Sejarahqu’s Blog

  • 11:23:48 pm on September 14, 2010 | 0

    HMAS Stuart beraksi di Laut Matapan

    Pertempuran malam

    PUPUSNYA IMPIAN IMPERIUM ITALIA

     

     

    (PERTEMPURAN LAUT MATAPAN)

    Oleh Adi Patrianto, S.S.

     Mare Nostrum (Laut Kita) itulah sebutan Diktator Italia Benito Amilcare Andrea Mussolini beserta Partai Fasisnya saat menyebut Laut Mediteranean (Laut Tengah) yang membentang di hadapan Semenanjung Italia. Sebutan tersebut merupakan simbol akan ambisi dan impian Il’ Duce (bahasa Latin, artinya Sang Pemimpin, red), bahwa Italia harus tampil menjadi bangsa superior yang akan membangun Imperium Romawi baru. Sementara itu, bagi AL Kerajaan Italia (Regia Marina/ Royal Italian Navy) sebutan “Laut Kita” tidak sekedar jargon atau slogan politik semata, karena itu berimplikasi sebuah tantangan bagi mereka: mampukah meraih supremasi laut di Laut Tengah?

    Regia Marina sangat mengkhawatirkan superioritas AL Kerajaan Inggris, Si Raja Lautan, di Laut Tengah. Walaupun kekuatan tempur Regia Marina di atas kertas seimbang dengan Inggris, namun kenyataannya AL Inggris menguasai Laut Tengah dan membuat “ngeri” AL Italia untuk tidak coba-coba mencari masalah dengan armada Inggris. Namun masalah tersebut harus dihadapi, jika Italia hendak melebarkan sayap kolonialnya ke wilayah Afrika, sebagaimana ambisi Mussolini. Tantangan kian mengental ketika Adolf Hitler, Der Fuhrer Third Reich (Nazi Jerman), yang juga sekutu dekat Mussolini, mulai mengembangkan sayap kekuasaannya hingga ke kawasan Jazirah Balkan dan Afrika Utara, serta menghendaki Italia membantunya dengan mengeliminir kekuatan armada Inggris di Laut Tengah. Dengan demikian, Jerman dapat dengan mulus menaklukkan Yunani, Yugoslavia hingga Mesir. Kekuatan gabungan Inggris beserta negara-negara Persemakmurannya di Laut Tengah dapat menjadi “batu ganjalan” bagi Hitler dalam upayanya menguasai kawasan tersebut. Hitler sangat membutuhkan bantuan Italia untuk mengamankan Laut Tengah, sehingga penaklukkan Pulau Kreta, Yunani, basis utama Inggris di Mediterania, melalui operasi pendaratan amfibi dapat dilaksanakan tanpa gangguan kapal-kapal perang Inggris. Bagi Jerman, Kreta bagaikan “kapal induk” Inggris yang sangat efektif untuk melancarkan serangan balas dari udara, darat dan laut ke daratan Yunani, Yugoslavia dan Italia, serta dapat menjadi pusat suplay senjata, pusat komando serta konsentrasi gerilyawan anti Pendudukan Jerman-Italia.

    Laut Mediterania: Saksi Supremasi Lautan Inggris.

    Ambisi Hitler untuk menaklukkan Yunani, Yugoslavia dan Afrika bagian utara, tidak terlepas dari kekecewaannya terhadap kegagalan sekutu Italianya di Front Balkan dan Afrika. Pasukan Italia dihancurkan di hampir semua front pertempuran, bahkan pasukan Inggris nyaris mencapai “benteng terakhir” Italia di Jazirah Balkan dan Libya (Koloni Italia di Afrika). Situasi itulah yang akhirnya memaksa Hitler menunda pelaksanaan Operasi Barbarossa untuk menundukkan Rusia dan terpaksa mengerahkan sebagian kekuatan militernya untuk “menyelamatkan” Italia. Meskipun demikian, Jerman memandang Regia Marina masih memiliki kekuatan yang “mumpuni” untuk menghantam AL Inggris di Mediterania. Jerman sangat mengandalkan Italia untuk menghancurkan kekuatan Inggris di Mediterania karena sebagian besar unsur-unsur Kriegsmarine (AL Nazi Jerman) tersedot untuk mengamankan kawasan Atlantik dan Baltik.

    Inggris yang telah mengantisipasi kemungkinan campur-tangan Jerman di Yunani, tidak mau hanya bersikap menunggu saja. Bala bantuan bagi Yunani telah dikerahkan oleh Inggris, sehingga membahayakan pelaksanaan ofensif Jerman-Italia. Keadaan ini memiliki implikasi strategis bagi Inggris, jika Jerman dapat disibukkan di Yunani dan Yugoslavia, maka Inggris dapat membangun kekuatan militernya di Mesir dengan aman untuk waktu yang cukup lama. Menang atau kalah di Yunani bukanlah tujuan strategis Inggris, melainkan pengamanan Mesir, yang merupakan “pintu gerbang” masuknya bala bantuan dari negara-negara Persemakmuran, yaitu Afrika Selatan, India, Arab Saudi, Nepal dan Australia. Selain itu, kawasan Timur Tengah merupakan sumber minyak dan perbekalan tempur yang sangat dibutuhkan Inggris Raya. Untuk itulah, semakin lama Jerman-Italia terhambat di Balkan, maka semakin kokoh pertahanan Inggris di Mediterania. Sementara itu, Jerman memandang kehadiran konvoi-konvoi bantuan Inggris yang mengalir deras ke Yunani dan Yugoslavia, sebagai ancaman nyata, dan bukan Pangkalan AL Inggris di Alexandria, Mesir. Sebuah persepsi keliru. Justru melalui Mesirlah, Inggris dan Amerika kelak di tahun 1943 akan secara sistematis merontokkan kekuatan Nazi Jerman-Fasis Italia.

