Sejarahqu’s Blog

  • 07:52:57 am on September 17, 2009 | 0

    Santoso Purwoadianoa_pindad_(gambar_1)

    Berawal dari tekad TNI untuk bisa mandiri di dalam pemakaian setiap alutsistanya, sejumlah badan litbang bidang pertahanan dan pelaku industri strategis di dalam negeri berlomba untuk dapat menciptakan berbagai sistem senjata yang tinggi kandungan suku cadang lokalnya. Khusus untuk ranpur berlapis baja, PT Pindad sukses melansir panser beroda enam APS2 Anoa. Puluhan unit dalam berbagai varian telah dipesan Dephan untuk memodernisasi satuan kavaleri TNI.

     

                Pada 19 – 22 November 2008 lalu, Departemen Pertahanan (Dephan) RI menggelar pameran plus seminar alat pertahanan dan kedirgantaraan bertajuk Indo Defence & Aerospace 2008. Hajatan berskala nasional ini berlangsung di kawasan Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Layaknya dua pameran serupa yang digelar pada 2004 dan 2006, maka kesempatan kali ini ditampilkan cukup banyak peralatan pertahanan hasil karya berbagai badan penelitian – pengembangan (litbang) bidang pertahanan dan para pelaku industri strategis di dalam negeri. Selain tentu saja sejumlah barang buatan pabrikan luar negeri. Beragamnya produk industri pertahanan yang dipamerkan telah membuat hajatan ini disambangi banyak pengunjung dari berbagai kalangan. Mulai dari kalangan awam, para pemerhati perkembangan teknologi militer, praktisi dunia industri pertahanan hingga para personel institusi militer dan kepolisian dalam negeri serta manca negara.

                Dari seluruh produk yang tampil, salah satu barang yang lumayan menyita perhatian pengunjung adalah kendaraan tempur (ranpur) berlapis baja APS2 Anoa. Dengan menyandang nama hewan mamalia asli tanah Sulawesi, ranpur ini sempat unjuk kebolehan dalam berbagai gerak jelajah dan lintas medan berat. Baik pengunjung awam maupun praktisi dunia militer sama-sama tertarik dengan kinerja Anoa. Selain tampilan fisiknya sekilas bak pinang dibelah dua dengan ranpur VAB asal Perancis milik satuan kavaleri TNI, Anoa juga membuktikan dirinya mampu mendaki bidang miring dengan kecepatan tinggi dan meloncati parit yang derajat kemiringannya cukup terjal. Para pengunjung tambah jatuh hati tatkala beberapa darinya diajak naik Anoa dan dibawa berputar mengelilingi lapangan tempat Anoa dipajang. 

     

    Kebutuhan mendesak

                Kehadiran Anoa ini tentu bukan sekadar untuk pasang aksi tebar pesona. Ranpur ini didatangkan dari pabriknya yang berlokasi sekitar 100 kilometer dari Bandara Halim Perdanakusuma semata untuk menunjukkan kepada publik akan salah satu keberhasilan PT Pindad di dalam upaya menyediakan alat utama sistem senjata (alutsista) yang spesifikasi teknisnya sesuai nilai baku TNI namun harganya relatif terjangkau. Di saat laju keuzuran alutsista TNI kian tak terbendung dan niat untuk menggantinya dengan alutsista baru terkendala oleh minimnya anggaran belanja pertahanan RI, maka kehadiran Anoa bisa menjadi solusi yang efektif dan tepat waktu Apalagi pemerintah RI memang telah bertekad agar TNI dan Polri sedapat mungkin lebih banyak memakai produk indutri pertahanan buatan lokal. Maka hal itu membuat kehadiran Anoa memiliki landasan politis yang kuat.

                Kehadiran Anoa di tengah kancah alutsista RI menjadi obat rasa dahaga bagi satuan kavaleri TNI yang sejak lama memang telah mendambakan hadirnya sebuah ranpur buatan lokal yang spesifikasi dan konstruksinya cocok dengan postur tubuh dan ‘kebiasaan’ prajurit TNI. Selama ini para personel satuan kavaleri TNI kerap terpaksa harus menyesuaikan dirinya dengan kondisi ranpur buatan luar negeri yang spesifikasinya kerap tidak cocok dengan kebutuhan mereka. Biaya perawatan dan harga suku cadang yang kelewat tinggi (juga acap sulit diperoleh di pasaran bebas dan rawan terkena jerat sanksi embargo yang dijatuhkan oleh negara pembuatnya atas dasar berbagai alasan) kian menambah beban dari satuan kavaleri TNI di dalam mengoperasikan ranpur buatan asing.

                Satuan kavaleri TNI telah butuh banyak ranpur berlapis baja pengangkut personel sejak mereka masih menyandang nama Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). Kala itu kebutuhan APRIS akan ranpur pengangkut personel untuk sementara waktu masih tercukupi oleh puluhan panser beroda rantai Bren Carrier dan truk peninggalan tentara kolonial Kerajaan Belanda yang hengkang dari Bumi Pertiwi pada awal 1950. Kebutuhan akan ranpur pengangkut personel terasa meningkat tatkala APRIS menggelar banyak operasi militer di dalam negeri. Langkah pemerintah RI yang mendatangkan alutsista dari sejumlah negara Blok Barat dan Timur pada akhir decade 1950-an untuk sesaat memang bisa menyelesaikan masalah minim dan kunonya persenjataan Angkatan Bersenjata RI (ABRI) (nama lama TNI). Termasuk untuk soal ranpur berlapis baja pengangkut personel yang diwakili oleh kehadiran panser beroda ban Saracen (Inggris), panser beroda rantai AMX VCI (Perancis), panser beroda ban BTR-40 dan BRDM 1 serta panser beroda rantai BTR-50 (ketiganya buatan Uni Soviet).

                Perubahan kiblat politik RI di akhir dekade 1960-an membuat sebagian perlengkapan militer asal Blok Timur terlantar sehingga akhirnya rusak dan tidak bisa lagi dipakai. Kondisi keuangan negara yang buruk di awal dekade 1970-an mendorong ABRI berusaha sebisanya untuk memperpanjang masa pakai sisa semua jenis alutsista eks Blok Timur. Untuk ranpur berlapis baja pengangkut personel, selain mengganti mesin penggerak, sistem transmisi dan persenjataannya, maka juga diupayakan membuat panser dengan disain yang mengacu kepada sejumlah ranpur berlapis baja kenamaan saat itu. Namun segala upaya itu tidak membuahkan hasil yang signifikan.

    Setelah kondisi keuangan RI membaik di awal dasawarsa 1980-an, satuan kavaleri TNI baru bisa memperoleh banyak ranpur berlapis baja pengangkut personel jenis V-150 Commando dan Commando Ranger. Lalu disusul di awal dasawarsa 1990-an, satuan kavaleri TNI mendapatkan tambahan puluhan panser beroda ban VAB dan VBL (keduanya asal Perancis) serta panser beroda rantai Stormer (Inggris). Meski kinerjanya terbilang cukup handal, namun pengoperasian keduanya terkendala oleh banyak hal klasik. Misalnya biaya perawatan yang tinggi, boros bahan bakar dan sulitnya memperoleh suku cadang.  Kodisinya kian babak belur karena pada paruh kedua dekade 1990-an RI kena imbas krisis keuangan di kawasan Asia Timur dan Tenggara ditambah kena sanksi embargo senjata oleh Blok Barat. Akibatnya beberapa ranpur terpaksa diistirahatkan. Kinerja satuan kavaleri TNI pun merosot drastis. Penambahan puluhan unit panser beroda rantai BVP-2 (buatan Slovakia) dan beroda ban BTR-80A (Rusia) di akhir dekade 1990-an dan awal 2000-an seakan hanya menjadi setetes air di tengah gurun pasir nan maha luas.

     

    Dari APR1-V1 ke APS2 Anoa

                Karena TNI amat butuh ranpur berlapis baja pengangkut personel, maka sejumlah panser model lama yang sempat ‘diistirahatkan’ diusahakan untuk kembali dihidupkan sambil tetap berusaha membuat sendiri panser baru. Dari sekian banyak upaya kemandirian yang telah ditempuh oleh sejumlah pihak, maka hanya ada beberapa jenis yang hingga kini masih terdengar gaungnya. Salah satunya adalah panser beroda ban hasil kreasi para tehnisi PT Pindad. Pabrikan senjata dan amunisi ini sebenarnya telah lama bergelut dalam pekerjaan mencipta ranpur berlapis baja berharga cukup murah dan spesifikasi teknisnya sesuai kebutuhan satuan kavaleri TNI.

    Dengan diawali panser Ahmad Yani yang kini sudah tak lagi dikembangkan, PT Pindad memulai debutnya selaku pabrikan panser yang laik tempur lewat APR (Angkut Personel Ringan) 1–V (Varian) 1 (2003). Kasisnya dicomot dari truk beroda empat tipe NKR 55 buatan Isuzu dan tenaganya dihasilkan oleh mesin turbo diesel intercooter 3.200 PK. Selintas tampilan APR1– V1 memang jauh dari kesan ‘tampan’. Empat puluh unit 40 unit APR1-V1 telah dibuat PT Pindad untuk TNI AD dan sempat dibawa beraksi di NAD (2004). Pengalaman tatkala mendisain dan mencipta APR1–V1 diterapkan PT Pindad di dalam merancang ‘minibus’ berlapis baja APR2-V1. Ranpur berbadan bongsor ini sempat dijajal Polri sebagai sarana transportasi para personel Korps Brimob di medan tugas. Sayang, kinerja APR1-V1 dan APR2-V1 kurang memuaskan pemakainya.

    Demi menghasilkan satu disain ranpur berspesifikasi dan kinerja lebih baik, maka PT Pindad tak sungkan menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Diharapkan duet ini bisa melanjutkan program litbang ranpur pengangkut personel yang sepenuhnya buatan Indonesia. Lewat proses panjang nan berliku, pada medio 2005 PT Pindad dan BPPT berhasil melansir panser beroda enam APS (Angkut Personel Sedang) 1. Jika dibandingkan APR1-V1 dan APR2-V1, maka sosok APS1 lebih besar dan perkasa. Selain badannya berstruktur monokok, kasisnya mencomot kasis truk berbobot lima ton Perkasa buatan PT Texmaco.

                Tampilan fisik APS cukup unik. Ruang mesin penghasil tenaga gerak berujud kotak dan berada di sisi kiri ruang kemudi. Keempat roda penggerak belakang mengelompok, terpisah dari sepasang roda penggerak depan. Dengan kata lain, jarak antara titik pangkal sumbu putar roda penggerak depan dengan titik pangkal sumbu putar roda penggerak tengah lebih besar ketimbang jarak antara titik pangkal sumbu putar roda penggerak tengah dengan titik pangkal sumbu putar roda penggerak belakang. Ujud APS1 lebih mirip truk berlapis baja ketimbang panser. Dipilihnya disain ini bukan tanpa alasan. Ruang muatan APS1 makan jatah kapling dua pertiga bagian badan ranpur. Sebagai penyeimbang dari efek gaya berat, maka mesin penghasil tenaga gerak harus dipasang di sisi kiri pengemudi. Ruang mesin dan pengemudi menyita kapling sepertiga bagian badan kendaraan.  

                Pada APS1  ada sepasang pintu di sisi kanan dan kiri dengan daun pintu yang dapat digeser ke belakang (saat dibuka) atau ke depan (saat ditutup). Fitur ini belum pernah dijumpai pada panser lain. Pintu utama APS1 justru berada di belakang. Sepasang daun pintu geser itu dilengkapi kotak pandang dengan kaca berlapis polimer yang tahan terjangan proyektil amunisi berkaliber 7,62 milimeter. Fitur unik ini ‘dibuang’ saat para insinyur PT Pindad mendisain APS1-V1. Selintas tampilan APS1-V1 sudah tidak lagi berkesan sebagai ranpur purwarupa. Seluruh penumpangnya masuk ke dan keluar dari dalam kendaraan lewat pintu belakang. Daun pintu ruang kemudi dan komandan membuka ke samping. Blok mesin yang semula berada di sisi kiri pengemudi kini digeser ke belakangnya.

                Atas dasar pertimbangan estetika disain, PT Pindad lalu memilih disain APS1-V1 sebagai disain acuan untuk basis pengembangan tingkat lanjutan panser beroda enamnya. Karena selain tampak lebih ‘tampan’, juga disain hidung APS1-V1 telah dibuat agar mirip hidung panser VAB. Langkah PT Pindad ini tak mengherankan. Pasalnya, sejak awal VAB memang telah dijadikan PT Pindad sebagai salah satu barang rujukan di dalam mendisain APS1 dan APS1-V1 selain ranpur beroda ban TPz Fuchs (buatan Jerman) dan Puch Pandur (Jerman-Austria). Kabarnya, Renault Trucks Defense (produsen VAB) banyak membantu PT Pindad untuk perkara disain badan. Setelah melakukan sejumlah bongkar pasang terhadap disain badan APS1-V1, maka pada medio 2006 PT Pindad beserta puluhan perusahan rekanannya sukses melansir ranpur berlapis baja APS2 Sangkuriang. Panser beroda enam ini tampil pertama kali di depan umum pada acara pameran alutsista yang digelar dalam rangka upacara peringatan HUT TNI ke 61 di Jakarta.

    Kala itu Sangkuriang menyedot perhatian banyak kalangan lewat tampilannya yang bak pinang dibelah dua dengan VAB. Namun baru ditilik dari kenyamanan saja Sangkuriang sudah terbukti lebih unggul ketimbang VAB karena dilengkapi tiga unit alat pengatur suhu ruangan (total berdaya 9 PK). Sementara pada VAB, cuma ada satu dan berdaya kecil. Kelebihan lainnya dari Sangkuriang adalah bahwa tenaga geraknya dihasilkan oleh mesin disel enam silinder tipe WD 615 bertenaga 260 – 300 PK buatan PT Texmaco. Sekujur badan Sangkuriang berbahan dari lapisan baja cukup tebal yang mampu menahan terjangan proyektil amunisi berkaliber 12,7 milimeter. Hebatnya lagi, pengendalian kerja dari semua peralatan operasional di ruang kemudi telah sepenuhnya dilakukan oleh komputer. Seluruh alat komunikasinya buatan PT LEN Industri, salah satu badan usaha milik negara yang bergerak di dalam bisnis alat telekomunikasi.  

    Setelah lulus berbagai uji kelaikan yang berat, Sangkuriang baru dinyatakan memenuhi seluruh spesifikasi teknis yang diminta TNI. Usai sejumlah suku cadangnya dimodifikasi, Sangkuriang lantas memasuki tahapan produksi massal dengan nama baru Anoa. Kini Anoa menjadi satu-satunya ranpur pengangkut personel pilihan TNI yang bisa segera diproduksi secara massal di dalam tempo yang relatif singkat dengan harga banderol lumayan terjangkau oleh kocek Dephan RI. Sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian PT Pindad ini, maka Dephan RI memesan 150 unit Anoa dari versi pengangkut personel (dengan beragam senjata) dan versi ambulan plus empat ranpur intai beroda empat RPP dengan nilai total kontrak pembelian mencapai 1,12 triliun rupiah. Sepanjang semester kesatu 2009, PT Pindad telah menyetor 60 unit Anoa kepada Dephan RI.

     

    Spesifikasi tehnis umum       

                Jabaran umum ukuran dimensional dan konstruksi Anoa adalah sebagai berikut. Panjang badan total (dari hidung hingga ke lekukan terluar dari pintu belakang) mencapai 6,2 meter. Sedangkan lebar badannya (berdasarkan jarak antara kedua dinding luar ruang penumpang pada batas lekukan terjauh di atas cerukan wadah roda) mencapai 2,5 meter. Tinggi badannya juga 2,5 meter, diukur dari permukaan tanah hingga lapisan terluar daun jendela atap saat merapat ke lubang jendela. Berbeda dengan APS1, maka jarak antara ketiga sumbu penggerak roda (wheel base) Anoa dibuat sama jauh, yakni 1,5 meter. Tinggi kolong Anoa (ground clearance) pun dibuat lebih tinggi, yakni 0,4 meter.

                Konstruksi badan Anoa menganut konsep monokok. Tebal lapisan baja badannya sesuai dengan nilai jenjang keempat patokan baku yang ditetapkan oleh Pakta Pertahanan Atlantik Utara (STANAG 4). Untuk rangka badan, para insinyur PT Pindad memilih besi rangka jenis square berukuran lebar tiap sisi 40 milimeter dan ketebalan 3,5 milimeter. Supaya keamanan seisi Anoa terjamin, maka badan bagian atas terbuat dari lembaran baja jenis armoured steel berketebalan 10 milimeter. Sedangkan untuk lantai dipilih lembaran baja jenis mild steel dengan berketebalan sama. Seluruh daun pintu Anoa juga terbuat dari baja mild steel tetapi ketebalannya cuma delapan millimeter.

                Supaya awak dan penumpangnya mudah masuk ke dan keluar dari dalam Anoa, maka disediakan tiga pintu, satu lubang tempat kedudukan kubah senjata dan lima jendela atap yang semuanya dilengkapi daun pintu merangkap perisai. Dua daun pintu ruang kemudi dan komandan berukuran tak begitu besar, bekerja dengan sistem mekanik palang torsi dan arah buka ke luar samping. Sedangkan pintu ketiga ada di belakang. Sepasang daun pintunya bekerja secara hidraulik dan arah bukanya ke luar samping. Karena posisinya berada di atas kepala para awak dan penumpang, maka daun pintu dari kelima jendela atap Anoa diatur agar membuka ke atas depan. Alat bantu pembuka ke sembilan daun pintu ini berupa tuas pembuka yang bekerja secara mekanik.

                Lubang atap tempat kedudukan kubah senjata yang berada tepat di belakang jendela atap ruang komandan ini dibuat berstruktur lingkaran. Maksudnya agar dapat dipasangi rel lintasan berbentuk sama sehingga tempat kedudukan senjata di kubah dapat diputar ke segala arah. Khusus Anoa model awal, jendela atap ruang komandan dibuat berstruktur lingkaran agar juga dapat dipakai untuk menempatkan kubah senjata.

                Tatkala seluruh pintu dan jendela atap tertutup, maka seluruh awak dan penumpang Anoa tetap bisa melihat situasi dan kondisi di luar kendaraan melalui kedua jendela depan, sepasang periskop kecil dan 12 kotak pandang. Kedua jendela depan berstruktur trapezium. Tebal kacanya 40 milimeter, berlapis bahan polimer yang bisa menahan terjangan proyektil amunisi berkaliber 7,62 milimeter. Kedua jendela depan dilindungi sepasang lempeng baja mild steel setebal enam millimeter (juga berstruktur trapezium). Pada bagian tengah lempeng pelindung dibuat satu celah persegi empat kecil memanjang sebagai sarana bantu lihat bagi pengemudi dan komandan. Bila tak sedang dipakai, lempeng pelindung didongakkan.

                Seluruh kotak pandang Anoa tersebar di kedua pintu ruang kemudi – komandan, kedua dinding ruang penumpang dan kedua daun pintu belakang. Setiap daun pintu ruang kemudi – komandan dibekali satu kotak pandang berstruktur trapezium. Sedangkan tiap dinding ruang penumpangnya kebagian empat kotak pandang dan kedua daun pintu belakang dua kotak pandang yang seluruhnya berstruktur persegi empat. Tebal kacanya 30 milimeter. Permukaannya juga dilapisi bahan polimer yang bisa membuat kaca tetap ‘utuh ‘meski diterjang proyektil amunisi kaliber 5,56 milimeter. Sebagai tambahan alat bantu lihat, di depan jendela atap ruang kemudi – komandan dipasang dua unit periskop kecil (juga berbentuk kotak) dengan ketebalan kaca 10 milimeter.  Agar para penumpang bisa menembak dari dalam kendaraan, di bawah setiap kotak pandang ada lubang penembakan bertutup. Demi alasan keamanan, tutupnya hanya bisa dibuka dari dalam kendaraan.   

    Bobot total Anoa versi baku dalam kondisi kosong tanpa kubah senjata adalah 10,2 ton. Begitu ia dipasangi kubah senjata yang belum dipersenjatai (masih dalam kondisi kosong), maka beratnya naik jadi 11 ton. Dan bila seluruh awak dan penumpangnya (bersenjata lengkap) telah berjejalan di dalam kendaraan serta pada kubah senjatanya telah bertengger sepucuk senjata dari kaliber yang paling kecil sekalipun, maka bobot siap tempur Anoa dapat melonjak hingga 14 ton. Nilai ini akan lebih bervariasi tergantung kepada jenis dan bobot senjata yang dipakai berikut jumlah total sediaan amunisinya.

    Dengan bobot siap tempur yang cukup berat ini, Anoa membutuhkan mesin khusus yang mampu menghasilkan tenaga gerak yang cukup besar untuk menggerakkan keenam rodanya dalam menggotong badannya yang tambun itu. Dari sekian banyak jenis mesin penggerak ranpur yang ada, terpilih mesin disel empat tak enam silinder jenis inline turbocharged intercooler buatan Renault Trucks Defence yang mampu melansir tenaga gerak 20 PK. Rasio daya mesin penggerak terhadap bobot total Anoa 21,6 – 25 PK tergantung bobot total Anoa saat diukur. Untuk mengurangi ketergantungan akan pasokan mesin dari luar negeri, kini tengah dijajaki pemakaian mesin disel WD 615 buatan PT Texmaco yang menghasilkan tenaga 260 – 300 PK. Baik mesin buatan Renault maupun Texmaco ini butuh 200 liter solar sebagai bahan bakarnya. Dan untuk menghidupi seluruh peralatan elektronik yang dimilikinya, Anoa dibekali sepasang akumulator yang masing-masing bertegangan 24 Volt dan berarus 100 Ampere jam.

    Sistem penggerak Anoa terdiri dari enam buah roda, kemudi, rem dan sistem suspensi. Keenam buah roda Anoa memakai alas roda (velg) jenis Runflat 1400 – R20 dan ban tipe 18 Ply yang dijamin akan tetap bisa dipakai berlari dalam kondisi kecepatan jelajah normal hingga sejauh 80 kilometer meski ban itu telah rusak akibat kena tembakan. Kemudi Anoa bekerja secara hidraulik dengan poros kemudi berada di depan dan tengah. Sementara sistem remnya ada dua, yakni rem cakram dan rem pegas lepas otomatis yang diintegrasikan dengan mekanisme kemudi induk. Rem kesatu dipakai tatkala kendaraan sedang dioperasikan sedangkan rem kedua baru difungsikan saat Anoa diparkir.

    Di atas permukaan jalan raya yang mulus, kecepatan jelajah Anoa dapat digenjot hingga 92 kilometer per jam. Bila kecepatan jelajahnya dalam kondisi normal (sekitar 60 kilometer per jam), maka kemampuan jelajahnya bisa sejauh 600 kilometer. Andai terpaksa harus berputar arah haluan secara tiba-tiba kala tengah berjalan, maka besar radius putaran saat berbelok (turning radius) hanya 10 meter. Tak hanya itu. Anoa juga dirancang agar dapat bermanuver di berbagai medan berkontur ‘berat’. Mulai dari mampu melompati parit selebar 1,5 meter dan sedalam 0,75 meter, melangkahi barikade setinggi 0,63 meter, hingga mendaki bukit dengan kemiringan 60 persen (setara sudut 31 derajat) maupun melintasi bidang miring dengan kemiringan 30 persen (setara sudut 17 derajat). Bila diperlukan Anoa juga dapat melintasi kawasan yang sedang terendam banjir sedalam 1,1 meter tanpa bermodal alat jet air (alat yang memungkinkan ranpur berkemampuan lintas dua medan). Seluruh kemampuan olah gerak bisa dimiliki Anoa berkat sudut kontak datang dan sudut kontak pergi setiap rodanya yang masing-masing sebesar 45 derajat. 

    Selaku ranpur pengangkut personel, Anoa dimodali bermacam senjata, peralatan komunikasi dan navigasi serta aneka perlengkapan tambahan. Jenis senjata yang dapat dipakai Anoa versi baku meliputi senapan mesin sedang FN-MAG GPMG atau M60 kaliber 7,62 milimeter, senapan mesin berat FN M2 – HB kaliber 12,7 milimeter dan senjata pelontar granat kaliber anti personel kaliber 40 milimeter. Jumlah sediaan amunisi setiap senjata tersebut pun bervariasi. Setiap Anoa dapat membawa bekal amunisi sebanyak 700 butir kaliber 7,62 milimeter atau 500 butir kaliber 12,7 milimeter atau 200 butir kaliber 40 milimeter. Jika perlu, di dekat jendela atap ruang penumpang dapat dipasang dua tempat dudukan senjata tambahan yang bisa memuat senapan mesin ringan FN Minimi atau Daewoo K3 kaliber 5.56 milimeter dengan jumlah sediaan amunisi total 400 butir.   

    Tanpa peduli akan ukuran kaliber larasnya, setiap jenis senjata serang yang diusung Anoa pasti akan bertengger pada tempat dudukan senjata yang bekerja secara mekanik. Laras senjata dibuat mampu menunduk hingga sedalam lima derajat ataupun mendongak setinggi 45 derajat (nilai ini berpatokan pada kondisi laras senjata saat pararel penuh dengan permukaan atap Anoa). Tempat dudukan senjata ini diintegrasikan dengan kubah senjata terbuka yang dilengkapi rel lintasan berbentuk lingkaran. Supaya operator senjata lebih leluasa bergerak saat menembakkan senjatanya, maka pada badan Anoa di daerah itu dibuat membundar seperti drum dan tidak mendatar seperti dinding ruang penumpang.   

    Tak hanya senjata serang, Anoa juga dibekali aneka perlengkapan tambahan. Termasuk senjata bela diri berupa dua set tabung pelontar granat pembangkit tabir asap. Setiap set terdiri dari tiga tabung pelontar berkaliber 66 milimeter (berada di belakang pintu ruang kemudi – komandan). Perlengkapan tambahan primer Anoa berupa alat komunikasi dan navigasi yang terdiri dari perangkat interkom (untuk komunikasi internal), radio frekuensi tinggi model konvensional tipe 90M-718 (bekerja pada gelombang 2 – 30 MHz, berdaya pancar 100 watt dan antena pemancar – penerimanya setinggi tiga meter), radio frekuensi sangat tinggi tipe 90M atau PRC-1077 (bekerja pada gelombang 30 – 38 MHz, berdaya pancar 50 Watt dan antena pemancar – penerimanya serupa radio tipe 90M-718) dan peralatan penentu posisi di jagad (Global Positioning System – GPS).

    Sedangkan perlengkapan tambahan sekunder Anoa meliputi sistem pendingin ruangan berintikan tiga unit AC (berdaya total 12 PK) plus tiga unit kipas pengalih udara (air blower), bermacam peralatan zeni ringan yang ‘ditempelkan’ pada badan Anoa (kapak, beliung dan sekop, masing-masing satu unit), tiga alat pemadam kebakaran ringan, alat bantu lihat malam, seuntai kawat baja yang sanggup menarik beban hingga seberat enam ton, empat cincin penarik beban dan empat lampu tempur black out. Sebaran cincin maupun lampu black out adalah dua unit di depan dan sisanya di belakang. Tak ketinggalan pula alat untuk memantau kondisi temperatur air pendingin mesin penggerak, kelistrikan dan tekanan minyak pelumas.  

     

    Potensi pengembangan

                Setelah sukses dengan Anoa, PT Pindad kemudian berupaya mencipta sebuah ranpur beroda ban pengusung senjata artileri berkaliber besar. Langkah ini diujudkan melalui penciptaan sista artileri gerak sendiri Anoa Kanon 90. Ranpur bersenjata berat ini ikut mejeng di pameran Indo Defence & Aerospace 2008 dan dapat dipandang sebagai upaya PT Pindad untuk mengoptimalkan peran Anoa. Dari sekadar wahana pengangkut personel satuan infanteri menjadi sebuah ranpur multi guna yang dapat membopong aneka jenis senjata sehingga perannya bisa lebih beragam.

                Ranpur Anoa Kanon 90 yang muncul pada pertengahan 2008 silam ini bisa tercipta setelah para insinyur PT Pindad merombak disain tampilan badan bagian atas Anoa sambil mengadopsi sistem kubah senjata CSE-90 yang menjagokan meriam laras berulir Cockerill Mk.3 kaliber 90 milimeter sebagai komponen intinya. Kabar yang tersiar, disain Anoa Kanon 90 merujuk kepada Black Fox CSE 90 yang diproduksi oleh Doosan Infracore, Korea Selatan.

                Di samping itu, Anoa juga berpotensi untuk dikembangkan menjadi ranpur pengusung senjata mortir kaliber 81 atau 120 milimeter. Hal ini bisa dilakukan dengan meniadakan ruang penumpang dan merubah struktur atap kendaraan berikut konstruksi lantai. Dari semula hanya memiliki tiga jendela atap kecil bertutup menjadi satu jendela atap besar yang juga bertutup. Lantainya turut diperkuat agar tahan menerima efek tolak balik yang besar dan mengarah ke bawah. Bahkan Anoa juga bisa dimodifikasi menjadi wahana pengusung sista artileri pertahanan udara. Baik yang berintikan kanon berkecepatan tembak sangat tinggi, peluru kendali penangkal serangan udara jarak dekat maupun paduan keduanya.

    About these ads
     

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: