pm on Januari 12, 2009 | 0 | # |

    kri-layang-tembak-c-802

    Berangkat dari tekad untuk lepas dari ketergantungan akan pasokan rudal jelajah anti kapal dari Uni Soviet, salah satu lembaga riset militer RRC berupaya membuat rudal sejenis. Disain produk awal masih mengacu pada disain P-15 Termit. Kemudian muncul beberapa tipe rudal yang telah mengadopsi disain Barat. Dengan mengacu pada disain Exocet dan Harpoon, RRC melansir YJ-8. Hasil pengembangan YJ-8 kini dipakai AL dan AU RRC serta beberapa negara di Asia.

    Sebagai salah satu kekuatan bahari yang diperhitungkan di Asia, Angkatan Laut Republik Rakyat China (AL RRC) baru mengenal sistem senjata peluru kendali jelajah anti kapal perang permukaan saat mereka mengadopsi rudal P-15 Termit buatan Uni Soviet pada awal dekade 1960-an. Karena tak ingin selalu bergantung pada pasokan senjata dari induk semangnya, RRC lantas berusaha membuat sendiri berbagai senjata dari Uni Soviet termasuk rudal P-15. Lewat riset selama empat tahun, tim perancang dari Pabrik Pesawat Nanchang berhasil membuat rudal SY-1 pada medio dekade yang sama. Inisial SY adalah kependekan dari kata Shang You (Hulu). Pekerjaan pembuatan SY-1 masih dibawah arahan Biro Perancang MKB Raduga selaku empunya disain P-15. Sebagian suku cadang SY-1 pun masih dipasok oleh pabrikan P-15.
    Niat RRC untuk sepenuhnya lepas dari ketergantungan akan pasokan senjata dari Uni Soviet seolah menemui pembenaran saat Negeri Tirai Bambu itu terlibat konflik ideologi dengan Negeri Beruang Merah pada tataran yang serius (1969). Akibatnya, hubungan Beijing – Moskwa merenggang. Buntutnya, pasokan senjata berikut suku cadangnya dari Moskwa ke Beijing macet. Sadar jika mantan induk semangnya sementara waktu tak lagi sudi memasok senjata, RRC lantas mengerahkan seluruh lembaga riset militernya untuk mengembangkan berbagai sistem senjata warisan Uni Soviet. Khusus untuk rudal anti kapal, acuan disainnya memang masih berkutat pada disain P-15 dan SY-1. Baru setelah mesin penggeraknya diganti dari tipe yang berbahan bakar cair menjadi yang berbahan bakar padat disertai rekayasa sistem kendali elektroniknya, SY-1 dapat menjelma menjadi SY-2 yang lebih enteng, lebih ramping dan berjangkauan jelajah lebih jauh.
    Ternyata AL RRC masih merasa tak puas dengan kinerja SY-2. Mereka lalu menunjuk CHETA (China Hai Ying Electro-Mechanical Technology Academy) untuk melanjutkan riset penelitian dan pengembangan (litbang) rudal anti kapal asli buatan RRC. Institusi ini dikenal sebagai Akademi Riset Militer Ketiga yang berlokasi di kawasan tenggara Beijing. Tidak butuh waktu lama, CHETA berhasil menelorkan rudal HY. Inisial HY adalah kependekan dari Hai Ying (Elang Laut). Generasi pertamanya punya dua varian. Yakni varian yang berbasis di kapal perang (pihak Barat menamainya CSS-N-2 Safflower) dan yang mangkal di darat (CSSC-2 Silkworm). Generasi kedua, ketiga dan keempat rudal HY sengaja diciptakan dan dikembangkan untuk diekspor. Masing-masing adalah C-201 alias CSSC-3 Seersucker (versi ekspor HY-2), C-301 alias CSSC-6 Sawhouse (versi ekspor HY-3) dan C-401 alias CSSC-7 Sadsack (versi ekspor HY-4).

    Berpaling Ke Barat
    Selain CHETA, ada lembaga riset lain yang juga berupaya melansir rudal anti kapal untuk AL RRC. Di bawah bendera Hongdu Aviation Industry Corporation (HAICO) satu tim teknisi aeronautik berupaya mengadopsi teknologi rudal anti kapal buatan Eropa ke dalam rudal rancangannya. Sejatinya, HAICO merupakan jelmaan dari Pabrik Pesawat Nanchang. Lewat sejumlah kajian, HAICO akhirnya memilih rudal MM-15TT buatan Aerospatiale, Perancis sebagai bahan acuan. Setelah mengutak-atik MM-15TT, tim perancang HAICO akhirnya jadi membesut rudal TL. Inisial TL adalah kependekan dari kata Tian Liong (Naga Langit). Keluarga rudal ini memiliki dua varian, yakni TL-6 dan TL-10. Jika rudal TL-6 untuk melumpuhkan sasaran berbobot 500 – 1.000 ton sementara TL-10 untuk sasaran seberat kurang dari 500 ton.
    Dengan dipasangnya rudal TL-6 dan TL-10 pada sejumlah tipe kapal perang dan helikopter patroli baharinya, RRC berhasil membuktikan kepada dunia jika mereka telah sepenuhnya lepas dari bayang-bayang pengaruh keterikatan emosional dan teknis pada disain senjata buatan Uni Soviet. Kini tiba saatnya mereka mengadopsi disain senjata Barat sebagai bahan acuan dalam kegiatan riset litbang senjata buatan sendiri. Keberhasilan HAICO melansir rudal TL-6 dan TL-10 mendorong CHETA berbuat hal serupa. Mereka lantas menggenjot program litbang rudal anti kapalnya sendiri. Hasilnya, tercipta rudal YJ. Inisial YJ adalah kependekan dari kata Ying Ji (Sambaran Elang). Sejauh ini CHETA telah melansir empat kelompok rudal YJ. Masing-masing YJ-6, YJ-7, YJ-8 dan YJ-12. Predikat si sulung dipegang oleh YJ-8 sedangkan si bungsu oleh YJ-12.
    Jika dibandingkan dengan ketiga ‘adik’-nya, YJ-8 paling sering dipermak. Baik oleh lembaga riset militer RRC maupun negara lain. Dewasa ini ada belasan tipe rudal anti kapal made in China yang diklaim sebagai keturunan YJ-8. Rudal YJ-8 hadir dalam tiga generasi. Generasi pertama merupakan versi baku dan dikenal sebagai YJ-81. Generasi berikutnya adalah YJ-82 dan YJ-83. Ketiganya memiliki belasan varian lokal dan varian ekspor. Namun tak satupun disainnya yang masih mengacu kepada disain P-15. Karena kini hampir semua rudal anti kapal RRC telah mengadopsi disain rudal buatan Barat. Terbukti disain YJ-6 mengacu kepada RGM-84 Harpoon dan YJ-7 pada AGM-65 Maveric. Sementara disain YJ-8 merupakan perpaduan RGM-84 Harpoon dengan MM39 Exocet.

    Sambaran Elang
    Sejarah kelahiran YJ-8 sebenarnya telah mulai sejak masih berupa konsep yang dirancang oleh CHETA pada awal dekade 1970-an. Tujuan kerja proyek ini adalah untuk memenuhi kebutuhan AL RRC akan rudal anti kapal perang berukuran ’kecil’ tetapi berkecepatan subsonik, sanggup melakukan terbang serang (attack flight) pada ketinggian sedikit di atas permukaan laut (sea skimming) dan berteknologi penjejak sasaran nan mutakhir. Pasalnya, spesifikasi teknis dan kinerja rudal HY sudah dianggap kuno.
    Proses perwujudan secara fisik YJ-8 baru dimulai pada medio Oktober 1973. Saat itu CHETA baru berhasil membuat disain motor roket berbahan bakar padat (solid propellant motor rocket). Semula motor roket direncanakan ini untuk dipakai sebagai penghasil tenaga gerak rudal HY-4. Motor roket ini berhasil dibuat pada pengujung 1977. Namun karena petinggi AL RRC memutuskan riwayat hidup rudal HY harus disudahi maka mesin motor roket model baru ini lantas dipakai untuk purwarupa rudal baru, YJ-8. Pembangunan purwarupa YJ-8 rampung pada 1980. Sayang, saat diuji coba sistem kendali luncur dua dari tiga YJ-8 rusak sehingga gagal mencapai sasaran. Akibatnya program litbang YJ-8 kontan dihentikan. Beruntung, atas pertimbangan ‘tertentu’ maka pada awal 1882 program litbang YJ-8 dihidupkan lagi. Pada akhir September 1985 CHETA berhasil melansir YJ-81 setelah berhasil melewati enam kali uji coba penembakan dengan memakai aneka landasan luncur (launch platform). Tiga tahun kemudian AL RRC mulai mengadopsi YJ-81 sebagai salah satu senjata andalan kapal patroli cepat kelas Houdong dan kapal frigat tipe 053H2 (kelas Jianghu 5). Pihak Barat menamainya CSS-N-4 Sardine.
    Semula YJ-8 dirancang hanya untuk mempersenjatai kapal perang. Belakangan CHETA bisa memodifikasi generasi kesatunya, YJ-81, agar juga dapat diusung baik oleh kapal selam (YJ-81Q) maupun pesawat jet tempur (YJ-81K). Tak puas dengan hanya melansir YJ-81, CHETA melanjutkan riset litbang YJ-8 hingga tercipta generasi kedua, YJ-82, dengan jangkauan jelajah yang melampaui jangkauan jelajah YJ-81. Pihak Barat menamai YJ-82 sebagai CSS-N-8 Saccade. Sebagaimana nasib para pendahulunya, YJ-82 juga dimodifikasi agar bisa dipantek di berbagai wahana perang. Kapal perusak tipe 113 (kelas Luhu) dan tipe 051B (kelas Luhai) merupakan kapal perang AL RRC pertama yang dipersenjatai YJ-82.
    Sejauh ini diketahui ada empat varian turunan YJ-82. Masing-masing YJ-82K untuk pesawat tempur (1985), YJ-82Q untuk kapal selam (1987) dan YJ-22 yang berbasis di darat (1988). Kemudian CHETA melangkah lebih jauh dengan menciptakan rudal udara ke darat KD (Kong Di)-88. Rudal ini diusung pesawat jet tempur dan dipakai menggasak sasaran ’besar’ di darat. Kemampuan operasi KD-88 diklaim ‘setara’ rudal jelajah serang darat SLAM (Stand-Off Land Attack Missile) buatan AS dari generasi terbaru. Selain itu, CHETA juga tak lupa mendisain versi ekspor YJ-8. Tentu saja spesifikasi teknis dan kinerjanya sedikit di bawah versi lokal yang dipakai AL RRC. Nama resmi yang disandang versi ekspor ini adalah C-801 (untuk YJ-81) dan C-802 (YJ-82). Kedua versi ekspor ini juga memiliki sejumlah varian. Salah satu varian C-802 yang terbilang cukup ‘spektakuler’ adalah C-802A. Rudal ini pertama kali muncul di depan umum pada acara DSEIE (Defence Systems & Equipments International Exhibition) di Inggris pada September 2005 silam. Kabarnya, jangkauan jelajah C-802A mencapai 180 kilometer !
    Di pasaran rudal anti kapal sedunia, C-801 dan C-802 terbilang cukup laris. Mulai dari Korea Utara, Iran, Pakistan, Bangladesh, hingga Myanmar dan Muangthai telah memiliki berbagai varian C-801 dan C-802. Sejak 1991 hingga 1996 Iran kabarnya berhasil memperoleh sedikitnya 60 unit C-802. Jumlah itu hanya 40 persen dari total pesanan C-802 Iran kepada RRC. Pengiriman C-802 ke Teheran terhenti setelah AS menekan RRC agar membatasi jumlah C-802 yang dijual ke Iran. Karena merasa upayanya mendapatkan rudal anti kapal dalam jumlah besar gagal akibat dijegal AS, maka Iran lantas menggandeng Korea Utara guna meningkatkan derajat akurasi perkenaan sasaran C-802 lewat upaya rekayasa kemampuan alat pemandu jelajahnya (1999). Sedemikian kondang reputasi C-802 sehingga AL Muangthai sampai rela mempensiunkan jajaran C-801-nya untuk digantikan dengan C-802 yang bertengger di geladak keempat kapal frigat tipe 053HT yang juga buatan RRC.
    Pada pengujung dekade 1990-an, CHETA melansir generasi ketiga YJ-8, yakni YJ-83, dengan jangkauan jelajah hampir dua kali lipat jangkauan jelajah YJ-82 (180 – 250 kilometer). Kelebihan YJ-83 lainnya adalah ia dilengkapi antena penerima data perihal kondisi sasaran yang tidak ada di hadapan mata wahana pengusungnya. Data ini dipasok oleh pesawat terbang atau helikopter pengamat bahari (maritime surveilance aircraft). Berkat pasokan data dari luar ini, YJ-83 dapat menjangkau sasaran yang berada di balik garis cakrawala (over-the-horizon attack capability). Rudal YJ-83 memiliki dua turunan, yakni YJ-83K (rudal anti kapal yang diusung pesawat tempur) dan YJ-85 (rudal serang darat yang diusung pesawat tempur) berikut satu versi ekspor (C-803). Rudal jelajah supersonik ini pertama kali muncul di depan umum pada parade hari nasional RRC 1 Oktober 1999. Perangkat pemandu dan sistem terima-olah data YJ-83 lebih baik dibandingkan YJ-82. Alat penentu ketinggian jelajahnya juga telah diremajakan. Kapal perang pertama yang dijadikan tempat uji coba kinerja YJ-83 adalah kapal frigat tipe 053H3 (kelas Jiangwei). Setelah beberapa suku cadang perangkat lunaknya dimoderenisasi, YJ-83K kini dipakai pada hampir semua pesawat terbang dan helikopter patroli bahari AL RRC.
    Saat ini berbagai anggota keluarga rudal YJ-8 dari varian ekspor tengah gencar dipasarkan oleh CPMIEC (China National Precision Machinery Import & Export Corporation) di seluruh penjuru dunia.

    Disain Sang Elang
    Bentuk badan (fuselage) seluruh anggota keluarga rudal YJ-8 panjang dan ramping. Panjang badannya 6,39 meter sementara diameternya 0,36 meter. Bentuk hidungnya juga agak bulat. Di sekujur badannya betebaran selusin sirip yang dibagi ke dalam tiga kelompok. Tiap kelompok punya bentuk dan fungsinya sendiri. Tepat di bagian tengah badan rudal terletak empat sirip berbentuk trapesium (persegi empat tanpa sudut siku-siku) berukuran besar. Panjang masing-masing bilah sirip muka 1,53 meter sedangkan lebar rentang antar sisi luar kedua sirip yang berhadapan (wingspan) 1,18 meter. Di belakangnya menyusul empat sirip kendali jelajah permukaan yang lebih kecil. Dan terakhir empat sirip stabilisator arah jelajah di bagian ekor. Pada YJ-81 selusin sirip ini dipasang secara tetap (fixed wing) sedangkan pada YJ-82 dan YJ-83 seluruh sirip dilipat ke dalam badan rudal tatkala rudal masih berada di dalam wadah pengusungnya. Sirip ini baru terentang keluar dari badan ketika rudal telah melesat keluar dari wadahnya. Saat masih berada di dalam wadah, lebar rentang sirip muka sekitar 0,72 meter. Bentuk geometri sirip semacam ini menjadi salah satu indikasi betapa pabrikan rudal RRC telah meninggalkan disain lama lansiran Uni Soviet yang kaku dan berpaling kepada disain rudal Barat.
    Garis besar tata anatomi keluarga rudal YJ-8 adalah sebagai berikut. Radar penjejak sasaran (homing radar) terletak di dalam hidung dan dilengkapi sistem pemandu terminal (terminal guidance radar). Di belakangnya terdapat hulu ledak (war head), perangkat otopilot dan tangki bahan bakar (fuel tank). Pada bagian tengah badan rudal terdapat mesin roket berbahan bakar padat konvensional (untuk YJ-81) atau mesin jet turbo berbahan bakar senyawa kimia turunan parafin (untuk YJ-82). Dengan diaplikasikannya mesin jet turbo maka ukuran badan YJ-82 menjadi lebih besar karena butuh ruang mesin yang juga lebih besar. Alhasil, panjang badan YJ-82 pun bertambah 10 persen. Namun ‘kelemahan’ ini dikompensasi dengan jangkauan jelajah rudal yang mencapai 120 kilometer.
    Tepat di atas ruang mesin ’bersemayam’ keempat sirip muka. Khusus untuk YJ-82, di dekat keempat sirip muka itu terdapat lubang tempat masukan udara (air intake) untuk mendinginkan mesin jet turbo. Sementara bagian belakang rudal tersusun dari wadah solid propellat booster, perangkat catu tenaga listrik (baterai), perangkat vertical gyro dan alat penentu ketinggian jelajah yang bekerja pada gelombang radio (radio altimeter) berikut antenanya. Sesaat rudal telah ditembakkan dan melesat keluar dari wadahnya, maka solid propellant booster akan lepas bersama keempat sirip ekor. Kondisi operasi semacam ini tidak ada pada anggota keluarga rudal YJ-8 yang diusung pesawat jet tempur. Di lain pihak, baik pada YJ-83 maupun pada varian YJ-81 dan 82 lansiran terkini telah dipasangi alat penentu ketinggian yang memakai berkas sinar laser sebagai pengarah (laser altimeter). Tujuannya untuk menghindari sergapan perangkat anti perang elektronik (ECM – Electronic Counter Measures) musuh yang diperkirakan mampu mengacaukan sistem kerja peralatan pemandu jelajah yang beroperasi pada daerah gelombang radio.
    Perangkat penjejak sasaran YJ-8 terbilang cukup modern karena telah mengadopsi sistem pemandu ganda (dual guidance system). Sistem ini telah lebih dahulu diterapkan pada rudal anti kapal Tshiung Feng II buatan Taiwan. Sistem ganda ini memadukan perangkat penjejak sasaran yang mengandalkan citra berkas sinar infra merah selaku pengarah (imaging infra red seeker) dengan perangkat penjejak sasaran yang mengandalkan pola pencitraan obyek yang bekerja pada daerah gelombang televisi. Sistem penjejak sasaran yang berbasis teknologi imaging infra red seeker telah dipakai pada kebanyakan rudal udara ke udara milik AU RRC. Bila perlu, kedua perangkat penjejak ini dapat dipadukan dengan sembarang perangkat penjejak sasaran konvensional yang bekerja pada daerah gelombang radio buatan Barat.
    Hulu ledak yang dipakai oleh YJ-8 adalah dari jenis SAPHE (Semi-Armour Piercing Heat Explosive) yang dilengkapi alat penunda waktu bekerja dari sumbu peledak (time delayed fuze). Beratnya ditaksir 165 kilogram (mencapai 23 persen dari bobot keseluruhan rudal). Bermodalkan hulu ledak yang berkemampuan rusak cukup dahsyat dan dipadu tenaga kinetik cukup besar yang dihasilkan mesin penggerak maka seluruh anggota keluarga YJ-8 diyakini bakal sanggup menjebol dinding kapal sasaran setebal apapun (powerfull warhead). Dalam satu sesi uji coba penembakan, kabarnya salah satu anggota keluarga rudal yang berbobot total sekitar 700 kilogram ini berhasil menenggelamkan sasaran yang berbobot mati 10.000 ton. Dibandingkan para pendahulunya maka peluang perkenaan sasaran (single hit probability) seluruh anggota keluarga YJ-82 memang lebih tinggi. Yakni sekitar 98 persen. Di samping itu, untuk memudahkan pengangkutannya CHETA telah mengembangkan wadah rudal jenis khusus yang merangkap sebagai perangkat luncur. Wadah ini dapat dipakai baik oleh seluruh anggota keluarga YJ-8 berikut masing-masing variannya.

    Kinerja Sambaran Elang
    Kinerja jelajah YJ-8 dapat dipaparkan sebagai berikut. Pada saat rudal telah ditembakkan dan meluncur keluar dari wadahnya dengan sudut elevasi penembakan tertentu (biasanya 30 – 45 derajat), maka secara bertahap solid propellat booster akan terbakar (bekerja). Dalam hitungan beberapa detik kecepatan jelajah YJ-8 secara bertahap akan meningkat. Dari semula Mach 0,0 menjadi hingga Mach 0,9 (setara 956 kilometer per jam). Setelah terbakar habis, solid propellant booster akan segera terlepas dari badan rudal. Kini tiba giliran mesin penggerak untuk bekerja. Dengan dikendalikan oleh sistem otopilot dan radio altimeter berpresisi tinggi, YJ-8 mampu menjangkau sasaran yang berada pada jarak 120 kilometer dengan terbang pada ketinggian jelajah 20 – 30 meter dari permukaan laut (lintasan datar) dan pada kecepatan jelajah Mach 0,8 – 0,9.
    Saat menjelang tahapan akhir dari masa jelajahnya, YJ-8 akan segera mengaktifkan radar penjejak sasarannya agar dapat secara akurat mencari lokasi sasaran. Berkat sistem pemandu berpola pulsa tunggal yang bekerja pada daerah gelombang radio berfrekuensi tinggi ini maka radar penjejak sasaran YJ-8 menjadi lebih kebal dari upaya pengacakan. Dengan kata lain kemampuan anti jamming-nya cukup tinggi. Begitu sasaran yang dituju telah dapat ‘dikunci’ dalam jarak beberapa kilometer, maka secara bertahap ketinggian terbang YJ-8 akan melorot hingga tinggal lima meter dari permukaan laut. Pada saat sasaran yang dituju telah berada dihadapannya, YJ-8 akan segera menukik ke bawah untuk kemudian mencebur ke laut. Tujuannya agar ia dapat menghajar sasaran pada bagian garis air (water line). Sikap jelajah seperti ini diyakini dapat memaksimalkan derajat kerusakan sasaran. Setelah moncongnya berhail menjebol dinding sasaran dan berada di dalamnya maka hulu ledak akan segera meledak disertai kekuatan penghancur yang dahsyat.
    Khusus YJ-83, kabarnya ia telah dilengkapi dengan perangkat lacak sasaran tahap akhir yang merupakan perpaduan antara radar pencitraan berderajat resolusi cukup tinggi (high resolution imaging radar) dengan alat pemandu jelajah yang bekerja dengan bantuan berkas sinar infra merah (infra red guidance system) selaku pengarah. Alat pelacak hasil paduan seperti ini diklaim sanggup menaklukkan semua jenis perangkat pengecoh radar yang dimiliki rudal (flare dan chaff). Apalagi secara fisik kehadiran YJ-8 memang rada sulit dilacak oleh radar kapal perang permukaan yang paling canggih sekalipun. Pasalnya, jejak radar YJ-8 sedemikian kecil hingga sulit dibedakan dengan jejak radar ikan lumba-lumba. Selain itu, perancangnya mengklaim YJ-8 sanggup beraksi pada segala kondisi cuaca.

    oleh : Santoso Purwoadi

     
  • 11:18:02 pm on November 17, 2008 | 0 | # |
    Tag:

    TankVickers-Indonesia“KUDA-KUDA PERANG” TNI DALAM LINTASAN SEJARAH

     

    Penulis : Adi Patrianto Singgih, S.S

     

    Kelahiran kendaraan-kendaraan perang berlapis baja, seperti tank atau panser, tidak terlepas dari eksistensi pasukan gerak cepat yang menakutkan di masa lalu, yaitu pasukan kavaleri. Sejak zaman dahulu, kavaleri merupakan satuan gerak cepat yang mampu bergerak mobil sekaligus berfungsi satuan penyerang pendadakan atau pendobrak yang akan membuka jalan bagi pasukan infanteri. Oleh sebab itu, setiap kesatuan kavaleri selalu dilengkapi dengan kuda, gajah, unta atau kereta perang (charriot). Kavaleri merupakan kesatuan yang fleksibel di masanya, karena selain berfungsi sebagai pasukan tempur juga mampu difungsikan sebagai kesatuan pengintai, pemandu atau penyampai pesan (caraka). Guna menambah kemampuan daya tempur, terutama sekitar Abad Pertengahan, pasukan kavaleri diperlengkapi dengan berbagai jenis pelindung berlapis baja serta persenjataan yang sesuai dengan manuvernya, seperti pedang, tombak atau panah.

    Kecepatan dan kehandalan pasukan kavaleri di masa lalu dalam menghancurkan konsentrasi atau pertahanan musuh diperlihatkan oleh pasukan berkuda bangsa Hun di abad ke-4 serta bangsa Mongol di abad ke-13 saat menguasai Asia dan Eropa. Kehebatan kavaleri kian terkenal ketika berlangsung Pertempuran Waterloo, Belgia, pada tahun 1815. Pada peperangan itu, pasukan kavaleri Perancis yang disebut Curasiere dan Hussars berhasil memporak-porandakan pasukan gabungan infanteri-kavaleri Kerajaan Inggris. Sayangnya, karena tidak memperoleh dukungan dari pasukan infanteri Perancis ketika bala-bantuan bagi Inggris dari Kerajaan Prussia tiba -yang juga didahului oleh kesatuan kavaleri- akhirnya seluruh kekuatan Perancis ditaklukkan dan berakhirlah kekuasaan Kaisar Perancis Napoleon Bonaparte. Namun ketika mulai ditemukannya senapan mesin dan berbagai perlengkapan tempur yang kian canggih di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, keadaan pasukan kavaleri berkuda semakin “merana”.

     

    Pelajaran Berharga Dari Perang Dunia

    Kelahiran berbagai jenis kendaraan berlapis baja terutama diilhami “keoknya” pasukan kavaleri berkuda dalam menghadapi semburan maut dari senapan mesin atau meriam, belum lagi ketika kawat berduri dan berbagai jenis halang-rintang mulai diterapkan di medan peperangan. Pengalaman pahit bagi pasukan berkuda yang paling mencolok adalah ketika berlangsung Perang Amerika-Spanyol di wilayah Amerika Latin dan Philipina serta Perang Sino-Eropa di Cina di akhir abad ke-19. Kedahsyatan senapan mesin pertama, seperti Gatling, tampak dalam keberhasilannya menyapu bersih setiap pasukan berkuda lawan yang akan mendekati posisi pertahanan pasukan infanteri kawan sendiri. Kondisi ini kemudian dipelajari oleh para pakar militer di seluruh belahan dunia, dan akhirnya lahirlah kendaraan-kendaraan lapis baja bersenjata pertama di tahun 1904. Kelahiran kendaraan perang berlapis baja tersebut juga dipacu kemajuan di bidang industri otomotif setelah ditemukannya mesin uap berbahan bakar minyak (petrol).

    Kendaraan lapis baja untuk pertama kalinya dilibatkan dalam pertempuran pada tahun 1911, yaitu ketika Italia menaklukkan Libya. Namun, pada peperangan itu kendaraan lapis baja masih dipersenjatai satu atau dua buah senapan mesin ringan berkaliber 12,7 mm. Peran kendaraan lapis baja atau kavaleri mekanis menjadi sangat menonjol ketika berkecamuk Perang Dunia I (1914-1918) di Eropa. Perang Dunia I tidak saja melahirkan berbagai jenis kendaraan lapis baja bersenjata yang kemudian berkembang menjadi panser atau APC (Armoured Personnel Carrier), namun juga melahirkan ide-ide pengembangan ke tahapan bagaimana menciptakan sebuah kendaraan lapis baja yang mampu membawa persenjataan yang lebih dahsyat seperti meriam atau mortir. Kavaleri mekanis jenis inilah yang kemudian dikenal sebagai “tank”. Kemampuan tank dalam peperangan diuji pertama-kalinya dalam Pertempuran Somme, Perancis, tahun 1917 antara pasukan tank Inggris dengan Jerman. Pertempuran tersebut dimenangkan Inggris. Hasil pertempuran itu menyadarkan para perancang kendaraan berlapis baja, bahwa keunggulan kendaraan lapis baja, baik yang dipersenjatai senapan mesin atau meriam (tank), tidak hanya dipengaruhi banyaknya persenjataan atau besarnya bodi belaka, namun juga kemampuannya bermanuver dan kecepatan dalam bergerak.

    Kavaleri mekanis ini mengalami perkembangan signifikan dan memiliki beragam varian ketika menjelang berkecamuknya Perang Dunia II. Setelah Perang Dunia I berakhir, berbagai kalangan di pemerintahan dan masyarakat menghendaki tidak adanya lagi peperangan besar dan menginginkan dipangkasnya anggaran serta kekuatan militer. Kala itu banyak kendaraan-kendaraan perang peninggalan Perang Dunia yang dialih-fungsikan sebagai sarana angkut atau pengolah lahan-lahan pertanian. Meskipun demikian keberadaan dan peningkatan kemampuan pasukan kavaleri mekanis terus diperjuangkan, dan salah satu penggagas kombinasi kavaleri dan infanteri dalam pertempuran yang terkenal, adalah Kolonel (yang kemudian menjadi Jenderal) Charles De Gaulle, dari Perancis. Namun ironisnya, ide-ide De Gaulle justru dimentahkan oleh bangsanya sendiri, dan yang mengembangkannya serta mengaplikasikannya malah “musuh bebuyutan” Perancis sendiri, yaitu Jerman. Jerman menjelang dimulainya Perang Dunia II berhasil membangun kekuatan kavaleri mekanisnya hingga ke taraf yang sangat mengagumkan untuk era kala itu. Berbagai jenis peralatan perang mekanis berhasil diciptakan oleh para insiyur otomotif Jerman. Yang menarik, adalah untuk pertama kalinya panser angkut personel diciptakan oleh Jerman, sesuatu hal yang pada masa itu belum terpikirkan. Kedahsyatan kavaleri mekanis ini dalam pertempuran terbuka diperlihatkan antara lain oleh Korps Afrika-Jerman dalam Pertempuran Gurun Pasir Libya, Afrika (1941), lalu di Front Timur, Uni Soviet, selama berlangsungnya Operasi Barbarossa (1941) dan terakhir dalam Pertempuran Bulge, Belgia (1944). Meskipun kalah dalam Perang Dunia II, harus diakui Jerman memiliki keunggulan tersendiri dari segi teknis pada “kuda-kuda perangnya”, seperti Tank Tempur Tiger I dan II, King Tiger atau Panther. Sementara itu panser-panser angkut personel Jerman pun cukup mampu memberikan dukungan bagi pergeseran pasukan ke daerah-daerah operasi, seperti Hanomag, Horsch dan sejenisnya.

    Sejak berakhirnya Perang Dunia II, mulailah berbagai negara besar seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Uni Soviet seolah berlomba menciptakan serta mengembangkan berbagai jenis kendaraan lapis baja, baik untuk sekelas Main Battle Tank (MBT) hingga panser intai. Bahkan ketika memasuki era nuklir, dikembangkan pula kendaraan lapis baja yang mampu mengangkut dan menembakkan peluru berhulu ledak nuklir.

     

    Hadirnya Kendaraan Lapis Baja Di Indonesia    

                Bangsa Indonesia sesungguhnya baru “mengenal” kendaraan lapis baja, seperti tank dan panser, justru pada masa-masa menjelang berakhirnya kekuasaan Hindia-Belanda. Hal tersebut dikarenakan masih sempitnya pemikiran para petinggi pemerintahan dan militer Hindia-Belanda dalam penerapan kebijakan-kebijakan strategis di bidang pertahanan dalam negeri Hindia-Belanda (Indonesia). Belanda mengesampingkan berbagai asumsi mengenai kemungkinan invasi Jepang dari utara, karena lebih memilih “mengamankan” berbagai gerakan lokal rakyat Indonesia yang tidak puas dengan kebijakan pemerintah Hindia-Belanda. Dalam benak para petinggi Hindia-Belanda tersebut, untuk “mengamankan” wilayah nusantara yang luas ini cukup dengan mengandalkan kesatuan-kesatuan kavaleri berkuda. Toh menurut mereka yang dihadapi hanyalah sekelompok “inlander” yang primitif dan mudah diadu-domba. Mereka mengabaikan gelombang serangan bala-tentara Kekaisaran Jepang (Dai Nippon) yang sejak tahun 1937 mulai bergerak jauh menuju ke selatan (Asia Tenggara). Hingga menjelang kejatuhannya, militer Hindia-Belanda hanya diperlengkapi dengan mobil-mobil berlapis baja yang dipersenjatai senapan mesin, seperti Lanchaster, Delaunay-Belleville dan Austin-Putinov, seluruhnya produk Inggris, atau truk lapis baja beroda enam L2H143 buatan Krupp-Jerman, AC3D produk Alvis Straussler-Inggris, Marmon-Herrington Mk.3 produk Afrika Selatan serta kendaraan tempur (ranpur) lapis baja produk lokal: Braat. Keengganan pejabat-pejabat Hindia-Belanda untuk merekrut dan melatih personel KNIL (Koninklijke Nederlands Indishe Leger) keturunan pribumi dalam mengoperasikan kendaraan-kendaraan perangnya kian menjadikan kekuatan pertahanan Belanda di nusantara sangat lemah.

                Kekuatan militer Jepang yang mengerahkan gabungan satuan infanteri yang diperlengkapi arteleri medan dan kavaleri lapis baja berhasil “menjebol” semua lini pertahanan Hindia-Belanda hanya dalam waktu singkat. Tidak sampai tiga bulan, kekuasaan Hindia-Belanda “tekuk-lutut” di hadapan para serdadu Kekaisaran Asia Timur Raya, Jepang. Keberhasilan Jepang dalam menaklukkan wilayah-wilayah bekas jajahan “bangsa kulit putih” di Asia Tenggara, seperti Inggris di Burma dan Malaysia, Perancis di Indo-Cina, Belanda di Indonesia dan Amerika di Filipina, tidak terlepas dari kehandalan unit-unit kavaleri lapis baja modern mereka, seperti tank ringan Tipe 92 dan 95 Kyu Go, tank menengah Tipe 1 Chi He dan Tipe 97 Shinhoto Chi Ha, dalam bermanuver di hutan belantara Asia Tenggara. Pasukan kavaleri Jepang juga didukung panser serba-guna jenis Dowa, Osaka Ho Ko Ku-Go 2592, Sumida 2593 serta panser amfibi bersenjata roket Chiyoda 92. Selama menduduki wilayah Indonesia, Jepang yang sejak akhir tahun 1942 mulai “kedodoran” di berbagai front pertempuran, merekrut dan melatih pemuda-pemuda Indonesia untuk membantu militer Jepang membangun pertahanannya terhadap kemungkinan invasi Sekutu. Sebagian dari para pemuda tersebut dilatih mengemudikan berbagai jenis kendaraan lapis baja yang berada di bawah komando Jepang di Indonesia, termasuk unit-unit peninggalan Hindia-Belanda. Para pemuda Indonesia yang telah terlatih –walau sangat singkat- inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal pengawak kendaraan lapis baja ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.

                Pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) oleh pemerintah Indonesia pada tanggal 5 Oktober 1945 tidak serta-merta diikuti pembentukan kesatuan-kesatuan kavaleri, meskipun personel pengawak dan sarananya telah tersedia. TKR sesungguhnya telah berupaya menghimpun dan merebut sebanyak mungkin kendaraan-kendaraan lapis baja dari tangan Jepang yang telah menyerah kalah pada Sekutu sebelum TKR itu sendiri diresmikan pembentukannya oleh pemerintah Indonesia melalui Maklumat Presiden RI No. 6 tanggal 5 Oktober 1945. Berkat andil kesatuan-kesatuan Polisi Istimewa (Tokubetsu Keisatsutai) TKR –yang kala itu masih bernama BKR (Badan Keamanan Rakyat)- pada tanggal 2 Oktober 1945 berhasil membentuk Pasoekan Bermotor yang memiliki 25 unit tank berbagai jenis hasil rampasan dari pasukan kavaleri Kitahama Butai Jepang. Pasukan kavaleri pertama Indonesia ini turut berperan besar dalam pertempuran di Surabaya antara bulan Oktober hingga November 1945.

                Kesatuan kavaleri Indonesia tidak berumur panjang. Hal tersebut dikarenakan kurangnya tenaga personel pengawak yang terlatih dan minimnya suku-cadang. Akibatnya di awal tahun 1946 unit-unit kavaleri TKR tidak lagi mampu berkiprah dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Bahkan banyak “kuda-kuda perang” pertama Indonesia tersebut yang jatuh ke tangan Inggris atau Belanda dalam keadaan utuh karena ditinggal para awaknya yang lebih memilih bergerilya bersama pasukan infanteri lainnya. Tak mau direpotkan dengan harus membawa “harta karun” peninggalan TKR tersebut, Inggris dan Belanda lebih memilih menghancurkannya di tempat. Tidak heran, jika kita sekarang sangat sulit mendapati petilasan panser atau tank kuno yang pernah dioperasikan para pejuang Indonesia selama era Perang Kemerdekaan (1945-1949).

     

    Perkembangan Pasukan Kavaleri Di Indonesia      

                Setelah tercapainya Pengakuan Kedaulatan Negara Indonesia oleh Kerajaan Belanda di akhir tahun 1949, dilakukanlah konsolidasi kekuatan TNI (Tentara Nasional Indonesia) serta melakukan pembenahan-pembenahan organisasi. Hal paling krusial pada kurun waktu antara tahun 1949 hingga 1950 adalah masalah pengintegrasian personel TNI mantan pejuang dengan eks-KNIL dan Veld Politie dalam wadah Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). APRIS sendiri terbentuk sebagai hasil kesepakatan dalam Perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda, yang mensahkan terbentuknya Republik Indonesia Serikat, yang merupakan penggabungan RI dengan negara-negara federal bentukan Belanda. Sebagai imbalan terbentuknya APRIS, dilaksanakanlah serangkaian hibah peralatan militer dari Belanda.

                Salah satu penjabaran dari terbentuknya APRIS, adalah pembentukan satuan kavaleri Angkatan Darat dan Laut RIS (ADRIS/ALRIS). Khusus untuk satuan kavaleri ADRI, meski pucuk pimpinannya dari TNI, namun sebagian besar personel pengawak dan instruktur latihnya berasal dari mantan anggota satuan kavaleri KNIL, VET (Verkennings Eskadron Tank/Eskadron Tank Intai) dan VEP (Verkennings Eskadron Panserwagen/Eskadron Panser Intai). Adapun material kavaleri yang diterima TNI antara lain meliputi panser angkut personel ringan Bren Carrier, panser intai Humber Scout Car Mk. 1-3, M8 Greyhound, truk lapis baja M3A1 Scout Car, tank ringan M3A3 Stuart dan tank berat M4A3 Sherman. Kesatuan kavaleri ADRI terbentuk pada tanggal 9 Februari 1950 (yang kini diperingati sebagai Hari Kavaleri TNI AD) dan serah-terima peralatan kavaleri dilakukan pada tanggal 26 Juli 1950 di Ksatrian OCPT (Opledings Centrum Panser Troepen/Pusat Pendidikan Pasukan Panser) yang kini dikenal sebagai Pusdikkav TNI AD. Selanjutnya sejalan dengan penataan organisasi pada tahun 1959 berdirilah Pusat Kesenjataan Kavaleri TNI AD (Pussenkav). Di lingkungan ALRIS, proses hibah peralatan kavaleri juga dilakukan oleh Koninklijke Marine (Marinir Kerajaan) kepada Korps Komando ALRI (KKO AL). Hanya karena di lingkungan KM, tidak satupun ada personel pribumi, seluruhnya orang kulit putih warga negara Belanda, maka proses peleburan TNI-KNIL tidak terjadi di lingkungan satuan kavaleri KKO AL. Para personel pengawak KKO AL dilatih oleh “mantan musuhnya” di bawah payung program pelatihan Missie Militer Belanda (MMB). Material kavaleri KKO AL yang diterima dari KM meliputi kendaraan pendarat amfibi meriam LVTA (Landing Vehicle Tracked Armoured) 1 dan 4, LVTH (Landing Vehicle Tracked Howitzer), panser amfibi DUKW dan tank berat M4A3 Sherman yang dimodifikasi menjadi tank amfibi. Awalnya kesatuan kavaleri KKO AL masih kekuatan setingkat kompi, yaitu Kompi Tank dan Kompi Amphibious Tractor/Amtrac). Baru diresmikan menjadi Batalyon Tank Amfibi pada tanggal 17 Oktober 1961.

                Walaupun masih dililit kehidupan serba kekurangan dan keterbatasan di bidang sumber-daya material serta manusia, kesatuan-kesatuan kavaleri TNI turut menyumbangkan dharma bhaktinya kepada Bumi Pertiwi tatkala Indonesia dilanda berbagai pemberontakan di dalam negeri antara tahun 1950 hingga 1960, mulai dari Pemberontakan Andi Aziz, APRA (Angkatan Perang Ratoe Adil), DI/TII, PRRI-Permesta dan RMS (Repoeblik Maloekoe Selatan). Diantara berbagai operasi keamanan dalam negeri yang digelar TNI, yang paling memberikan pelajaran berharga adalah operasi penumpasan Permesta (Perjoeangan Semesta) di Sulawesi dan PRRI (Pemerintahan Revoloesioner Repoeblik Indonesia) di Sumatera pada tahun 1957-1958. Disini, Indonesia memetik pelajaran berharga bahwa TNI harus memiliki persenjataan kavaleri yang sesuai dengan tuntutan jaman dan untuk itu harus dilakukan sejumlah pembelian material dari luar-negeri. Kesadaran akan hal tersebut kian mengeras ketika Indonesia mencanangkan Komando Trikora (Tri Komando Rakyat) Pembebasan Irian Barat akibat sikap ngotot Belanda yang ingin tetap bercokol di Irian Barat. Padahal dalam klausul di KMB, Belanda secara bertahap harus mengembalikan wilayah jajahannya kepada Indonesia, termasuk Irian Barat. Guna menandingi Belanda yang menggelar kekuatan militernya di Irian Barat, maka Indonesia bermaksud menggelar operasi militer berskala besar, yaitu Operasi Jayawijaya.

                Dalam rangka persiapan operasi tersebut, Indonesia memboyong ratusan unit kendaraan tempur (ranpur) dari berbagai negara. Pada tahun 1960 TNI AD menerima ranpur beroda ban EBR/FL-11 Panhard dan tank ringan AMX-13 dari Perancis. Di tahun yang sama juga TNI AD kembali menerima ranpur anyar dari Inggris, yaitu Ferret Mk.2/3, VF 601 Saladin dan VF 602 Saracen. Namun Indonesia pengadaan lebih lanjut “kuda-perang” bagi satuan kavaleri mengalami ganjalan dari negara-negara Blok Barat (NATO dan Amerika), pasalnya yang akan dihadapi adalah anggota mereka yaitu Belanda. Kesulitan Indonesia kian bertambah ketika Komando Dwikora yang menentang proses dekolonisasi jajahan Inggris di Semenanjung Malaysia dan Kalimantan Utara dikumandangkan, sehingga memancing reaksi keras dari negara-negara Barat. Oleh karena itulah maka Indonesia mulai “melirik” negara-negara Blok Timur, seperti Pakta Warsawa dan Uni Soviet. Dari Uni Soviet, TNI AD menerima panser roda BTR 40P, BTR 152P, panser intai BRDM dan tank amfibi ringan PT-76. KKO AL menerima panser amfibi angkut personel BTR 50, panser intai BRDM, panser angkut serba-guna KAPA K-61 dan tank amfibi ringan PT-76.

                Namun nasib suram kembali menimpa pasukan kavaleri TNI di akhir dekade 1960-an. Hal tersebut disebabkan adanya embargo persenjataan dan suku-cadangnya oleh Pakta Warsawa, Uni Soviet dan negara-negara pendukung komunisme. Embargo tersebut diterapkan setelah dilakukannya serangkaian operasi penumpasan terhadap Gerakan 30 September (G 30 S) yang dituding terlibat dalam sebuah “gerakan berdarah” pada tanggal 30 September 1965 dan mengakibatkan sejumlah perwira tinggi, menengah dan pertama TNI AD meninggal. Pasca meletusnya G 30 S, TNI-Polri kemudian menggelar sejumlah operasi penumpasan dan penangkapan terhadap para pendukung atau anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) yang diduga mendalangi “gerakan berdarah” tersebut. Tidak hanya itu, pemerintah dan parlemen kemudian menyatakan PKI sebagai partai terlarang dan “mengharamkan” tumbuh kembangnya ideologi komunis di seluruh wilayah Indonesia. Kebijakan itulah yang memancing reaksi keras dari negara-negara penganut dan pendukung ideologi komunis, sehingga akhirnya berujung pada embargo persenjataan. Meskipun dalam kondisi merana akibat embargo dan kesulitan keuangan, TNI tetap berupaya keras agar perangkat-perangkat satuan kavalerinya tetap siap beroperasi. Guna mengatasi keadaan demikian itu, dilakukanlah serangkaian pergantian komponen persenjataan, komunikasi dan mesin utama, pada kendaraan lapis baja eks Uni Soviet. Istilah kerennya “retrofit”.

                Sementara itu di tengah-tengah kondisi ranpur TNI yang serba minim, Indonesia pada tahun 1975 kembali menggelar operasi militer berskala besar di daerah bekas jajahan Portugis, Timor Timur (kini bernama Republik Demokrasi Timor Leste), yaitu Operasi Seroja. Semua itu demi mencegah tidak berkembang-biaknya komunisme di Asia Tenggara. Memang sejak “ditinggalkan” oleh Portugis, Timor Timur atau yang kala itu masih bernama Timor Portugis, tengah dilanda pergolakan hebat antara Fretilin yang berideologi komunis dengan lawan-lawannya yang tidak sepaham. Kesatuan-kesatuan kavaleri TNI AD dan Korps Marinir TNI AL yang terpaksa masih menyadarkan kekuatannya pada ranpur-ranpur antiknya, seperti tank ringan M3A3 Stuart, AMX 13 dan PT-76, turut dilibatkan dalam Operasi Seroja.

                Perkembangan diakhir dekade 1960-an dan awal 1970-an merupakan moment penting bagi eksistensi kesatuan-kesatuan kavaleri TNI-Polri. Kian akrabnya Indonesia dengan negara-negara Barat dan Amerika, mendorong terjadinya penambahan mesin-mesin perang bagi TNI-Polri. Amerika memasok satuan kavaleri TNI AD dengan panser angkut personel bersenjata jenis LAV (Light Armoured Vehicle) 150 Commando dan Commando Scout. Sementara itu, Batalyon Tank Amfibi Resimen Bantuan Tempur Korps Marinir TNI AL kebagian sejumlah ranpur amfibi ringan asal Perancis di dekade awal 1980-an, yaitu AMX-10P/PAC 90. Namun karena sejumlah kendala teknis, ranpur asal Perancis ini jarang dilibatkan dalam operasi militer, Korps Marinir lebih memilih PT-76 sebagai “kuda perangnya”. Memasuki dekade 1990-an TNI-Polri kembali menerima sejumlah ranpur baru dalam rangka memodernisasi kesatuan kavalerinya. TNI AD menerima panser roda ban jenis GIAT VAB, tank intai ringan jenis Scorpion 90 dan APC jenis Stormer dari Inggris, serta Panhard VBL dari Perancis. Sedangkan Polri menerima panser beroda empat jenis Tactica dari Inggris. Korps Marinir TNI AL menerima tank amfibi angkut personel yang juga berfungsi sebagai anti serangan udara jenis BVP-2 dari Slovakia dan panser amfibi angkut personel BTR 50P dari Ukraina.

                Indonesia kembali mengalami kesulitan dalam hal pengadaan material dan suku-cadang baru bagi kesatuan kavalerinya, ketika Amerika dan Eropa Barat menerapkan embargo persenjataan menyusul pecahnya kerusuhan berdarah di Timor Timur pasca jajak pendapat tahun 1998. Jajak pendapat itu sendiri dimenangkan oleh kelompok pro-kemerdekaan Tim-Tim dan memancing reaksi keras dari kelompok pro-integrasi dengan NKRI. Akibat embargo tersebut kinerja satuan kavaleri TNI melorot drastis. Sejumlah ranpur bahkan mengalami penyusutan karena dilakukannya langkah kanibalisasi akibat kesulitan suku-cadang. Nasib satuan kavaleri TNI, terutama yang mengoperasikan tank Scorpion, kian menderita ketika Pemerintah Inggris memprotes pengoperasian produknya tersebut di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam selama berlangsung operasi militer terpadu menumpas GAM pada tahun 2003. Meskipun TNI kesulitan mendapatkan material dan suku-cadang baru dari Eropa Barat atau Amerika, namun upaya pengadaan untuk menutup kekurangan material kavaleri tetap dilakukan. Jika tidak berhasil mendapatkannya dari Eropa atau Amerika, Indonesia melirik negara produsen lain, seperti Republik Rusia, Afrika Selatan atau Korea Selatan, yang tidak menerapkan kebijakan embargo. Pada tahun 2002 Resimen Kavaleri Korps Marinir TNI AL menerima sejumlah panser beroda delapan jenis BTR-80A dari Rusia, lalu Satuan Gegana Korps Brigade Mobil Polri menerima panser jenis Barracuda dari Korea Selatan dan Satuan 81 Gultor Kopassus TNI AD menerima panser jenis Casspir Mk.3 dari Afrika Selatan.

     

    Menuju Kemandirian              

                Di usia yang kini menginjak 60 tahun alias Tahun Berlian, TNI, sejak awal terbentuknya hingga sekarang, terus berupaya untuk menjadi kekuatan pertahanan negara yang mandiri. Belajar dari pengalaman selama ini jika mengandalkan pasokan dari negara lain, maka Indonesia tidak akan pernah dapat mandiri dan mudah didikte oleh bangsa lain. Seperti di masa lalu, ketika terjadi perubahan di dalam negeri yang tidak disukai oleh salah satu bangsa adi-kuasa maka dilakukan embargo persenjataan dan suku-cadangnya. Akibatnya kekuatan pertahanan negara dapat dikatakan nyaris lumpuh, karena sebagian material utamanya tidak dapat lagi berfungsi atau kehilangan fungsi asasinya. Atas dasar itulah maka TNI terus berupaya untuk menjadi kekuatan yang mandiri dalam arti ampu membangun, merawat dan mengembangkan material utamanya dengan tidak menggantungkan diri pada negara lain. 

                Untuk itulah maka TNI dan Departemen Pertahanan RI berupaya menjalin kerjasama dengan sejumlah kalangan akademik serta industri strategis di dalam negeri. Sehingga diharapkan pada akhirnya akan dapat mewujudkan kekuatan pertahanan yang 100 persen made in Indonesia. Bermodalkan pengalaman saat melakukan peremajaan ranpur TNI, beberapa institusi berhasil menciptakan beberapa produk unggulan walau masih terbatas ranpur beroda empat atau enam. PT Pindad mengawali kesuksesan dengan melansir panser angkut personel ringan APR-1 V1. APR-1 merupakan ranpur produk dalam negeri pertama yang dilibatkan dalam operasi militer terpadu di Aceh selama berlangsungnya Darurat Militer guna menggantikan tank Scorpion yang ditarik menyusul adanya protes dari Pemerintah Inggris. Selain itu, PT Pindad juga berhasil melansir panser taktis APR-2 V1 versi polisi yang akan memungkinkan untuk menjadi kendaraan pengamanan VVIP (Very-Very Important Person). Kesuksesan berlanjut dengan dilansirnya panser angkut personel jenis RPP-1 (Ranpur Pengangkut Personel) yang merupakan hasil kerjasama Balitbang Dephan, Bengpuspalad TNI AD dan Fakultas Tehnik Universitas Indonesia. RPP-1 merupakan hasil pengembangan dari BTR-40P retrofit yang dihibahkan TNI AD kepada Korps Brimob Polri. Sementara itu hasil kerjasama PT Pindad dengan BPPT berhasil menciptakan panser angkut personel sedang beroda enam jenis APS 6×6. TNI AD pun tidak mau kalah dengan menciptakan panser sendiri, yaitu Pakci (burung). Konon kabarnya ranpur berbobot 4 ton dan berkapasitas angkut 10 orang ini mampu menabrak hingga ambruk tembok setebal 20 cm tanpa tergores sedikitpun.

                Walau di Tahun Berlian ini Indonesia baru mampu menghasilkan karya cipta mandiri bagi kesatuan kavalerinya berupa panser angkut personel beroda ban, namun semua ini dapat menjadi bukti keseriusan bangsa ini untuk menjadi “tuan rumah di negeri sendiri”. Embargo terhadap pasokan ranpur TNI-Polri selama ini merupakan pelajaran berharga agar Indonesia tidak lagi bergantung pada produksi negara lain, yang pada akhirnya bangsa ini akan kehilangan kedaulatannya. Hilang bukan melalui pendudukan atau penjajahan melainkan secara bertahap melalui penguasaan ekonomi berikut sumberdayanya serta menghilangkan kemampuan dalam mengambil keputusan sendiri. Semoga ke depan, TNI mampu menciptakan “kuda-kuda perang” sendiri yang lebih memiliki daya hancur dan kekuatan pemukul, seperti tank atau panser yang mampu mengangkut dan menembakkan peluru kendali berdaya jelajah tinggi. Jika kita menengok bagaimana industri strategis dalam negeri India mampu melansir tank sekelas MBT jenis Arjun, mungkin kita perlu belajar bagaimana memiliki kekuatan pertahanan negara yang mandiri dan tentunya “memiliki taring” untuk menghalau setiap tindakan yang mengancam kedaulatan bangsa dan negara Indonesia. 

     
Halaman Berikutnya »
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.