    Demi menjaga tetap keutuhan kekuatannya di Mediterania, AL Inggris memilih “menyembunyikan” armada utamanya. Pelabuhan Alexandria dijaga secara ketat dengan pertahanan berlapis demi menghindari pengintaian kapal selam, pesawat intai atau mata-mata musuh. Selain itu, kapal-kapal perang Inggris sebagian besar diperlengkapi radar dan pesawat multi-fungsi (intai, penyerang dan pembom ringan). Kemudian untuk meningkatkan kemampuan unsur-unsur intelijen AL Inggris, mereka diperlengkapi pula dengan alat pemecah sandi buatan Inggris: Ultra. Sementara itu untuk memperbesar sumber daya perangnya, Inggris juga menggalang seluruh potensi yang ada di Asia Tengah, Timur Tengah dan Afrika, melalui pembinaan teritorial ke segenap komponen masyarakat. Pendekatan diplomatis dan persuasif juga dilakukan Inggris kepada otoritas Perancis (yang saat itu di bawah Pendudukan Nazi Jerman) di Afrika, suku-suku Bedouin Arab-Afrika termasuk dengan bangsa Yahudi yang tersebar di Timur-Tengah. Inggris secara bertahap tengah menyusun sebuah grand strategy, yaitu menghancurkan seluruh kekuatan Nazi beserta sekutu-sekutunya di Eropa, Mediterania dan Afrika. Untuk itulah, sangat penting bagi Inggris untuk mengamankan posisinya di Timur Tengah dan Mediterania. Memasuki akhir Maret 1941, AL Inggris di Mesir berhasil menata kekuatannya hingga mampu menjamin terciptanya supremasi laut yang sesungguhnya. Sesuatu yang luput dari perhatian Sang Duce dan Fuhrer, karena lebih terpukau dengan kemilau Pulau Kreta dan “Laut Kita”.

    Pertempuran Laut Matapan.

    Kelemahan Jerman dan Italia dalam memprediksi kekuatan Armada Inggris di Laut Tengah akan membawa kehancuran bagi mereka sendiri di kemudian hari. Di antara sejumlah kelemahan tersebut, adalah ketidakmampuan unit intelijen mereka dalam mendata kekuatan Inggris yang tengah berkonsolidasi di Mesir, ketiadaan peralatan radar anti kapal di kapal-kapal perang Regia Marina dan kurang mendukungnya unsur-unsur udara serta laut Jerman selama berlangsung kampanye penguasaan Laut Mediterania.

    Keberhasilan pesawat-pesawat pembom Luftwaffe (AU Jerman) merusak kapal induk Inggris HMS Illustrious pada bulan Januari 1941, digembar-gemborkan kaum propagandis Fasis sebagai keberhasilan melemahkan kekuatan utama Armada Inggris di Mediterania. Propaganda keliru ini ternyata berhasil menyesatkan pandangan para pimpinan Regia Marina akan kekuatan AL Inggris. Laporan intelijen yang menyesatkan kembali diterima dari Luftwaffe pada tanggal 15 Maret, bahwa mereka berhasil merusak hingga lumpuh 2 dari 3 battleship Inggris di Alexandria. Itulah yang meyakinkan Supermarina (Mabes AL Italia) untuk menggelar Operasi Gaudo yang bertugas memotong konvoi bantuan Inggris ke Yunani dan Kreta. Untuk menggelar Operasi Gaudo, Regia Marina mengerahkan 1 battleship terbaru mereka, yaitu Vittorio Veneto, 6 penjelajah berat, 2 penjelajah ringan dan 17 perusak. Sebagai Komandan Operasi ditunjuk Admiral Angelo Iachino yang berkedudukan di Vittorio Veneto. Kesalahan fatal Italia telah tampak di awal penugasannya, yaitu keliru mendeteksi kapal perang Inggris, tidak satupun kapalnya diperlengkapi radar dan yang terparah adanya ketidakpaduan komando di Supermarina. Operasi Gaudo digerakkan tanpa perlindungan sama sekali dari Regia Aeronautica (AU Italia), karena untuk meminta bantuan udara mereka harus meminta izin dahulu ke Mabes AL Italia. Demikian pula untuk meminta bantuan udara dari Luftwaffe, setali tiga uang, alias harus meminta izin dahulu ke Mabes AL. Selain itu juga terdapat friksi dan ketidak-kompakan diantara kesatuan-kesatuan di tubuh Angkatan Bersenjata Italia sendiri. Sesuatu yang sangat fatal dalam pelaksanaan sebuah misi tempur.

    Satuan intel AL Inggris dengan bantuan Ultra berhasil mengetahui bahwa Armada Italia tengah bergerak menuju Mediterania untuk memotong jalur konvoi bantuan ke Yunani. Informasi intelijen ini kemudian diteruskan ke Panglima Armada Inggris di Mediteranian Admiral Andrew Cunningham. Panglima Inggris tersebut segera mengambil langkah-langkah pengamanan, pertama-tama dengan memerintahkan berhenti layar kepada konvoi bantuan yang akan berlayar ke Yunani dari Piraeus dan Alexandria. Kemudian ia juga memerintahkan Komandan Force B Vice Admiral Pridham-Wippell untuk bergerak menuju posisi di barat daya Pulau Gaudo, sebelah selatan Kreta, sebelum tanggal 28 dini hari. Di sini, Armada pimpinan Cunningham (berkedudukan di Kapal Benderanya HMS Warspite) akan bergabung dengan Force B.

    Berbeda dengan Italia, kapal-kapal perang Inggris justru diperlengkapi dengan radar modern dan didukung penuh pesawat-pesawat tempur serta pembom torpedo. Armada Regia Marina bergerak meninggalkan basisnya di Naples tanggal 26 Maret dan membagi kekuatannya menjadi tiga kelompok pada tanggal 29-nya. Pada saat itu, Iachino mendapat laporan dari pesawat intainya bahwa 8 kapal perang musuh tengah mendekatinya pada jarak 50 mil dengan kecepatan 18 knot, yang menyadarkannya bahwa armadanya tengah dikepung oleh kapal perang Inggris. Sayangnya, Iachino tidak mengetahui Inggris telah diperkuat kapal induk baru, yaitu HMS Formidable, 3 battleship, 7 penjelajah ringan dan 17 perusak. Kontak senjata antara Regia Marina dengan Royal Navy Mediteranean Fleet meletus tanggal 28 Maret pukul 08.12 pada jarak 22.000 meter. Melihat kehadiran battleship Italia, Pridham-Whippell memerintahkan satuan Force B-nya untuk berputar arah, memancing musuh mendekati armada utamanya. Muslihatnya berhasil, Iachino yang mengira musuhnya melarikan diri segera mengejarnya. Tanpa disadarinya 6 pembom torpedo jenis Fairey-Albacores dari Skuadron 826 yang beroperasi dari HMS Formidable segera menyerangnya dengan tembakan torpedo.

    Menyadari perangkap Inggris, Iachino tidak ingin kehilangan battleship-nya yang sangat berharga dan memilih melarikan diri. Dalam pelariannya, armada Iachino harus rela “babak belur” dihajar serangan udara bertubi-tubi dari pesawat-pesawat Inggris. Malam pukul 22.00, Force B telah mendekat ke posisi Iachino yang tengah berkonsolidasi. Karena tidak diperlengkapi radar, Italia tidak menyadari kehadiran musuhnya dan seluruh meriamnya dalam keadaan tidak siap tembak. Peluang besar bagi kemenangan pihak Inggris. Akhirnya, pertempuran kembali meletus pada jarak antar kapal hanya 150 yard. Pada malam naas bagi Regia Marina tersebut, Italia harus kehilangan 3 penjelajah berat dan 2 perusak yang tenggelam, battleship-nya rusak parah serta 2.400 pelautnya gugur. Sementara pihak Inggris, hanya kehilangan satu pesawat pembom torpedonya, 4 penjelajah ringannya rusak ringan dan 3 penerbangnya gugur. Sementara itu sisa-sisa kekuatan Regia Marina segera melarikan diri masuk ke Pelabuhan Taranto. Pertempuran laut ini kelak dikenal sebagai Pertempuran Laut Tanjung Matapan atau Italia menyebutnya Pertempuran Gaudo.

    Regia Marina Tidak Ada Lagi!

    Setelah kekalahan telak di Pertemputan Laut Tanjung Matapan (28-29 Maret 1941), Regia Marina benar-benar kehilangan nyalinya untuk melaut sehingga kawasan Laut Mediterania sepenuhnya dikuasai Inggris. Meskipun demikian, kegalauan Hitler atas kegagalan sahabatnya di Front Laut Mediterania sedikit terobati dengan keberhasilan pasukan Nazi Jerman menaklukkan Yunani, Yugoslavia dan Pulau Kreta. Bagi Inggris, dengan telah tersingkirkannya Regia Marina dari Laut Mediterania, dapat sepenuhnya berkonsentrasi pada pembangunan kekuatannya di Afrika dan berhasil mengisolasi sang “Rubah Gurun” Jenderal Erwin Rommel, Komandan Deutsches Afrika Korps, yang menjadi ‘momok” bagi Sekutu (Inggris, Perancis dan Amerika) di Afrika Utara. Pertempuran Laut Matapan menjadi kemenangan terbesar AL Inggris sejak Trafalgar.

     

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: